Zuhud: Pakaian Muslim di Zaman Modern

Zuhud artinya meningggalkan kecenderungan kepada sesuatu. Menurut para sufi, zuhud adalah meninggalkan sebagian hal-hal duniawi serta menolaknya. Ada yang mengartikan bahwa zuhud adalah meninggalkan ketenangan dunia untuk mendapatkan ketenangan akhirat.

Permasalahan zuhud adalah permasalahan yang paling banyak menuai kontraversial dalam memahaminya. Inti dari perdebatan adalah seputar kepemilikan harta: apakah dibolehkan atau dimakruhkan? Jika memiliki harta tidak sesuai dengan ajaran agama, lalu bagaimana pula dengan orang-orang saleh yang memiliki harta yang demikian banyaknya? Dan bagaimana dengan para nabi yang juga memiliki harta, seperti Nabi Dawud, Sulaiman, Ibrahim, Ayyub, Yusuf, dan Nabi Muhammad saw., serta orang-orang saleh yang hidup sesudahnya?

Para nabi yang telah disebutkan itu meskipun mereka tergolong orang yang memiliki harta yang cukup, tetapi mereka tidak menikmati apa yang mereka miliki. Hati mereka tidak disibukkan dan tidak tergoyah sedikit pun oleh harta-harta itu. Hidup mereka dipersembahkan kepada Allah semata.

Para ulama menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman dengan kekayaannya, ia memberi makan tamu-tamunya dengan makanan yang terbuat dari bahan tepung roti yang berkualitas baik dan bersih. Adapun untuk anak-anaknya ia berikan kepada mereka makanan yang terbuat dari bahan tepung roti juga, tetapi tepung yang  kurang baik kualitasnya. Sementara untuk dirinya sendiri Nabi Sulaiman hanya memakan gandum.

Kisah Nabi Ibrahim juga disebutkan bahwa ia tidak akan makan, kecuali dengan para tamunya. Jika tamunya tidak datang kepadanya maka ia pun akan menahan laparnya. Adapun Nabi Ayyub dikisahkan bahwa ia tidak pernah mendengar seseorang yang bersumpah atas nama Allah, kecuali orang tersebut kembali lagi berkunjung ke rumahnya.

Kisah Nabi Yusuf, seperti yang diriwayatkan bahwa  beliau adalah orang yang dipercaya untuk menjaga lumbung hasil-hasil bumi, tetapi ia tidak pernah merasa kenyang. Lalu, orang-orang pun bertanya kepadanya tentang hal itu. Nabi Yusuf menjawab, ”Aku khawatir untuk kenyang karena dapat menyebabkan aku lupa akan nasib orang-orang yang kelaparan.

Kisah Nabi Muhammad, seperti yang telah diriwayatkan tatkala Jibril a.s. datang menemui beliau, Jibril berkata, ”Ini adalah kunci-kunci perbendaharaan bumi, di dalamnya ada emas dan perak yang dapat engkau gunakan selamanya hingga hari Kiamat datang dan kami tidak akan mengurangi sedikit pun apa yang engkau miliki.” Namun, Nabi Muhammad saw. tidak menginginkan hal itu. Beliau malah bersabda, ”Terkadang aku lapar dan terkadang aku kenyang.”

Para sahabat juga mencontoh perilaku Nabi Muhammad saw. Hal ini dapat dilihat ketika beliau memerintahkan mereka untuk bersedekah. Abu Bakar r.a. ketika itu menyedekahkan seluruh hartanya. Nabi pun bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?” Abu Bakar menjawab, ”Allah dan rasul-Nya dan aku masih memiliki tambahannya di sisi Allah.” Adapun Umar r.a. telah mengeluarkan setengah dari hartanya. Lalu, Rasulullah bertanya kepadanya, ”Apa yang engkau tinggalkan untuk anak-anakmu?” Umar pun menjawab, ”Setengah dari hartaku dan aku masih memiliki tambahannya di sisi Allah.” Sahabat yang lain, Usman r.a., beliau menyediakan seluruh perlengkapan perang dan mendanai pembuatan sumur.

Para sahabat Rasulullah tersebut adalah contoh orang-orang yang telah mengeluarkan apa yang mereka miliki di jalan Allah. Rasulullah saw. juga bersabda,

إِنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْتُ بَعْدَ مَئُونَةِ عَامِلِي وَنَفَقَةِ نِسَائِي صَدَقَةٌ

”Kami para nabi tidak diwariskan. Apa yang kami tinggalkan setelah mencukupi pelayan dan istriku adalah sedekah.” (HR Ahmad)

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam berbagai redaksi dan makna yang terkait dengan zuhud.

وَشَرَوۡهُ بِثَمَنٍ بَخۡسٍ دَرَاهِمَ مَعۡدُودَةٍ وَكَانُوا فِيهِ مِنَ الزَّاهِدِينَ

Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya. (QS Yusuf [12]: 20)

فَخَرَجَ عَلَى قَوۡمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الۡحَيَاةَ الدُّنۡيَا يَا لَيۡتَ لَنَا مِثۡلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (79) وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الۡعِلۡمَ وَيۡلَكُمۡ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيۡرٌ لِمَنۡ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ (80)

Maka keluarlah dia (Karun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, ”Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, ”Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” (QS al-Qashash [28]: 79–80)

Para ulama membagi zuhud menjadi beberapa bagian, seperti yang dinyatakan oleh al-Qhasyani dalam Latha’if al-I’lam berikut. Pertama, zuhudnya orang-orang awam, zuhud pada level ini adalah menjauhi segala sesuatu yang syubhat setelah meninggalkan yang haram. Kedua, zuhudnya para ahli iradah, yaitu dengan menjauhi hal-hal yang berlebihan dalam hal makanan. Mereka berakhlak seperti halnya para nabi dan shiddiqin. Ketiga, zuhudnya orang-orang yang telah mencapai derajat khasatul khasah (lebih khusus) yaitu dengan menolak segala tujuan/keinginan selain Allah SWT. Keempat, tingkatan zuhd fi zuhd, tingkatan yang memandang bahwa zuhud yang telah dilakukan merupakan hal yang kecil. Jika al-Qasyani membagi zuhud menjadi empat tingkatan maka Imam al-Ghazali membaginya menjadi tiga tingkatan. Pertama, tingkatan terendah; tingkatan seseorang yang ingin berzuhud di dunia, tetapi dirinya masih menginginkannya. Demikian pula hatinya yang masih condong kepadanya. Namun demikian, ia terus berjuang menghadapi godaan-godaan dunia. Kedua, tingkatan orang yang meninggalkan dunia dengan suka cita untuk mengecilkan dunia di hadapannya. Namun, terkadang ia masih tamak atau menginginkan dunia. Ketiga, tingkatan tertinggi, tingkatan seseorang yang berzuhud dan ia tidak lagi melihat kezuhudan dirinya.

Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ قَدْ أُعْطِيَ زُهْدًا فِي الدُّنْيَا وَقِلَّةَ مَنْطِقٍ فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ فَإِنَّهُ يُلْقِي الْحِكْمَةَ

”Jika kamu melihat seseorang yang telah berzuhud di dunia dan telah berilmu maka dekatilah ia karena sesungguhnya ia telah dapat memberikan hikmah.(HR Ibnu Majah)

Abu Sa’id al-Kharraz menjelaskan dalam ungkapannya tentang zuhud. ”Seorang hamba tidaklah sempurna kezuhudannya hingga ia memandang sama antara batu dan emas.”

Menurut Imam al-Ghazali, zuhud tidaklah ditandai dengan meninggalkan harta dan melihatkan kepada orang lain akan kesederhanaan. Sebab, yang demikian sangat mudah untuk dilakukan bagi orang-orang yang senang dipuji dengan kezuhudannya. Imam al-Ghazali menyebutkan tiga hal sebagai tanda-tanda zuhud. Tanda pertama adalah tidak merasa gembira dengan apa yang ada serta tidak merasa sedih dengan ketiadaan. Merasa sedih dengan keberadaan harta dan merasa senang dengan ketiadaannya. Tanda ini menurut al-Ghazali adalah tanda-tanda zuhud dalam harta. Tanda kedua pada zuhud adalah menyamakan antara celaan dan pujian. Tanda ini merupakan tanda zuhud dalam martabat. Tanda ketiga, senang atau suka kepada Allah. Hati manusia selalu dihiasi oleh cinta, baik cinta kepada dunia maupun cinta kepada Allah. Keduanya bagaikan air dan udara dalam sebuah gelas. Jika air yang masuk maka udara pun akan keluar, keduanya tidak akan bersatu. Siapa pun yang senang kepada Allah maka hatinya hanya akan disibukkan oleh-Nya dan tidak kepada yang lain. Para ahli makrifat berkata, ”Jika iman bergantung pada sisi zahirnya hati maka ia akan mencintai dunia dan akhirat serta berbuat untuk keduanya. Jika iman tertanam di lubuk hati yang dalam dan menguasainya maka ia pun akan membenci dunia dan tidak pula menoleh kepadanya ataupun berbuat untuknya. Dalam sebuah doanya, Nabi Adam berseru, ”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu iman yang mengusai hatiku.”

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.