7 Waktu Dikabulkannya Doa yang Pasti Mustajab!

Waktu Dikabulkannya Doa – Pada dasarnya berdoa dapat dilakukan di mana pun, tidak terbatas ruang dan waktu. Namun, pada kenyataannya, Rasulullah di dalam beberapa haditsnya menjelaskan bahwa ada beberapa waktu, kondisi, serta tempat yang diistimewakan Allah sehingga berdoa di dalamnya lebih utama dan jawaban dari doa pun akan cepat terwujud (mustajab). Sebab, waktu-waktu, kondisi, serta tempat-tempat tersebut memiliki hikmah dan keistimewaan tersendiri di sisi Allah. Keistimewaan ini pun jika kita perhatikan memiliki hubungan erat dengan kondisi waktu dan tempat tersebut.

Sebagai contoh, salah satu waktu dikabulkannya doa yang pasti mustajab untuk berdoa adalah waktu sahur (akhir malam) dan sepertiga malam yang terakhir. Jika diperhatikan waktu sahur dan sepetiga malam yang terakhir adalah waktu ketika seluruh manusia terlelap dalam mimpinya sehingga suasana tampak hening, kejernihan hati, keihlasan jiwa, dan kekhusuannya pun makin meningkat dibandingkan waktu-waktu yang lainnya.

Contoh lainnya dari waktu dikabulkannya doa yang pasti mustajab, hari Arafah, hari Jum’at, dan lain sebagainya adalah hari ketika seluruh keinginan menyatu, masing-masing hati pun berkumpul bersama dalam rangka mengharapkan rahmat Allah sehingga waktu-waktu menjadi lebih mulia dan lebih istimewa dibandingkan dengan waktu-waktu lainnya. Berikut adalah waktu dikabulkannya doa atau waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.

1. Hari Arafah

Waktu dikabulkannya doa yang pasti mustajab adalah hari Arafat. Rasulullah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Masud r.a.,

أَفْضَلُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Sebaik-baik doa adalah doa di hari Arafah.” (HR Turmudzi)

Hadits di atas menjelaskan bahwa berdoa di hari Arafah—ketika para jamaah haji melaksanakan wukuf—lebih utama daripada berdoa di hari-hari lainnya. Ketika doa lebih diutamakan di hari itu, terkabulnya doa di hari itu pun pasti akan lebih utama dibandingkan waktu yang lainnya.

2. Malam Lailatul Qadar

Waktu dikabulkannya doa yang pasti mustajab adalah lailatul qadar. Mengenai keistimewaan malam Lailatul Qadar ini, Al-Qur’an telah menjelaskan kepada kita melalui kalam Allah yang berbunyi,

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3)

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.(QS al-Qadar [97]: 2—3)

Salah satu keistimewaan malam Lailatul Qadar adalah bahwa doa yang dipanjatkan pada malam itu akan terkabul. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasulullah dan umat Islam seluruhnya untuk memanfaatkan malam tersebut dengan banyak beribadah dan berdoa.

Adapun dalil yang menegaskan bahwa pada malam itu doa dapat dikabulkan adalah hadits riwayat Aisyah r.a., ia berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana menurut engkau jika aku mendapati malam Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca di dalamnya?” Beliau menjawab, “Bacalah,

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ, تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, Engkau menyukai ampunan maka ampunilah aku.” (HR Turmudzi)

3. Bulan Ramadhan

Salah satu waktu dikabulkannya doa yang pasti mustajab untuk berdoa juga adalah bulan suci Ramadhan. Sebab, banyak sekali dalil, baik itu yang bersumber dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi e yang menerangkan keistimewaan bulan tersebut. Salah satunya adalah bahwa doa-doa dikabulkan dalam bulan ini.

Disebutkan dalam sabda Rasulullah berikut ini.

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ, إِفْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ, تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَنَّةِ, وَيُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ. فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ.

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa di bulan itu, saat itu itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat, dan pada malam itu juga terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang telah Allah haramkan dirinya dari mendapatkan kebaikan di malam itu, (kebaikan) pun diharamkan untuknya.” (HR Ahmad)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka: (1) Orang yang berpuasa sampai dia berbuka, (2) seorang penguasa yang adil, (3) dan doa orang yang dizalimi (teraniaya).(HR Ibnu Hibban)

Karena Ramadhan adalah bulan rahmat, di mana pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, sedangkan setan-setan terbelenggu maka beribadah dan berdoa di dalamnya pun lebih dianjurkan daripada di bulan-bulan lainnya. Di samping itu, terkabulnya doa di bulan Ramadhan pun lebih utama sesuai dengan bunyi hadits di atas bahwa doa orang yang berpuasa adalah mustajab.

4. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang diistimewakan Allah. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah bersumpah demi sepuluh hari ini.

وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2)

Demi fajar, demi malam yang sepuluh, (QS al-Fajr [89]: 1—2)

Selain itu, ada juga hadits Rasulullah yang membicarakan mengenai keistimewaan sepuluh hari tersebut.

مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ اِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ : وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ, إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَالِكَ بِشَيْئٍ.

“Tiada hari di mana amal shalih lebih disukai Allah di dalamnya, kecuali hari-hari ini (yaitu hari sepuluh pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walaupun amal itu adalah jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab, “Iya, walaupun amal itu adalah jihad fi sabilillah, kecuali seorang yang keluar (berjihad) dengan mengorbankan diri dan hartanya, dan sedikit pun tidak ada yang bersisa darinya (kecuali mati syahid).(HR Turmudzi)

Kemuliaan dan keistimewaan hari-hari itulah menjadikan amal shalih di dalamnya lebih utama dilakukan dibandingkan hari-hari yang lain. Doa yang dipanjatkan di dalamnya termasuk amal shalih yang dikabulkan oleh Allah.

 

Baca Juga: Doa Agar Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

 

5. Hari Jum’at berikut malamnya

Di antara waktu yang mustajab untuk berdoa adalah hari Jum’at berikut malamnya. Mengenai hari jum’at itu sendiri, terdapat hadits Nabi e yang menyebutkan bahwa hari itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ: فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيْهِ اُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَفِيْهِ هُبِطَ اِلىَ الأَرْضِ، وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ، وَفِيْهِ سَاعَةٌ لاَ يَسْأَلُ اللهَ فِيْهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ مِنْ خَيْرِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اِلاَّ أَعْطَاهُ مَسْأَلَتَهُ

“Sebaik-baik hari ketika matahari terbit adalah hari Jum’at karena pada hari itu Nabi Adam a.s. diciptakan, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga, ia juga diturunkan ke bumi pada hari itu, dan hari itu juga kiamat akan tiba. Di dalamnya terdapat suatu waktu yang tidak ada seorang pun berdoa pada waktu itu untuk kebaikan dunia dan akhirat, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia minta.” (HR Abu Daud, Turmudzi, dan Ahmad)

Sebuah pertanyaan timbul berkaitan dengan hadits di atas. Kapan waktunya doa menjadi mustajab? Ada pendapat yang menyebutkan bahwa waktu itu adalah sebelum fajar (di hari Jum’at), pendapat lain menyebutkan sebelum shalat Jum’at, dan ada juga yang berpendapat bahwa waktu itu adalah sore hari sebelum shalat Magrib.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari sahabat Anas r.a. juga disebutkan:

مَنْ دَعَا فىِ صَلاَةِ الْجُمُعَةِ مَا بَيْنَ جُلُوْسِ الإِمَامِ عَلىَ المِنْبَرِ إِلىَ أَنْ يُسَلِّمَ مِنَ الصَّلاَةِ اُسْتُجِيْبَ دُعَاهُ.

“Siapa yang berdoa pada saat shalat jum’at, yaitu antara (waktu) imam duduk di atas mimbar (setelah selesai khutbah pertama) sampai ia selesai salam, niscaya doanya akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Adapun mengenai malam Jum’at, sebuah hadits riwayat Abdullah Ibnu Abbas r.a. menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a. ketika ia mengadukan tentang hapalan Al-Qur’an yang sering hilang dari ingatannya.

إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الجُمُعَةِ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَقُوْمَ فيِ ثُلُثِ اللَّيْلِ الآخِرِ فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُوْدَةٌ وَالدُّعَاءُ فِيْهَا مُسْتَجَابٌ

“Ketika malam Jum’at tiba, jika engkau mampu, hendaknya engkau bangun (shalat Tahajud) pada sepertiga malam yang terakhir karena pada malam itu ada saat-saat yang disaksikan (para malaikat) dan doa di malam itu terkabul.”

Selain malam Jum’at, ada juga malam-malam lain yang mustajab untuk berdoa, seperti yang tertera dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Umar r.a. berikut ini.

خَمْسُ لَيَالٍ لاَ يُرَدُّ فِيْهِنَّ الدُّعَاءُ: لَيْلَةُ الجُمُعَةِ وَأَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَلَيْلَتَا العِيْدَيْنِ.

“Lima malam ketika doa yang dipanjatkan di dalamnya tidak akan ditolak Allah: malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at, malam hari raya Idul Fitri dan malam hari raya Idul Adha.” (HR Baihaqi)

6. Sepertiga malam yang terakhir dan waktu sahur (akhir malam)

Waktu sahur (akhir malam) dan sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang baik untuk beribadah dan berdoa. Sebab, di dalam Al-Qur’an Allah memuji hamba-Nya yang melaksanakan ibadah di waktu sahur,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)

Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir pada malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).(QS adz-Dzâriyât [51]: 17—18)

Begitu juga di dalam kalam-Nya,

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ (17)

“(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.” (QS Âli ‘Imrân [3]: 17)

Selain Al-Qur’an, ada juga sabda Rasulullah yang menerangkan keistimewaan waktu sahur dan sepertiga malam yang terakhir ini.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبُ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيهِ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ‏.

“Tuhan kita Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun ke langit dunia setiap malam ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dengan berkalam, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapakah yang meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Dan siapa yang meminta ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.” (HR Bukhari)

Rasulullah bersabda, “Waktu ketika Allah sangat dekat dengan hamba-Nya adalah saat menjelang sepertiga malam yang akhir.” (HR Turmudzi)

Alangkah indahnya munajat saati itu. Ketika mata sedang terlelap, kita pun seolah hanya berdua dengan Allah. Bagi mereka yang terbiasa bergelimangan kenikmatan dan kemewahan, tentu saja beribadah dan berdoa di waktu seperti itu sangatlah sulit.

Dikisahkan dalam sebuah hadits bahwa seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Wahai Rasulullah, doa apa yang paling didengar oleh Allah?” Beliau menjawab, “Allah akan turun ke langit bumi pada setiap malam di sepertiga malam yang terakhir dan berkalam, ‘Siapa saja yang berdoa kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya. Siapa saja yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya. Siapa saja yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits yang lain, beliau e juga bersabda,

إِنَّ فيِ اللَّيْلِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ مِنْ خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

“Sesungguhnya pada malam hari ada suatu waktu yang jika seorang muslim berdoa pada waktu itu untuk memohon kebaikan maka Allah akan memberikan apa yang dia inginkan.” (HR Muslim dan Ahmad)

Berdasarkan hadits itu, para ulama berpendapat bahwa doa sebaiknya dipanjatkan di seluruh waktu, baik itu pada awal, pertengahan, maupun akhir malam. Harapan kita tentunya bisa bertemu dengan waktu yang disebutkan dalam hadits di atas sehingga apa pun yang kita minta akan terkabul.

Wahai saudaraku yang budiman, sepertiga malam yang terakhir dan akhir malam mengajak kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, bersimpuh, dan memohon kepada-Nya sesuatu kebaikan. Kita hendaknya memulai dari sekarang untuk bermunajat dan berdoa kepada-Nya, niscaya doa kita akan dikabulkan.

7. Ketika melakukan sujud

Di antara beberapa waktu saat doa dikabulkan Allah adalah ketika sujud. Rasulullah bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ العَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Saat di mana seorang hamba sangat dekat dengan Allah adalah ketika ia sedang sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa di dalamnya!” (HR Muslim dan Abu Daud)

Sujud merupakan salah satu bentuk penghambaan. Ketika bersujud kita seolah benar-benar merasakan diri kita kecil, hina, lemah, dan tidak berdaya di hadapan Allah.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. juga disebutkan,

أَلاَ وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ ، فَقُمْنَ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ “

“Ketahuilah bahwa aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’, hendaknya kalian mengagungkan Tuhan Allah U, sedangkan ketika sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa sehingga ketika kamu bangun sujud, doa kamu pun akan terkabul.” (HR Muslim)

Karena sujud adalah tempat terdekat antara seorang hamba dengan Tuhannya maka Allah pun berjanji untuk mengabulkan doa ketika bersujud. Di sini, sebagai sesama muslim yang diikat oleh tali ukhuwah Islamiyah kami ingin mengajak para pembaca. Marilah kita berusaha untuk selalu bersujud dan berdoa kepada Allah! Kita harus bersujud kepada Allah baik secara jasmani maupun rohani.

Berusahalah untuk sujud dan kita juga ikut sujud. Jika kita mampu membuat hati kita mau bersujud kepada Allah, ia (hati kita) akan terus-menerus mengajak kita untuk bersujud kepada-Nya. Sebab, seperti yang kita ketahui bahwa hati adalah raja, sedangkan seluruh anggota tubuh lainnya adalah para prajuritnya.

Marilah kita bersujud dan mendekatkan diri kepada Allah. Ya, mendekatlah kepada yang Maha Pemberi nikmat dan pertolongan. Mulailah dengan mendirikan shalat dua rakaat dan mendekatlah kepada Allah saat kita sujud. Ketika itu kita akan merasakan suatu perasaan luar biasa yang tidak akan pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata.

 

***

Referensi:

  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.