Riya’: Sifat Buruk yang Membakar Amal

Riya’ secara bahasa adalah keinginan untuk menunjukkan amal baik. Fakhrurrazi dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib berpendapat bahwa orang yang riya’ adalah orang yang suka menunjukkan atau menampakkan sesuatu, tidak ada rasa takut (khusyu’) dalam hatinya, ia melakukan sesuatu agar orang lain melihatnya, dan berkeyakinan bahwa ia adalah orang yang taat beragama.

Riya’ merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit yang dibawa oleh jiwa yang lemah, yaitu jiwa yang mencari ketenaran dengan dusta dan kebohongan. Orang yang riya’ selalu akan menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hatinya. Dalam agama, riya’ dikategorikan sebagai syirik khafi, maksudnya syirik yang tersembunyi alias tidak terlihat. Rasulullah mengecam sifat riya’ dalam haditsnya yang berbunyi,

إِنَّ أَدْنَى الرِّيَاءِ شِرْكٌ

”Sesungguhnya serendah-rendahnya riya’ merupakan syirik.” (HR Bukhari dan Muslim)

Orang yang riya’ seperti orang yang bertopeng yang membawa kepalsuan dan kebohongan karena batin jiwanya penuh dengan kebusukan. Di depan orang ia menampakkan cinta dan kasih sayangnya kepada orang lain, tetapi sebenarnya ia membenci mereka. Pujian yang ia berikan kepada orang lain, sebenarnya adalah tipuan dan kebencian.

Al-Ghazali membagi riya’ menjadi beberapa bagian. Pertama, riya’ para ahli agama yang terkait dengan kondisi tubuh, misalnya menampakkan diri dengan tubuh yang ramping atau kurus. Hal ini agar orang menyangka bahwa ia benar-benar tekun dalam mendalami agama dan sangat takut kepada akhirat. Terkadang juga dengan membuat rambutnya acak-acakan agar ia tampak seperti orang yang benar-benar ingin mendalami agama hingga tidak ada kesempatan untuk merapikan rambutnya. Ia juga merendahkan suaranya, mencengkungkan matanya, serta mengering-ngeringkan bibirnya agar tampak di depan orang lain ia berpuasa. Adapun riya’nya para ahli dunia adalah dengan menampakkan kesuburan tubuhnya, kecantikkan kulitnya, keanggunan paras mukanya, kebersihan badannya, serta kekuatan tubuhnya.

Kedua, riya’ dalam penampilan dan pakaian. Riya’nya ahli agama dalam penampilan misalnya dengan mengusut-ngusutkan rambut kepala, menyukur kumis, ketenangan dalam gerakan, mempertahankan tanda-tanda sujud di bagian muka, menggunakan pakian  wo, dan sebagainya. Riya’ dalam berpakaian misalnya menampakkan kehidupan zuhud atau asketisisme dengan memakai pakaian yang kumal, terlihat kotor dan pendek agar ia kelihatan menjauhi dunia. Adapun riya’nya ahli dunia adalah dengan memakai pakaian-pakaian yang mahal, memiliki kendaraan-kendaraan yang mewah, dan lain-lain.

Ketiga, riya’ dalam perkataan. Riya’nya para ahli agama adalah ketika memberikan nasihat dan kata-kata hikmah. Ia hafal akhbar dan atsar untuk digunakan dalam berdebat agar tampak di depan orang lain bahwa ia kaya ilmu. Adapun riya’nya para ahli dunia adalah dengan menghafal syair-syair, permisalan-permisalan, fasih dalam menguasai beberapa ungkapan-ungkapan untuk mencari perhatian orang-orang ternama atau untuk mendapatan simpati orang lain.

Keempat, riya’ dalam perbuatan. Adapun riya’ dalam hal agama, misalnya shalat dengan memperpanjang berdiri, sujud, dan ruku’, atau dengan menghempaskan kepala. Bisa juga dengan menolehkah pandangan atau menampakkan ketenangan serta menyamakan kedua kaki dan tangan. Riya’ juga bisa timbul dalam puasa, peperangan, haji, sedekah, ibadah lainnya. Sementara itu riya’nya para ahli dunia misalnya berjalan dengan gaya yang sombong dan angkuh serta menggerakan kedua tangan.

Kelima, riya’ dengan keberadaan teman-teman, tamu-tamu, atau dengan kelompok. Selalu mengunjungi ulama atau ahli-ahli ibadah agar ia dikatakan sebagai orang yang mendapat berkahnya para ahli agama dan lain sebagainya.

Al-Muhasibi begitu mencela orang-orang yang menampakkan dirinya taat beragama dan menyembunyikan hakikat diri mereka. Beliau berkomentar tentang kondisi manusia yang hidup di zamannya pada Abad ke-3 H. ”Aku begitu khawatir dengan para ahli ibadah yang tertipu. Betapa banyak dari mereka yang begitu sederhana dalam berpakaian, merendahkan dirinya, merasa bahwa dunia adalah tempat yang tidak bernilai. Hal demikian juga terjadi pada orang yang shalat, berpuasa, berperang, dan berhaji. Ia menampakkan dirinya di depan orang lain dengan kehidupan asketis (zuhud), tetapi sebenarnya hati nuraninya menolak kehidupan tersebut. Ia berpura-pura dengan menunjukan ketaatannya di depan orang lain agar ia dinilai sebagai orang yang ikhlas, padahal ketika itu seluruh anggota tubuhnya melakukan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah. Lisannya pun mengatakan hal-hal yang tidak disukai Allah, baik ketika ia marah maupun ketika ia berlemah lembut kepada orang-orang.”

Al-Muhasibi telah memberikan komentarnya atas riya’. ”Bahaya penyakit riya’ adalah ketika ia menjadi penghalang di dalam hati, syahwat jiwa akan dapat mengguncang hati tatkala ia penuh dengan pujian-pujian. Lalu, hati pun merasakan manisnya pujian-pujian itu. Bagi orang yang mampu memadamkan syahwat jiwanya, mampu mengubah rasa kebenciannya, memikirkan bagaimana dirinya di hari Kiamat kelak, serta mengingat amalnya yang kian menurun dan kebutuhannya akan kebaikan-kebaikan. Dirinya hanya menerima amal-amalan yang murni. Ada rasa takut dalam dirinya terhadap kemurkaan Allah, baik di dunia maupun di akhirat … ketika itulah amalnya menjadi murni (ikhlas).”

Cara untuk menghilangkan sifat riya’ dalam diri manusia hanya dengan sifat rendah hati (tawadhu’), yaitu dengan menyadari bahwa pencipta alam semesta adalah Allah SWT. Ia juga sadar bahwa dirinya tidak akan memiliki kemampuan untuk melakukan apa pun, kecuali hanya dengan kehendak Allah. Akhirnya, kecintaannya pada dirinya akan berubah menjadi kecintaannya kepada Allah. Di samping itu, apa pun yang ia lakukan untuk mendapatkan rida Allah semata.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.