Taubat: Pintu Menuju Surga yang Selalu Terbuka

Taubat artinya adalah kembali, yaitu kembali kepada Allah yang telah menyucikan diri manusia dari segala noda dosa. Ia seperti halnya pintu, di mana segala amal perbuatan akan masuk melaluinya dan akan diterima Allah SWT. Ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang menyeru manusia untuk segera bertaubat kepada-Nya, di antaranya:

وَتُوبُوۡا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ

”Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS an-Nûr [24]: 31)

Bertaubat kepada Allah haruslah dilakukan dengan total dan sempurna, tidak setengah-setengah. Bertaubat adalah menobatkan diri kepada Allah dari segala dosa, baik zahir maupun batin.

Dosa zahir adalah dosa-dosa yang tampak dan dilakukan oleh anggota tubuh kita, seperti mengambil hak orang lain dengan cara yang batil, mendengar perkataan-perkataan yang tidak benar, dan lain sebagainya.

Adapun dosa batin adalah dosa-dosa tersembunyi yang ada di dalam hati, seperti kagum terhadap diri sendiri, takabur, senang dipuji, dan lain sebagainya.

Bertaubat meminta ampun kepada Allah haruslah dilakukan setiap waktu. Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. seperti yang termaktub dalam hadits dari Abu Hurairah r.a. berikut.

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

”Demi Allah! Sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR Muslim)

Imam al-Qusairi mencatat tiga syarat yang harus dipenuhi dalam bertaubat.

Syarat pertama adalah adanya penyesalan atas segala perbuatan yang salah.

Kedua, meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat.

Dan ketiga, adanya keinginan yang kuat (‘azm) untuk tidak mengulangi atau melakukan perbuatan maksiat kembali.

Konsep taubat menurut para sufi tidak hanya dengan menobatkan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa yang telah dilakukan, tetapi hendaknya dengan menyucikan hati secara total dan sempurna atas segala dosa-dosa yang telah dilakukan seorang hamba.

Taubat yang murni adalah taubat yang tidak menyisakan sedikitpun maksiat-maksiat pada diri, baik secara zahir maupun batin. Taubat yang tidak hanya menobatkan diri dari segala maksiat, tetapi juga menobatkan hati dari segala dosa, gejolak-gejolak nafsu, dan gangguan-gangguan setan.

Para sufi telah membuat tingkatan-tingkatan taubat sesuai dengan fase-fase kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Tingkatan taubat adalah berikut ini.

Pertama, tingkatan taubat di mana sebuah keburukan telah melintas di alam pikiran, lalu hati kecil pun (dhamir) menyadarkannya sebelum ia melakukan perbuatan buruk tersebut atau berniat melakukannya.

Kedua, tingkatan di mana diri selalu mewaspadai segala bentuk keburukan hingga dirinya terjebak dalam sifat-sifat jiwa yang dibenci Allah, seperti kagum terhadap dirisendiri, sombong, dan iri. Namun, setelah itu hati kecilnya pun tersadarkan, lalu merasa menyesal sehingga meninggalkan keburukan-keburukan tersebut.

Ketiga, tingkatan seseorang yang melalaikan dirinya sehingga ia ingin berbuat keburukan. Namun, hati kecilnya menyadarkannya dan ia pun menyesali serta meninggalkan apa yang ia inginkan.

Keempat, yaitu ketika seorang hamba telah lalai, lalu anggota tubuhnya pun mulai melakukan dosa, tetapi dirinya tersadarkan hingga ia pun tidak melanjutkan perbuatan dosanya.

Kelima, yaitu ketika seorang hamba telah selesai melakukan dosa dan ia pun tersadarkan akan dosanya, lalu ia menyesalinya dan segera bertaubat atas dosa yang ia lakukan serta tidak berkeinginan untuk melakukan perbuatan dosa kembali.

Keenam, tingkatan seorang hamba yang lalai untuk mengintrospeksi dirinya hingga dirinya pun melakukan dosa.

Tokoh sufi yang lain, yaitu Abu Thalib al-Makkiy juga menjelaskan tentang sepuluh sifat taubat manusia berikut ini.

Pertama, wajib bagi seorang hamba untuk tidak bermaksiat kepada Allah.

Kedua, jika ia diuji dengan maksiat, hendaknya ia tidak terus-menerus melakukannya.

Ketiga, hendaklah ia bertaubat kepada Allah atas segala perbuatan maksiatnya.

Keempat, menyesali atas segala perbuatan yang ia lakukan.

Kelima, berusaha untuk selalu istiqamah dalam ketaataan hingga datang kematian.

Keenam, takut hukuman Allah.

Ketujuh, memohon ampunan kepada Allah.

Kedelapan, mengakui dosa.

Kesembilan, meyakini bahwa Allah telah menentukan jalan hidupnya, tetapi ia menyimpang dari jalan-Nya.

Kesepuluh, selalu melakukan amal-amal kebaikan untuk menghapus dosa-dosa, seperti yang termaktub dalam hadits Nabi Muhammad saw. dari Abu Dzar berikut ini.

وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

”Ikutilah keburukan dengan kebaikan agar ia dapat menghapuskan keburukan.” (HR Turmudzi)

Al-Muhasibi juga menjelaskan tentang jalan menuju taubat. Ia berpendapat bahwa taubat haruslah dilakukan dengan meninggalkan perbuatan maksiat, baik yang terlintas di dalam hati maupun yang dilihat dan didengar. Kemudian, beliau juga membagi manusia dalam tiga tingkatan berikut ini.

Pertama, tingkatan orang yang selalu berbuat baik, tetapi adakalanya melakukan kesalahan ketika ia dalam keadaan alpa. Kemudian, ia kembali kepada hati yang suci, yaitu hati yang tidak dikuasai oleh syahwat. Hati yang tidak menikmati hal-hal yang dinilai haram dan dosa.

Hati yang selalu menjaga dan melaksanakan hak-hak Allah. Baginya, cobaan atau ujian sangat ringan ia rasakan. Dorongan-dorongan hawa nafsu sangat kecil dalam dirinya. Hal itu terjadi karena hatinya yang suci akan selalu menerima dan mencintai Allah.

Kedua, tingkatan seorang yang telah bertaubat setelah melakukan kesalahan kecil. Ia telah kembali kepada Allah dari kebodohannya dan merasa menyesal atas segala dosa yang telah ia lakukan. Ia juga tidak pernah meninggalkan kewajiban-kewajibannya.

Meskipun ia selalu didorong oleh kekuatan nafsunya untuk kembali kepada kebiasaannya berbuat keburukan, tetapi ia terus berjuang melawan hawa nafsunya dan takut kepada akibat dari perbuatan buruknya tersebut. Akhirnya, jalan menuju ketaatan kepada Allah pun terbuka untuknya.

Dengan pertolongan Allah tersebut, ia pun mampu untuk menundukkan hawa nafsunya dan Allah menguatkan kelemahannya serta mematikan dorongan hawa nafsunya. Nalarnya telah dapat mengalahkan hawa nafsunya dan ilmunya dapat menundukkan kejahilannya.

Ketiga, yaitu tingkatan seorang yang terus melakukan dosa dan keburukan. Hatinya pun terlalaikan oleh hawa nafsunya. Hal itu terjadi karena rasa takutnya kepada Allah begitu lemah.

Keyakinannya hanya sampai kepada keimanan bahwa Allah telah menciptakan alam akhirat ini, lalu membangkitkan manusia, dan sebagai tempat akhir perjalanannya. Lalu, manusia pun ditanya tentang apa yang telah ia lakukan dan setelah itu ia mendapatkan pahala atau siksaan atas soal-soal yang telah diberikan kepadanya. Kemudian, manusia pun hidup kekal sesuai dengan kehendak Allah SWT setelah ia merasakan azab yang pedih.

Taubat sejatinya dapat membukakan pintu pengharapan bagi manusia pada kehidupan yang baru, kehidupan yang putih dan bersih. Seseorang yang telah bertaubat dengan benar maka keuntungannya untuk dirinya karena ia telah memperbaiki dan menyucikan dirinya dari segala kesalahan yang berawal dari syahwat dan perbuatan-perbuatan yang buruk.

Jadi, patutlah agar manusia selalu memperbarui taubatnya kepada Allah, seperti halnya yang telah dilakukan Rasulullah saw. yang memperbarui taubatnya setiap hari. Dari Ibnu Umar r.a., Rasulullah saw. bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

”Wahai manusia! Bertaubatlah kamu kepada Allah karena sesungguhnya diriku bertaubat kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam sehari.”(HR Muslim)

Ibnu Atha’ilah berpendapat bahwa cara yang harus ditempuh untuk sampai kepada taubat adalah tafakur dan khalwat. Jika seorang salik ingin maqamatnya terjaga maka hendaklah ia selalu berpikir tentang perbuatan-perbuatan yang telah ia lakukan di siang hari. Jika ia menemukan ketaatan dirinya kepada Allah, hendaklah ia bersyukur.

Namun, jika ia menemukan maksiat pada dirinya, hendaklah ia mencaci dirinya dan memohon ampunan kepada Allah SWT serta bertaubat kepada-Nya. Ibnu Atha’illah juga menyatakan bahwa hal yang terpenting untuk mewujudkan maqam taubat adalah keimanan bahwa iradah Allah adalah mutlak dan meliputi segala sesuatu di mana tidak akan ada sesuatu apa pun yang keluar dari ketentuan-Nya.

Di samping itu, seorang salik haruslah selalu berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah. Seandainya ia melakukan dosa maka seharusnya ia tidak memperbesar dosanya lagi dan berputus asa atas dosa yang ia lakukan, yang menyebabkan dirinya enggan untuk bertaubat.

Jika salik tersebut mengetahui Tuhannya yang memiliki sifat-sifat bijaksana, mulia, dan pengampun, niscaya ia tidak akan menganggap remeh dosanya meskipun dosanya begitu besar. Seorang salik yang sudah mencapai maqam taubat, seharusnya juga sampai kepada hal isqat al-iradah wa tadbir, yaitu suatu kondisi kejiwaan di mana seorang sufi telah meluruhkan/menyerahkan segala kehendak serta pengaturan hanya kepada Allah SWT.

Menurut Ibnu Atha’illah, seorang salik (seseorang yang menjalani disiplin spiritual dalam menempuh jalan Islam untuk membersihkan dan memurnikan jiwanya) haruslah bertaubat dari berbagai dosa hati, seperti merasa dalam hatinya bahwa ia memiliki ikhtiar dan kemampuan untuk mengatur (ikhtiyar wa tadbir). Dosa-dosa hati ini termasuk dosa yang begitu buruk.

Ketika taubat dimaknai dengan kembali kepada Allah dari segala sesuatu yang tidak diridai-Nya. Jadi, dosa karena tadbir (merasa memiliki kemampuan untuk mengatur) adalah merupakan sebuah kesyirikan rububiyyah sekaligus merupakan bentuk kekufuran atas nikmat akal yang telah diberikan Allah SWT.

Taubat harus segera dilakukan karena dikhawatirkan jika ditunda-tunda pintu taubat akan ditutup Allah SWT. Dalam nasihatnya tentang taubat, Syekh Abdul Qadir Jailani berkata, ”Bersegeralah mengambil keuntungan dari pintu kehidupan selagi belum ditutup untukmu. Perbanyaklah melakukan amal-amal baik selagi masih ada kesempatan. Cepatlah memasuki pintu taubat selagi pintu itu terbuka untukmu. Gunakanlah pintu doa selagi ia terbuka untukmu. Gunakanlah kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang saleh selagi kesempatan itu terbuka untukmu. Bangunlah apa yang telah kamu rusakkan. Cucilah apa yang telah engkau lumuri dengan najis. Perbaikilah sesuatu yang telah engkau robohkan. Kembalikan apa yang telah engkau ambil. Kembalilah kepada Tuhanmu dari kepergianmu. Wahai gulam, tidak ada di sini, kecuali al-Haq ‘Azza wa Jalla. Jika engkau bersama khaliq maka engkau adalah hamba-Nya. Jika engkau bersama makhluk maka engkau adalah hamba mereka ….”

Taubat juga merupakan salah satu kunci terpenting untuk mengobati jiwa dari segala macam kesalahannya sekaligus sebagai media untuk menyucikan hati dan jiwa serta menumbuhkan pengharapan dalam diri yang telah dirusak oleh rasa kekhawatiran dan rasa pesimis.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.