Menyembunyikan Aib: Keutamaan Seorang Muslim

Menyembunyikan aib – Diriwayatkan bahwa Uqbah bin Amir memiliki seorang sekretaris. Suatu ketika sang sekretaris bercerita kepada Uqbah bahwa tetangga-tetangganya sering meminum khamar dan ia ingin melaporkan mereka ke pihak berwajib untuk menangkapnya. Lalu, Uqbah berkata pada sekretarisnya, ”Janganlah engkau lakukan itu, engkau nasihati saja mereka.” Sang sekretaris pun berkata, ”Aku telah melarang mereka, tetapi mereka tidak mau berhenti. Aku akan memanggil pihak berwajib untuk menangkap mereka, ini adalah hukuman yang tepat buat mereka.” Uqbah pun berkata, ”Janganlah engkau lakukan itu, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً

Barang siapa yang melihat aurat (aib), lalu ia menutupinya maka ia seperti telah menghidupkan bayi yang dikuburkan hidup-hidup.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw. juga bersabda tentang menyembunyikan aib ini,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

”Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, Dia mencintai malu dan penutup aib (al-sitr).” (HR Abu Dawud, Nasa’i, dan Ahmad)

Menutup aib dapat dijelaskan dalam beberapa hal, sebagaimana diatur dalam agama Islam.

Pertama, menutup aurat. Seorang muslim wajib menutup auratnya, tidak menampakkannya kepada orang lain, kecuali kepada orang yang diperbolehkan secara syar’i untuk melihatnya. Allah SWT berfirman,

وَالَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزۡوَاجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَانُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ (6)

Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. (QS al-Mu’minûn [23]: 5-6)

Rasulullah saw. pun bersabda,

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

”Tidaklah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki dan tidak pula seorang wanita melihat aurat wanita lainnya.” (HR Muslim)

Kedua, menutup aurat ketika mandi (memakai basahan).Seorang muslim harus pula menutup auratnya ketika mandi hingga tidak dapat dilihat oleh orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

”Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Penutup aib, Dia mencintai malu dan penutup aib (al-sitr). Maka jika salah seorang darimu mandi, hendaklah ia menutup auratnya. (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad)

Ketiga, menutup aurat ketika membuang hajat. Seorang muslim hendaknya membuang hajat di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain. Sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. mendengar suara dari dua orang yang mendapatkan azab di dalam kuburnya. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ

”Sesungguhnya keduanya mendapatkan azab, keduanya tidak mendapatkan azab karena dosa besar. Salah satu di antara keduanya diazab karena tidak menutup auratnya ketika hendak membuang air kecil, sedangkan yang lainnya karena selalu mengadu domba.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Keempat, menutup aib (rahasia) kehidupan rumah tangga. Islam melarang suami atau istri untuk membicarakan rahasia-rahasia yang terkait dengan urusan rumah tangganya kepada orang lain. Rahasia rumah tangga termasuk amanah yang tidak boleh dikhianati dengan membeberkannya kepada orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

”Sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah di hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang membuka rahasia istrinya dan istrinya membuka rahasia suaminya, lalu sang suami menyebarkan rahasia istrinya.”  (HR Muslim dan Abu Dawud)

Seorang muslim yang dapat menyembunyikan aib saudaranya dan istrinya maka Allah SWT akan menutup aibnya pula di akhirat kelak, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.,

لَا يَسْتُرُ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Seorang hamba tidaklah menutub (aib) hamba yang lain di dunia hingga Allah akan menutup (aibnya) di hari Kiamat kelak. (HR Muslim)

Demikianlah janji Allah kepada orang-orang yang dapat menyembunyikan aib saudaranya di dunia, niscaya Allah akan menutup aibnya pula di akhirat kelak. Sebaliknya, barang siapa yang senang mengumbar aib saudaranya maka Allah akan menimpakannya azabnya yang pedih, sebagaimana yang termaktub pada firman-Nya berikut ini.

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنۡ تَشِيعَ الۡفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ اٰمَنُوا لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآَخِرَةِ وَاللّٰهَ يَعۡلَمُ وَأَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS an-Nûr [24]: 19)

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.