Sakinah Mawaddah Warahmah: Makna dan Kiat Menggapainya

Sakinah Mawaddah Warahmah – Islam tidak melihat pernikahan hanya sebatas ikatan antara dua jenis manusia saja, namun menganggapnya sebagai hubungan yang kuat, ikatannya mengikat erat tak terlepas, yang menghimpun antara dua orang yang mengikat janji untuk membina keluarga yang saling bertautan, yang dijalin dengan ikatan rahim. Selain itu islam menagaskan bahwa kekuatan keluarga adalah cinta, saling menyayangi, dan saling berinteraksi.

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (21)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS ar-Rūm [30]: 21)

Sebagaimana ada faktor yang berkontribusi mengeruhkan jernihnya hubungan rumah tangga, bahkan menghancurkannya, ada juga beberapa faktor yang menguatkan hubungan tersebut, menambah kekuatannya, membantu tertanamnya investasi kebahagiaan rumah tangga, dan menjaganya antara pasangan suami istri. Semoga kita semua berusaha untuk bersama mencapai beberapa faktor, yang direpresentasikan dalam beberapa poin berikut.

 

Pentingnya Pernikahan dalam Islam

Sungguh pujian itu hanya untuk Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan Kami berlindung kepada Allah dari segala kejahatan jiwa kami, dari berbagai keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang Allah beri petunjuk, tak seorang pun mampu menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkannya, tak seorang pun mampu memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS Âli ‘Imrān [3]: 102)

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS an-Nisā’ [4]: 1)

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung. (QS al-Ahzāb [33]: 70–71)

Hidup tenang adalah satu dari kebutuhan hidup agar masyarakat stabil, tumbuh, dan membangun sehingga makhluk dapat beribadah dan berkarya. Begitu juga, jiwa manusia secara natural memiliki kecenderungan untuk merasa tenteram dan tenang dengan jiwa lain. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman saat menjelaskan berbagai nikmat dari-Nya yang melimpah ruah dan berbagai tanda kekuasaannya:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS ar-Rūm [30]: 21).

Ya, pasangan yang membuatmu merasa tenteram kepadanya sehingga redaksi-Nya bukan agar kamu merasa tenteram bersamanya (لتسكنوا معها). Hal ini merupakan bukti bahwa pernikahan adalah ketenteraman, stabilitas, ketenangan, dan kedamaian batin. Di sinilah urgensi pernikahan dalam Islam dan perlunya sebuah keluarga diayomi. Oleh karena, itu syariat menganjurkan pernikahan dan memerintahkan untuk memudahkannya serta meringankan jalannya. Islam melarang setiap hal yang menghadang jalan pernikahan, menghalangi kesempurnaannya, dan mengeruhkan kejernihannya.

Perintah Allah untuk menikah, “… maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil maka (nikahilah) seorang saja ….” (QS an-Nisā’ [4]: 3)

Firman-Nya yang lain, Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.(QS an-Nūr [24]: 32)

Dalam sebuah hadits Nabi saw. bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah maka menikahlah.” (HR Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400)

Dengan demikian, pernikahan adalah sunnah Rasulullah saw. dan jalan orang-orang shalih. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Islam memperhatikan pembentukan keluarga dan memperbaikinya. Sebab, keluarga adalah fondasi masyarakat yang kuat dan rapat serta selaras dengan keterpautan dan jalinan ikatan keluarga. Oleh karena itulah, Nabi saw. mengumpamakan kaum muslim seperti bangunan kukuh, yang satu sama lain saling menguatkan, Sungguh seorang mukmin pada mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain—seraya merapatkan jari-jarinya.” (HR Bukhari no. 5567, 226, 459, an-Nasa’I no. 2513, dan Turmudzi no. 1851)

Nabi saw. juga menganjurkan untuk menikahi dengan yang sepadan dan melarang mempersulit kaum wanita. Hal ini berdasarkan firman Allah, Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai idahnya, maka jangan kamu halangi mereka menikah (lagi) dengan calon suaminya ….” (QS al-Baqarah [2]: 232)

Al-Qur’an dan Sunnah juga menjelaskan tentang hak dan kewajiban pasangan suami-istri. Sebab, stabilitas rumah dan keshalihan keluarga tidak mungkin ada, kecuali dengan adanya hubungan yang stabil antara suami-istri dan keberhasilan mereka dalam membina rumah tangga. Sebagaimana dikatakan bahwa seseorang yang kehilangan sesuatu tidak akan dapat memberi. Seorang ayah dan ibu yang tidak bahagia dalam kehidupan rumah tangganya, mereka tidak akan mempersembahkan apa pun bagi masyarakat, apalagi melahirkan generasi shalih, yang mampu membangun dan memimpin.

Pernikahan yang sukses adalah kesuksesan bagi masyarakat. Kebobrokan rumah adalah kebobrokan peradaban. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Nabi saw. bersabda, “Sungguh Iblis membangun singgasananya di atas air dan mengirim bala tentara, yang terdekat dengannya, adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu dari mereka datang kepadanya, dan berkata, Aku telah melakukan begini dan begitu. Lalu, Iblis berkata, ‘Kau tidak berbuat apa-apa.’ Lalu, salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya, hingga aku dapat memisahkan antara ia dan istrinya.’ Iblis mendekatinya dan berkata, Engkaulah sebagus-bagus (Iblis). (HR Muslim no. 2813)

Jika demikian perilaku Iblis yang terkutuk, para pengikutnya pun dari golongan perusak, berambisi untuk menghancurkan entitas tersebut, dan memecah-belah ikatan masyarakat, yaitu dengan cara memecah-belah keluarga. Akibatnya, saat ini angka perceraian meningkat drastis dan persentase perawan tua makin naik. Tentu saja hal ini sebuah bahaya besar. Masyarakat yang individualis, anak-anak yang menghilang, wanita-wanita yang menua tanpa pasangan, kerusakan yang menjadi biasa, dan tumbuhnya kedengkian antarkeluarga. Hal ini menjadi kewajiban bagi para pendidik, reformis, dan insan media untuk memperhatikan sisi tersebut. Masalah rumah tangga yang terus meningkat dan bermacam jenisnya menimbulkan berbagai dampak negatif. Dalam runtuhnya mahligai rumah tangga dan kehancurannya, terdapat banyak situasi rumit.

Kita semua tahu bahwa kesempurnaan itu didambakan, padahal perbedaan adalah karakter manusia. Pasangan suami-istri tidak mungkin sama antara satu dan lain, baik karakter, moralitas, keinginan, maupun pemikiran. Cukuplah yang membedakan mereka adalah laki-laki dan wanita. Mereka juga tidak hidup di dua alam yang terpisah, tetapi dalam sebuah masyarakat yang memiliki tuntutan dan pengaruhnya sehingga bisa saja badai pertengkaran mengenai sebagian keluarga. Suami-istri dapat berbeda di setiap rumah, bahkan di dalam rumah Nabi saw. tidak lepas dari perbedaan. Itulah sunnah kehidupan. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Rumah yang baik adalah rumah yang berfondasikan ketakwaan serta masing-masing pasangan mengetahui modal dan tantangannya sehingga perbedaan di antara mereka tidak akan memberikan pengaruh apa pun. Bahkan, mereka makin rekat dan kukuh. Rumah memberinya kesadaran dan pengetahuan sehingga kesalahan dapat diperbaiki dan pintu-pintu keburukan dapat diminimalisasi di kemudian hari.

Secara sekilas dapat diketahui bahwa faktor pemicu masalah rumah tangga adalah adanya maksiat kepada Allah SWT dan pelanggaran terhadap perintah-Nya dalam perkara pernikahan. Lembaga pernikahan menjadi derita dan siksaan daripada rasa tenteram dan kasih sayang. Allah SWT berfirman, Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy-Syūrā [42]: 30)

Tentu saja bencana terbesar adalah kehancuran rumah tangga. Sebagian kalangan salaf berkata, “Sungguh aku durhaka kepada Allah, aku mengetahuinya dari kendaraan tungganganku dan perilaku istriku.”

Salah seorang ulama berkata, “Dosa mereka sedikit dan mereka mengetahuinya. Mereka tahu dari mana mereka datang.”

Seseorang yang menampakkan kemaksiatan di hadapan Allah, apakah ia akan menunggu taufik-Nya? Barang siapa yang mendurhakai Allah dan tidak menaati-Nya, bagaimana mungkin istrinya akan menaatinya. Begitu juga, seorang istri yang tidak maksimal kepada Allah, sebaiknya ia tidak perlu menunggu suaminya melakukan tugasnya dengan baik. Meskipun demikian, maksiat yang dilakukan oleh salah satu dari pasangan suami-istri tidak berarti memperkenankan yang lain untuk tidak memenuhi hak pasangannya atau membalasnya dengan perbuatan serupa.

Di antara maksiat yang umum terjadi, seperti meninggalkan shalat dan melakukan hal-hal yang diharamkan. Dengarkanlah sabda Nabi saw., “Jika seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu ia enggan dan laki-laki itu melewati malamnya dalam keadaan marah kepada istrinya, malaikat melaknatnya hingga pagi menjelang.” (HR Bukhari no. 3237 dan Muslim no. 1736.

Pasangan suami istri hendaknya selalu menghadirkan rasa setia untuk memenuhi hak pasangannya bahwa mereka mempersembahkan ketaatan kepada Allah, dengan menaati perintah Allah. Bahkan, hal itu dapat menjadi ibadah jika diniatkan. Nabi saw. telah bersabda bahwa muslim diberi pahala, bahkan saat tangannya bergerak ke mulut istrinya untuk memberinya sesuap makanan meskipun memberi nafkah memang kewajibannya. Dalam hadits shahih Nabi mengabarkan bahwa menggauli istri berpahala, Pada bagian dari salah seorang dari kalian adalah shadaqah.” (HR Muslim no. 1674). Meskipun hal itu adalah dorongan biologis.

Dengan demikian, jalan pertama dan yang paling penting jika menginginkan kebahagian rumah tangga, yakni menjalankan hak Allah, menaati-Nya, dan mendahulukan tugas yang paling wajib. Sebagaimana firman Allah SWT, Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik ….” (QS an-Nahl [16]: 97)

Upaya memilih pasangan yang baik dilakukan oleh kedua belah pihak sebagai fondasi kehidupan agar terjalin kesepakatan, ikatan cinta, saling menyempurnakan, dan harmoni. Namun, jika ada kelalaian pada sisi tersebut dan maksiat kepada Allah, dapat menjadikannya pemicu situasi pelik. Misalnya, memaksa wanita menikahi laki-laki yang tidak ia kehendaki karena adat-istiadat yang rusak, yang menikahkannya dengan kerabat yang tidak ia inginkan, atau karena walinya yang terpesona pada si pelamar yang terpandang atau kekayaannya. Perbuatan tersebut haram dan zalim. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Nabi saw. bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan hingga ia diajak bermusyawarah dan seorang gadis tidak dinikahkan hingga ia dimintai persetujuannya.” (HR Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Meskipun dalam hadits disebutkan seperti itu, hendaknya seorang gadis memahami  hal yang dimusyawarahkan walinya dan melihat maslahat pada pilihannya.

Pelanggaran lain yang juga dilakukan salah satu dari pasangan suami istri atau orang yang menjadi media di antara mereka adalah bohong dan menipu. Ini adalah sebuah kecurangan dan kezaliman terhadap kaum muslim. Berbohong juga ada konsekuensinya di dunia serta hisab dan balasannya di akhirat.

Jika tidak memperhatikan agama dalam memilih calon, ini menjadi pilihan yang buruk. Misalnya, ketika walinya menanyakan hal-hal yang tidak mendatangkan taufik Allah, seperti pekerjaan, harta, kedudukan, dan hal-hal duniawi. Ia lupa bahwa orang yang mengkhianati Allah dan Rasul-Nya tidak dapat dipercaya untuk melindungi putrinya. Pria yang meminang itu pun lupa bahwa wanita yang melalaikan hak Allah, tidak akan menunaikan hak suaminya. Bisa jadi rumah tangga itu pun akan dibangun di atas kondisi tersebut sehingga rumah itu pun berada di atas tepian jurang yang dalam dan hampir-hampir runtuh. Para wali bertanggung jawab dalam hal itu karena mereka berlebihan menanyakan kondisi peminang, tanpa mengindahkan bagaimana mereka menunaikan amanah, yaitu putri-putri mereka. Betapa banyak wanita shalihah yang pandai menjaga kehormatan diri diuji dengan suami yang tidak menunaikan shalat, penyuka minuman keras, dan melakukan perbuatan-perbuatan haram. Ia tidak berdosa, tetapi walinyalah yang lalai dan tidak mengindahkan kondisi agama si peminang. Betapa banyak laki-laki yang menetapkan syarat duniawi kepada wanita yang akan dipinangnya. Namun, perkara agama menjadi perhatian terakhirnya. Kemudian, ia menyingkap bahwa wanita itu tidak pantas menjadi istrinya karena agama dan moralitasnya yang minim.

Semua itu tidak lepas dari kecurangan, tipuan, atau tindakan meremehkan dan berlebihan. Pertanyaan garis besarnya adalah atas dasar apa seharusnya memilih calon pasangan. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Jawabannya terdapat dalam dua hadits Nabi saw., “Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah ia. Jika tidak kalian lakukan, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR Turmudzi no. 1004, Ibnu Majah no. 1957. Menurut al-Albani hadits hasan)

Hadits kedua Nabi saw., “Wanita itu dinikahi karena empat perkara hartanya, kehormatan nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Menjadi beruntunglah dengan wanita yang beragama, kamu akan merasa cukup (arti harfiyahnya tanganmu berlumur tanah jika kau tidak melakukannya).” (HR Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Orang yang membuka episode awal rumah tangganya dengan pelanggaran syariah, apakah mungkin ia menunggu taufik dari Allah. Mengetahui pemicu kerumitan rumah tangga, selayaknya orang berakal sehat menghindarinya dan menasihati saudaranya sesama muslim agar tidak terjerumus ke dalamnya. Namun, campur tangan kerabat dalam persoalan suami-istri bertentangan dengan sabda Nabi saw., “Di antara ciri kebaikan Islam seseorang ketika ia meninggalkan hal yang tak berguna baginya.” (HR Turmudzi no. 2239, hadits tersebut gharib. Menurut al-Albani, hasan li ghairih. Ibnu Majah no. 3966, menurut an-Nawawi, hasan)

Allah SWT telah melarang tahassus (mencari berita, mencuri dengar) dan tajassus (memata-matai). Selain itu, sebuah kebodohan jika seseorang mengadu pada kerabatnya, apa yang ia terima dari pasangannya. Sebab, memperluas area pertikaian dan memasukkan sejumlah petarung di medan akan makin menambah runyam situasi. Suatu kewajiban jika kita menjaga rahasia-rahasia kita dan mencari sendiri solusi masalah kita. Jika situasi makin tak terkendali, hendaknya ia memasukkan seseorang yang meng-ishlah, bukan yang membuat hubungan mereka makin pelik. Perkara ini jika berputar di setiap rumah, lalu menjadi gunjingan dan adu domba terucap dari setiap lisan, akan menyebabkan hancurnya banyak keluarga.

Di antara pemicu problematika keluarga dan dampaknya adalah pandangan yang berdimensi pendek pada kehidupan berumah tangga dan ketidakmampuan mengetahui dengan baik tujuan-tujuan pernikahan syar’i nan mulia. Oleh karena itu, yang paling penting dalam sebuah rumah tangga adalah tercapainya kehormatan diri bagi pasangan suami istri, ketenteraman yang fitri untuk keduanya, tegaknya rumah tangga muslim, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaaan, serta mendidik generasi shalih yang menyembah dan menaati Allah. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Jika pasangan suami istri menghadirkan makna tersebut, mereka tidak akan melalaikan kewajiban masing-masing meskipun terdapat kekurangan pada salah satu dari pasangan tersebut. Nabi saw. bersabda, “Janganlah seorang lelaki mukmin murka pada seorang wanita mukmin jika ia membenci sifatnya. Ia (tentu) menyukai sifatnya yang lain.” (HR Muslim no. 2672).

Ada cerita lucu yang diriwayatkan oleh asy-Sya’bi. Seorang laki-laki bertanya kepadanya. Ia berkata, “Aku menikahi seorang wanita dan aku melihat pada kakinya ada bekas pincang, apakah aku harus mengembalikannya (kepada keluarganya) dan meminta kembali maharku?” Asy-Sya’bi berkata, “Jika engkau menikahinya karena engkau hendak berlomba lari dengannya, kembalikanlah ia.” Laki-laki itu pun malu.

Terkadang sebagian suami menilai kecil istrinya karena ia melihat wanita lain yang lebih tinggi darinya atau yang lebih cerdas. Hal ini menjadi salah satu faktor yang memicu pertengkaran sehingga pintu masuk besar bagi setan, yaitu membandingkan pasangan. Jika permbandingan selalu muncul dalam sebuah rumah tangga, hal ini akan muncul rasa sesal dalam diri suami atau istri atas pilihannya.

Apalagi di masa sekarang ini banyak bermunculan di televisi ataupun media cetak yang berisi para wanita cantik dan menarik. Sesuatu yang dapat memprovokasi suami sehingga muncul ketidakpuasan pada diri istrinya karena melihat sosok wanita lain yang lebih cantik. Permasalahan membandingkan antara satu dan lain ini tidak akan pernah selesai. Lalu, apakah boleh laki-laki muslim yang beriman kepada Allah dan hari kiamat melakukan hal seperti ini? Bukankah ini adalah pandangan yang sangat pendek?

Di antara faktor munculnya problematika rumah tangga lainnya adalah ketidakmampuan suami menjalankan tugas kepemimpinan yang syar’i atau melampaui batas dalam menggunakan kekuasaannya atau istri yang mendebat hak kepemimpinan suami. Sebenarnya kepemimpinan dalam rumah tangga (qawamah) bukan berarti dominasi dan penindasan, melainkan melindungi, menjaga, dan menunaikan berbagai kemaslahatan. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Allah SWT telah menetapkan hukum dengan penjelasan yang sangat sempurna tentang kewajiban pasangan suami istri.

… وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ ….

Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut …. (QS al-Baqarah [2]: 228)

Lihatlah pada kalimat yang pendek tersebut dan renungkan. Allah mengatakan “dengan cara yang makruf (patut)”. Artinya, menuntut hak tidak dengan egoisme, tidak juga dengan menyerahkan urusan, dan melakukan penghitungan.

Istri adalah partner hidup, bukan partner dagang. Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan dengan baik, atau melepaskan dengan baik ….(QS al-Baqarah [2]: 229). Bahkan, berpisah pun harus dengan cara yang baik. Dapatkah Anda menemukan arahan yang lebih indah darinya untuk kebaikan rumah tangga?

Tidakkah lebih baik jika para penulis dan yang mengaku sebagai reformis sosial berupaya untuk memberi solusi masalah ini, lalu mengambil petunjuk dari sunnah Nabi untuk membuat rumah tangga muslim bahagia? Daripada mereka menyerang hijab, cadar, meninggalkan rumah, dan memperdaya kaum wanita.

Kebahagiaan rumah tangga tidak mungkin terwujud tanpa agama yang benar, karakter yang positif, melupakan kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi, berusaha untuk menunaikan hak dan kewajiban, yang disertai muruah, adab, serta menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

Seorang wanita harus bisa mencukupkan pandangan suaminya hanya pada dirinya, dengan melayaninya sebaik-baiknya. Begitu juga, laki-laki hendaknya memperlakukan istrinya dengan baik dan mencukupinya. Semua harus tahu bahwa banyaknya perselisihan akan menyempitkan dada. Hubungan yang awet timbul karena banyaknya kesepakatan. Umur rumah tangga yang panjang ada pada qana’ah dan perlakuan yang baik seiring dengan adanya ketaatan yang baik pula. Orang yang paling menghormati orang lain, tidaklah ia mendapatkan apa pun selain cinta dan kemuliaan. Dan barang siapa yang memohon kepada Allah, Allah tidak akan membuat harapannya sia-sia.

Hubungan pasangan suami istri bukanlah ikatan duniawi yang materialis, tidak pula syahwat binatang. Pernikahan adalah hubungan spiritual yang mulia. Jika berlangsung baik dan tulus, ikatan ini langgeng hingga di kehidupan akhirat.

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آَبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23) سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)

(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang shalih dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya, dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. (QS ar-Ra‘d [13]: 23–24)

 

Makna Sakinah Mawaddah Warahmah

Istilah tentang sakinah mawaddah warahmah berasal dari surat Ar-Rum, yaitu:

وَمِنْ ءَايٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَءَايٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Agar kita memamahi makna dari sakinah, mawaddah, dan rahmah, penjelasan sangat lengkap dijelaskan oleh Ustadz Fathur Rahman, Dosen PBA Unhasy Jombang.

Pertama; doa sakinah untuk kedua pempelai pengantin merujuk pada kata لتسكنوا إليها yang artinya “agar kamu merasa tentram kepadanya”.

Lafad ini terdiri dari huruf lam yang artinya “agar” dan “fi’il mudhori” yang mengandung fa’il “أنتم  (kalian) sehingga untuk mendapatkan “sakinah” harus melakukan usaha (fi’il) yang dilakulan oleh suami kepada istrinya atau sebaliknya oleh istri kepada suaminya, keduanya harus sama-sama berusaha untuk saling berusaha membentuk sakinah di antara keduanya, sehingga sakinah itu bisa diperoleh, sakinah adalah “ketenangan jasmani dan ketenangan hati yang dirasakan oleh pasangan suami istri”, serta hati diantara keduanya tidak lagi tergiur atau tergoda oleh orang lain, keduanya saling berusaha memupuk ketenangan jasmani dan hati diantara keduanya.

Jadi “sakinah” adalah ketenangan yang dirasakan oleh seorang suami dan istri di dalam rumah tangga, sehingga kedua merasa nyaman dan tenang ketika keduanya saling berdekatan atau bersambung komunikasinya. Hati suami tidak lagi tertarik terhadap perempuan lain dan hati istri tidak lagi tertarik pada laki-laki lain, dan ketenangan pihak lain di luar keduanya, karena keduanya sama-sama sibuk dalam menciptakan ketenangan dan keyamanan di rumah tangganya sendiri.

Kedua; doa mawaddah, kata ini diawalai oleh kata جعل yang artinya Allah membuat kasih sayang selalu ada diantara pasangan suami dan istri, tentu dengan sebelumnya memenuhi keadaan “sakinah”, untuk itulah kata mawaddah dalam ayat di atas oleh para ulama’ diartikan tiga hal yaitu;

  1. Mawaddah bermakna jima’ artinya setiap suami istri melakukan hubungan suami istri sebagaiman lazimnya dengan cara yang sudah diatur dalam Islam yaitu dengan cara yang ma’ruf, cara yang baik yang sudah dikenal dalam tuntunan ajaran Islam.
  2. Mawaddah bermakna “cinta” artinya Allah akan menjadikan kepada siapun yang telah menemukan pasangannya (suami istri) rasa cinta yang mengebu namun halal untuk dilampiaskan kepada istrinya atau kepada suaminya bagi seorang istri, sehingga cinta itu menjadi wasilah untuk beribadah kepada Allah melalui hubungan suami istri yang berujung kepada menjalankan perintah Allah yaitu menjalankan kewajiban suami-istri dan meninggalkan larangan Allah yaitu menjauhi zina dan hal-hal yang mendekati zina.
  3. Mawaddah bermakna “cinta seorang laki-laki kepada istrinya dan sebaliknya”. Ketika sesorang telah menikah dan saling berusaha membentuk sakinah dalam rumah tangganya, maka Allah akan menjadikan rasa saling mencintai di antara keduanya sehingga keduanya akan senantiasa merasakan kehadiran tambatan hatinya dimanapun dan kapanpun.

Ketiga; Rahmah (رحمة) yang terdapat pada teks ayat di atas bersanding dengan kata مودة. Hal ini menandakan bahwa selain Allah menjadikan mawaddah, Allah juga menjadikan rahmah kepada suami-istri yang senantiasa berusaha membentuk sakinah dalam keluarganya, sehingga kata رحمة ini juga memiliki tiga makna, yaitu:

  1. Kata rahmah bermakna walad (ولد) yang artinya bahwa siapa pun yang sudah menemukan pasangannya (suami-istri) maka Allah menjadikan keduanya bisa memiliki anak sebagai bentuk rahmat yang Allah berikan kepada keduanya karena keberadaan anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi sebuah rahmat atau nikmat tersendiri bagi seorang suami-istri yang bisa menjadikan keduanya lebih memiliki ikan hati yang semakian kokoh, oleh karena itulah setiap orang yang sudah menikah ada baiknya untuk tidak bernadzar menunda dulu untuk memiliki anak, karena anak merupakan rahmat yang Allah berikan kepada suami-istri sebagai bagian dari kebahagian yang ada dalam rumah tangga, sehingga rumus yang berlaku adalah bila sudah melakukan hubungan suami istri sesuai tuntuan ajaran Islam maka ia akan memiliki keturunan, bila tidak, maka ada faktor lain yang membutuhkan pembahasan tersendiri dari berbagai sudut pandang mulai dari sudut pandang agama, kedokteran, psikologi, dan lainnya.
  2. Rahmah diartikan sebagai “belaskasih, simpati, atau kemurahan hati” artinya Allah menjadikan perasaan saling simpati atau belaskasihan” di antara suami istri karena keduanya sudah memiliki ikatan hati yang baik dengan penuh rasa cinta, sikap simpati ini bisa dicontohkan ketika istri memilhat suaminya pulang kerja dalam keadaan lelah, maka ia berusaha membantunya dengan cara membawakan barang bawaannya (alat kerjanya), menyiapkan makan dan minumnya serta meminjitinya. Demikian juga seorang suami yang melihat istrinya kerepotan mencuci baju, piring, memasak, merawat anak sendiriaan, maka suami ikut membantunya sehingga keromantisan dalam rumah tangga itu nampak indah dirasakan hati saat keduanya saling membatu meringankan beban masing-masing, bukan lagi seperti anak pacaran yang menunjukkan kemesraan di depan umum yang bisa membuat iri orang yang melihatnya.
  3. Rahmah bermakna “saling menjaga dari bahaya atau hal-hal yang tidak baik”. Allah menjadikan rasa saling menjaga di antara suami istri yang sudah menikah dengan perasaan ingin saling melindunggi atau saling menjaga dari hal-hal yang tidak baik, itulah kenapa terkadang kita mendengar cerita dari seorang teman bahwa istrinya sangat protektif sekali sehingga di rumah ia tidak bisa bebas makan-makanan yang ia gemari karena istrinya khawatir suaminya takut kambuh penyaiktnya, demikian juga kita dengar banyak suami yang tidak mengizinkan istrinya bepergian sendirian karena ia hawatir keadaan istrinya selama di perjalanan sehingga ia memilih untuk mengantarkannya.

Itulah diantara buah pernikahan yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh menjalaninya sesuai dengan ajaran Agama Islam. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

 

Cara Menggapai Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah

1. Religiusitas yang Lurus

Berkomitmen pada perintah Allah ‘Azza wa Jalla, dan memperbanyak mengingat-Nya, dan menjauh dari bermaksiat pada-Nya, menenteramkan jiwa dan menenangkan hati. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.(QS ar-Ra‘d [13]: 28).

Ketika kita berkata, “Beragama itu harus lurus, bukan karena memperbaiki kehidupan rumah tangga saja, melainkan juga kehidupan secara menyeluruh.” Artinya, beragama itu harus utuh menyeluruh dan mencakup semua sisi kehidupan sehari-hari. Ibadah dan taqarrub itu adalah agama, berinteraksi dengan baik kepada orang lain adalah agama, bersilaturahmi, tersenyum, menunaikan hak orang lain dan kewajiban, semuanya adalah bagian dari agama. Sebagaimana beragama haruslah seimbang. Bukanlah pemahaman yang benar, memperbanyak amalan nafilah, dan di saat yang sama mengabaikan hak-hak pasangan, atau keinginannya, dan sebaliknya. Oleh karena itu, wanita tidak boleh melakukan puasa sunnah, kecuali denga izin suaminya. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Setan adalah teman bagi orang-orang yang lalai kepada Allah dan syariat-Nya serta merupakan faktor paling utama yang menyebabkan tertanamnya kebencian dan menebarkan permusuhan antara suami-istri. Setan dalam hal ini memiliki banyak cara, media, strategi, dan mantra. Bahkan, prajurit Iblis yang paling dekat kedudukannya dengannya adalah yang melakukan berbagai cara untuk memisahkan suami-istri dan ia berhasil jika dapat menceraikan mereka.

Rasulullah saw. bersabda, “Iblis menancapkan singgasananya di atas air, kemudian mengirim pasukan-pasukannya. Prajurit yang paling dekat kedudukannya dengannya dan yang paling luar biasa fitnahnya datang kepadanya dan berkata, Aku melakukan begini dan begitu. Iblis berkata, Engkau tidak melakukan apa pun.’” Beliau saw. berkata, “Kemudian datang salah satu dari mereka dan berkata, Aku tidak membiarkannya, hingga aku memisahkan antara dia dan istrinya.” Beliau berkata, “Iblis pun memberikan kepadanya kedudukan yang dekat dengannya dan berkata, Engkaulah sebaik-baik prajurit. (HR Muslim no. 5032)

2. Menghindari Rutinitas dan Pentingnya Memperbarui Suasana

Manusia dalam tabiatnya menyukai pembaharuan di segala urusannya di dunia. Rutinitas merupakan salah satu penyebab munculnya rasa bosan dan gundah. Oleh karena itu, suami dan istri harus menambahkan semacam perubahan pada hidup mereka dan tidak terjebak pada pola yang sama. Misalnya, istri mengganti perhiasan yang sesuai untuknya, belajar resep makanan atau jajanan baru, lalu menghidangkannya di meja maka. Bisa juga dengan mengganti susunan interior rumah, dengan memindahkan perabot ke tempat lain. Begitu juga suami, ia dituntut untuk memecahkan rutinitas dengan banyak cara, di antaranya mengajak anggota keluarga ke luar rumah untuk relaksasi dengan berekreasi yang disyariatkan, tidak berlebihan, dan tidak juga membatasi diri.

3. Menutup Mata atas Sebagian Kesalahan adalah Keharusan bagi Pasangan Suami Istri

Kesempurnaan bukanlah sifat manusia karena tabiat dasarnya adalah bersalah dan melakukan ketidaksengajaan. Oleh karena itu, suami dan istri sepatutnya menutup mata atas kesalahan kecil dan hal-hal yang tidak disengaja dari pasangannya. Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang lelaki mukmin murka kepada seorang wanita mukmin. Jika ia membenci sifatnya, ia (tentu) menyukai sifatnya yang lain.” (HR Muslim no. 2672)

4. Bercanda sebagai Media Bersemayamnya Cinta Selamanya

Setiap pasangan suami istri hendaknya senantiasa mencairkan komunikasi dengan pasangannya, dengan bermain dan bercanda. Umar bin Khaththab r.a. meskipun orang yang serius dan keras berkata, “Laki-laki harus menjadi seperti anak kecil di hadapan istrinya meskipun ia adalah pemimpin di kaumnya.”

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa ia pernah dalam suatu perjalanan bersama Nabi saw. berkata, “Aku berlomba lari dengan beliau dan aku mendahuluinya dengan kakiku. Saat aku menjadi gemuk, aku berlomba dengannya dan beliau mendahuluiku. Lalu, beliau berkata, ‘Yang kali ini balasan (atas kekalahan) yang lalu.’” (HR Abu Dawud no. 2214)

5. Menyadari Adanya Masalah Darurat dan Segera Menyelesaikannya

Menyelesaikannya satu per satu dan tidak lari darinya. Sebab, akumulasi dari berbagai masalah dan perkembangannya akan membawa pada hasil yang tidak bagus. Begitu juga, hendaknya seseorang tidak boleh berputus asa atas pasangannya atau keduanya bersikap menganggap bahwa solusi itu mustahil. Setiap masalah pasti ada solusi dan setiap pertikaian pasti ada terapinya. Oleh karena itu, hendaknya suami istri menjaga rahasia rumah tangga mereka, dengan tetap bersatu menyelesaikan masalah, bersepakat untuk mencari solusi, dan tidak memperluas wilayah pertengkaran, dengan memasukkan pihak lain. Maksudnya, agar rahasia tidak menyebar dan masalah makin berkembang. Kalau memang mengharuskan adanya pihak lain yang diikutsertakan, ia haruslah orang yang rasional, banyak pengalaman, penuh hikmah, shalih, dan mampu menjaga rahasia rumah tangga orang lain. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

6. Saling Memberi Hadiah Menyemai Cinta dalam Jiwa

Saling bertukar hadiah dengan pasangan, apalagi suami pada istrinya, merupakan salah satu faktor menyemai cinta antara keduanya. Rasulullah saw. bersabda, “Saling memberi hadiahlah maka kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari no. 612)

Hadiah merupakan ekspresi cinta untuk memecah kekakuan dan dinginnya hubungan manusia. Jika hadiah dapat melakukan sesuatu antara teman dan handai taulan, efeknya akan lebih dahsyat kepada suami istri. Hadiah tersebut tidak harus berupa barang-barang mahal dan mewah karena tujuan utama pemberian hadiah adalah memperlihatkan rasa kasih dan sayang. Hal itu dapat terwujud dengan berapa pun nilai hadiah tersebut. Namun, jika hadiah tersebut dari jenis yang berharga, itu akan lebih melipatgandakan kebahagiaan dan cinta.

7. Cemburu yang Baik Dapat Memengaruhi Kualitas Hubungan

Tidak berlebihan dalam cemburu, tetapi wajar adalah tanda adanya cinta di antara kedua belah pihak. Juga tidak menampakkan sama sekali atau terlalu toleran menerima tindakan pasangan dengan cara yang tidak disyariatkan. Oleh karena itu, suami harus berada pada pertengahan dalam hal ini dan tidak berlebihan dalam buruk sangka, mengikuti, serta memata-matai hal-hal yang tak terlihat.

Rasulullah saw. melarang mengintai aurat (rahasia) wanita, “Sungguh di antara rasa cemburu, ada yang disukai Allah dan ada pula yang dibenci oleh Allah, dan di antara sikap berlebihan ada yang disukai Allah dan ada yang dibenci oleh Allah. Adapun cemburu yang disukai Allah SWT adalah cemburu dalam keraguan. Adapun cemburu yang dibenci oleh Allah adalah cemburu yang tidak dalam keraguan.” (HR An-Nasa’i no. 2511 dan Ahmad no. 22630)

Dengan demikian, termasuk buruk sangka yang dilarang oleh Allah dan sebagian buruk sangka adalah dosa.

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. berkata kepada anaknya, “Janganlah terlalu banyak mencemburui istrimu, sedangkan engkau belum melihat keburukan pada dirinya, lalu engkau menuduhnya melakukan keburukan demi dirimu, sedangkan ia tidak bersalah.” (HR Abu Na’im no. 71)

Adapun rasa cemburu yang berada pada tempatnya dituntut secara syar’i dan diharuskan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits, “Sungguh Allah cemburu dan seorang mukmin cemburu .…” (HR Muslim no. 44959 dan Turmudzi no. 1088)

Jadi, diperintahkan untuk berada di pertengahan, dengan merasa cemburu pada sesuatu yang pantas dicemburui. Dan menahan diri untuk sesuatu selain itu, tanpa harus menjadi lemah dan  tidak berdaya.

8. Logis dalam Permintaan

Istri hendaknya tidak membebani suami dengan permintaan yang memberatkan kemampuan finansialnya, waktunya, atau kesehatannya. Atau, menambah beban baru untuknya jika ia belum dapat memenuhinya. Begitu juga suami, ia dituntut untuk tidak membuat istrinya memikul beban yang ia tidak mampu, baik itu dalam berinteraksi, tanggung jawab, maupun lainnya.

Allah SWT berfirman dalam ayat-Nya yang lurus, Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya …. (QS al-Baqarah [2]: 286).

9. Saling Menghormati Makin Menambah Kasih dan Sayang

Istri haruslah menghormati suaminya dan mengakui eksistensinya sebagai pemimpin rumah tangga serta tidak mendebatnya dalam hal-hal yang spesifik karena hanya ia yang memutuskan. Istri juga harus mendudukkannya pada tempat yang Allah tentukan sebagai pemimpin keluarga, pelindung, dan penanggung jawab pertama. Jika istri ingin berbagi pendapat dalam hal yang menjadi kewajibannya secara khusus, ia dapat menyampaikannya dengan lembut dan elegan, memilih waktu yang tepat untuk mendiskusikan kasus-kasus semacamnya, dan menyampaikan idenya. Hendaknya istri juga tidak bersikukuh pada pendapatnya atau sikapnya jika ia mendapatkan penolakan dari suaminya. Namun, hendaknya ia menunda perkara itu, hingga tiba kesempatan dan ia dapat menyampaikan kembali ide tersebut. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

10. Musyawarah dan Bertukar Pendapat

Dengan mengadakan musyawarah keluarga di rumah, dari waktu ke waktu, sehingga suami istri dapat bermusyawarah tentang segala sesuatu yang harus dilakukan dalam kehidupan mereka bersama. Dengan musyawarah, pengalaman mereka di masa lalu dapat lebih dikuatkan, juga perencanaan untuk masa mendatang. Hal itu tercapai melalui cara pandang yang sama. Sebab, keputusan yang diambil secara mufakat lebih baik daripada pandangan pribadi.

11. Menenangkan Diri dan Tidak Mencaci

Saat terjadi beda pendapat antara suami istri, hendaknya menenangkan diri dan menghindari penggunaan kata-kata yang menyakitkan atau melakukan tindakan-tindakan yang melukai pasangan. Misalnya, suami menghina kekurangan istri atau  istri mengungkit-ungkit kekurangannya, apalagi jika kekurangan itu tidak berkaitan dengan agama, akhlak, atau mengurangi keistiqamahan dan perilakunya yang baik. Pada saat itu terjadi, hendaknya kritik dan saran menggunakan susunan kata yang lembut dan tidak langsung mengena. Kemudian, berterus-terang dengan bahasa cinta.

Tidak ada sesuatu pun yang membenarkan seorang suami mencaci istrinya, misalnya istri tidak pandai memasak. Namun, sudah sepatutnya ia menghadiahkan kepada istrinya buku-buku terkait. Atau mengarahkannya dengan kata-kata yang baik, misalnya, “Kalau kaulakukan ini dan itu, tentu lebih baik. Atau, jika kau menghindarinya tentu lebih bagus.” Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Rasulullah saw. banyak meluruskan kesalahan secara tidak langsung dan beliau tidak memakai cara-cara langsung. Misalnya, beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan kaum itu?” (HR Bukhari no. 436 & 708, Muslim no. 2487, an-Nasa’i no. 938, Turmudzi no. 2050, Abu Dawud no. 779, dan Ibnu Majah no. 2007)

Beliau juga tidak pernah sekalipun mencaci makanan. Kritik tajam dan serangan yang dahsyat bisa jadi membuatnya makin keras berpendirian dan bersikukuh pada kesalahan.

12. Rela dengan Prinsip Privasi  Antara Suami dan Istri

Tidak membiarkan orang lain, khususnya kerabat, ikut campur dengan kehidupan rumah tangga dan mengetahui hal-hal yang spesifik untuk suami istri saja. Sebagian besar campur tangan tersebut tidak mendatangkan kebaikan. Keluarga istri biasanya turut campur untuk kepentingan putri mereka. Begitu juga keluarga suami, mereka tentu membela putra mereka. Tentu saja makin memperuncing masalah dan krisis antara suami istri. Dan sebagian besar pertengkaran rumah tangga muncul karena campur tangan kerabat dalam urusan rumah tangga mereka. Kehidupan suami istri adalah milik mereka berdua, tidak selayaknya dikeruhkan kedamaiannya oleh campur tangan pihak luar, sedekat apa pun kekerabatannya. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

13. Adil

Jika seorang laki-laki beristrikan lebih dari satu, ia harus bersungguh-sungguh untuk dapat berlaku adil kepada para istrinya. Hendaknya ia tidak mengutamakan salah satu di antara mereka atas yang lainnya. Perasaan terzalimi dari istri akan melahirkan banyak masalah. Mungkin juga menjadi sebab terputusnya ikatan pernikahan. Begitu juga dengan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.

Demikian juga, bukan sikap yang bijak jika suami mengumbar cinta dan perhatiannya ke salah satu istri di hadapan istri lainnya. Begitu juga, membicarakan kebaikan salah satu dari mereka atau sifat-sifat positifnya di hadapan istri lainnya, bahkan jika ucapannya itu benar.

Cemburu itu wajar sebagai fitrah perempuan. Tidak ada wanita yang tidak merasakannya, bahkan para Ummahatul Mukminin, istri-istri Rasulullah saw. Misalnya, Aisyah mencemburui Khadijah r.a. meskipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Bahkan, ia pernah menyangkal pujian Rasulullah saw. kepada Khadijah, dengan berkata, “Allah telah memberi untuk pengganti yang lebih baik darinya.” (HR Bukhari no. 3536 dan Muslim no. 4467)

Jika hal itu terjadi pada diri Aisyah terhadap Khadijah r.a., lalu bagaimana dengan wanita selainnya?

 

****

Demikian penjelasan tentang sakinah mawaddah warahmah. Semoga bisa menjadi inspirasi.

Incoming search terms: