Makna Keadilan dalam Islam

Rasulullah saw. adalah seorang pemimpin yang begitu tegas dalam menegakkan hukum. Manusia di mata hukum semuanya sama, tidak kenal miskin atau kaya, pejabat atau rakyat jelata. Dalam sebuah riwayat hadits yang cukup populer disebutkan bahwa ada seorang wanita mencuri ketika peristiwa penalukkan Kota Mekah. Rasulullah saw. ingin menghukumnya dengan memotong tangannya. Namun, keluarga wanita itu pergi menemui Usamah bin Zaid, meminta kepadanya agar ia memohon kepada Rasulullah saw. untuk tidak memotong tangan wanita tersebut. Seperti diketahui, Rasulullah saw. begitu mencintai Usamah bin Zaid. Ketika Usamah memohon kepada Rasulullah, berubahlah raut muka Rasulullah saw. dan beliau berkata, ”Apakah engkau hendak memberikan pertolongan bagi yang telah ditetapkan hukum Allah?” Lalu, Rasulullah saw. pun berdiri dan berkhotbah di depan orang-orang, beliau bersabda, Arab 135

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

”Sesungguhnya hancurlah orang-orang sebelum kamu karena jika ada seorang yang terhormat di antara mereka mencuri, mereka akan membiarkannya. Namun, jika yang mencuri itu adalah orang yang lemah di antara mereka, mereka pun akan melaksanakan hukuman untuknya. Demi Allah, jika Fatimah anaknya Muhammmad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.” (HR Bukhari)

Selain riwayat tersebut, ada kisah lainnya yang juga memberikan pesan bahwa keadilan haruslah ditegakkan dengan tidak memandang derajat dan status sosial, yaitu kisah yang terjadi pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Ketika itu ada seorang bangsawan Arab yang masuk Islam. Lalu, ia pergi berhaji. Ketika ia tengah melakukan tawaf, seorang laki-laki memijak ujung sorbannya. Laki-laki bangsawan ini pun lantas memukulnya. Kemudian, laki-laki yang dipukul ini pun pergi menghadap Umar dan melaporkannya. Umar pun meminta sang bangsawan itu untuk hadir. Ketika sang bangsawan hadir, Umar menyuruh laki-laki yang dipukul tersebut membalas pukulannya kepada si bangsawan dengan memukulnya pada bagian mukanya, seperti yang telah dilakukan si bangsawan kepadanya. Laki-laki itu pun berkata, ”Apakah aku sama dengannya dalam hal itu?” Umar menjawab, ”Ya, Islamlah yang menyamakannya.”

Makna keadilan dalam Islam seperti dalam riwayat yang telah dituturkan sebelumnya adalah memberikan hak-hak seseorang serta menuntut kewajiban darinya. Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keadilan. Arab 136

إِنَّ اللَّهَ يَأۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ وَالۡإِحۡسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الۡقُرۡبَى وَيَنۡهَى عَنِ الۡفَحۡشَاءِ وَالۡمُنۡكَرِ وَالۡبَغۡيِ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.(QS al-Nahl [16]: 90)

Arab 137

إِنَّ اللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَنۡ تُؤَدُّوا الۡأَمَانَاتِ إِلَى أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُمۡ بَيۡنَ النَّاسِ أَنۡ تَحۡكُمُوا بِالۡعَدۡلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمۡ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

”Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS an-Nisâ’ [4]: 58)

 

Beberapa bentuk keadilan yang dapat ditelisik baik dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad saw. berikut ini.

Pertama, berbuat adil kepada kedua orang yang tengah bertengkar.

Rasulullah saw. adalah contoh dalam penerapan keadilan. Diriwayatkan bahwa ada dua orang kaum Anshar yang datang menghadap beliau. Mereka meminta beliau untuk memutuskan perkara di antara keduanya. Lalu, Rasulullah saw. memberikan maklumat kepada keduanya bahwa siapa yang mengambil hak saudaranya, berarti ia telah mengambil bagian dari api neraka untuk dirinya. Mendengar hal ini, kedua orang sahabat ini pun menangis, lalu keduanya pun mengembalikan hak saudaranya.

Kedua, Adil dalam timbangan.

Seorang muslim harus berlaku adil dalam timbangan, artinya tidak mengurangi timbangan si pembeli karena itu merupakan haknya. Allah SWT memperingatkan orang-orang yang berlaku curang dalam firman-Nya, Arab 138

 

وَيۡلٌ لِلۡمُطَفِّفِينَ (1) الَّذِينَ إِذَا اكۡتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسۡتَوۡفُونَ (2) وَإِذَا كَالُوهُمۡ أَوۡ وَزَنُوهُمۡ يُخۡسِرُونَ (3) أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمۡ مَبۡعُوثُونَ (4) لِيَوۡمٍ عَظِيمٍ (5)

Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan.         Apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar.” (QS al-Muthafifîn [83]: 1-5)

 

Ketiga, adil dengan istri.

Seorang muslim harus berlaku adil kepada istrinya, yaitu dengan memberikan haknya. Jika ia memiki lebih dari satu istri, ia harus berlaku adil dalam memberikan nafkah, sandang, pangan, dan tempat tinggal. Rasulullah saw. memperingatkan suami yang berlaku curang kepada istrinya. Arab 139

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

”Barang siapa yang memiliki dua istri, lalu ia hanya cenderung kepada salah seorang dari keduanya maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan penuh kesengsaraan.” (Abu Dawud, Turmudzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

 

Keempat, adil kepada anak.

Berlaku adil kepada anak merupakan kewajiban kedua orang tua. Keadilan yang dimaksud adalah tidak mengutamakan salah seorang di antara yang lain dalam pemberian. Oleh karena itu, kebencian di antara anak-anak yang acap kali membuahkan permusuhan dan pertengkaran tidak akan timbul.

Kelima, adil kepada semua orang.

Berbuat adil tidak memandang suku, ras, dan agama. Keadilan adalah sama bagi semua orang. Allah SWT melarang untuk menahan atau mengurangi hak-hak manusia, siapa saja orangnya. Dalam firman-Nya Allah berfirman, Arab 140

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالۡقِسۡطِ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَآَنُ قَوۡمٍ عَلَى أَلَّا تَعۡدِلُوا اعۡدِلُوا هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعۡمَلُونَ

”Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Mâ’idah [5]: 8)

 

Orang-orang yang menegakkan keadilan menempati posisi yang begitu tinggi di sisi Allah karena Dia sangat mencintai mereka. Arab 141

وَأَقۡسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الۡمُقۡسِطِينَ

” … dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS al-Hujut [49]: 9)

Selain dicintai Allah, orang-orang yang menegakkan keadilan akan merasakan dirinya selalu aman. Hal ini didapatkan dari kisah Umar bin Khattab tatkala beliau didatangi oleh seorang utusan raja. Utusan itu merasa terkejut melihat Umar bin Khattab, pemimpin kaum muslimin, tidur di bawah pohon yang tidak dijaga oleh pengawal. Sang utusan pun berkata, ”Engkau berbuat adil ketika engkau memerintah, engkau merasa aman ketika engkau tidur.”

Orang yang berbuat adil juga akan dicintai oleh siapa saja  karena keadilannya dapat memberikan rasa aman bagi orang-orang fakir miskin dan orang yang tidak mampu. Dengan keadilan pula, kezaliman akan sirna dan ketamakan pun akan punah. Dengan keadilan pula, harta, jiwa, dan raga manusia dapat dilindungi.