Menjaga Rahasia: Amanah yang Sudah Kita Lupakan

Menjaga rahasia – Sebuah riwayat menyatakan bahwa ketika suami Hafsah binti Umar wafat, Umar bin Khattab menemui Utsman bin ‘Affan  dan memintanya untuk menikahi Hafsah. Utsman pun berkata kepadanya, ”Akan aku pertimbangkan.” Setelah beberapa hari kemudian, Utsman pun menemui Umar dan ia berkata, ”Sekarang, sepertinya aku memilih untuk tidak menikah.” Kemudian, Umar meminta sahabatnya Abu Bakar untuk menikahi putrinya, tetapi Abu Bakar tidak memberikan jawaban apa pun sehingga Umar pun marah kepadanya. Setelah beberapa malam, akhirnya Rasulullah saw. meminang Hafsah, Umar pun menikahkan  putrinya dengan Rasulullah saw. Setelah itu Abu Bakar menemui Umar dan berkata kepadanya, ”Pasti engkau marah kepadaku ketika engkau memintaku menikahi Hafsah.” Umar menjawab, ”Ya, aku marah.” Abu Bakar pun berkata, ”Aku terpaksa tidak dapat memberikan jawaban ketika engkau memintaku untuk menikahi Hafsah karena aku mendengar bahwa Rasulullah saw. ingin menikahinya. Aku tidak ingin membuka rahasia Rasulullah saw. Jika saja Rasulullah meninggalkannya (tidak ingin menikahinya) maka aku akan menikahi Hafsah.” (HR Bukhari)

Sikap Abu Bakar r.a. yang menyembunyikan rahasia pribadi Rasulullah saw. merupakan sikap terpuji, sikap muslim sejati. Seorang muslim sudah seharusnya dapat menjaga rahasia dirinya atau rahasia orang lain yang dipercayakan kepadanya. Seorang muslim yang dapat menjaga rahasia, dirinya akan merasa tenang dan tidak akan takut. Sebaliknya, jika ia membeberkan rahasia orang lain maka ia akan merasa tidak nyaman dan selalu was-was. Orang yang mampu menjaga rahasia berarti mampu menjaga amanah. Orang yang mampu menjaga amanah, pasti akan dipercaya dan dicintai oleh orang lain. Sebaliknya, orang yang suka membeberkan rahasia orang lain, dirinya cenderung tidak dipercaya oleh orang lain. Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

”Jika seseorang berbicara, lalu ia berpaling–darinya–maka itulah amanah.” (HR Abu Dawud Turmudzi).

Sikap menjaga rahasia ini juga dipegang oleh Rasulullah saw. ketika beliau merencanakan peperangan, beliau tidak pernah menginformasikan kepada siapa pun tentang waktu dan tempatnya sehingga beliau pun dapat mempersiapkan tentara dengan semaksimal mungkin.

Para ahli hikmah menyatakan bahwa barang siapa yang membuka rahasianya maka hancurlah urusannya dan barang siapa yang menyembunyikan rahasianya, ia akan menguasai urusannya. Sebuah ungkapan juga menyebutkan bahwa selemah-lemah manusia adalah orang yang lemah menyembunyikan rahasianya.

Selain menyembunyikan rahasia, seorang muslim juga harus pandai menyembunyikan keinginan. Jika ingin melakukan sebuah pekerjaan dengan sebaik-baiknya, lebih baik ia merahasiakannya terlebih dahulu hingga ia berhasil melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaannya.

Selanjutnya, menjaga rahasia rumah tangga. Apa yang terjadi di rumah merupakan rahasia yang tidak boleh disebarluaskan, terlebih lagi hal-hal yang terkait dengan hubungan suami istri. Tidak dibenarkan seorang suami menceritakan istrinya kepada orang lain, begitu pula sebaliknya. Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah di hari Kiamat adalah seorang laki-laki yang membuka rahasia istrinya dan istrinya membuka rahasia suaminya, lalu sang suami menyebarkan rahasia istrinya.”  (HR Muslim dan Abu Dawud)

Menjaga atau menyembunyikan hal-hal tersebut agar tidak diketahui oleh orang lain merupakan kewajiban setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Namun, ada beberapa hal di mana menyembunyikannya adalah haram, yaitu:

Pertama, menyembunyikan kesaksian. Seorang muslim tidak dibenarkan menyembunyikan kesaksiannya. Ia wajib memberikan kesaksian yang ia lihat, sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam Al-Qur’an.

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنۡ كَتَمَ شَهَادَةً عِنۡدَهُ مِنَ اللّٰهِ وَمَا اللّٰهَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan kesaksian dari Allah yang ada padanya?” Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS al-Baqarah [2]: 140)

وَلَا تَكۡتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنۡ يَكۡتُمۡهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلۡبُهُ وَاللّٰهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٌ

Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS al-Baqarah [2]: 283)

Kedua, menyembunyikan ilmu. Seorang muslim dilarang menyembunyikan ilmunya karena siapa pun yang menyembunyikannya akan mendapatkan azab yang sangat pedih. Allah SWT berfirman,

وَلَا تَلۡبِسُوا الۡحَقَّ بِالۡبَاطِلِ وَتَكۡتُمُوا الۡحَقَّ وَأَنۡتُمۡ تَعۡلَمُونَ

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya. (QS al-Baqarah [2]: 42)

إِنَّ الَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَا أَنۡزَلۡنَا مِنَ الۡبَيِّنَاتِ وَالۡهُدَى مِنۡ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الۡكِتَابِ أُولَئِكَ يَلۡعَنُهُمُ اللّٰهَ وَيَلۡعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat. (QS al-Baqarah [2]: 159)

 Bahkan, dalam haditsnya Rasulullah saw. mengancam orang-orang yang menyembunyikan ilmunya. Ia akan dicambuk dengan api neraka. Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللَّهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Barang siapa yang ditanya tentang ilmu, lalu ia  menyembunyikannya maka Allah akan mencambuk dengan cambukan api neraka di hari Kiamat.” (HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Menjaga rahasia berarti menjaga amanah. Jika sebuah rahasia disebarluaskan, tentunya itu bukanlah rahasia. Menjaga rahasia akan dapat mengekalkan sebuah pertemanan, sebagimana pepatah hikmah yang menyatakan, ”Sahabat sejati adalah orang yang pandai menjaga rahasia Anda dan pintar menutupi kekurangan Anda.”

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.