Mengapa Kita Harus Berdoa kepada Allah?

Mengapa Kita Harus Berdoa kepada Allah – Keengganan dan kemalasan dalam berdoa kepada Allah mungkin disebabkan merasa telah memiliki segalanya, telah memiliki berbagai nikmat dan karunia. Jika kita berdoa, doa itu sebatas formalitas.

Wahai orang yang sudah berhari-hari, berminggu-minggu, atau berbulan-bulan tidak berdoa! Apakah kita benar-benar sudah merasa cukup dalam hidup ini? Bukankah semestinya hidup kita yang sempurna, justru membuat kita makin rajin berdoa agar Allah membuat kita tetap merasakan nikmat dan menjadikan kita orang yang pandai bersyukur?

Ataukah kita menunggu sampai nikmat tersebut dicabut kembali sehingga kita baru mau berdoa? Na’ûdzubillâh, kita memohon perlindungan Allah dari keadaan seperti itu.

Apakah kita hanya berdoa ketika musibah atau masalah menimpa dan ketika masalah itu pergi dan musibah itu menghilang kita kembali enggan dan malas berdoa? Berhati-hatilah, jangan sampai kita menjadi orang yang telah diceritakan kisahnya dalam Al-Qur’an berikut ini.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (12)

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.(QS Yûnus [10]: 12)

Apakah kita tidak mengetahui bahwa kita bisa dicap sebagai orang yang sombong ketika kita melalui hari-hari dalam hidup tanpa berdoa? Apakah menurut kita ini terlalu berlebihan? Jika demikian, mari kita perhatikan ayat di bawah ini, yang sebelumnya juga telah kita jelaskan.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghâfir [40]: 60)

Bukankah dalam ayat itu Allah menyematkan kata sombong bagi orang yang tidak mau berdoa atau beribadah? Apakah kita tidak merasa takut disebut sebagai orang yang sombong? Bukankah iblis terusir dari surga karena sikap sombong yang ia tunjukkan secara terang-terangan kepada Allah sehingga murka Allah menimpa dirinya sampai hari kiamat?

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menceritakan keburukan dari sifat sombong. Betapa Allah sangat membenci sifat sombong yang ada dalam diri manusia.  Di antaranya adalah  kalam Allah yang berbunyi:

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (72)

Dikatakan (kepada mereka), ”Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, (kamu) kekal di dalamnya.” Maka (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri. (QS az-Zumar [39]: 72)

… إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ (23)

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.(QS an-Nahl [16]: 23)

Ingatlah wahai pembaca, hanya Allah yang berhak memiliki sifat sombong karena hanya Dia satu-satunya yang memiliki kebesaran dan kekuasaan, sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadits qudsi, Allah berkalam:

العِزُّ إِزَارِيْ وَالكِبْرِيَاءُ رِدَائِيْ فَمَنْ نَازَعَنِيْ شَيْئًا عَذَّبْتُهُ.

“Kemuliaan itu adalah pakaian-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang mencoba menandingi-Ku dalam hal itu, niscaya Aku pasti akan mengadzabnya.” (HR Burqanî dalam kitab Mustakhraj)

Bukan hanya itu, Allah memberikan ancaman secara langsung bagi orang-orang yang sombong. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka jahannam dalam kondisi yang hina dina, sebagaimana kalam Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghâfir [40]: 60)

Hendaknya kita menunjukkan kelemahan, kefakiran, dan rasa butuh kita kepada Allah dengan menjadikan doa sebagai kunci dari kekuatan dan keberhasilan kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kita juga harus menghindari sikap malas dalam berdoa karena manusia yang paling lemah adalah manusia yang malas berdoa. Kita juga tidak boleh meninggalkan doa sama sekali karena siapa yang meninggalkan doa berarti ia telah bersikap sombong, sementara ancaman Allah bagi orang yang sombong adalah neraka Jahannam.

Jika memang merasa hidup kita telah sempurna, nikmat yang kita miliki pun sudah cukup, hendaknya kita berdoa kepada Allah, memohon pertolongan dari-Nya, karena itu akan membuat kita makin kuat dalam beribadah. Dengan begitu, ketika kita menghadapi kesulitan, lalu kita berdoa kepada Allah, Dia akan segera mengabulkan doa kita. Siapa saja yang terbiasa berdoa di waktu senang maka Allah akan mengabulkan doanya di waktu susah. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda:

‏مَنْ سَرَّهُ أنْ يَسْتَجِيْبَ اللَّهُ تَعالى لَهُ عنْدَ الشَّدَائِدِ وَالكُرَبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فيِ الرَّخَاءِ‏

“Siapa yang ingin dikabulkan Allah doanya ketika berada dalam kesulitan, hendaknya ia memperbanyak doa ketika berada dalam kesenangan.” (HR Turmudzi)

Berkaitan dengan berdoa di waktu senang ini juga, ada sebuah kisah menarik yang telah diceritakan Rasulullah melalui salah satu haditsnya yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.a., Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus beliau berdoa kepada Allah dengan kalimat di bawah ini.

اللَّهُمَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

“Ya Allah, Ya Tuhanku, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

Lantunan doa itu pun terdengar sampai ke bawah Arasy sehingga para malaikat berkata: “Wahai Tuhan! (Kami mendengar) suara sayup-sayup yang cukup kami kenal, yang datang dari bagian bumi yang tidak kami ketahui.”

Allah berkalam, “Apakah kalian mengetahui dengan pasti suara siapa itu?”

Mereka menjawab, “Tidak wahai Tuhan, siapakah dia?”

Allah berkalam, “Itu adalah suara hamba-Ku, Yunus.”

Para malaikat kembali berkata, “Apakah ini suara hamba-Mu, Yunus, yang masih saja mempersembahkan amal dan doanya (meskipun ia berada dalam perut ikan paus)?”

Allah berkalam, “Iya, benar.”

Malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami! Apakah Engkau tidak mengasihinya lantaran (amal dan doa) yang ia perbuat di waktu senang sehingga Engkau (berkenan) menyelamatkannya dari bala’ ini?”

Allah berkalam, “Iya, Aku mengasihinya.”

Kemudian, Allah memberikan perintah-Nya kepada ikan paus untuk melepaskan Nabi Yunus. Seketika ikan itu melemparkan tubuh beliau ke daratan.

Lihatlah, wahai pembaca! Alangkah hebat pertolongan Allah kepada seorang hamba yang sedang ditimpa kesusahan hanya karena ia banyak berdoa dan beramal  di waktu senang.

Hal penting yang juga ingin kita kupas dalam pembahasan ini adalah; bahwa doa orang yang sedang kesulitan cepat sekali dikabulkan Allah, apalagi kalau dalam doa itu mengandung makna tauhîdullah (meng-esakan Allah). Perlu kita ketahui bahwa Firaun, musuh utama Musa a.s., ketika hampir tenggelam, ternyata ia juga sempat mengucapkan doa, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.

… آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا الَّذِيْ آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيْلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” (QS Yûnus [10]: 90)

Malaikat mendengar doa Firaun, Jibril a.s. segera turun bukan untuk memberikan pertolongan. Namun, Jibril turun untuk membuat laut segera menelan Firaun karena ia takut rahmat Allah akan turun kepadanya. Setelah Firaun ditenggelamkan, datanglah jawaban Allah:

آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS Yûnus [10]: 91)

Doa dua orang yang sedang kesulitan, Nabi Yunus a.s. dan Firaun, ternyata didengar para malaikat. Namun, dua doa ini sungguh sangatlah jauh perbedaannya meskipun dalam kondisi yang sama, sama-sama dalam kesulitan dan sama-sama berdoa.

 

Baca Juga: Doa Agar Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

 

Nabi Yunus a.s. doanya didengar malaikat dan malaikat memohon kepada Allah untuk membantunya. Sementara Firaun doanya didengar para malaikat, tetapi ada di antara para malaikat itu yang justru segera turun ke bumi untuk membuatnya celaka.

Apakah kita mengetahui di mana letak perbedaannya? Perbedaannya terletak pada apa yang mereka lakukan di masa-masa senang. NAbi Yusnus a.s. di waktu senang ia mengenal Allah dan senantiasa taat kepada-Nya. Sementara yang lain, Firaun, di waktu senang ia meninggalkan Allah dan senantiasa bermaksiat kepada-Nya.

Nabi Yunus a.s. mengisi masa senangnya dengan banyak shalat, berdoa, dan berdakwah, sedangkan Firaun mengisi masa senangnya dengan melakukan kezaliman, kefasikan, kedurhakaan, dan kekafiran.

Apakah di waktu senang kita tidak juga mau berdoa? Ataukah sudah mulai mengubah pandangan kita dalam hal berdoa?

Doa sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, doa ihtiyâj, yaitu doa yang dipanjatkan seorang hamba karena merasa butuh kepada Allah. Kedua, doa ubudiyyah, yaitu doa yang dipanjatkan seorang hamba sebagai bentuk taqarrub (pendekatan diri) serta penghambaan diri kepada Allah.

Ketika kita sedang dilanda kesulitan, kesedihan, bencana, dan musibah, berdoalah kepada Allah dengan doa ihtiyâj. Sementara itu, jika kita merasa hidup sudah cukup tenteram, aman, dan bahagia, kita menerima semua keputusan Allah untuk kita dengan lapang dada dan hati yang senang maka berdoalah kepada Allah dengan doa ubudiyyah. Oleh karena itu, tidak ada hari, minggu, bulan, atau pun tahun yang kita lalui tanpa memanjatkan doa kepada Allah.

Kita kembali kepada pertanyaan semula, mengapa kita malas dan enggan berdoa? Jika sebelumnya telah kita singgung bahwa itu terjadi kemungkinan karena sifat sombong yang ada dalam diri. Oleh karena itu, marilah kita bahas kemungkinan kedua, mungkin kita malas, bosan, dan enggan berdoa karena kita merasa putus asa dan menyerah kepada keadaan.

Sebagian besar manusia yang enggan, malas, atau sedikit berdoa disebabkan rasa bosan serta perasaan putus asa yang ada dalam diri mereka. Mereka menganggap sudah banyak doa dipanjatkan dan telah berulang kali dibaca serta diucapkan, tetapi ternyata hasilnya nihil, Allah tidak juga mengabulkan doa mereka. Apakah kita termasuk salah seorang dari mereka yang menganggap bahwa banyak doa kita yang tidak kunjung dikabulkan Allah?

Hendaknya kita jangan terlalu cepat menyerah dan putus asa. Bukankah telah kita jelaskan sebelumnya bahwa Allah memerintahkan kita untuk berdoa sebagai salah satu bentuk rahmat dan karunia-Nya? Dia juga telah menjadikan doa bagian dari ibadah dan upaya pendekatan diri kepada-Nya? Hal yang terpenting adalah Allah telah berjanji untuk mengabulkan semua doa hamba-hamba-Nya. Apakah kita mengira Allah akan mengingkari janji-Nya?

Sebelum kita berpikir yang bukan-bukan dan berburuk sangka terhadap Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sehingga setan pun memiliki kesempatan memasuki pemikiran dan jiwa kita. Setan ingin menjadikan pemikiran itu makin melekat dalam hati kita sehingga kita makin menyerah dan berputus asa dalam berdoa. Ada baiknya jika kita mengintrospeksi diri kita terlebih dahulu. Sebab, meskipun semua doa dikabulkan, tetap saja jawaban doa itu adalah hak prerogatif (hak istimewa) Allah yang harus kita ikuti aturannya agar semua doa kita dikabulkan.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya al-Jawâb al-Kafi liman sa’ala ‘an ad-dawa’ asy-Syafi mengatakan bahwa doa dan isti’âdzah (permohonan perlindungan) layaknya senjata. Jika senjata itu diasah hingga tajam, tangan yang menggunakannya pun adalah tangan yang kuat dan lincah, tidak ada penghalang untuk menggunakannya, senjata itu pun akan ampuh melawan musuh. Sekiranya tiga hal itu ada yang kurang atau hilang, peluang kemenangan terhadap musuh pun akan berkurang.

Kita yakin bahwa doa yang kita panjatkan akan dikabulkan Allah. Namun, boleh jadi terkabulnya doa tersebut lambat dan makin hari makin lemah karena kita tidak melaksanakan hal-hal yang dapat menunjang terkabulnya doa. Bisa jadi kita masih melakukan beberapa tindakan yang dapat menghalangi terkabulnya doa yang telah dijanjikan Allah atau kita tidak memperhatikan waktu-waktu, kondisi-kondisi, serta tempat-tempat mustajab yang dianjurkan untuk berdoa serta mengikuti dengan baik dan benar etika-etika dalam berdoa.

Berkaitan dengan hal ini juga, seorang ulama berkata, “Sesungguhnya doa memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab, serta waktu-waktu tertentu. Sekiranya doa itu selaras dengan rukunnya maka ia akan menjadi kuat. Jika sayap-sayapnya terpenuhi, ia akan terbang ke langit. Jika waktu-waktunya sesuai, ia akan berhasil. Jika sebab-sebab juga terpenuhi, ia akan menjadi nyata (sukses).”

Oleh karena itu, kita hendaknya menjauhi sikap pasrah dan putus asa dengan doa yang kita panjatkan. Marilah kita bersama-sama mencari tahu hal-hal yang dapat menunjang terkabulnya doa (syarat-syarat berdoa) atau sebaliknya yang dapat menghalangi terkabulnya doa. Begitu juga kita harus mengetahui waktu-waktu, kondisi-kondisi, dan tempat-tempat yang tepat untuk berdoa, serta etika yang baik dan benar dalam berdoa. Akhirnya, doa-doa yang kita panjatkan dapat naik menembus langit, didengar Allah dan kemudian dikabulkan-Nya.

Demikian pembahasan mengenai mengapa kita harus berdoa kepada Allah. Semoga bisa menjadi ilham dan hikmah.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.