Syukur: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Syukur merupakan pendamping dari kata rida. Setiap kali rasa untuk bersyukur itu bertambah, keridaan pun akan  lebih mendalam. Allah SWT berfirman,

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِنۡ شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡ وَلَئِنۡ كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrâhîm [14]: 7)

Secara bahasa, syukur adalah memuji orang yang telah berbuat baik karena ia telah memberikan kebaikan-kebaikan. Lawan dari syukur adalah kufur. Adapun secara syar’i, syukur adalah menggunakan seluruh yang diberikan Allah, seperti pendengaran, penglihatan, hati, dan yang lainnya sesuai dengan tujuannya. Syeikh Mustafa al-Maraghi memberikan ulasannya tentang syukur. Dia berkata, ”Kata syukur merupakan kumpulan kata-kata yang di dalamnya terdapat rangkaian setiap kebaikan dan meliputi segala sesuatu yang selaras dengan hati manusia serta anggota tubuhnya. Orang yang tidak mencintai Allah dan hatinya tidak menyaksikan berbagai nikmat yang berasal dari Allah sebagai kemuliaan dan kebaikan untuk dirinya, ia tidaklah dinyatakan sebagai orang yang bersyukur. Orang yang tidak menyanjung Tuhannya, tidak pula memuji-Nya dengan lisannya maka ia terperangkap dalam kebatilan. Ia hanya menggunakan lisannya untuk berkata-kata yang tidak baik. Jadi, yang demikian itu adalah orang yang tidak bersyukur. Orang yang diberikan Allah ilmu, tetapi tidak mengamalkannya maka ia juga dinyatakan tidak bersyukur. Orang yang diberikan kepadanya harta untuk dapat membantu ketaatannya kepada Allah, yaitu dengan menggunakan hartanya untuk hal-hal kebaikan dan kebaktian, tetapi ia malah bakhil atau menggunakan hartanya untuk kemaksiatan, ia juga dinyatakan orang yang tidak bersyukur.”

 

Pengertian Syukur

Menurut para ulama, syukur terbagi tiga.

Pertama, syukur dengan lisan, yaitu menunjukkan syukur kepada Allah dengan memuji-Nya dan ber-tahaddus akan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia serta menyanjung-Nya dengan mengingat nikmat-nikmat-Nya. Menyifati Allah dengan kemuliaan dan sebagainya untuk menunjukkan kebaikan nikmat yang telah diterima serta pengakuan akan kerendahan diri di hadapan Allah. Syukur dengan lisan adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala kondisi, sebagaimana termaktub dalam hadits dari Aisyah r.a. berikut ini.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

”Rasulullah saw. selalu mengingat Allah dalam setiap waktu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Begitu juga dalam hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa Musa a.s. berkata,

رَبِّ قَدْ أَنَعَمْتَ عَليَّ كَثِيْرًا، فَدُلَّنِى عَلىَ أَنْ أَشْكُرَكَ كَثِيْرًا قَالَ اُذْكُرْنِى كَثِيْرًا فَقَدْ شَكَرْتَنِى كَثِيْرًا وَإِذَا نَسِيْتَنِى فَقَدْ كَفَرْتَنِى

”Wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memberikan nikmat yang banyak kepadaku maka tunjukkanlah aku agar kiranya aku dapat bersyukur lebih banyak lagi. Allah berfirman, ”Ingatlah Aku sebanyak-banyaknya maka sesungguhnya engkau telah banyak mengingat-Ku. Jika engkau melupakan-Ku maka engkau telah kufur kepadai-Ku.(HR Baihaqi)

Kedua, syukur dengan hati. Imam Sya’rani berkata dalam Lathaif al-Manan, ”Syukur dengan hati tidaklah diperoleh seorang hamba, kecuali dengan meyakini dengan seutuhnya bahwa semua yang ia terima, seperti nikmat, manfaat, kenikmatan, gerakan, dan keadaan diam merupakan anugerah dari Tuhannya, tidak dari yang lainnya. Kesyukuran seorang hamba dengan lisannya harus sesuai dengan apa yang terdapat di dalam hatinya yang menyatakan bahwa tidak ada siapa pun yang memberikan nikmat, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.”

Ketiga, syukur dengan seluruh anggota tubuh, yaitu dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan Allah berupa ibadah-ibadah. Shalat merupakan rasa syukur kepada Allah, begitu pula dengan zakat, puasa, dan haji. Seluruh yang dilakukan manusia hanya untuk mencari keridaan Allah merupakan ungkapan rasa syukur kepada-Nya.

Imam Syibli berkata, ”Syukur adalah melihat si pemberi nikmat dan bukan melihat nikmat yang diberi.” Sebahagian orang ‘arif berkata, ”Kesyukuran orang-orang awam adalah pada makanan dan pakaian. Adapun syukurnya orang-orang khusus adalah pada makna-makna yang tercetus di hati mereka.”

Para sufi ternama selalu menganggap kecil cobaan-cobaan dunia ini dan selalu menjaga agama mereka. Seperti yang diceritakan bahwa seorang laki-laki mendatangi al-Tustari untuk melaporkan kejadian yang menimpa dirinya. Ia berkata, ”Ada maling yang masuk ke rumahku, ia mengambil harta-hartaku.” Al-Tustari berkata kepadanya, ”Bersyukurlah kamu kepada Allah karena jika saja pencuri dapat masuk ke hatimu (setan) maka ia akan merusak tauhidmu. Apa yang dapat engkau lakukan?”

Para sufi juga membedakan antara syakir (orang yang bersyukur) dan syakur (orang yang lebih/banyak bersyukur). Syakir adalah orang yang bersyukur atas sesuatu yang ada. Adapun syakur adalah orang yang bersyukur atas sesuatu yang tidak ada atau yang hilang. Ada juga yang berkata bahwa syakur adalah orang yang bersyukur dengan harta yang telah ia infakkan di jalan Allah. Ia tidak pula menabungkan hartanya. Ia selalu bersyukur kepada Tuhannya dengan hatinya. Baginya tidak ada waktu yang berlalu, kecuali ia berdzikir kepada Tuhannya.

Para sufi tidak hanya bersyukur ketika mereka menerima sebuah pemberian dari Allah, seperti halnya orang-orang awam. Bahkan, mereka juga bersyukur ketika tidak mendapatkannya karena mereka melihat bahwa ketika tidak mendapat hal itu merupakan pemberian dari Allah. Para sufi tidak hanya memahami syukur sebatas pada pujian dan sanjungan kepada Allah, tetapi juga dipahami dengan sikap komitmen untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah, menggunakan nikmat-nikmat Allah untuk taat kepada-Nya, dan bukan untuk maksiat.

Menurut Imam al-Ghazali, syukur terdiri atas ilmu, keadaan, dan amal. Yang dimaksud dengan ilmu adalah mengenal nikmat dari si pemberi nikmat. Adapun keadaaan adalah kegembiraan yang terjadi karena pemberian itu. Sementara amal adalah bertindak melaksanakan apa yang menjadi keinginan orang yang membawa nikmat dan yang dicintai. Amal ini ada yang berhubungan dengan hati, anggota badan, dan lisan. Semuanya berkaitan dengan hakikat syukur.

Imam al-Ghazali juga menguraikan dengan sangat panjang tentang sebab-sebab yang memalingkan seseorang dari syukur. ”Anda sebaiknya mengetahui bahwa kelengahan manusia dalam mensyukuri nikmat itu karena kebodohan dan kelengahan. Kedua hal ini pula yang menghalangi seseorang dalam menyadari adanya nikmat, sedangkan mensyukuri nikmat itu hanya bisa setelah menyadarinya. Kemudian, setelah menyadarinya mereka mengira bahwa mensyukuri nikmat itu hanya berkata dengan lidah: alhamdulillah dan as-syukru lillah. Mereka tidak sadar bahwa arti syukur itu adalah mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan hikmat sempurna yang dikehendaki, yaitu taat kepada Allah SWT. Setelah adanya dua macam kesadaran ini, tidak ada yang menghalangi syukur lagi, kecuali tenggelam dalam syahwat dan berada di bawah kekuasaan setan.” Ingatlah bahwa mengingkari nikmat-nikmat Allah dan pemberian-Nya akan menyebabkan hilangnya nikmat dan mengundang kemurkaan Allah.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.