Takabur: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Takabur, apa itu? Manusia tidak berhak menyombongkan dirinya kapan dan di mana pun karena sifat sombong adalah milik Allah SWT semata. Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits qudsi,

الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

”Sombong adalah serban-Ku, keagungan adalah kain-Ku. Barang siapa yang ingin berselisih dengan-Ku satu dari keduanya maka akan Aku campakkan ia ke neraka.”(HR Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi)

Orang yang menyombongkan dirinya akan selalu merasa bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain. Sifat itu akan membuat orang-orang menjadi benci dan akhirnya pergi meninggalkannya. Bahkan, yang lebih membahayakan, sifat sombong akan menjadikan pelakunya senang berbuat keburukan-keburukan. Ia akan menolak jika dinasihati dan tidak menerima pendapat orang lain. Berikut beberapa ayat yang mencela sifat takabur.

وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي الۡأَرۡضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS Luqmân [31]: 18)

Bahkan, Allah mengancam orang yang sombong dengan azab yang pedih dan ditempatkan di neraka.

سَأَصۡرِفُ عَنۡ آَيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَقِّ وَإِنۡ يَرَوۡا كُلَّ آَيَةٍ لَا يُؤۡمِنُوا بِهَا وَإِنۡ يَرَوۡا سَبِيلَ الرُّشۡدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا وَإِنۡ يَرَوۡا سَبِيلَ الۡغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمۡ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَكَانُوا عَنۡهَا غَافِلِينَ

”Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Kalaupun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku) mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak (akan) menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya. (QS al-A‘râf [7]: 146)

لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الۡمُسۡتَكۡبِرِينَ

Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang takabur.” (QS an-Nahl [16]: 23)

وَيَوۡمَ الۡقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللّٰهِ وُجُوهُهُمۡ مُسۡوَدَّةٌ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوًى لِلۡمُتَكَبِّرِينَ

”Dan pada hari Kiamat engkau akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, wajahnya menghitam. Bukankah neraka Jahanam itu tempat tinggal bagi orang yang menyombongkan diri?” (QS az-Zumar [39]: 60)

Kesombongan pulalah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan Allah SWT dari rahmat-Nya. Iblis mendapatkan murka Allah karena rasa sombongnya. Ibadah yang dilakukannya beratus-ratus tahun seakan-akan tiada guna dan tiada bermanfaat karena dibakar oleh rasa sombongnya. Sombong dalam beramal, sombong dalam beribadah, berarti melupakan Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan nikmat untuk dapat beramal dan beribadah. Sebab, sejatinya amal dan ibadah apa pun yang dapat dilakukan hal itu semata-mata karena Allah yang memberikan anugerah-Nya.

Sifat sombong dapat hadir dalam diri siapa saja. Ada orang yang sombong dengan ilmunya sehingga ia menghina orang lain karena ia merasa bahwa hanya ia yang tahu. Biasanya orang yang sombong karena ilmunya sulit untuk menerima nasihat dari orang lain. Ada juga yang menyombongkan dirinya karena keturunan. Membangga-banggakan kedudukan keluarga, ayah, kakek, dan lain sebagainya. Memandang orang lain lebih rendah kedudukannya dari dirinya. Ada juga yang menyombongkan dirinya karena kekuasaan dan kekayaan. Orang-orang yang sombong sebenarnya akan merugi karena pada hakikatnya ia telah menzalimi dan membohongi dirinya sendiri.

Rasulullah saw. telah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang takabur. Dalam haditsnya, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

”Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya terdapat kesombongan meskipun sebesar atom.”  (HR Muslim, Abu Dawud, dan Turmudzi)

Demikianlah balasan bagi orang-orang yang takabur, orang-orang yang melupakan siapa dirinya, serta melupakan dari mana harta dan jabatannya.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.