Rendah Hati: Sifat Terpuji Manusia

Rendah hati – Suatu ketika Umar bin Khattab diceritakan memanggul tepung terigu di atas punggungnya dan membawanya ke sebuah rumah yang didiami oleh seorang wanita dan anak-anaknya yang yatim. Lalu, Umar pun menghidupkan api dan memasak tepung itu hingga masak. Beliau baru pulang setelah anak-anak yatim di rumah itu makan dan merasa kenyang. Demikianlah kisah Umar bin Khattab dan masih banyak lagi riwayat-riwayat sahabat lainnya yang menceritakan kerendahan hati mereka.

Rendah hati atau tawadhu’ adalah tidak merasa tinggi atau menyombongkan diri kepada siapa saja. Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati sesama manusia, menghormati si miskin, si fakir, dan orang-orang yang mungkin lebih rendah status sosialnya darinya. Allah SWT berfirman,

وَاخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ

”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” (QS asy-Syu‘arâ’ [26]: 215)

Allah SWT juga berfirman dalam ayat berikut.

تِلۡكَ الدَّارُ الۡآَخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادًا وَالۡعَاقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ

”Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Qashas [28]: 83)

Ketika Fadhil bin ‘Iyadh ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab, ”Tawadhu’ adalah ketika engkau tunduk kepada kebenaran. Jika engkau mendengarkan sebuah kebenaran dari seorang anak maka engkau harus menerimanya dan jika engkau mendengarkannya dari orang yang paling bodoh sekalipun, engkau harus menerimanya ….”

Rasulullah saw. adalah sosok manusia yang paling rendah hati. Ketika Allah memberikan pilihan kepadanya; apakah beliau ingin menjadi seorang hamba ataukah menjadi seorang malaikat? Beliau lebih memilih untuk menjadi seorang hamba. Berendah hati merupakan sifat yang paling menonjol dari Rasulullah saw. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa riwayat berikut.

-Sebuah riwayat menyebutkan bahwa Sayyidah Aisyah r.a. ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah saw. di keluarganya. Sayyidah Aisyah menjawab,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ

”Nabi selalu membantu keluarganya, tetapi jika datang waktu shalat, beliau pun shalat.” (HR Bukhari)

-Nabi Muhammad saw. juga memeras susu, mengesol sandal, menjahit pakaian, makan bersama pembantunya, dan membeli sesuatu di pasar, lalu membawanya sendiri. Beliau juga akan memberikan salam dan menyalami pertama kali jika berjumpa dengan siapa saja. Rasulullah saw. tidak pernah membeda-bedakan sahabat-sahabatnya dan tidak pernah pula merasa istimewa dari sahabat-sahabatnya.

-Ketika Fathu Makkah Rasulullah saw. memasuki Kota Mekah dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda dari rendah hati beliau hingga dikisahkan sampai-sampai kepala Rasulullah saw. menyentuh punggung untanya.  Lalu, Rasulullah pun memaafkan seluruh penduduk Kota Mekah.

Rendah hati merupakan sifat yang sangat mulia karena ia menunjukkan kesucian hati seseorang. Kesucian hati akan menambah kecintaan dan persamaan antara manusia serta menghilang rasa iri dan dengki. Bahkan, dengan sifat rendah hatilah seseorang akan memperoleh rida Allah SWT.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.