Manfaat Doa: Penjelasan Lengkap Sesuai Syariat

Manfaat Doa – Apakah Anda penasaran, apa sih manfaat doa? Mengapa sebagai seorang muslim Anda harus melakukannya dan merutinkannya? Sebelum menjawabnya, maka kita harus memahami terlebih dahulu, apa sih doa itu dan apa hakikat dari doa itu?

 

Hakikah Doa bagi Seorang Muslim

Apakah ada di antara kita yang tidak memiliki permasalahan dalam hidupnya? Apakah ada di antara kita yang tidak memiliki cita-cita dan tidak berusaha untuk mewujudkannya? Apakah ada di antara kita yang tidak memiliki angan-angan (keinginan) untuk dicapai? Apakah ada di antara kita yang hidupnya selalu tenteram dan bahagia? Apakah ada di antara kita yang merasa aman hidupnya karena dosa-dosanya tidak menyebabkan ia masuk neraka? Apakah ada di antara kita yang tidak membutuhkan pertolongan Allah?

Jawabannya tentu saja tidak ada. Sebab, sebagai manusia, kita telah diciptakan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, hanya Allah saja Yang Mahakaya lagi Mahakuasa. Oleh karena itu, sudah saatnya dan seharusnya kita kembali kepada Allah, memohon kepada-Nya dengan cara berdoa dan beribadah agar kita mendapatkan segala apa yang kita inginkan. Di samping itu, kita juga mohon diselamatkan dari segala perkara yang tidak diinginkan. Sebab, pada hakikatnya doa bukan hanya urusan dunia dalam rangka meminta kepada Allah, tetapi ia juga merupakan urusan akhirat karena ia merupakan ibadah yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Kenyataannya, banyak di antara kita yang justru menjauh dari Allah dan lebih suka mengadu dan memohon pertolongan kepada sesama manusia daripada mengadu dan memohon pertolongan-Nya. Mereka lebih banyak “mengantri” di depan pintu manusia, mengetuk dan memaksa masuk. Sementara itu, bantuan yang mereka dapatkan seringkali disertai dengan caci maki dan cemoohan. Mereka tidak menyadari bahwa pintu Allah senantiasa terbuka lebar untuk hamba-Nya yang meminta. Seolah mereka pergi meninggalkan Allah dan tidak membutuhkan pertolongan-Nya, padahal di dalam sebuah syair telah disebutkan:

اللهُ يَغْضَبُ إِنْ تَرَكْتَ سُؤَالَهُ     وبُنَيُّ آدمَ حِيْنَ يُسْأَلُ يَغْضَبُ

“Allah akan murka jika sampai kamu meninggalkan doa atau meminta kepada-Nya, sedangkan manusia jika (sering) dimintai (pertolongan) ia akan marah.”

Lihatlah, wahai pembaca! Perbedaan yang jelas antara Allah Sang Maha Pencipta dan manusia biasa yang merupakan makhluk-Nya adalah ketika memberikan pertolongan. Manusia, siapa pun ia, meski orang terdekat, jika kita memintanya berulang kali, ia pasti akan merasa bosan dan marah dengan permintaan kita yang terus menerus itu. Jika ia mau memberi, itu hanya karena terpaksa dan demi menjaga perasaan orang yang meminta. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Adapun Allah, Dia tidak merasa bosan dengan permintaan hamba-hamba-Nya. Begitu juga dengan doa mereka yang diucapkan berulang kali. Bahkan, Allah marah jika kita tidak berdoa dan meminta kepada-Nya. Oleh karena itu, Rasulullah mengabarkan kita melalui sabdanya,

“Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya, demi mendengar keluh kesahnya.”

Alangkah anehnya jika kita sebagai manusia tidak merasa lelah dan bosan untuk meminta kepada sesama manusia yang sama-sama lemah seperti kita, yang telah ditakdirkan Allah memiliki kelebihan harta, kekuasaan, dan jabatan di dunia. Kita juga sangat pintar mengambil hati mereka untuk meluluskan keinginan kita, memahami etika yang benar dalam meminta kepada mereka, mengetahui waktu-waktu dan tempat-tempat yang tepat untuk memohon dan meminta pertolongan kepada mereka. Sebaliknya, kita nyaris tidak mengetahui bagaimana seharusnya meminta kepada Allah, Tuhan Yang Mahakaya lagi Maha Pemurah.

Allah telah memerintahkan kita untuk berdoa dan menjanjikan jawaban doa kita melalui kalam-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu ….” (QS Gāfir [40]: 60)

Boleh jadi, di antara kita ada yang berdoa, tetapi doanya pun diucapkan dengan malas, seolah tidak yakin bahwa doa itu akan didengar dan dikabulkan Allah.

 

Apakah Setiap Doa Dikabulkan oleh Allah?

Salah satu karakteristik utama manusia adalah sifatnya yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan orang lain. Hal itu terjadi karena kehidupan manusia di dunia selalu dirongrong dan diteror oleh musuh utamanya, yaitu setan dan hawa nafsu.

Kelemahan dan ketidakberdayaan manusia ini pun dijelaskan Allah dalam kalam-Nya yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (15)

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS Fâthir [35]: 15)

Kita pasti membutuhkan Allah dalam segala urusan kita. Hanya Allah-lah Yang Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun dari kita. Apa pun yang kita kerjakan, sekalipun itu berkenaan dengan ibadah dan amal shalih, Dia tidak sedikit pun membutuhkannya. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa apa yang kita rasakan dan nikmati adalah bersumber dari Allah dan kita harus bersyukur kepada-Nya.

 

Baca Juga: Dzikir: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

 

Wahai orang yang sedang ditimpa kesulitan, bukankah engkau membutuhkan Allah untuk menghilangkan kesulitanmu?

Wahai orang yang sedang dililit utang, bukankah engkau membutuhkan Allah agar Dia membebaskan dirimu dari lilitan utang yang seolah mencekik leher?

Wahai orang yang dirudung kesedihan, bukankah engkau membutuhkan Allah untuk meredakan kesedihanmu?

Wahai orang yang ditimpa musibah, bukankah engkau membutuhkan Allah agar Dia memberikan engkau kesabaran dan ketabahan dalam menghadapinya?

Wahai orang yang menderita sakit, bukankah engkau membutuhkan Allah agar Dia menyembuhkan penyakitmu?

Wahai orang yang berlumuran dosa dan maksiat, bukankah engkau membutuhkan Allah agar Dia mengeluarkanmu dari kemaksiatan sebelum ajal menjemputmu?

Ya, kita membutuhkan Allah untuk merealisasikan semua impian, angan-angan, dan keinginan kita! Kita membutuhkan-Nya untuk meringankan dan menghilangkan beban serta masalah yang ada dalam hidup kita.

Namun, kita belum sepenuhnya yakin bahwa Allah bisa menjadi penolong kita. Kita belum percaya sepenuhnya bahwa Allah bisa menyelesaikan masalah kita. Kita juga masih ragu bahwa hanya Allah-lah yang dapat menjamin hidup dan kebutuhan kita. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Mari kita perhatikan i’jaz (mukjizat) Al-Qur’an berikut ini! Allah berkalam melalui lisan Nabi Ibrahim a.s.:

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81)

“(Yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali).” (QS. asy-Syu’arâ’ [26]: 78—81)      

Perhatikan ayat-ayat di atas dengan saksama! Dalam ayat-ayat tersebut selalu disebutkan dhamîr (kata ganti) huwa (yang berarti Dia) yang berfungsi sebagai ta’kîd (penegasan), seperti: huwa yahdîn (Dia-lah yang memberi petunjuk kepadaku), huwa yuth’imuni wa yasqîn (Dia yang memberi makan dan minum kepadaku), ‘Huwa yasyfîn (Dia-lah yang menyembuhkan aku).

Namun, di ayat terakhir—Ayat 81—Al-Quran tidak menyebutkan kata ganti huwa (Dia), seperti dalam kalam-Nya, alladzî yumîtuni tsumma yuhyîn (dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali).

Mengapa demikian? Sebab, semua orang mengetahui bahwa Allah-lah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Jadi, tidaklah penting untuk meletakkan dhamîr (kata ganti) ‘Huwa’ (yang berarti Dia) yang berfungsi sebagai penegasan dalam ayat di atas. Namun, ada beberapa kalangan yang masih meragukan bahwa Allah-lah yang memberi petunjuk. Ada juga yang menyangsikan bahwa Allah-lah yang memberi makan dan minum. Ada sebagian lagi yang ragu bahwa Allah jugalah yang menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu, dhamîr huwa yang berfungsi sebagai penegasan digunakan oleh Al-Qur’an.

Demikianlah kondisi yang terjadi di tengah masyarakat kita. Lisannya selalu berkata, “Kita membutuhkan Allah,” tetapi hatinya masih meragukan kekuasaan dan kekuatan Allah sehingga dia menomor-duakan Allah. Bahkan, tidak jarang ketika ditimpa masalah dia lebih cepat mengetuk pintu manusia daripada pintu Allah, dia lebih cepat memohon, memelas, dan meminta kepada manusia daripada kepada Allah.

Kadangkala ada orang yang lebih mengetahui dan memahami bagaimana cara terbaik untuk meminta kepada manusia daripada mengetahui cara yang benar untuk meminta kepada Allah. Merasa lebih senang dan nikmat meminta kepada sesama manusia dan merasa bosan serta malas meminta kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Mereka tidak mengetahui bahwa Allah-lah Yang Mahakaya dan Dia tidak pernah memerlukan sesuatu dari manusia. Apakah masuk akal jika orang yang butuh meminta kepada yang butuh? Orang yang lemah meminta kepada yang lemah? Mengapa kita tidak memohon kepada Allah terlebih dahulu, baru kemudian kita mendatangi manusia? Tidakkah kita memperhatikan kalam Allah yang berbunyi,

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106)

“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS Yûnus [10]: 106)

Dalam ayat lain Allah juga berkalam:

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (14)

“Hanya kepada Allah doa yang benar. Berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan apa pun bagi mereka, tidak ubahnya seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air agar (air) sampai ke mulutnya. Padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Dan doa orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS ar-Ra’d [13]: 14)

Wahai pembaca yang budiman! Mengapa tangan kita tidak juga mengetuk pintu Allah, meminta, dan memohon kepada-Nya dalam setiap urusan? Apakah hati kita masih diliputi keraguan bahwa Allah-lah yang paling berhak untuk kita mintai pertolongan?

Mari kita lihat seberapa besar kekuasaan, kebesaran, dan kerajaan yang dimiliki Allah! Seberapa hebat kekuatan dan kemuliaaan Dzat yang kita mohon pertolongan-Nya ini! Selanjutnya, mari kita lihat apakah hati kita juga masih meragukan hal itu?

Allah pengabul doa

Siapa Dzat yang Kita Mintai Pertolongan?

Di dalam Al-Quran, Allah berkalam:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (26)

Katakanlah (Muhammad), ”Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Âli ‘Imrân [3]: 26)

Lihatlah kerajaan, kekuasaan, dan kekuatan yang dimiliki Allah dalam ayat di atas! Bukan perkara sulit bagi Allah untuk memberikan kekuasaan kepada kita. Begitu pun sebaliknya, Allah dengan mudah mencabutnya dari kita. Bukanlah perkara sulit juga bagi Allah untuk memuliakan kita dengan melimpahkan semua karunia dan keberkahan-Nya. Begitu pun sebaliknya, bukanlah perkara sulit bagi Allah membuat hina diri kita hanya dengan menampakkan sedikit saja aib kita di hadapan semua manusia. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Berapa banyak kita saksikan manusia yang awalnya begitu mulia, terhormat, dan disegani banyak orang, dengan sekejap mata berubah menjadi hina dan menjadi cemoohan orang banyak. Sebaliknya, kita juga banyak menyaksikan orang yang sederhana dan terkesan biasa-biasa saja, dengan kehendak Allah dia menjadi orang yang mulia dan dikenal dunia.

Di dalam ayat yang lain, Allah berkalam,

 سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (1) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (2) هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآَخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (3) هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (4) لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ (5)

“Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS al-Hadîd [57]: 1- 5)

Alangkah hebatnya kekuasaan, kebesaran, dan kemuliaan Allah yang diceritakan dalam ayat di atas! Hal itu jelas berbanding terbalik dengan kondisi manusia yang lemah, hina, tidak berdaya, dan selalu memohon pertolongan Allah.

Di dalam hadits qudsi Allah berkalam,

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tersesat, kecuali orang-orang yang Aku beri petunjuk (hidayah). Mohonlah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian kelaparan, kecuali orang-orang yang Aku beri makan. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian telanjang, kecuali orang-orang yang Aku beri pakaian. Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan kalian pakaian.

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa siang dan malam dan Aku mengampuni kalian. Mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni dosa-dosa kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tidak akan pernah terkena bencana, kecuali dengan kehendak-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian tidak akan pernah memperoleh kebaikan, kecuali dengan kehendak-Ku.

Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu atau pun yang akhir sekali di antara kalian (baik dari golongan jin maupun manusia) benar-benar bertakwa kepada-Ku, tentu itu tidak akan menambah sedikit pun bagi kemuliaan-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu atau pun yang akhir sekali di antara kalian (baik dari golongan jin maupun manusia) berbuat maksiat dan dosa terhadap Aku, tentu itu tidak akan mengurangi sedikitpun bagi kemuliaan-Ku.

Wahai hamba-hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu atau pun yang akhir sekali di antara kalian (baik dari golongan jin maupun manusia) berdiri di dalam satu barisan dan memohon kepada-Ku, Aku akan memberikan kepada masing-masing mereka apa yang mereka pinta. Itu juga tidak akan mengurangi apa yang ada di sisi-Ku karena pemberian itu bagi-Ku bagaikan seperti sebuah jarum yang jatuh ke dalam lautan.” (HR Turmudzi dan Ibnu Majah)

Setelah membaca hadits qudsi di atas, apakah kita masih enggan berdoa? Sungguh, Allah di dalam hadits tersebut telah memanggil kita untuk berdoa dan memohon kepada-Nya dengan panggilan yang halus dan lembut. Panggilan itu tidak hanya sekali, tetapi diulangi beberapa kali; “Wahai hamba-Ku!”

Allah memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya, baik yang berkenaan dengan makanan, pakaian, hidayah, ampunan, maupun kebutuhan yang lain. Allah sangat senang dan suka jika kita memanjatkan doa kepada-Nya berulang-ulang. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasullullah e bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَمِلُّ حَتىَّ تَمِلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan (mendengarkan doa kalian), sampai kalian sendiri yang bosan (memanjatkan doa.)” (HR Bukhari dan Muslim)

Wahai pembaca yang budiman! Mungkin terbesit dalam benak kita beberapa pertanyaan berikut ini. “Berapa banyak nikmat yang telah dikurniakan Allah untuk makhluk-Nya sejak zaman Nabi Adam a.s. sampai sekarang?” Atau berapa banyak air hujan, berapa banyak lahan pertanian, berapa banyak buah-buahan, berapa banyak hewan, berapa banyak makanan dan minuman?” Bahkan, apabila kita mau berpikir lebih jernih dan mendalam, kita akan menyadari bahwa darah dan daging yang ada dalam tubuh kita bukan semata-mata hasil pemberian orang tua kita. Itu adalah karunia dan pemberian AllahI karena hanya Allah Yang Maha Pemberi. Di antara asma Allah yang kita ketahui adalah al-Karîm (Maha Pemurah), Dia memberi tanpa diminta. Lalu, bagaimana jika sampai Dia diminta?

Apakah kita masih meragukan kekuasaan dan kekuatan Allah? Atau sedikit demi sedikit kita mulai bersiap-siap untuk mengangkat tangan memohon pertolongan Allah? Oleh karena itu, marilah kita mempelajari hakikat doa secara lebih mendalam dan mengenal lebih dekat siapa Allah yang kita selalu memanjatkan doa kepada-Nya.

 

Allah Mahadekat, Dia Mengabulkan Doa Hamba-Nya!

Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata, “Ya Rasulullah! Apakah Tuhan kita jauh sehingga kita memanggil-Nya? Ataukah Dia dekat sehingga kita cukup berbisik (berkata lirih) kepada-Nya?”

Rasulullah terdiam sesaat dan tidak berusaha untuk menjawabnya. Dalam keadaan seperti ini, menurut perkiraan kita, apakah Rasulullah tidak mampu menjawabnya? Tentu saja, beliau mampu menjawabnya. Hanya saja yang menjawab pertanyaan itu secara langsung adalah Allah Yang Mahadekat, yang senantiasa mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya. Tidak berapa lama turunlah ayat Al-Quran yang berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS al-Baqarah [2]: 186)

Marilah kita mencoba membahas lebih jauh lagi tentang doa dalam ayat di atas. Oleh karena itu, kita bagi pembahasan ini dalam tiga bagian. Setelah kita memahaminya dengan baik maka kita akan rasakan dampaknya di dalam hati.

Pertama: Seluruh doa akan dikabulkan.

Perhatikanlah kembali ayat di atas,

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ

Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa.” Dalam ayat ini tidak disebutkan bahwa Allah akan mengabulkan doa orang yang mukmin saja atau doa orang yang bertakwa saja atau doa orang yang shalih dan lain sebagainya. Artinya, siapa pun orang yang berdoa kepada Allah, Dia akan mengabulkan doanya tanpa terkecuali asal ia mau mengikuti rambu-rambu yang benar dan syarat-syarat yang ada dalam berdoa.

Apakah kita merasa bahwa diri kita selama ini berlumuran dosa dan sering bermaksiat? Berdoalah kepada Allah agar Dia menolong kita untuk menghentikannya. Apakah kita merasa selama ini kurang beribadah dan beramal shalih? Berdoalah kepada Allah agar Dia menuntun Anda untuk senantiasa beribadah dan beramal shalih. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Perhatikan kisah Qarun dengan Nabi Musa a.s. berikut ini yang menggambarkan betapa besarnya rahmat Allah kepada manusia. Apabila ia mau berdoa dengan tulus, Allah pasti mendengarkan dan mengabulkan doanya.

Dikisahkan bahwa Qarun pernah berbuat banyak kesalahan kepada Nabi Musa a.s. sampai ia pernah mengupah seorang perempuan pekerja seks (pelacur). Qarun memberinya setumpuk emas dengan syarat si perempuan mau membuat pengakuan di muka umum bahwa Musa a.s. pernah berzina dengannya.

Setelah seluruh Bani Israil berkumpul, seperti biasanya Musa a.s. maju untuk berkhotbah. Tiba-tiba berdirilah perempuan itu, ia memukul-mukul mukanya sendiri dan menjambak-jambak rambutnya seraya berkata sambil menangis tersedu-sedu, “Celakalah diriku!”

Lalu, Musa berdiri dan bertanya, “Ada apa denganmu?”

Perempuan itu menjawab, “Wahai kaum Bani Israil, ketahuilah oleh kalian semua bahwa Dia (Musa) telah berzina denganku.”

Mendengar perkataannya itu, Musa tampak kebingungan. Lalu, ia kembali bertanya, “Demi Allah, betulkah aku yang melakukan itu?”

Dengan serta merta perempuan itu meminta maaf seraya menjawab, “Demi Allah, Tidak! Aku telah berdusta dan mengada-ngada mengenai perkara ini.”

“Lalu, siapa yang memerintahkanmu sehingga kamu berani berkata seperti itu?” tanya Musa.

“Qarun,” jawab si perempuan.

Kemudian, Musa a.s. berdoa, “Ya Allah, Siksalah Qarun dengan siksaan yang sangat pedih.”

Ketika itu Qarun tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari emas. Rumah itu pun mulai ambruk, kedua kaki Qarun tertanam ke dalam tanah sehingga ia tidak bisa melarikan diri.

Rumah itu pun sedikit demi sedikit hancur dan masuk ke dalam lubang yang menganga seolah ditelan bumi yang terbelah. Lalu, Qarun menjerit ketakutan sambil memanggil, “Wahai Musa, Wahai Musa!”

Musa diam tidak menjawab. Ia ingin agar Qarun merasakan siksaan Allah, yaitu tubuh dan rumahnya amblas ke dalam tanah sebagai balasan atas perbuatannya.

Lalu, Allah berkalam, “Wahai Musa, betapa kerasnya hatimu! Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, andaikan dia (Qarun) memanggil-Ku dengan kalimat yang sama seperti ia memanggilmu maka aku pasti akan menjawab dan mengampuni dirinya.”

Andai Qarun berdoa dan memanggil nama Allah serta memohon pertolongan dari-Nya, tentu perkaranya akan menjadi lain. Sebab, dengan sifat Maha Pengampun dan Penyayang-Nya, Allah pasti akan memaafkannya. Apakah kita tidak juga mengambil pelajaran dari kisah Qarun ini?

Alangkah besar rahmat dan cinta Allah kepada para hamba-Nya, sekalipun hamba itu telah berbuat dosa kepada-Nya. Asalkan dia mau berdoa; memohon ampunan Allah, tentu Dia akan mengampuni dan menyelamatkan dirinya. Bukankah doa adalah bagian dari rahmat Allah? Dengan berdoa, niscaya bencana, musibah, murka, serta azab Allah pun dapat dicegah. Sehubungan dengan perkara ini, ada sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan sahabat Anas r.a. menerangkan,

لاَ تَعْجِزُوْا عَنِ الدُّعَاءِ فَإِنَّهُ لَنْ يَهْلِكَ مَعَ الدُّعَاءِ أَحَدٌ

“Janganlah kalian bermalas-malasan untuk berdoa karena seseorang tidak akan celaka hidupnya apabila ia selalu berdoa.” (HR Hakim dan Ibnu Hibban)

Di dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Hurairah juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّيْنِ، وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjatanya orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR Hakim)

Jika dia berdoa kepada Allah dengan tulus ikhlas, betapa pun besar musibah dan cobaan yang menimpa seseorang, Allah akan meringankan beban hidup (penderitaan) dirinya yang disebabkan oleh bencana yang menderanya meskipun dia termasuk seorang yang suka berbuat maksiat. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Marilah kita simak kembali kisah Nabi Musa a.s. yang lainnya. Kisah ini menceritakan betapa besar karunia dan rahmat Allah yang ditunjukkan dalam perkara doa. Diceritakan bahwa salah seorang dari kaum Bani Israil yang bermaksiat kepada Allah selama empat puluh tahun lamanya tanpa pernah sekalipun bertobat kepada Allah. Suatu waktu datanglah masa paceklik yang hebat selama setahun. Saat itu wilayah yang ditempati Bani Israil tidak dikucuri hujan sama sekali. Berbagai jenis penyakit pun mulai bertebaran, tanah pertanian mengering, sungai dan lautan menjadi surut.

Mereka mendatangi Nabi Musa a.s. dan berkata, “Wahai Musa! Berdoalah kepada Allah agar Dia menurunkan hujan untuk kami!”

Nabi Musa a.s. pun menyatakan kesediaannya. Kemudian, beliau mengumpulkan seluruh Bani Israil dan berseru kepada mereka, “Mari kita berdoa bersama-sama! Wahai Tuhan yang menguasai hujan, turunkan hujan untuk kami!” Namun, hujan tidak kunjung turun. Kemudian, mereka berdoa kembali, “Wahai Tuhan penguasa hujan, turunkan hujan!”

Kemudian, Nabi Musa a.s. berkata, “Wahai Tuhan! Biasanya Engkau Maha mengabulkan doa (permintaan) kami, lalu mengapa hujan tidak kunjung turun?”

Lalu, Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Musa! Hujan tidak akan turun karena di antara kamu terdapat seorang hamba yang berbuat maksiat kepada-Ku selama empat puluh tahun. Karena keburukan maksiatnya tersebut, Aku mengharamkan hujan dari langit untuk kalian.”

“Wahai Tuhan! Apa yang harus aku perbuat?” tanya Musa a.s.

Allah berkalam, “Keluarkan ia dari kalian!”

Musa berdiri di hadapan mereka dan berkata, “Wahai Bani Israil! Aku bersumpah kepada kalian (bahwa aku berkata benar). Di antara kita ada seorang hamba yang berbuat maksiat kepada Allah selama empat puluh tahun. Karena keburukan maksiatnya, Allah mengharamkan hujan dari kita. Hujan tidak akan turun hingga ia keluar dari kita. Hendaklah ia segera keluar dari kaum kita!”

Hamba yang bermaksiat tersebut mengenali dirinya sendiri. Ia melihat sekelilingnya, berharap ada orang lain selain dirinya yang keluar. Namun, tidak ada seorang pun yang keluar. Dia pun lantas berdoa kepada Tuhannya, “Wahai Tuhanku! Aku bermaksiat kepada-Mu selama empat puluh tahun. Kumohon tutupilah aibku ini. Karena jika hari ini aku keluar, aku akan dilecehkan dan dipermalukan. Aku berjanji kepada-Mu, aku tidak akan mengulangi perbuatan-perbuatan maksiatku lagi. Terimalah tobatku, kabulkan doaku, dan tutupkan aibku ini!”

Nabi Musa pun terkejut karena tiba-tiba air hujan turun dari langit. Nabi Musa lalu berkata, “Wahai Tuhan! Hujan telah turun, mengapa tidak ada seorang pun dari kami yang keluar?”

Allah menjawab, “Wahai Musa! Hujan telah turun karena kegembiraan-Ku atas tobat hamba-Ku (itu), yang telah bermaksiat kepada-Ku selama empat puluh tahun lamanya.”

Musa kembali berkata, “Wahai Tuhan! Tunjukkan kepadaku siapa orangnya hingga aku bisa turut bersuka-cita untuknya!”

Allah menjawab, “Wahai Musa! Ia bermaksiat kepada-Ku selama empat puluh tahun lamanya, sedangkan Aku menutupi aibnya. Apakah mungkin di hari ia kembali kepada-Ku dengan bertobat Aku malah mempermalukannya?”

Sungguh luar biasa, wahai pembaca yang budiman! Allah memang Maha Penyayang dan Pemberi tobat. Allah mendengar doa para hamba-Nya, sekalipun ia adalah seorang ahli maksiat, apabila memang doa tersebut ia ucapkan dengan tulus ikhlas. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِّئٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِيْ مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Dzat Yang Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia akan malu apabila seorang hamba mengangkat tangan (berdoa kepada-Nya) lalu dia  menarik tangannya kembali dengan sia-sia (doanya tidak terkabul).” (HR Ibnu Majah)

Sungguh sangat ironis, jika kita bertahun-tahun lamanya masih tetap menjauh dari-Nya dan enggan berdoa kepada-Nya. Bahkan, lebih dari itu, iblis laknatullah yang sudah terusir dari surga pun ketika ia berdoa dengan benar dan tulus memohon kepada Allah, Allah kabulkan doanya.

Di dalam Al-Qur’an dikisahkan, iblis memohon kepada Allah seraya berdoa:

قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (14)

(Iblis) menjawab, ”Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS al-A’râf [7]: 14)

Iblis meminta umur panjang untuk dirinya dan anak keturunannya.

Sebagai jawaban atas doanya, Allah berkalam,

قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (15)

(Allah) berfirman, ”Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu.” (QS al-A’râf [7]: 15)

Doa (permohonan) iblis dikabulkan oleh Allah. Seluruh keturunan iblis pun tidak akan mati sampai hari Kiamat tiba. Bagaimana dengan doa kita? Tentu saja, doa kita akan dikabulkan Allah.

Kedua: Pertanyaan dan jawaban mengenai doa.

Para sahabat Rasulullah banyak bertanya kepada Rasulullah tentang berbagai masalah. Semua pertanyaan itu dijawab Allah di dalam Al-Qur’an dengan kata awal-nya, “Qul  (Katakanlah)”.

Contohnya:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (189)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, Itu adalah (penunjuk) waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.” Dan bukanlah suatu kebajikan memasuki rumah dari atasnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa. Masukilah rumah-rumah dari pintu-pintunya, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS al-Baqarah [2]: 189)

 يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang dalam bulan itu adalah (dosa) besar.”  (QS al-Baqarah [2]: 217)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya).” (QS al-Anfâl [8]: 1)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ (219)

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya.” Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah, Kelebihan (dari apa yang diperlukan).” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu memikirkan. (QS al-Baqarah [2]: 219)

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, Harta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (QS al-Baqarah [2]: 215)

Jawaban dari semua pertanyaan di atas dan juga yang lainnya dimulai dengan kata qul (katakanlah). Hanya ada satu pertanyaan yang berbeda jawabannya, yaitu yang ditanyakan oleh seorang Arab Badui kepada Rasulullah, di mana ia berkata, “Ya Rasulullah! Apakah Tuhan kita jauh sehingga kita memanggil-Nya? Ataukah Dia dekat sehingga kita cukup berbisik (berkata lirih) kepada-Nya?” Oleh karena itu, turunlah kalam Allah yang berbunyi,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ….  (186)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku ….” (QS al-Baqarah [2]: 186

Allah tidak mengatakan, “Katakanlah kepada mereka bahwasannya Aku dekat!” sebagai jawaban atas pertanyaaan tersebut. Mengapa demikian? Sebab, dalam hal berdoa Allah sama sekali tidak ingin ada perantara antara Dia dan kita walaupun perantara itu adalah Rasulullah sendiri.

Ayat yang diturunkan Allah tidak berbunyi, “Katakanlah (ya Muhammad) kepada mereka bahwasannya Aku adalah dekat,” Namun, ayat itu berbunyi, “Sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. (QS al-Baqarah [2]: 186)

Dari penjelasan di atas, pastinya kita tidak membutuhkan seseorang yang bertugas sebagai perantara antara  diri kita dan Allah. Jika kita mendekat kepada-Nya maka Dia mendatangi kita. Dia menyayangi kita, menyembunyikan aib, mengampuni, memberikan kita rezeki, dan menyembuhkan penyakit kita serta mencarikan jalan keluar dari semua masalah yang kita hadapi!

Ketiga: Jawâb as-syarthi dalam rangkaian kata berkenaan dengan doa.

Di dalam bahasa Arab terdapat kalimat syarthiyyah (kalimat yang mengandung syarat). Kalimat syarthiyyah ini memiliki tiga komponenL pertama; huruf syarthi (huruf yang menjadi syarat), fi’lus syarthi (kata kerja yang mengandung syarat), dan jawâbus syarthi (jawaban dari fi’lu syarthi).

Contohnya: “Jika kamu membuka jendela, udara akan masuk.” Bisa juga kalimat ini: “Jika kamu belajar, kamu akan mendapatkan hasil yang baik.”

Dari contoh di atas—dalam kalimat pertama— dapat dikatakan bahwa fi’lus syarti-nya  adalah “kamu membuka jendela,” sedangkan jawabannya adalah “udara akan masuk.” Dalam kalimat kedua, fi’l syarthinya adalah, “kamu belajar,” jawabannya adalah “kamu akan berhasil” sedangkan “jika” disebut huruf syarthi.

Dalam kalimat syarthi (yang mengandung syarat), fi’l syarthi harus dihadirkan terlebih dahulu untuk memperoleh jawaban syarthi-nya. Apabila kita tidak membuka jendela, udara tidak akan masuk. Jika kita tidak belajar, kita tidak akan berhasil. Agar mendapat jawaban, kita terlebih dahulu harus bekerja yang mendatangkan jawaban. Adapun usaha (kerja) itu adalah doa.

Sementara kalam Allah yang berbunyi:

… أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ …. (186)

” … Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku ….” (QS al-Baqarah [2]: 186

Di sini kita lihat bahwa jawâbusy syarthi diletakkan lebih dahulu dari fi’ilnya. “Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa.” Padahal, seharusnya redaksinya adalah “Apabila ada hamba-Ku yang berdoa, niscaya akan Aku kabulkan.”  Mengapa bisa demikian? Ini karena Allah Yang Maha Pemurah sangat menginginkan agar hamba-Nya berdoa dan meminta kepada-Nya. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Wahai pembaca! Allah akan mengabulkan doa kita walaupun itu sekadar doa dan itu pun terjadi sebelum kita mulai meminta (berdoa). Ini adalah puncak karunia dan ia tidak dating, kecuali dari sisi Allah semata. Kenyataan ini selaras dengan hadits Rasulullah yang menyebutkan:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلىَ اللهِ تَعَالىَ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada yang lebih mulia di hadapan Allah selain doa.” (HR Turmudzi)

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik t bahwasanya ia mengatakan bahwa  Rasulullah bersabda:

أَرْبَعُ خِصَالٍ: وَاحِدَةٌ لِي وَوَاحِدَةٌ لَكَ وَوَاحِدَةٌ فِيْمَا بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ وَوَاحِدَةٌ فِيْمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَ عِبَادِيْ. فَأَمَّا الَّتِيْ لِيْ فَاعْبُدْنِيْ وَلَا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًا، وَأَمَّا الَّتِيْ لَكَ فَمَا عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ يُجْزِئُكَ، وَأَمَّا الَّتِيْ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَ فَمِنْكَ الدُّعَاءُ وَعَلَيَّ الْإِجَابَةُ، وَأَمَّا الَّتِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عِبَادِيْ، فَارْضَ لَهُمْ مَا تَرْضَى لِنَفْسِكَ .

“Ada empat perkara di mana satu perkara untuk-Ku, satu lagi untukmu, satu yang lain adalah antara Aku denganmu, dan satu yang terakhir adalah antara kamu dan para hamba-Ku. Adapun yang khusus untuk-Ku adalah kamu menyembah-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan apa pun, sedangkan yang khusus untukmu adalah kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, Aku pasti membalasnya. Sementara yang khusus antara Aku dan kamu adalah kamu berdoa dan Aku yang mengabulkan. Dan terakhir yang khusus untukmu dan para hamba-Ku adalah kamu membuat mereka senang (ridha) apa yang membuat dirimu ridha.” (HR Baihaqi dalam Sya’bul Iman)

Wahai pembaca yang budiman! Setelah kita mengupas tiga pembahasan dalam ayat di atas, apakah kita tidak juga tergerak untuk memperbanyak doa? Atau, apakah kita masih merasa tidak perlu banyak berdoa kepada Allah? Belum cukupkah hikmah-hikmah yang terkandung dalam ayat di atas melunakkan hati kita? Mari kita menyimak lebih dalam peran doa dalam agama dan hidup kita!

 

Doa adalah Ibadah

Apakah kita setuju jika kita katakan bahwa doa itu hukumnya wajib? Perhatikanlah kalam-kalam Allah berikut ini!

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً …. (55) 

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut ….(QS al-A’râf [7]: 55)

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghâfir [40]: 60)

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (65)

Dialah yang hidup kekal, tidak ada tuhan selain Dia; maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.(QS. Ghâfir [40]: 65)

Semua ayat di atas—yang membicarakan perihal doa—menggunakan fi’il amar (kata perintah): ‘Ud’ûni (berdoalah kepada-Ku), Ud’û Rabbakum (berdoalah kepada Tuhan kamu), Fad’ûhu (berdoalah kepada-Nya). Sementara itu, jika sebuah kalimat mengandung kata perintah maka kalimat tersebut menunjukkan sesuatu yang bersifat wajib dan harus dilaksanakan. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Simaklah kembali ayat berikut ini dan lihatlah keindahan kata-katanya!

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (60)

Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Ghâfir [40]: 60)

Jika kita cermati, dalam awal ayat di atas Allah berkalam, “Ud’ûnî (berdoalah kepada-Ku), tetapi selanjutnya Allah menyebutkan: Innaladzîna yastakbirûna ‘an ibâdatî … (sesungguhnya orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku …), terlihat bahwa kata doa bersanding dengan kata ibadah dalam satu ayat yang sama. Dengan demikian, secara tidak langsung ayat itu menjelaskan bahwa doa itu bagian dari ibadah. Keterangan tersebut menjadi lebih jelas karena dipertegas oleh hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir r.a. berikut ini.

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ عَلىَ المِنْبَرِ: إِنَّ الدُعَاءَ هُوَ العِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Aku mendengar Rasulullah bersabda dari atas mimbar, “Doa adalah ibadah,” selanjutnya beliau membaca ayat yang berbunyi, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” Dalam penjelasan mengenai hadits ini, Imam Syaukani mengatakan bahwa doa adalah bentuk ibadah yang paling mulia dan paling tinggi.

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. disebutkan

الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ

“Doa adalah intinya ibadah.” (HR Turmudzi)

Dari uraian di atas kita dapat memahami mengapa Allah memerintahkan kita untuk berdoa? Sebab, doa merupakan ibadah. Adapun ibadah kepada Allah hukumnya wajib. Bukankah tujuan utama hidup kita di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah? Kalam Allah,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS adz-Dzâriyât [51]: 56)

Adapun yang menjadi pertanyaan, mengapa hanya doa yang dinyatakan sebagai ibadah dalam hadits di atas? Padahal, jika dicermati, banyak sekali macam-macam ibadah selain doa, seperti shalat, puasa, sedekah, dan haji

Untuk mengetahui jawabannya, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu makna ibadah. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yaitu “‘Ubûdiyyah” yang berarti penghambaan diri. Ibadah juga asal katanya adalah “‘Abdun” yang berarti: hamba.

Bayangkan bagaimana keadaan seorang hamba? Tentu saja, gambaran (tampilan) fisik seorang hamba adalah sosok yang fakir, miskin, lemah, dan hina, yang membutuhkan pertolongan tuannya. Ciri-ciri khusus yang ada pada seorang hamba adalah miskin dan hina. Adapun orang yang miskin dan hina ia seringkali meminta, memelas, dan memohon pertolongan orang lain.

Jika kita saat ini bernasib seperti seorang hamba; hidup serbakekurangan dan permasalahan hidup datang silih berganti maka tidakkah kita berdoa kepada Allah? Apakah kita memohon kepada-Nya agar dilepaskan dari keadaan yang menyakitkan ini atau paling tidak diberi jalan keluar sehingga terbebas dari kehidupan yang sempit seperti ini?

Sebagai orang yang beriman kepada Allah, penulis yakin kita akan berdoa kepada Allah. Lantas, bagaimanakah ekspresi kita ketika berdoa kepada Allah pada saat itu? Pastinya kita akan berdoa dengan khusyu’, tunduk, dan sesekali kita meneteskan air mata. Selain itu, kita juga tidak akan melewatkan suasana khusyu’ dalam doa kita dengan mencari tempat yang sepi, jauh dari keramaian, di tengah malam, ketika seisi rumah sedang tertidur lelap.

Ya, inilah sebenarnya hakikat ibadah. Ibadah yang benar akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata memang manusia itu lemah, hina, miskin, dan tidak berdaya di hadapan Allah, Tuhan Yang Mahakuat, Mahamulia, dan Mahakuasa. Hakikat ubudiyyah ini benar-benar tampak sempurna ketika kita sedang berdoa. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Di sisi yang lain, kita bisa saja melaksanakan shalat, tetapi hati kita merasa sombong, angkuh, dan tidak butuh kepada Allah. Begitu juga halnya ketika kita bersedekah, berpuasa, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya, kita bisa saja merasa kita tidak memerlukan Allah ketika itu. Namun, keadaannya sangat berbeda ketika kita berdoa kepada Allah. Sudah pasti, kita akan merasa bahwa diri kita hina, miskin, dan sangat memerlukan pertolongan Allah. Sesungguhnya inilah keistimewaan doa.

Oleh sebab itu, Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya Majmû’ul Fatâwâ berkata:

كُلُّ عَابِدٍ سَائِلٌ وَكُلُّ سَائِلٍ عَابِدٌ

“Setiap hamba pasti berdoa. Setiap orang yang berdoa pastilah dia seorang hamba.”

Adapun yang perlu diperhatikan di sini adalah jika kita berdoa kepada Allah memohon agar kebutuhan dapat terpenuhi maka hal itu merupakan suatu tingkatan dalam ibadah. Jika kita berdoa karena kita sadar bahwa itu adalah perintah Allah maka itu juga merupakan suatu tingkatan ibadah. Itu merupakan tingkatan yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Kita pasti tahu perbedaan antara kedua tingkatan ibadah ini, bukan?

Selanjutnya, marilah kita membahas peran lain dari doa. Doa bukan hanya berfungsi sebagai ibadah, tetapi ia juga dapat dijadikan sebagai senjata dalam mengalahkan musuh-musuh manusia, baik itu datangnya dari diri manusia itu sendiri (hawa nafsu) maupun dari orang lain selain dirinya.

 

Doa adalah Senjata Seorang Mukmin

Kehidupan manusia di dunia seperti roda yang berputar, kadang kala keadaannya di atas dan kadang kala pula di bawah. Artinya, boleh jadi dalam beberapa saat kita akan menikmati kesenangan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Namun, tidak berapa lama kemudian keadaan kita berubah, kita merasakan kesedihan, kesusahan, dan kesengsaraan.

Allah Yang Maha Pencipta, sangat mengasihi dan menyayangi para hamba-Nya. Dia membukakan untuk mereka pintu rahmat-Nya agar mereka bisa berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dengan begitu, ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan kembali hadir di dalam hati dan jiwa mereka meskipun mereka sedang mengalami bencana dan musibah yang mendera. Perlu diperjelas kembali bahwa salah satu pintu rahmat itu adalah doa. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Ingatlah, wahai pembaca! Hidup kita akan baik-baik saja selama hati kita selalu terpaut kepada Allah dan tidak menjauh dari-Nya. Bagaimana mungkin hati kita merasa gelisah dan khawatir, sementara kita memiliki senjata yang paling ampuh, senjata yang berbeda dengan senjata-senjata lainnya yang ada di dunia. Senjata yang dapat mendatangkan kebahagiaan sekaligus memberikan kenyamanan dan ketenangan di dalam hati dan jiwa kita.

Doa adalah senjata yang paling hebat dan ampuh dan bukan produksi perusahaan ternama baik di Timur atau pun Barat, bahkan tidak ada satu pun senjata di dunia yang mampu menandinginya meskipun ia dibuat sangat teliti dan cermat. Senjata yang hanya dimiliki oleh golongan tertentu saja, yaitu orang-orang mukmin. Ia adalah senjata rabbani; senjata para Nabi dan orang-orang shalih di setiap waktu dan kondisi. Begitulah cara agar doa cepat terkabul.

Dengan senjata itu Allah telah menyelamatkan Nuh a.s. dan menenggelamkan kaumnya dalam topan besar. Dengan senjata itu Allah telah menolong Musa dari kejaran Firaun dan bala tentaranya. Dengan senjata itu pula Allah telah menyelamatkan Nabi Shalih a.s. dan membinasakan kaum Tsamud. Dengan senjata itu Allah memuliakan Nabi  Hud a.s. dan menghina-dinakan kaum Âd. Dengan senjata itu juga Allah menolong Nabi Muhammad e dan para sahabat beliau dalam berbagai tempat dan kondisi yang genting. Senjata itu masih digunakan orang-orang shalih di sepanjang masa meskipun zaman makin berubah.

Lalu, mengapa masih ada saja orang yang malas dan enggan berdoa? Mengapa ada orang yang mau menyia-nyiakan senjata yang dimilikinya? Bahkan, membuat senjata itu menjadi tumpul? Di antara mereka ada juga yang membuangnya begitu saja. Mungkin saja kita termasuk ke dalam kategori orang yang malas dan enggan berdoa?

Untuk itu, mari kita merenung sejenak; berusaha mencari tahu apa yang membuat kita merasa malas dan enggan berdoa. Simaklah dengan baik kata-kata Imam Ja’far ash-Shadiq berikut ini,

“Aku heran melihat orang yang ketakutan, tetapi ketakutannya itu tidak membuatnya memperhatikan (mengamalkan) kalam Allah yang berbunyi:

… حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173)

“… Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” (QS Âli Imrân [3]: 173)

Padahal, aku mendapati kalam Allah setelahnya berbunyi,

فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ …. (174)

 “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah ….” (QS Âli Imrân [3]: 174)

Aku juga merasa heran melihat orang yang ditimpa kesedihan. Mengapa ia tidak memperhatikan (mengamalkan) kalam Allah yang berbunyi, 

… لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87)

“Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 87)

Bukankah setelah ayat itu kita mendapati kalam Allah yang berbunyi,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

“Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 88)

Aku juga merasa heran melihat orang yang ditimpa masalah karena tipu daya manusia dan niat jahat mereka. Mengapa ia tidak memperhatikan (mengamalkan) kalam Allah yang berbunyi:

… وَأُفَوِّضُ أَمْرِي إِلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (44)

Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (QS Ghâfir [40]: 44)

Bukankah jelas setelah ayat itu kita mendapati kalam Allah yang berbunyi:

فَوَقَاهُ اللَّهُ سَيِّئَاتِ مَا مَكَرُوا وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45)

“Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk.” (QS Ghâfir [40]: 45)

Aku juga merasa heran melihat orang yang ditimpa penyakit, tetapi ia tidak mau mengamalkan doa dari kalam Allah di bawah ini.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (83)

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ”(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 83)

Bukankah jelas setelah ayat itu kita mendapati kalam Allah yang berbunyi:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ (84)

“Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.(QS al-Anbiyâ’ [21]: 84)

Demikian pembahasan mengenai manfaat doa. Semoga bisa menjadi hikmah dan pelajaran.

***

 

Referensi:

  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.