Mengapa Allah Tidak Mengabulkan Doa

Mengapa Allah Tidak Mengabulkan Doa – Tentu Anda bertanya-tanya, mengapa sih doa-doa Anda tidak terkabulkan? Memangnya, apa penyebab mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda?

Jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Perbuatan Maksiat

Penyebab pertama mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda adalah karena syarat utama yang dapat menunjang terkabulnya doa adalah melaksanakan ibadah kepada Allah sebagai bukti ketaatan kita kepada-Nya. Kemudian, amalan itu diikuti dengan tekad yang bulat untuk meninggalkan segala bentuk perbuatan maksiat. Sebab, faktor utama yang dapat menghambat doa naik ke langit dan terkabulnya doa adalah perbuatan maksiat.

Diriwayatkan dari seorang sahabat yang bernama Lais, bahwasanya Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah melihat seseorang yang mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Nabi Musa a.s. pun bertanya, “Wahai Tuhan! Hamba-Mu telah memanjatkan doa kepada-Mu sampai Engkau mengasihinya. Engkaulah Tuhan yang paling Pengasih. Lalu, apa yang Engkau perbuat dengan permintaannya itu?”

Lalu, Allah berkalam, “Wahai Musa! Sekiranya ia berdoa dengan mengangkat kedua belah tangannya tanpa berhenti, Aku sama sekali tidak memperhatikan permintaannya, sampai ia mau memperhatikan hak-hak-Ku (yang telah ditinggalkannya).”

Hal serupa juga dinyatakan salah seorang shalih melalui ucapannya yang berbunyi: “Janganlah engkau menghambat doamu! Ketahuilah bahwa maksiat yang engkau perbuat telah menghalangi terkabulnya doamu!”

Tidak hanya itu, bahkan seandainya kita dan orang-orang yang tinggal dalam lingkungan keluarga (masyarakat) mengetahui ada seseorang yang melakukan perbuatan maksiat, tetapi diam saja melihat kemaksiatan yang terjadi tanpa sedikit pun tergerak untuk melarangnya—hingga perbuatan maksiat dan dosa tersebut terus berlangsung dan makin bertambah—hal demikian juga dapat menghalangi terkabulnya doa yang kita dan mereka panjatkan. Keadaan seperti itu telah dijelaskan Rasulullah dalam sebuah hadits.

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ وَلَتَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوْشِكُنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya! Hendaklah kamu menganjurkan kepada hal-hal yang baik (ma’rûf) dan mencegah hal-hal yang tidak baik (mungkar). Jika tidak, Allah akan mengirimkan siksaan-Nya kepadamu, kemudian kamu berdoa kepada-Nya dan doa kamu tidak dikabulkan.” (HR Turmudzi)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a., Ummul Mukminin, juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

مُـرُوْا بِالمَعْرُوْفِ وَانْـهَوْا عَنِ المُنْكَـرِ قَبْلَ أَنْ تَدْعُوْا فَلاَ يُستَجَابُ لَكُمْ

“Hendaklah kamu meyuruh kepada hal-hal yang baik (makruf) dan mencegah hal-hal yang mungkar sebelum kalian berdoa dan doa kamu tidak dikabulkan (Allah).” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

Ada hal yang perlu diperhatikan di sini. Meskipun sebab utama yang menghalangi terkabulnya doa adalah perbuatan maksiat, tetapi itu bukan berarti ketika kita merasakan begitu banyak dosa yang kita lakukan, kita lalu meninggalkan doa—karena merasa diri kita terlalu hina di hadapan Allah. Jadi, jangan sampai kita beranggapan bahwa kita tidak pantas untuk berdoa dan mengira bahwa Allah tidak akan mau mengabulkan doa kita.

Ketahuilah, wahai pembaca! Justru orang yang paling butuh kepada Allah adalah mereka yang bergelimang dosa dan maksiat. Mereka jugalah yang paling sering berdoa dan memohon keridhaan Allah agar diselamatkan dari bencana kemaksiatan sebelum ajal menjemput mereka.

Tipuan dan godaan yang dibisikkan setan ke dalam hati manusia menumbuhkan perasaan berdosa yang berlebihan. Hal itu membuat ia mengira bahwa Allah tidak akan menerima tobat dan doanya. Dengan begitu ia rela meninggalkan doa dan makin terjatuh ke dalam lembah maksiat dan dosa. Siapa pun yang mendapati kondisi demikian, hendaknya ia mengusir perasaan seperti itu dan lebih tekun lagi bertobat dan berdoa kepada Allah.

2. Putus Asa dalam Berdoa

Penyebab kedua mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda adalah karena Anda putus asa dan cepat menyerah dalam berdoa serta terlalu tergesa-gesa memohon terkabulnya doa.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah e  bersabda,

‏يُسْتَجَابُ لأحَدِكُمْ ما لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولَ‏:‏ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ‏

“Doa salah seorang di antara kalian dikabulkan Allah asalkan dia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata, ‘Aku telah berdoa, tetapi doaku tidak dikabulkan.'”  (HR Bukhari dan Muslim)

Apa yang diisyaratkan oleh Rasulullah e dalam haditsnya itu terjadi dan seringkali kita jumpai di masyarakat kita. Tidak sedikit orang yang cepat menyerah dan berputus asa dalam berdoa, padahal boleh jadi mereka belum maksimal dalam berdoa. Mungkin mereka berdoa hanya untuk beberapa saat atau beberapa minggu, bulan, ataupun tahun. Setelah itu berhenti dan tidak mau berdoa lagi.

Contoh dan teladan kita adalah para nabi dan rasul Allah yang dengan penuh kesabaran terus-menerus berdoa tanpa putus asa. Akhirnya, Allah pun berkenan mengabulkan semua permohonan mereka.

Perhatikan bagaimana Nabi Zakaria a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. meminta keturunan. Kapankah doa mereka dikabulkan? Kita menyaksikan keduanya diberikan keturunan di usia senja.

Ketekunan dan kesabaran dalam berdoa juga ditunjukkan oleh salah seorang sahabat Rasulullah e yang bernama Urwah bin Zubair r.a. Ia senantiasa membiasakan dirinya membaca doa sebagaimana dia membiasakan diri untuk membaca Al-Qur’an. Begitu juga dengan sahabat yang bernama Mauraq al-Ajali, ia pernah berkata, “Aku berdoa kepada Tuhanku untuk suatu keperluan selama 20 tahun lamanya. Hajat itu sampai sekarang belum terpenuhi, tetapi aku tidak putus asa.”

Kalam Allah di dalam Al-Qur’an,

قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (89)

Dia Allah berfirman, ”Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.” (QS Yûnus [10]: 89)

Mengenai ayat di atas, sebuah riwayat menyebutkan bahwa jarak antara doa yang dipanjatkan Musa a.s. dan saudaranya, Harun a.s., dengan jawabannya (terkabulnya doa mereka) adalah empat puluh tahun lamanya.

Wahai pembaca yang budiman! Janganlah kita menjadi seperti orang yang sedang menggarap lahan untuk ditanami beraneka ragam tanaman. Ketika tanamannya mulai tumbuh dan membesar, ia pun berkata, “Tampaknya tanaman-tanamanku ini tidak akan membesar lagi.” Kemudian, ia membiarkan tanaman-tanaman tersebut terbengkalai tanpa dipelihara, apalagi dirawat.

Janganlah tergesa-gesa berharap dikabulkan doa meskipun itu adalah keinginan terbesar dalam hidup kita. Sebab, boleh jadi doa yang tampak lambat dikabulkan Allah mengandung banyak kebaikan atau hikmah dan itu tidak kita sadari sama sekali. Coba kita perhatikan baik-baik hadits qudsi berikut ini!

Allah berkalam kepada malaikat Jibril a.s., “Ya Jibril, apakah hamba-Ku berdoa kepada-Ku? Dia menjawab: “Iya benar, wahai Tuhan.” Allah berkalam, “Apakah mereka terus-menerus mengulangi doa-doanya kepada-Ku?” Dia menjawab, “Iya benar, wahai Tuhan.” Kemudian, Allah berkalam, “Wahai Jibril, tangguhkanlah masalah yang ada pada hamba-Ku karena Aku sangat senang mendengar suaranya dalam berdoa.”

Subhanallah! Wahai pembaca, apakah hati kita tidak tersentuh mendengar kalimat ini, “Wahai Jibril, tangguhkanlah masalah yang ada pada hamba-Ku karena Aku sangat senang mendengar suaranya dalam berdoa?”

Selanjutnya, bacalah dengan saksama hadits Nabi e berikut ini. Setelah itu, kita pun dapat mengetahui mengapa doa kita lambat dikabulkan Allah. Bukankah lebih baik kita berbaik sangka kepada Allah? Sebab, Allah selamanya akan mengikuti prasangka para hamba-Nya.

عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُوَكَّلٌ بِحَاجَاتِ الْعِبَادِ، فَإِذَا دَعَاهُ عَبْدُهُ الْمُؤْمِنُ قَالَ لَهُ: يَا جِبْرِيلُ، احْبِسْ حَاجَةَ عَبْدِي هَذَا، فَإِنِّي أُحِبُّهُ وَأُحِبُّ صَوْتَهُ، وَإِذَا دَعَاهُ عَبْدُهُ الْكَافِرُ قَالَ: يَا جِبْرِيلُ اقْضِ حَاجَةَ عَبْدِي هَذَا فَإِنِّي أَبْغَضُهُ وَأَبْغَضُ صَوْتَهُ.

Dari sahabat Jabir r.a., dari Nabi e beliau bersabda, “Sesungguhnya Jibril a.s. dititipi semua hajat para hamba Allah. Jika seorang hamba yang mukmin berdoa, Allah berkalam kepada Malaikat Jibril, ‘Tahanlah hajat hamba-Ku ini karena Aku mencintainya dan senang mendengar suaranya.’ Dan jika yang berdoa adalah seorang hamba yang kafir, Allah berkalam, ‘Wahai Jibril, tunaikanlah hajat hamba-Ku ini (dengan segera) karena Aku membencinya dan aku juga benci mendengar suaranya.'” (HR Baihaqi dalam Sya’bul Iman)

Apakah kita lebih memilih untuk menjadi seorang mukmin yang sabar karena merasa dicintai Allah atau lebih memilih menjadi orang kafir yang seluruh permintaanya dikabulkan Allah hanya karena Allah benci mendengar suara dan rintihannya? Kita pasti lebih memilih tawaran yang pertama.

Dalam hadits yang lain, beliau juga bersabda,

سَلُوْا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَأَفْضَلُ العِبَادَةِ اِنْتِظَارُ الْفَرْجِ

“Mintalah (berdoalah) kepada Allah dari sebagian rahmat-Nya, karena sesungguhnya Allah sangat suka jika dimintai. Dan sebaik-baik doa (ibadah) adalah doa orang yang sedang kesulitan, ketika ia menunggu jawaban.” (HR Turmudzi)

Sungguh, Allah menyukai ungkapan isi hati yang kita keluarkan ketika berdoa. Allah senang mendengarkan suara rintihan kita di tengah malam ketika kita memohon dengan penuh pengharapan. Itulah sebaik-baik doa di sisi Allah, yaitu doa hamba yang sedang menanti jawaban akan terkabulnya doa.

Bukan perkara sulit bagi Allah untuk mengabulkan secara langsung doa-doa yang kita panjatkan. Sebab, jika Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah!” maka itu akan terjadi seketika.

Hadits qudsi tersebut jelas sekali bahwa Allah sengaja memperlambat jawaban dari doa kita hanya agar kita makin lama duduk bersimpuh, menangis, dan momohon kepada-Nya yang terangkai dalam doa tulus yang kita panjatkan. Allah sangat menyukai kondisi kita yang seperti itu dalam berdoa. Sebab, tidak mustahil ketika doa telah dikabulkan, kita kembali melupakan dan meninggalkan Allah (tidak mau berdoa lagi).

Ada sebuah ungkapan yang sangat indah yang diucapkan oleh salah seorang ulama di dalam buku karangannya yang berbunyi, “Salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah untuk para hamba-Nya yang beriman adalah Dia menurunkan bala dan musibah kepada mereka, lalu mereka bergantung kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya, berdoa dengan tulus, dan tidak berharap kepada yang lain selain Dia. Hati mereka pun hanya terpaut kepada-Nya sehingga muncullah rasa tawakal yang diiringi dengan tobat dalam jiwa mereka. Mereka pun merasakan manisnya iman dan terhindar dari perasaan syirik. Semua nikmat itu lebih indah dan lebih besar untuk mereka daripada hilangnya rasa takut, rasa sakit, rasa sedih dan kesulitan dalam hidup mereka .…”

Subhanallah … Andai kita mengetahui betapa besar hikmah di balik kesulitan dan kesusahan yang menimpa kita. Allah hanya meminta kita untuk berdoa dan meminta kepada-Nya.

Jangan pernah kita merasa bosan dan berputus asa karena putus asa dalam berdoa layaknya penyakit kronis yang sangat susah disembuhkan, apalagi jika si penderita sakit hanya pasrah terhadap penyakitnya tersebut. Janganlah menyerah terhadap penyakit yang kita derita, pergunakanlah obat yang tepat untuk menyembuhkannya yaitu kesabaran dan shalat.

3. Makan, Minum, dan Berpakaian dari Sesuatu yang Haram

Penyebab ketiga mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda adalah karena Anda senantiasa mengonsumsi makanan dan minuman yang haram, mengenakan pakaian haram, tempat tinggal haram, kendaraan haram, dan lain sebagainya dari harta haram yang dimiliki.

Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah e telah bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، ثُمَّ يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى السَّمَاءِ:يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ.

“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik, Dia tidak akan menerima sesuatu, kecuali yang baik-baik. Allah memerintahkan orang-orang beriman dengan apa yang telah Dia perintahkan atas para utusan-Nya, kemudian beliau membaca (ayat), “Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mu’minûn 51) Beliau juga membaca (ayat), “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS al-Baqarah [2] 172). Kemudian, Rasulullah e menyebutkan, “Ada seorang lelaki yang miskin, berpakaian lusuh, dan kotor terkena debu, dan dia suka melakukan perjalanan jauh. Dia berdiri dan berdoa, “Ya Allah, Ya Tuhanku! Tetapi makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya juga haram. Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan Allah?” (HR Muslim)

Wahai saudara! Apabila ingin doa kita menembus langit dan dikabulkan Allah, jagalah makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita. Jangan sampai ada sedikit pun makanan atau minuman yang kita makan berasal dari harta haram atau barang yang haram.

Dalam hadits lain riwayat Ibnu Abbas r.a., juga disebutkan bahwa ia berkata, salah seorang sahabat membacakan ayat berikut ini di hadapan Rasulullah,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا

Wahai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,” (QS Al-Baqarah [2]: 168) Sahabat Saad bin Abi Waqqash r.a. berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah! Berdoalah (kepada Allah) untukku agar aku termasuk orang yang doanya dikabulkan Allah.” Kemudian, beliau bersabda, “Makanlah makanan yang baik, niscaya doamu akan dikabulkan Allah. Demi jiwa Muhammad yang berada di genggaman-Nya, sesungguhnya seorang laki-laki yang memasukkan sepotong daging haram di dalam lambungnya maka (doanya atau amalnya) tidak akan diterima (Allah)  selama 40 hari lamanya, dan siapa pun yang dagingnya tumbuh dari hasil makan harta haram dan riba maka sungguh api neraka lebih layak untuknya.”

Saad bin Abi Waqqash pun menjadi salah seorang sahabat yang terkenal dengan sebutan “orang yang doanya dikabulkan Allah.” Ketika ia berdoa, doa itu naik ke langit, hijab pun terbuka, dan tidak kembali, melainkan apa yang ia minta pasti terwujud.

Saat ditanya rahasia dari doanya yang begitu mustajab, sahabat ini dengan malu-malu menjawabnya, “Aku sama sekali tidak pernah menelan satu potong makanan pun, melainkan aku mengetahui darimana ia datang dan bagaimana cara ia dikeluarkan.”

Bahkan, lebih dari itu, hendaknya kita juga menjaga seluruh anggota tubuh kita dari berbuat hal-hal yang diharamkan.

Jagalah kedua mata kita dari memandang hal yang diharamkan agama. Jagalah telinga kita dari mendengar perkataan jelek, gossip, dan lain sebagainya. Jagalah tangan kita dari mengambil yang bukan hak kita. Jagalah kedua kaki, jangan sampai kita melangkah dan pergi ke tempat-tempat yang diharamkan agama. Jagalah mulut dan lisan kita dari berbicara yang kotor dan tidak benar (bohong). Jagalah hati kita, jangan sampai sikap syirik menyelinap masuk ke dalamnya.

4. Berlebih-lebihan dalam Berdoa

Penyebab keempat mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda adalah karena Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan melarang kita untuk melampai batas (berlebih-lebihan) dalam berdoa. Sebab, hal itu dapat menghalangi doa kita naik ke langit dan terkabul, sebagaimana dijelaskan Allah dalam kalam-Nya berikut ini.

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS al-A’râf [7]: 55)

Rasulullah e juga mengingatkan para sahabat akan datangnya orang-orang yang terlalu berlebihan dalam berdoa.

سَيَكُوْنُ فيِ هَذِهِ الأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فيِ الطُّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ

“Dari umat ini akan muncul suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam hal berdoa dan bersuci.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim)

Lalu, apakah yang dimaksud dengan berlebih-lebihan dalam berdoa? Para ulama menunjukkan beberapa hal yang termasuk kategori berlebihan dalam berdoa.

  • Kita berdoa dan di dalam doa itu kita meminta hal yang mustahil terjadi. Misalnya kita berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, aku ingin hidup kekal sampai datangnya hari Kiamat.” Atau “Ya Allah, ya Tuhanku, jadikanlah aku di antara sepuluh orang yang dikabarkan masuk surga.”
  • Kita berdoa dan merinci permintaan kita ketika berdoa secara berlebihan. Misalnya kita berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, berikanlah aku seorang istri yang cantik, berkulit putih, rambutnya panjang, matanya biru, tingginya 165 cm, pipi kanan merah, dan namanya … dan lain sebagainya.”

Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Ayahku mendengar ketika aku membaca doa, ‘Ya Allah, ya Tuhanku, aku meminta surga-Mu dan kenikmatan di dalamnya yang seperti ini, ini, dan ini … Dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka, dan dari siksaan-Nya yang seperti ini, ini dan ini .…’

Lalu, ayahku berkata, ‘Wahai anakku! Aku mendengar Rasulullah e bersabda, “Akan muncul suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam hal berdoa.”‘ Berhati-hatilah! Jangan sampai engkau menjadi salah seorang di antara mereka. Jika Allah memberikanmu surga, Dia akan memberikan surga berikut kebaikan di dalamnya. Jika Dia melindungimu dari neraka, Dia akan melindungi dirimu dari api neraka beserta siksaan dan kejelekan yang ada di dalamnya.'” (HR Abu Daud)

  • Kita berdoa dan doa itu mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahim sebagaimana yang disabdakan Rasulullah,

لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ

“Allah senantiasa memperkenankan doa seorang hamba selama doa itu tidak mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi dan selama tidak minta cepat-cepat diperkenankan.” (HR Muslim)

 

Baca Juga: Doa Agar Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

 

Di antara doa yang mengandung dosa dan tidak diperbolehkan adalah seseorang berdoa meminta musibah, kejelekan, atau pun kematian menimpa dirinya, anak-anak atau orang lain, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits.

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى خَدَمِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap diri kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap anak-anak kalian, janganlah kalian mendoakan kebinasaan terhadap pelayan kalian, dan jangan pula kalian mendoakan kemusnahan terhadap harta benda kalian.” (HR Abu Daud)

Apabila memang hal itu (keinginan untuk mati) terpaksa dilakukan karena begitu besarnya cobaan yang menimpa atau ditakutkan cobaan tersebut dapat mendatangkan fitnah, baik bagi dirinya maupun agamanya, Rasulullah e menganjurkan kita untuk berdoa berikut ini. arab 77

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي.

“Ya Allah Ya Tuhanku! Hidupkanlah aku selama hidup itu baik untukku, dan matikanlah aku selama kematian itu baik untukku.” (HR Bukhari dan Muslim) 

  • Menggantungkan doa (hal ini telah kita jelaskan sebelumnya). Misalnya, kita berdoa, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau suka .…”
  • Berdoa dengan membatasi doanya tersebut hanya untuk dirinya sendiri, contohnya doa yang dipanjatkan seseorang, “Ya Allah, berilah aku dan Nabi Muhammad rahmat-Mu! Selain kami berdua, janganlah Engkau beri rahmat-Mu! Atau, “Ya Allah, rahmatilah aku saja dan jangan rahmati orang lain selain aku.” Doa yang seperti itu yang tidak diperbolehkan karena rahmat Allah begitu luas untuk para hamba-Nya dan tidak terbatas. Allah memberi dan mengampuni orang yang dikehendaki-Nya.
  • Berdoa dengan suara yang tinggi dan keras. Sesungguhnya Allah Mahadekat, bahkan Dia lebih dekat dengan urat nadi manusia. Oleh karena itu, jika berdoa, ucapkanlah dengan suara yang lembut dan pelan.

Sebagai tambahan, mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda adalah, kami kutipkan sebuah kisah menarik, yaitu kisah Ibrahim bin Adham yang diriwayatkan dari Syaqiq bin Ibrahim.

Suatu hari Ibrahim bin Adham masuk ke salah satu pasar terbesar di Kota Basrah, orang-orang pun berkumpul mengelilinginya. Lalu mereka bertanya,

“Wahai Abu Ishak, Allah telah berkalam di dalam kitab suci-Nya,

… ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ….

“… Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ….” (QS Ghâfir [40]: 60)

Kami selalu berdoa dan itu kami lakukan dari dahulu sampai saat ini. Namun, mengapa doa kami tidak kunjung dikabulkan?”

Beliau menjawab, “Wahai penduduk Basrah! Hati kalian telah lama mati karena 10 perkara.

  1. Kalian mengenal Allah, tetapi kalian tidak menunaikan hak-hak-Nya.
  2. Kalian membaca kitab Allah (Al-Qur’an), tetapi kalian tidak mengamalkannya.
  3. Kalian mengaku-ngaku cinta Rasulullah e berikut keluarga dan para sahabat beliau, tetapi kalian meninggalkan sunnah-sunnahnya.
  4. Kalian mengetahui bahwa setan adalah musuh nyata, tetapi tetap saja kalian senang dengan ajakannya.
  5. Kalian mengatakan cinta surga, tetapi kalian tidak melakukan apa pun untuk meraihnya.
  6. Kalian mengatakan takut neraka, tetapi kalian telah mempertaruhkan diri kalian untuknya.
  7. Kalian mengetahui kematian pasti datang, tetapi kalian tidak mempersiapkan bekal untuknya.
  8. Kalian sibuk mencari aib saudara-saudara kalian, tetapi melupakan aib kalian sendiri.
  9. Kalian menikmati semua nikmat Tuhan kalian, tetapi kalian tidak mau bersyukur kepada-Nya.
  10. Kalian ramai-ramai menguburkan orang yang meninggal di antara kalian, tetapi kalian sama sekali tidak mengambil pelajaran darinya.

Setelah kita mengetahui syarat-syarat yang dapat menunjang terkabulnya doa dan perkara-perkara yang dapat menghambat terkabulnya doa, ada baiknya kita beralih kepada pembahasan berikutnya, yaitu mengenai waktu, kondisi, dan tempat yang terbaik dan dianjurkan untuk berdoa.

Demikian pembahasan mengenai mengapa Allah tidak mengabulkan doa Anda. Semoga menjadi hikmah.

 

***

Referensi:

  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.