Tawakal

Sudah selayaknya manusia menyerahkan urusannya kepada Allah. Al-Muhasibi menyatakan bahwa barang siapa yang menyerahkan urusannya atau pasrah kepada Allah, hilanglah rasa kekhwatirannya pada dunia, lenyaplah ketakutannya pada manusia, dan musnahlah rasa tamak dalam dirinya. Pasrah merupakan kerjanya niat. Kepasrahan tidaklah menjadi sebuah beban dalam hati atau dalam tubuh manusia, bahkan hati dan tubuh akan menjadi tenang. Sebab, bagaimana mungkin orang yang telah menyerahkan urusannya kepada Allah akan merasa terbebani? Orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah tidak akan melihat dirinya lagi ataupun orang lain karena yang demikian adalah perbuatan orang-orang yang cinta kepada dunia (ahlu dun-ya). Orang-orang seperti ini akan menyerahkan urusannya kepada siapa saja yang dapat memberikan dunia kepada mereka.

Pasrah adalah kemurnian tawakal kepada Allah karena percaya kepada-Nya serta meyakini bahwa kekuasaan-Nya, rahmat, dan kasih sayang-Nya akan berlaku di dunia dan di akhirat. Kepasrahan juga berarti berlindungnya hati seorang mukmin kepada Allah dalam segala urusan. Berlindung karena hati penuh rasa takut dan penuh harap. Al-Muhasibi membagi macam orang yang memasrahkan urusannya kepada Allah menjadi dua golongan. Pertama, golongan orang yang menyerahkan segala urusannya kepada Allah yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki daya dan upaya. Ia tidak pula menunggu kelembutan apa pun, kecuali dari Allah SWT. Jiwanya begitu tenang ketika ia menyerahkan urusannya kepada Allah. Meskipun demikian, ia harus tetap waspada terhadap tipuan setan. Sebab, sifat lupa dan lalai dapat masuk menyelinap ke dalam dirinya hingga ia merasa bahwa dirinyalah yang mengatur segala urusannya, tetapi akhirnya ia pun kembali lagi pada Tuhannya. Melihat hal ini, setan pun masuk ke dalam dirinya dari pintu ujub. Tidak banyak orang yang memahami tentang hal ini, kecuali para ulama.

Kedua, golongan orang yang meyakini dalam hatinya bahwa tidak ada kekuatan dan daya upaya yang dimiliki dirinya. Tidak ada pula kekuasaan baginya karena keyakinannya hanya Tuhanlah Dzat yang menguasai dirinya dan segala urusannya. Ia berkata pada dirinya bahwa segala hal adalah milik Allah semata. Segala sesuatu  yang terjadi dan yang berlaku adalah karena Allah. Menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Ia hanya menunggu apa-apa yang ditentukan dan ditakdirkan Allah serta berbaik sangka kepada-Nya.

Orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah adalah orang yang merasa cukup dan tenang. Allah menyinggung dalam Al-Qur’an tentang ungkapan seorang hamba yang menyerahkan urusannya hanya kepada Allah dan balasan Allah baginya. Allah SWT berfirman, Arab 27

فَسَتَذۡكُرُونَ مَا أَقُولُ لَكُمۡ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِي إِلَى اللّٰهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالۡعِبَادِ (44) فَوَقَاهُ اللّٰهَ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآَلِ فِرۡعَوۡنَ سُوءُ الۡعَذَابِ (45)

”Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk.” (QS Ghâfir [40]: 44–45)

 

Orang yang memiliki niat yang lurus karena Allah akan merasakan bahwa kehendaknya adalah berasal dari kehendak Allah sehingga ia akan memasrahkan urusannya kepada Dzat yang menciptakannya. Ketika niat, kehendak dan kepasrahan seseorang hanya ditujukan kepada Allah maka sampailah ia pada derajat ketaqwaan. Derajat yang membuat jiwa dan hatinya menjadi tenang.

Pasrah adalah menyerahkan diri kepada Allah SWT, baik dalam kesulitan maupun kesenangan. Ketentuan apa pun adalah ketentuan-Nya dan hukum adalah hukum-Nya. Tidak ada apa pun yang dapat terjadi, kecuali dengan izin-Nya karena hanya Allah-lah Dzat yang dapat melakukan apa saja, seperti yang Dia inginkan (fa ‘âl limâ yurîd).

Pasrah bukan berarti diam dan tidak beraktivitas untuk mencari rezeki Allah. Bagi para sufi berusaha mencari rezeki merupakan kewajiban karena berusaha merupakan sunnah Nabi Muhammad saw. Para sahabat Nabi adalah para petani dan pedagang. Namun, mereka tidaklah sibuk dengan kehidupan dunia. Mereka justru berusaha di dunia untuk kehidupan di akhirat kelak. Ibrahim bin Adham berkata, ”Hendaklah kamu bekerja keras, mencari rezeki dari yang halal dan memberi nafkah anak-anakmu.”

            Al-Qur’an telah memberikan gambaran tentang penyerahan diri kepada Allah agar kiranya manusia dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana kisah ibunda Nabi Musa a.s. yang bertawakal kepada Allah untuk menjaga anaknya dari kekejaman Fir’aun. Pada kisah ini, Allah SWT telah memberikan ilham kepadanya untuk meletakkan Musa di sebuah peti dan menghanyutkannya di sebuah sungai. Hati beliau begitu tenang. Allah pun mengilhamkan kepadanya bahwa Musa akan kembali kepadanya dan akan diangkat menjadi seorang rasul. Apa yang diilhamkan Allah itu semuanya terjadi. Hal itu Allah tunjukkan agar manusia meyakini bahwa janji-Nya benar dan tidak akan pernah meleset sedikitpun.