Niat Baik

Ada beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits yang membicarakan tentang pentingnya niat. Allah SWT berfirman, Arab 235

وَلَا تَطۡرُدِ الَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ بِالۡغَدَاةِ وَالۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ مَا عَلَيۡكَ مِنۡ حِسَابِهِمۡ مِنۡ شَيۡءٍ وَمَا مِنۡ حِسَابِكَ عَلَيۡهِمۡ مِنۡ شَيۡءٍ فَتَطۡرُدَهُمۡ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, mereka mengharapkan keridaan-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim. (QS al-An‘âm [6]: 52)

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. bersabda, Arab 236

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلىَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ, فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ, وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصيْبُهَا أَوْ اِمْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

”Sesungguhnya pekerjaan itu adalah sesuai dengan niat dan manusia akan diganjar sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasulnya. Barang siapa hijrahnya untuk mencari dunia atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka pahala hijrahnya adalah sesuai dengan hijrahnya pula”. (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Niat, tujuan, dan maksud adalah ungkapan-ungkapan yang sama menggambarkan kondisi kejernihan hati. Untuk menyempurnakan niat maka ada dua faktor pendukungnya, yaitu: ilmu dan amal. Ilmu tentang niat haruslah didahulukan karena ia merupakan akar dan syarat dari sebuah amal. Adapun amal tergantung dengan niat. Niat harus selalu menyertai amal karena amal merupakan buah atau hasil dan cabang dari sebuah niat. Setiap perbuatan, baik itu bergerak maupun diam tidak akan terpenuhi, kecuali dengan tiga syarat: ilmu, keinginan (iradah), dan kemampuan (qudrah).

Untuk memurnikan niatnya, seseorang tidak hanya menjauhkan dirinya dari segala sesuatu yang mendatangkan keburukan, seperti ‘ujub dan riya’, tetapi menjauhkan dirinya dari segala gejolak jiwa. Seseorang tidak akan meminta balasan apa pun di dunia dan akhirat dari Allah SWT. Tidak akan meminta tahta ataupun nikmat dunia dan akhirat. Seseorang tidak dinyatakan ikhlas dalam amalnya, kecuali dirinya telah bersih (murni) dari segala hubungan serta menutupi amalnya dari keridaan manusia, demikian menurut Abu Thalib al-Makkiy.

Niat tidak hanya mendahului amal, tetapi harus selalu menyertainya. Seorang murid atau salik harus memiliki niat yang ikhlas dalam melaksanakan amal ibadahnya. Namun, keikhlasan itu dapat saja dirusak oleh riya’. Dirinya pun senang dipuji orang sehingga keinginannya untuk beramal kian menguat. Riya’ dapat merusak niat, bahkan dapat membatalkan sebuah amal. Seorang murid atau salik haruslah selalu memperbarui niatnya, ikhlas karena Allah, serta menjauhi diri dari segala pujian manusia.

Siapa pun harus berniat dalam melakukan apa pun, seperti berniat ketika makan, minum, berpakaian, tidur, dan menikah. Sebab, segala perbuatan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Jika diniatkan karena Allah, amal itu akan menjadi timbangan kebaikan. Jika amal itu dilakukan dengan mengikuti hawa nafsu dan bukan karena Allah, amal itu akan menjadi timbangan keburukan pula bagi pelakunya. Jika dalam amal seseorang lupa untuk berniat, ia pun tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat kelak. Hal itu dapat dimisalkan dengan kehidupan binatang yang berbuat atau melakukan sesuatu tanpa dipikirkan dan tanpa beban. Allah SWT berfirman, Arab 237

وَاصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ بِالۡغَدَاةِ وَالۡعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡهُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ الۡحَيَاةِ الدُّنۡيَا وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُ عَنۡ ذِكۡرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمۡرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas. (QS al-Kahfi [18]: 28)

 

Niat yang baik adalah awal dari amal yang baik karena ia merupakan anugerah pertama dari Allah SWT sebagai tempatnya pahala. Seseorang yang diberikan pahala atas amalnya, sejatinya hal itu berkat karunia niat yang diberikan Allah kepadanya. Niat seperti yang didefinisikan oleh al-Muhasibi adalah keinginan seorang hamba yang beramal dan dimaksudkan untuk Allah ataupun selain-Nya. Dari niat yang benar nan tulus karena Allah akan muncullah keinginan yang kuat untuk taat kepada-Nya, tidak memandang ringan perintah-Nya, dan selalu ingin berbuat sesuai dengan perintah-Nya.

Seseorang yang memiliki niat yang benar akan meninggalkan segala tipuan jiwa dan dunia serta segala macam prahara syahwat yang hanya akan melahirkan kekhawatiran, penyesalan, dan kebuntuan. Contoh orang seperti ini jika ia berniat yang benar dan ikhlas karena Allah, niscaya niat itu akan berubah menjadi sebuah keinginan yang kuat (‘azimah). Mengubah sesuatu yang hitam menjadi putih, mengubah orang yang sakit jiwa menjadi orang yang sehat, yang merasa khawatir menjadi tenang, yang putus asa menjadi bersemangat, yang menderita menjadi bahagia, yang sombong menjadi rendah hati, keirian akan berubah menjadi kompetisi yang sehat, dan kebencian akan menjadi cinta karena Allah. Ia dapat mengubah dirinya karena Allah dan karena-Nya pula ia dapat melaksanakan perintah dan kehendak-Nya. Niatnya berubah menjadi keinginan yang baik, suci, damai, tenang, dan bahagia.

Dengan niat yang benar dan keinginan yang kuat, insya Allah manusia akan mampu untuk memperbarui hidupnya dan memperbarui hatinya sehingga ia dapat membuka jalan kehidupannya dengan cita-cita yang baru.