Sabar: Sifat Mulia Penghuni Surga

Sabar – Allah SWT telah memberikan berbagai sifat bagi orang yang bersabar. Allah SWT menyebutkan kata sabar sebanyak tujuh puluh lebih dalam Al-Qur’an. Banyak derajat dan kebaikan yang digambarkan Al-Qur’an yang merupakan buah dari sabar, sebagaimana firman Allah berikut ini.

وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةً يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

”Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS as-Sajdah [32]: 24)

وَأَوۡرَثۡنَا الۡقَوۡمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسۡتَضۡعَفُونَ مَشَارِقَ الۡأَرۡضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكۡنَا فِيهَا وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ الۡحُسۡنَى عَلَى بَنِي إِسۡرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرۡنَا مَا كَانَ يَصۡنَعُ فِرۡعَوۡنُ وَقَوۡمُهُ وَمَا كَانُوا يَعۡرِشُونَ

”Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir‘aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun. (QS al-A‘râf [7]: 137)

 Rasulullah saw. dalam haditsnya bersabda,

الصَّبْرُ نِصْفُ الإِيْمَانِ

”Sabar adalah setengah daripada iman.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Dalam hadits yang lain dinyatakan,

مِنْ أَقَلِّ مَا أُوْتَيْتُمْ اليَقِيْنُ وَعَزِيْمَةُ الصَّبْرِ وَمَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْهُمَا لَمْ يُبَالِ بِمَا فَاتَهُ مِنْ قِيَامِ اللَّيْلِ وَصِيَامِ النَّهَارِ, وَلأَنْ تَصْبِرُواْ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يُوَافِيَنِي كُلُّ امْرئٍ مِنْكُمْ بِمِثْلِ عَمَلِ جَمِيْعَكُمْ وَلَكِنِّى أَخَافُ أَنْ تَفْتَحَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا بَعْدِي فَيُنْكِرَ بَعْدُكُمْ بَعْضًا وَيُنْكِرَكُمْ أَهْلُ السَّمَاءِ عِنْدَ ذلِكَ, فَمَنْ صَبَرَ وَاحْتَسَبَ ظَفِرَ بِكَمَالِ ثَوَابِهِ ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالىَ: مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرواْ أَجْرَهُمْ

 ”Keyakinan dan kesabaran adalah sebagaian kecil yang diberikan kepadamu dan barang siapa yang menunaikan kewajibannya dalam dua hal ini, maka tidak mengapa baginya untuk tida mengerjakan shalat malam dan puasa siang hari. Dan sungguh andaikata kamu semua sabar terhadap setiap yang kamu hadapi, bagiku itu lebih kusenangi daripada setiap kamu memberikan amal kamu semuanya. Aan tetapi aku khawatir jika dunia telah dibukakan kepadamu semuanya, maka kamu saling ingkar-mengingkari dan disaat demikian penghuni langit mengingkari kamu semua. Barang siapa yang bersabar dan memelihara diri, ia akan mendapatkan pahala sesempurna-sempurnanya. Selanjutnya Rasulullah mebaca firman Allah:”Apa yang ada di sisi kamu itu akan hilang, tetapi apa yang di sisi Tuhan itulah yang kekal. Kami akan berikan pembalasan kepada orang-orang yang berhati teguh.”(HR Ibnu Abdil Barr)

Para ulama mendefinisikan sabar adalah bersikap dengan baik ketika menghadapi sebuah cobaan. Mereka juga menyatakan bahwa sabar adalah keteguhan hati kepada Allah SWT dan menerima cobaan dari-Nya dengan lapang dada. Abu Ali al-Daqaq berkata, ”Beruntunglah orang-orang yang bersabar dengan kemuliaan dunia akhirat (al-darani) karena mereka menerima ”kebersamaan-Nya” (ma’iyyah) dengan mereka.”

Dikisahkan pula tatkala Imam Syibliy dikurung dalam tahanan, masuklah beberapa orang untuk menjenguknya. Imam Syibliy bertanya pada mereka, ”Siapakah kalian?” Mereka menjawab, ”Kami adalah orang-orang yang mencintaimu yang datang untuk mengunjungimu.” Lalu, Imam Syibliy pun melempar mereka dengan batu hingga membuat mereka lari. Imam Syibliy berkata, ”Kamu adalah pendusta. Jika engkau mencintaiku maka engkau pasti akan sabar dengan cobaan yang tengah aku hadapi.”

Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua macam. Pertama, sabar badani, yaitu sabar memikul beban berat yang dilakukan oleh badan, baik dalam pekerjaan seperti mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat maupun dalam ibadat. Sabar ini pun ada ketika seseorang menderita sakit keras dan luka yang cukup parah. Jika seseorang mampu bersabar sesuai dengan syara’ dalam kondisi tersebut, terpujilah ia. Kedua, sabar nafsu, yaitu sabar dari tuntutan hawa nafsu. Sabar nafsu ini jika tertuju pada nafsu perut dan nafsu kelamin disebut ‘iffah (terpelihara). Jika tertuju pada hal-hal yang makruh maka namanya menurut kemakruhannya yang bermacam-macam. Jika tertuju pada musibah maka namanya sabar, lawannya disebut dengan al-jaza’ (gelisah) dan al-hala’ (keluh-kesah). Jika kesabaran itu tertuju pada kekayaan maka disebut dhabtun nafsi (mengekang nafsu), lawannya disebut bathar (kufur nikmat). Jika dalam peperangan disebut dengan syaja’ah (keberanian), lawannya disebut jubn (kebaculan). Sabar dalam kemarahan disebut dengan hilm (lembut hati), lawannya disebut dengan tadzammur (keras hati). Sabar dalam musibah yang umum disebut dengan sa’at ash-shadr (lapang dada), lawannya adalah dhiqushshadr (picik). Jika dalam menyembunyikan pembicaraan maka disebut dengan kitman as-sirr (teguh memegang rahasia). Jika tertuju pada hidup yang berlebih-lebihan disebut zuhdu, lawannya adalah hirsh (tamak). Jika sabar itu berupa puas dengan pendapatan sedikit disebut qana’ah (rela dan puas), lawannya adalah syarah (rakus).

Kesabaran merupakan pilar terpenting dalam membangun ahlak. Kesabaran pula yang akan menanamkan ketenangan diri pada orang-orang yang kelaparan, dianiaya, serta disakiti hati dan jiwanya. Sabar bagaikan obat yang dapat menyembuhkan segala penyakit dan musibah. Al-Kharaz menyatakan bahwa sabar adalah sebuah nama yang memiliki makna zahir dan batin. Sabar zahir menurut beliau terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, sabar dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dititahkan Allah SWT dan sabar atas segala kondisi, baik susah maupun bahagia, sehat maupun sakit.  Kedua, sabar atas segala sesuatu yang dilarang Allah  dan menahan diri dari segala dorongan hawa nafsu. Dua kesabaran tersebut menurut al-Kharaz adalah kewajiban bagi setiap hamba untuk dapat melakukannya. Ketiga, sabar dalam melakukan amalan-amalan sunnah dan perbuatan-perbuatan baik untuk dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seorang hamba harus berusaha untuk dapat mencapai tujuan tersebut dengan mengharap pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla. Keempat, sabar batin, yaitu sabar untuk menerima sebuah kebenaran dan nasihat yang datang dari mana pun karena kebenaran adalah utusan dari Allah SWT untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya. Kita tidak dibenarkan untuk menolak kebenaran dari Allah SWT. Siapa pun yang meninggalkan dan mengingkari kebenaran maka Allah juga akan berbuat demikian kepadanya.

Adapun Ibnu Atha’illah membagi kesabaran menjadi tiga bagian. Pertama, bersabar terhadap hal-hal yang diharamkan. Kedua, sabar terhadap kewajiban-kewajiban. Ketiga, sabar dalam segala ikhtiyar. Pencapaian menuju maqam sabar itu dapat dibuktikan dengan kesabaran atas apa yang tidak diinginkan Allah kepadanya. Menurutnya, seseorang tidak dinyatakan bersabar, kecuali dirinya telah benar-benar menggugurkan seluruh ikhtiyarnya.

Ibnu Atha’illah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bersabar terhadap hal-hal yang diharamkan adalah bersabar atas keberuntungan-keberuntungan manusia. Sementara sabar terhadap kewajiban-kewajiban adalah kesabaran atas segala kewajiban ibadah. Selanjutnya, bentuk apa pun dalam beribadah kepada Allah lebih wajib bagi seorang salik daripada menggugurkan segala ikhtiarnya kepada Allah SWT. Ibnu ‘Atha’illah juga menyatakan bahwa seorang salik yang telah mencapai maqam sabar, semata-mata karena atas pertolongan Allah. Akhirnya, sabar bukanlah sebuah usaha (kasb) seorang hamba, tetapi sejatinya ia merupakan bentuk dari kemurahan Allah SWT.

Al-Muhasibi dalam al-Washaya memberikan komentarnya. ”Jika kamu diuji dengan segala sesuatu yang dibenci atau ditimpa musibah maka wajiblah bagi dirimu untuk berjihad menyelamatkan dirimu dengan kesabaran atas segala kesempitan yang kamu hadapi. Oleh karena itu, Allah akan melihat hamba-Nya. Hindarilah segala pengaduan dan sikap tidak rida atas ketentuan Allah.” Al-Tustari juga mengingatkan hal ini, ia berkata, ”Tidak ada pekerjaan yang dilakukan, kecuali harus dengan kesabaran dan tidak ada pahala yang lebih besar dari sabar …, siapa pun yang tidak memiliki kesabaran maka ia tidak dapat bekerja.”

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin berpendapat bahwa kesabaran merupakan wasilah untuk menyembuhkan jiwa manusia dari segala penyakit yang dideranya. Sebab, sabar merupakan sebuah proses takhalliy dan tahalliy yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk rabbani dan arahan-arahan rahmani. Kesabaran merupakan usaha untuk menjauhkan manusia dari permusuhan dan pengekangan diri atas dorongan-dorongan nafsu syahwati. Kesabaran juga sebuah usaha untuk menghiasi diri manusia dengan sifat pemaaf atau sifat yang tidak mendendam dan sifat yang menjauhi segala musibah. Dengan kesabaran, terwujudlah kesehatan jiwa yang diinginkan setiap manusia.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.