Mahabbah: Rasa Cinta kepada Allah

Mahabbah atau cinta kepada Allah dan Rasul-Nya hukumnya wajib. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا مَنۡ يَرۡتَدَّ مِنۡكُمۡ عَنۡ دِينِهِ فَسَوۡفَ يَأۡتِي اللّٰهَ بِقَوۡمٍ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الۡكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضۡلُ اللّٰهِ يُؤۡتِيهِ مَنۡ يَشَاءُ وَاللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

”Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui. (QS al-Mâ’idah [5]: 54)

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. bersabda,”Tidak dinyatakan seorang di antara kamu beriman hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Tustari mengungkapkan bahwa mahabbah adalah kecendrungan dan keteguhan hati untuk Allah, mengikuti Nabi-Nya, konsisten dalam berdzikir, dan bermunajat kepada Allah. Cinta dan sayang kepada Allah sejatinya akan mengubah jiwa manusia menjadi jiwa yang lembut, tidak ada kejahatan dan permusuhan di dalamnya.

Hub atau mahabbah merupakan satu istilah yang hampir selalu berdampingan dengan ma’rifah, baik dalam penempatannya maupun dalam pengertiannya. Jika ma’rifah merupakan tingkat pengetahuan tentang Tuhan melalui hati maka mahabbah adalah perasaan kedekatan dengan Tuhan melalui cinta. Seluruh jiwanya terisi oleh rasa kasih dan cinta kepada Tuhan. Rasa cinta yang tumbuh dari pengetahuan dan pengenalan kepada Tuhan sudah sangat jelas dan mendalam sehingga yang dilihat dan dirasa bukan cinta, tetapi ”diri yang dicintai”. Oleh karena itu, al-Ghazali berpendapat bahwa mahabbah itu adalah manifestasi dari ma’rifah kepada Tuhan. Keberadaan di hadirat Tuhan itu diyakini sebagai kenikmatan dan kebahagian yang hakiki.

Imam ath-Thusi membagi mahabbah menjadi tiga tingkatan. Pertama, cinta orang banyak, yakni mereka yang selalu ingat Tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah, dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Kedua, cinta para mutahaqqiqin, yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaran-Nya, pada kekuasaan-Nya, pada ilmu-Nya, dan lain sebagainya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seorang dengan Tuhan. Dengan demikian, ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta yang kedua ini membuat seseorang sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifat sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya. Ketiga, cinta para shiddiqin dan ‘arifin, yakni mereka yang kenal betul pada Tuhan. Cinta seperti ini timbul karena ia telah tahu betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya, sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.

Cinta kepada Tuhan merupakan tujuan dan puncak akhir bagi setiap sufi.  Setiap sufi yang memiliki akidah yang benar, ia akan mencintai Allah dengan cinta yang tulus nan suci. Adapun cinta terhadap kejahatan, keburukan, atau penyelewengan adalah cinta yang tidak dibenarkan. Jiwa manusia haruslah bersih dari cinta seperti ini, sebagaimana rasa benci kepada kebaikan, benci kepada manusia, ataupun benci kepada perintah-perintah Allah. Hal yang demikian itu adalah kebencian yang keliru. Cinta yang benar itu adalah cinta yang disuguhkan untuk Allah, alam, makhluk hidup, manusia, dan nilai-nilai mulia yang telah ditentukan Allah. Kebencian pun juga demikian, kebencian yang benar adalah kebencian atas segala keburukan, kezaliman, dan penyelewengan.

Ketika cinta telah begitu menggelora di hati seorang hamba kepada Tuhannya, pandangannya hanya tertuju kepada-Nya. Baginya tidak ada bedanya antara biji emas dan debu. Ia merasakan bahwa kebahagiannya, kesehatannya, dan kehidupannya berasal dari cintanya yang besar.

Imam Junaidi r.a. bercerita tentang pengalaman pribadinya. ”Ketika diriku sudah berada pada tingkat mahabbah, aku tidak mengira bahwa seseorang menyembah Allah hanya untuk memohon pahala, tetapi tidak takut akan hukuman-Nya. Lalu, aku pun berkata, ”Apakah faedah dari sunnah–yang terdapat dalam hadits-hadits–yang menganjurkan ibadah dan mengecam perbuatan yang haram?” Aku melihat Nabi saw. di suatu alam, bukan alam ini. Nabi berkata kepadaku, ’Jika engkau tidak menjelaskan tingkat-tingkat ibadah beserta pahalanya dan tingkat-tingkat yang diharamkan beserta balasannya kepada manusia, suatu saat nanti mereka akan beralasan di akhirat. Akan dikatakan kepada kita: ”Jika saja engkau jelaskan tingkatan hukum-hukum kepada kami beserta pahala dan balasannya, niscaya kami akan segera melakukannya dahulu di dunia.” Padahal telah kita jelaskan bukan? Lalu, Rasulullah pun menghilang dan aku tidak menemukannya lagi. Aku pun mengetahui apa yang telah diajarkan kepadaku. Betapa Rasulullah saw. adalah sebaik-baik guru.”

Imam al-Ghazali menguraikan dalam Ihya’ tanda-tanda cinta hamba kepada Tuhannya. Pertama, ingin melihat Sang Kekasih (Allah) dengan cara mukasyafah dan musyahadah di Dar Salam (surga). Kedua, orang yang mencintai akan terpengaruh dengan apa yang disukai Allah, baik secara zahir maupun batin. Ketiga, tidak lengah untuk selalu mengingat Allah. Lisannya tidak pernah berhenti untuk menyebutnya, begitu pula hatinya. Keempat, selalu berkonsentrasi kepada Allah dengan cara khalwat dan bermunajat kepada-Nya, membaca kitab suci-Nya dan selalu rutin untuk menunaikan shalat Tahajud. Kelima, tidak merasa sedih atas apa yang lenyap darinya selain Allah. Dirinya hanya merasa sedih jika waktunya berlalu begitu saja tanpa mengingat atau patuh kepada Allah. Keenam, menikmati rasa ketaatannya kepada Allah dan tidak merasa berat untuk melakukannya sehingga rasa lelahnya pun hilang. Ketujuh, merasa sayang kepada seluruh hamba-hamba Allah dan bersikap keras kepada musuh-musuh Allah dan kepada segala sesuatu yang dibenci-Nya. Kedelapan, dalam rasa cinta-Nya kepada Allah, ia begitu takut kepada-Nya karena keagungan-Nya. Kesembilan, menyembunyikan rasa cinta karena cinta merupakan rahasia Kekasih. Kesepuluh, al-uns dan keridaan.

Cinta kepada Allah haruslah dibuktikan dengan dekat kepada-Nya. Kedekatan kepada-Nya adalah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang telah dititahkan-Nya. Cinta tanpa hal itu adalah cinta palsu. Melaksanakan segenap kewajiban merupakan syarat untuk berbaik sangka kepada Allah, juga melaksanakan amalan sunnah lainnya. Cinta yang tulus kepada Allah adalah dengan mengikuti petunjuk Rasulullah saw., mengikuti zuhudnya, akhlaknya, serta menjauhi kesenangan dan gemarlapnya dunia. Allah telah menciptakan Nabi Muhammad saw. sebagai ilmu, petunjuk, dan hujjah bagi umat-Nya.

Imam al-Ghazali memberikan gambaran hubungan antara cinta dan iman. Ia berkata, ”Rasulullah saw. menjadikan cinta kepada Allah sebagai syarat dari iman. Hal ini termaktub dalam berbagai haditsnya. Dalam sebuah hadits disebutkan; ketika itu seseorang yang bernama Abu Razain al-‘Uqailiy berkata,”Wahai Rasulullah, apakah iman itu?” Rasulullah menjawab,

أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

”Hendaknya seseorang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dari pada yang lain.” (HR Bukhari)

Dalam hadits yang lain juga disebutkan:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا

”Tidak dinyatakan seseorang di antara kamu beriman hingga ia lebih mencitai Allah dan Rasul-Nya dari pada yang lain.” (HR Ahmad)

Orang-orang yang mencintai Allah telah menyaksikan karunia-Nya yang diberikan kepada mereka karena mereka telah mempersembahkan ketaatan kepada-Nya. Mereka juga telah menyaksikan kebaikan Allah karena Dia telah menerima ketaatan mereka dan mengampuni kekurangan-kekurangannya. Seorang hamba yang melakukan ketaatan-ketaatan maka hal itu merupakan ibadah dan kepatuhan kepada Tuhannya. Allah akan menerima ketaatan-ketaatan tersebut meskipun penuh dengan kekurangan.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.