Taqwa: Pengertian dan Penjelasannya [Lengkap]

Taqwa adalah derajat pertama para ahli ibadah (‘abidin). Dengan taqwa, para ahli ibadah mengetahui tingkat yang lebih tinggi darinya. Dengan taqwa pula, para ahli ibadah membersihkan jiwa mereka karena Allah tidak akan menerima amalan, kecuali yang diridai-Nya.

Taqwa yang benar kepada Allah akan memberikan rasa aman dari ketakutan, menghadirkan rasa kesenangan dari kesedihan, dan menghidangkan ketenangan dari segala rasa yang mengimpit. Allah SWT berfirman,

اِنَّ الۡمُتَّقِيۡنَ فِي مَقَامٍ اَمِيۡنٍ

Sungguh, orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman.” (QS ad-Dukhân [44]: 51)

 Bahkan, Allah juga menguatkan makna taqwa tersebut dalam ayat-ayat-Nya yang lain.

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيۡنَ اتَّقَوۡا وَالَّذِيۡنَ هُمۡ مُحۡسِنُوۡنَ

Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS an-Nahl [16]: 128)

يَا اَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنَاكُمۡ مِنۡ ذَكَرٍ وَاُنۡثَى وَجَعَلۡنَاكُمۡ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَتۡقَاكُمۡ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS al-Hujurat [49]: 13)

             Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri r.a., ia berkata,

وَعَنْ أَبِي سَعِيْد الخُدْرِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ النَّبىِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَانَبِىَّ اللهُ أَوْصِنِى . فَقَالَ : عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّهُ جِمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ

 ”Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw. Ia berkata, ’Wahai Nabi, nasihatilah diriku.’ Nabi bersabda, ’Bertaqwalah kamu kepada Allah karena di dalamnya ada  semua kebaikan’ ….”(HR Abu Ya’la)

 

Pengertian Taqwa

Asal taqwa itu menurut Qusyairi adalah menjauhi diri dari kesyirikan, lalu menjauhi diri dari maksiat dan keburukan. Kemudian, ia menjauhi diri dari syubhat dan hal-hal yang berlebihan. Adapun tanda-tanda taqwa itu ada tiga; pertama, bertawakal ketika tidak menerima. Kedua, rida atas apa yang telah diterima. Ketiga, sabar dengan apa yang telah berlalu.

Tustari memberikan komentarnya tentang taqwa. Ia berpendapat, ”Taqwa adalah nama dari nama-nama Allah. Perilaku taqwa adalah dengan meninggalkan larangan dan perbuatan keji.” Ia juga berkata, ”Maqam seluruh ibadah adalah lebih rendah daripada taqwa.”

Syekh Abdul Qadir Jailani memberikan komentarnya tentang firman Allah SWT pada Surah al-Hujurât Ayat 13 berikut ini. ”Kemuliaan itu ada dalam ketaqwaan kepada-Nya dan kehinaan itu ada dalam kemaksiatan kepada-Nya. Barang siapa menginginkan kekuatan dalam memegang teguh agama, hendaklah ia bertawakal kepada Allah SWT. Sebab, tawakal dapat mengobati dan menjadikan ketabahan hati, bahkan memelihara serta mendidiknya. Ia juga menunjukkan dan memperlihatkan kepadanya berbagai keajaiban. Janganlah kamu bergantung pada uang dan asbabmu karena semuanya itu akan melemahkan dan menghinakanmu. Bertaqwalah kepada Allah SWT maka Dia akan menguatkan dan menolongmu. Dia akan lembut kepadamu dan membukakan untukmu jalan yang tidak terduga. Dia akan menguatkan dirimu. Janganlah kamu peduli apakah orang menerima atau tidak, dunia datang atau pergi. Ketika itu kamu akan menjadi orang yang paling kuat. Jika kamu bergantung kepada harta, kedudukan, dan keluarga, serta asbabmu, berarti kamu telah memancing kemurkaan Allah SWT terhadapmu.”

Allah SWT menginformasikan bahwa perintah taqwa selalu ada dalam semua syari’at, di antaranya,

وَلِلّٰهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الۡاَرۡضِ وَلَقَدۡ وَصَّيۡنَا الَّذِينَ اُوتُوا الۡكِتَابَ مِنۡ قَبۡلِكُمۡ وَاِيَّاكُمۡ اَنِ اتَّقُوا اللَّهَ وَاِنۡ تَكۡفُرُوا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الۡاَرۡضِ وَكَانَ اللّٰهُ غَنِيًّا حَمِيۡدًا

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertaqwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS an-Nisâ’ [4]: 131)

Fairus Abadi mengomentari: ”Dari ayat tersebut bisa dimengerti bahwa seandainya di dunia ini ada sikap yang lebih berkenan untuk seorang hamba; lebih banyak kebaikannya; lebih besar pahalanya, lebih berkualitas ibadahnya; lebih besar pengharapannya; lebih enak dilakukan; lebih menyelamatkan ketika kembali ke akhirat dari pada taqwa ini, tentu Allah SWT sudah memerintahkan kepada semua hamba-Nya dan berpesan kepada mereka karena hikmah dan rahmat Allah SWT begitu sempurna. Kalau Allah SWT sudah memerintahkan kepada seluruh hamba-Nya, baik dahulu maupun sekarang, untuk tetap berpegang pada taqwa ini, tentu kita tahu bahwa watak ini adalah puncaknya watak yang tidak tertandingi dan tidak terkalahkan. Segala nasihat, petunjuk, bimbingan, perilaku, etika, pelajaran, dan pendidikan telah Allah satukan dalam perintah taqwa tersebut.”

***

Demikian penjelasan mengenai taqwa. Semoga menginspirasi dan memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai taqwa.

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.