Kisah Jabir Memberi Makan Pasukan Khandaq

Kisah Jabir Memberi Makan Pasukan Khandaq – Muhammad. Nama itu sesuai dengan maknanya, terpuji. Beliau adalah orang yang paling terpuji, di langit dan bumi, di dunia dan akhirat. Bahkan, pujian kepada beliau diberikan oleh Allah dari langit ketujuh,

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS al-Qalam [68]: 4).

Salah satu bukti kemuliaan akhlak dan keterpujian sikap Nabi Muhammad adalah ketika penggalian parit dalam Perang Khandaq, sebuah kisah indah yang menegaskan bahwa beliau adalah pelayan terpuji bagi umatnya, di dunia dan akhirat.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Jabir berkata,

“Ketika parit digali, aku melihat Nabi dalam keadaan sangat lapar. Lalu, aku pulang menemui istriku, lalu berkata, ‘Apakah engkau mempunyai sesuatu? Sungguh, aku melihat keadaan Rasulullah yang sangat lapar.’

Istriku lalu mengeluarkan sebuah wadah yang di dalamnya ada segantang gandum. Sementara itu, kami juga mempunyai anak kambing yang jinak.

Aku kemudian menyembelih anak kambing itu sementara istriku menumbuk gandum. Istriku telah selesai pekerjaannya, begitu pula dengan aku. Lalu, aku potong di dalam periuk.

Aku pun kembali menuju tempat Rasulullah, tetapi istriku berpesan, ‘Janganlah kamu mempermalukan aku dengan kedatangan Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya.’

Selanjutnya, aku mendatangi Nabi dan membisikinya, ‘Ya Rasulullah, kami menyembelih seekor kambing kecil dan kami juga telah menumbuk segantang gandum yang kami miliki. Jadi, silakan engkau datang ke rumah bersama beberapa orang saja yang akan menyertaimu.’

Tiba-tiba Nabi berteriak, ‘Yâ ahlal khandaq, inna Jâbiran qad shana’a sûran fa hayya halan bikum, Wahai semua penggali parit! Sesungguhnya Jabir telah membuat suatu hidangan yang akan disuguhkan kepada kita. Jadi, mari kita pergi ke rumahnya bersama-sama.’

Kemudian, Nabi bersabda kepada Jabir, ‘Janganlah sekali-kali engkau turunkan periukmu dan jangan pula adukkan gandummu untuk dijadikan roti sampai aku datang!’ Aku kembali ke rumah dan Nabi juga datang sembari menyuruh orang-orang datang pula ke situ. Begitulah, sampai akhirnya aku menemui istriku.

Istriku berkata, ‘Bika wa bika …., ini semua gara-gara kamu, gara-gara kamu.’

Aku berkata, ‘Qad fa’altul ladzi qulti …., aku hanya mengerjakan apa yang engkau katakan kepadaku.’

Istriku lalu mengeluarkan adukan gandum kami, lalu Nabi meludah di dalamnya dan mendoakan keberkahannya. Kemudian, beliau mendekati tempat periuk kami dan meludah di situ juga serta mendoakan keberkahannya. Setelah itu, beliau bersabda kepada istri Jabir, ‘Panggillah seorang tukang pembuat roti agar ia datang membantu membuat roti bersamamu.’ Lalu, beliau bersabda lagi, ‘Ciduklah dari periukmu, jangan diturunkan.'”

Jabir melanjutkan, “Orang-orang yang datang pada saat itu berjumlah seribu orang. Aku bersumpah dengan nama Allah. Sungguh, mereka dapat makan sampai mereka meninggalkannya dan pergi dari rumahku, padahal periuk kami masih tetap berbunyi karena isinya yang mendidih sebagaimana sebelumnya dan juga adukan roti kami tetap sebagaimana asalnya—tidak berkurang sedikit pun.”  (HR Bukhari: 4/1505 dan Muslim: 6/117)

Di dalam hadits itu terdapat mukjizat Nabi dan keutamaan para sahabatnya yang membersamai beliau dalam menghadapi kelaparan dan peperangan. Oleh karena itu, Allah memberikan pahala kepada mereka dengan menjadikan mereka khalifah di muka bumi, mengukuhkan agamanya, dan mengganti ketakutan dengan keamanan.

Di samping itu, Allah juga sudah mempersiapkan pahala di surga kepada mereka.

Lebih dari itu, mukjizat itu memang mengagumkan. Namun, apa yang dilakukan Rasulullah dengan menjaga kebersamaan dalam suka dan duka, terlebih lagi bagaimana beliau melayani para sahabat dengan tangannya sendiri adalah lebih menakjubkan. Itulah Nabi, penghulu alam semesta. Beliau pun menjadi pelayan yang paling rendah hati bagi sesama.

Bahkan, kelak di akhirat, dalam perjalanan seluruh manusia antara kebangkitan dan penghimpunan, Rasulullah  akan bersiaga di tepi sebuah telaga yang baunya lebih harum dari kesturi. Beliau menyambut umatnya, melayani mereka minum dari airnya yang lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju.

Namun, wajah beliau mendung setiap kali beberapa manusia dihalau dari Al-Kautsar. “Ya Rabbi!” serunya sendu, “Mereka bagian dariku. Mereka ummatku.”

Ada suara menjawab, “Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga Shana’a di Yaman, di sisinya ada gelas sebanyak bilangan gemintang. Itulah Muhammad, sang pelayan yang paling menakjubkan, di dunia dan juga di akhirat kelak.