Tawakal: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Tawakal adalah menyandarkan segala sesuatu kepada Allah SWT.  Kata ini juga berarti melepaskan daya dan upaya dan mengembalikannya kepada si pemilik daya dan upaya tersebut. Orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah akan merasakan ketenangan diri dan kestabilan jiwa yang begitu dalam. Hal ini terjadi karena ia merasakan bahwa apa pun yang akan terjadi di dunia ini tidak akan lepas dari kendali dan kekuasaan Allah sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan atau dikhawatirkan karena segala sesuatunya memang terjadi di luar kehendak manusia.

Allah SWT berfirman,

وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهِ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهَ لِكُلِّ شَيۡءٍ قَدۡرًا

”Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.(QS at-Thalaq [65]: 3)

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيۡنَ يَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰهَ عَلَيۡهِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَيۡهِمُ الۡبَابَ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡهُ فَإِنَّكُمۡ غَالِبُوۡنَ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوۡا اِنۡ كُنۡتُمۡ مُؤۡمِنِيۡنَ

Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertaqwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” (QS al-Ma’idah [5]: 23)

 

Daftar Isi

Pengertian Tawakal

Makna tawakal yang hakiki adalah manusia meyakini secara utuh bahwa hukum sebab akibat tidak meniadakan iradah Allah. Bahkan, iradah-Nya sesuai dengan hukum sebab akibat baik dari asalnya, tujuan, maupun akhirnya. Manusia hanya wajib bekerja seperti yang diperintahkan syara’ dan setelah itu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Rasulullah saw. adalah imam bagi orang-orang yang bertawakal sekaligus orang-orang yang berjuang dan selalu tunduk kepada hukum sebab-akibat. Demikian pula Abu Bakar r.a., setelah ia selesai dibaiat menjadi khalifah, ia pun langsung bergegas menuju pasar untuk berdagang seperti biasanya sampai-sampai banyak orang yang berkata, ”Bagaimana engkau melakukan hal itu, padahal engkau adalah khalifah Nabi? Lalu, Abu Bakar menjawab, ”Janganlah engkau merepotkan diriku tentang keluargaku karena sesungguhnya jika aku menyia-nyiakan mereka maka aku juga pasti akan menyia-nyiakan orang-orang selain keluargaku.”

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

”Jika engkau memang benar-benar bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan memberikanmu rezeki, seperti halnya seekor burung yang diberikan rezeki, pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR Turmudzi)

Arti tawakal bukanlah meninggalkan hukum sebab-akibat yang diinginkan Allah dari hambanya. Berbuat dan bekerja merupakan hukum sebab-akibat yang akan menghasilkan sesuatu dengan izin dari Allah, Sang Pencipta sebab. Allah telah memberikan ilham dengan kekuasaan-Nya kepada seekor burung untuk meninggalkan sangkarnya mencari rezekinya. Burung itu tidak akan kembali ke sarangnya, kecuali setelah ia mendapatkan makanannya. Ia pun akan merasa tenang dengan segala usaha yang telah ia lakukan Tawakal adalah keyakinan yang baik kepada Allah dan selalu bersandar kepada kemuliaan-Nya atas segala usaha yang telah dilakukan. Tawakal tempatnya ada di hatimu yang selalu menemanimu. Allah akan selalu mengetahui perasaanmu. Allah akan mengetahui kebenaran ketawakalanmu atau dorongan-dorongan keraguanmu. Usahamu dalam menggapai tujuanmu tidak akan terlepas sama sekali dengan kualitas ketawakalanmu serta kekuatan keyakinanmu. Bahkan, kualitas ketaqwaan yang baik akan memberimu kekuatan untuk bergerak, sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhanmu. Jika engkau pun telah sampai kepada apa yang engkau inginkan maka sesungguhnya hal itu adalah berkat pertolongan dan kemudahan Allah semata. Namun, jika engkau merasakan kesulitan, engkau juga harus mengetahui bahwa hal itu terjadi karena takdir atau ketentuan dari-Nya.

Imam Ghazali dalam Ihya’ mendefenisikan tawakal berikut ini. ”Tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah SWT tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya tatkala menghadapi kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.” Selanjutnya, Imam Ghazali membagi tawakal–sesuai kuat dan lemahnya–menjadi tiga derajat. Pertama, derajat seseorang yang selalu menjaga hak-hak Allah dan yakin akan pertolongan-Nya. Keyakinannya kepada Allah seperti halnya keyakinannya pada orang yang mewakilinya. Kedua, derajat yang lebih tinggi dari yang pertama. Keyakinannya kepada Allah seperti halnya keyakinan seorang anak kepada ibunya. Sang anak tidak mengenal siapa pun, kecuali ibunya. Hanya ibunyalah yang ia takuti dan sebagai tempat bersandar bagi dirinya. Ketiga, adalah derajat yang tertinggi. Pada derajat ini seseorang meyakini bahwa dirinya ada pada kekuasaan Allah, baik dalam setiap gerakan maupun diamnya, sebagaimana mayat yang berada di tangan orang yang memandikannya.

Tustari menegaskan bahwa keyakinan manusia kepada Tuhannya atau ketawakalannya kepada-Nya sama sekali tidak bertentangan dengan pekerjaan, seperti mencari rezeki atau menuntut ilmu. Menurut Tustari, orang-orang yang selalu menyucikan hati mereka dan selalu yakin kepada Allah, tetapi mereka juga masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan duniawi, mereka itulah orang-orang yang diberi jiwa keikhlasan. Sebab, sejatinya keikhlasan merupakan unsur terpenting dalam bertawakal. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang lebih kaya nilai spritualnya daripada ahl-ahli ibadah yang memutuskan diri mereka dari dunia, begitu pula para ahli zuhud yang bodoh.

Jika dilihat dari pengaruhnya pada keimanan, tawakal akan dapat mengukuhkan aqidah keimanan, seperti yang dinyatakan Muhammad Quthb: ”Seorang yang beriman akan menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT. Dirinya akan merasa tenang dengan ketentuan Allah dan tidak merasa cemas dengan beban kecil ataupun besar. Ia tidak pula berkeluh kesah atas segala kesulitan yang ia rasakan dan tidak pula merasa gegabah ketika dalam keadaan senang. Ia tidak pernah khawatir akan rezeki karena rezeki hanya di tangan Allah. Ia tidak pernah takut akan kehidupan karena hidup dan mati hanya di tangan Allah”.

Akhirnya, tawakal akan dapat menghapuskan rasa kekhawatiran, menghilangkan keragu-raguan dan  rasa malas yang menyelinap di dalam hati manusia. Orang yang bertawakal kepada Allah adalah orang yang memahami bahwa segala yang terjadi terkait dengan hukum sebab- akibat sambil ia terus menyandarkan segala urusannya kepada Allah semata.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.