Wara’: Menjauhi yang Haram dan Syubhat

Wara’ – Banyak hadits Rasulullah Muhammad saw. yang membicarakan kehidupan wara’, di antaranya yang diriwayatkan oleh Turmudzi, Ahmad, Ibnu Hibban, dan lainnya. Dari Abu Dzar r.a bahwa Rasulullah saw. bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

”Merupakan kebaikan Islamnya seseorang ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat bagi dirinya.”

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata,

تُلِيَتْ هذِهِ الآيَةُ عِنْدَ النَبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (يأَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِى الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا). فَقَامَ, سَعْدُ ابْنِ وَقَّاص, فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ : اُدْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِى مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ. فَقَالَ: يَا سَعْدُ أَطِبَّ مَطْعَمَكَ, تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ, والَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, إِنَّ الرَّجُلَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الحَرَامَ فِى جَوْفِهِ, مَا يَتَقَبَّلُ مِنْهُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا, وَأَيُّمَا عَبْدٌ نَبَتَ لَحْمُهُ مِنَ السُحْتِ وَالرِّبَا, فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ.

Ayat ini dibaca di depan Nabi saw.Wahai manusia makanlah apa yang ada di bumi yang halal lagi baik?” Lalu, Sa’ad bin Abi Waqas berkata, ”Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah agar doaku diijabah oleh-Nya.” Rasulullah pun bersabda, ”Wahai Sa’ad, perbaikilah makananmu, niscaya doamu akan diijabah Allah. Demi diri Muhammad yang berada di tangan-Nya, sesungguhnya seseorang ketika memasukkan makanan yang haram ke perutnya, Allah tidak akan menerima amalannya selama empat puluh hari. Seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari harta yang haram dan riba maka api neraka lebih untuk dirinya.(HR Thabrani)

Para ulama mendefinisikan beragam tentang wara’ tersebut. Misalnya Ibrahim bin Adham yang berkata, ”Wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang syubhat, tidak berfaedah, dan meninggalkan hal-hal yang berlebihan. Tustari berkata, ”Barang siapa yang tidak memiliki sifat wara’, seandainya ia memakan kepala gajah, niscaya ia tidak akan pernah merasa kenyang.” Ibnu Arabi menyatakan bahwa wara’ adalah menjauhi yang haram dan yang syubhat, bukan menjauhi yang halal.

Adapun Abu Sulaiman Darani menyatakan, ”Wara’ adalah awal dari zuhud, seperti halnya qana’ah adalah bagian dari rida.” Yahya bin Mu’adz juga berkata, ”Wara’ itu ada dua; wara’ secara zahir, yaitu tidak bergerak, kecuali semata-mata karena Allah dan wara’ secara batin, yaitu hendaknya hanya Allah yang ada di hatimu.” Ketika  Hasan al-Bashari masuk ke Kota Mekah, ia melihat seseorang dari keturunan Ali bin Abi Thalib r.a., ia menyandarkan tubuhnya di Ka’bah sambil menasihati manusia. Hasan al-Bashari pun bergegas menuju kepadanya dan bertanya, ”Apakah sendi agama itu?” Beliau menjawab, ”Wara’.” Kemudian, Hasan al-Bashari bertanya lagi, ”Apakah bencana agama?” Beliau menjawab, ”Ketamakan.”

Berkaitan dengan memelihara diri dari hal-hal yang masih syubhat, Rasulullah saw. dalam hadits dari Nu’man bin Basyir r.a. yang mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

”Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu pun telah jelas dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (tidak jelas hukumnya) yang tidak diketahui orang banyak. Oleh karena itu, barang siapa menghindari perkara syubhat, ia telah membebaskan agama dan kehormatannya. Dan orang yang terjerumus ke dalam perkara syubhat, berarti telah terjerumus ke dalam perkara haram, seperti pengembala yang mengembalakan di sekitar tempat terlarang maka kemungkinan besar gembalaannya akan masuk ke tempat terlarang itu. Katahuilah! Sesungguhnya tiap penguasa itu memilii daerah terlarang. Katahuilah! Sesungguhnya daerah terlarang milik Allah adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah! Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka akan baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka akan rusak pula seluruh tubuh, ketauhilah itu adalah hati.”(HR Muslim)

Para sufi adalah orang-orang wara’, orang-orang yang mengetahui hak-hak mereka kepada Allah dan kepada manusia lainnya. Mereka tidak berbuat zalim kepada manusia, seperti halnya mereka tidak menzalimi hak-hak  serta batas-batas kententuan Allah. Mereka juga menjauhi segala hal yang bersifat syubhat, mengintrospeksi diri mereka atas dosa-dosa besar ataupun kecil yang telah mereka perbuat. Al-Muhasibi memberikan ulasannya sebagai berikut. ”Wara’ adalah mengintrospeksi segala perbuatan yang dibenci Allah, seperti perbuatan hati atau perbuatan anggota tubuh serta mewaspadai sesuatu yang telah diberikan Allah di dalam hati manusia dan anggota tubuhnya.

Dalam Risalah al-Mustarsyidin al-Muhasibi mengutip ulasan Imam Qasthalani dalam Irsyad al-Sariyy li Sayrh Shahih Bukhari, beliau menyatakan, ”Demi Allah, engkau harus meninggalkan sesuatu yang belum engkau yakini kehalalannya. Tinggalkan itu seperti Rasulullah saw. yang tidak mau mengambil sebuah kurma karena takut termasuk kurma sedekah. Wara’ yang tertinggi adalah tidak melakukan hal yang halal karena khawatir melakukan hal yang haram, seperti Ibrahim bin Adham yang tidak mau mengambil upahnya karena khawatir jika pekerjaannya belum sempurna, padahal ia sangat lapar.

Saudari Bisyr al-Hafi bertanya kepada Imam Ahmad, ”Kami melantunkan syair cinta di atas rumah kami di Baghdad, lantas lewatlah iring-iringan obor para pengawal putri ath-Thahiri. Kemilaunya terlihat sangat indah. Bolehkah kami melantunkan syair cinta tentang kemilaunya?” Imam Ahmad balik bertanya kepada wanita itu, ”Siapakah engkau? Semoga Allah memaafkanmu”. Dia menjawab, ”Aku saudari Bisyr al-Hafi.” Mendengar jawabannya, Imam Ahmad menangis dan berkata, ”Wara’ orang yang benar telah pergi dari rumah kalian. Jangan lantunkan syair cinta tentang kemilaunya.”

Pada abad ke-10, Siti Badi’ah al-Ijiyyah telah hidup di Mekah selama lebih dari tiga puluh tahun tanpa pernah makan daging, buah, dan sebagainya yang diimpor dari Kota Bajilah karena ada yang mengatakan bahwa penduduknya tidak memberi warisan kepada anak perempuan. Ayahnya juga, Nuruddin tidak mau makan buah-buahan Madinah karena ada yang mengatakan bahwa penduduknya tidak menunaikan zakat.

Sifat wara’ tidaklah dapat dibuktikan dengan benar, kecuali setelah diuji dengan meninggalkan dorongan-dorongan syahwat. Orang yang hidup penuh dengan kewara’an, ia tidak akan merasakan penyakit hati dan jiwa. Sebab, sifat wara’ merupakan buah taubat dari segala perbuatan maksiat, yaitu maksiat hati dan maksiat anggota tubuh. Hal itulah pula yang melahirkan ketenangan dalam diri serta mewujudkan keinginan untuk berzuhud pada hal-hal duniawi.

Kewara’an itu sejatinya ada pada perkataan, hati, dan amal. Wara’ dalam perkataan adalah meninggalkan ocehan-ocehan dan perkataan-perkataan yang berlebihan yang tidak berfaedah dan hanya menghabiskan waktu. Wara’ dalam perkataan tidaklah mudah untuk dilakukan, seperti yang diungkapkan oleh al-Qusyairi. ”Wara’ dalam pembicaraan lebih sulit daripada wara’ pada emas dan perak.” Adapun gibah dan menghasud tidaklah masuk ke dalam kategori wara’ dalam ungkapan karena hal-hal tersebut sudah termasuk dosa.

Wara’ dalam hati adalah tidak menyibukkan hati dengan segala sesuatu yang membahayakannya. Wara’ dalam hati dapat mencapai derajat yang tinggi jika ia telah sampai kepada sebuah maqam, seperti yang dinyatakan oleh Imam al-Syibliy:”Hendaklah kamu bersifat wara’ dari segala sesuatu selain Allah”.

Wara’ dalam perbuatan yaitu termasuk di dalamnya mencari segala sesuatu yang terkait dengan makanan, minuman, dan pakaian yang baik dan halal. Para ulama salaf selalu berusaha dengan semampu mereka untuk mencari yang baik dan halal karena cahaya di dalam hati, kejernihan dalam ibadah, dan kemudahan-kemudahan yang dapat diraih manusia memiliki hubungannya yang erat dengan makanan, minuman, dan pakaian yang baik lagi halal.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.