Keutamaan Menjaga Lisan

Sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah saw. tengah duduk-duduk bersama dengan para sahabat. Lalu, datanglah seorang laki-laki memaki-maki Abu Bakar ash-Shiddiq. Abu Bakar hanya diam dan tidak menjawabnya. Laki-laki itu pun memaki-maki lagi, Abu Bakar hanya diam dan tidak menjawabnya. Untuk ketiga kalinya laki-laki itu kembali memaki-maki Abu Bakar dan Abu Bakar pun membalasnya. Lantas, Rasulullah pun pergi dari majelis itu dan meninggalkan para sahabat. Abu Bakar berdiri di belakang Rasulullah saw. sambil bertanya, Arab 154

أَوَجَدْتَ عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ مَلَكٌ مِنْ السَّمَاءِ يُكَذِّبُهُ بِمَا قَالَ لَكَ فَلَمَّا انْتَصَرْتَ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَجْلِسَ إِذْ وَقَعَ الشَّيْطَانُ

”Apakah engkau marah kepadaku, wahai Rasulullah hingga engkau pergi?” Rasulullah pun menjawab, ”Malaikat telah turun dari langit mendustakan apa yang dikatakan laki-laki itu kepadamu. Namun, ketika engkau membalasnya, setan pun hadir. Aku tidak mau duduk jika setan hadir.” (HR Abu Dawud)

Menjaga lisan adalah tidak membicarakan orang lain, kecuali yang baik-baik saja dan menjauhi perkataan-perkataan yang buruk, seperti gibah, hasud,  dan berkata-kata keji. Manusia harus selalu bertanggung jawab atas apa pun yang keluar dari mulutnya dan Allah SWT akan menghisabnya di hari Kiamat kelak. Allah SWT berfirman, Arab 155

مَا يَلۡفِظُ مِنۡ قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS Qâf [50]: 18)

 

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. bersabda, Arab 156

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

”Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan seraya berkata, ’Bertaqwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami karena kami mengikutimu, apabila engkau lurus maka kami juga lurus dan apabila engkau bengkok maka kami pun bengkok.(HR Turmudzi dan Ahmad)

 Demikianlah kedudukan lisan, ia seperti raja bagi seluruh anggota tubuh. Jika ia lurus maka seluruh anggota tubuh juga akan lurus. Jika ia bengkok maka seluruh angota tubuh juga demikian.

Seorang muslim harus dapat menjaga lisannya dari perkataan-perkataan yang tercela dan menyakitkan orang lain. Berusahalah untuk berkata-kata dengan ucapan yang berfaedah untuk diri sendiri dan orang lain. Dalam berbicara pun harus memperhitungkan waktu dan tempat yang tepat kapan sebuah ucapan harus diungkapkan. Sebuah kata hikmah menyatakan bahwa setiap tempat ada perkataannya dan setiap perkataan ada pula tempatnya. Orang yang tidak baik ungkapannya, ia akan menuai kesalahan.

Dalam upaya menjaga lisannya, seseorang hendaknya tidak terlalu banyak bicara, yang terpenting adalah tujuan dari pembicaraannya. Pembicaraan yang tidak bermanfaat adalah pembicaraan yang sia-sia, tidak ada kebaikan di dalamnya. Dalam berbicara tidak perlu ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi karena hal itu akan merusak inti pembicaraan. Dalam berbicara sebaiknya memilih kata-kata yang baik, tepat, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Sebab, kata-kata yang keluar dari mulut seseorang merupakan pertanda dari akal dan adabnya. Jika kata-kata yang diungkapkan itu baik maka sebuah pertanda bahwa baik pula akal dan akhlaknya, begitu juga sebaliknya. Demikian pula tidak dibenarkan untuk bercanda dengan berlebih-lebihan karena bercanda dengan berlebih-lebihan dapat menimbulkan riya’ dan kebohongan.

Dalam menjaga lisannya, seorang muslim dilarang untuk mudah berjanji jika memang ia merasa bahwa dirinya tidak dapat memenuhi janjinya karena hal itu akan mengundang kebencian Allah SWT. Teguran Allah bagi orang-orang yang mudah mengobral janji dan tidak dapat menepatinya dapat dilihat pada firman Allah SWT berikut. Arab 157

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰهِ أَنۡ تَقُولُوا مَا لَا تَفۡعَلُونَ (3)

”Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(QS ash-Shâf [61]: 2-3)

 

Di samping itu, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menghindari kata-kata kotor dan keji serta tidak mendengar ungkapan dari orang-orang yang terbiasa berbuat demikian karena hal itu akan membuat hati menjadi kotor. Seorang muslim lebih baik selalu menyibukkan dirinya untuk mengingat Allah SWT sehingga tidak ada apa pun yang keluar dari lisannya, kecuali yang baik-baik saja. Berkaitan dengan hal ini, Rasululllah saw. memberikan nasihatnya kepada kaum muslimin agar selalu menggunakan lisannya untuk berdzikir kepada Allah SWT. Beliau bersabda, Arab 158

لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي

”Janganlah engkau banyak berkata tanpa dzikir kepada Allah karena banyak berkata tanpa disertai dzikir hanya akan menjadikan hati keras. Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah manusia yang hatinya keras.” (HR Turmudzi)

Orang-orang yang mampu menjaga lisannya, seperti dalam pesan Rasulullah saw. dinyatakan sebagai orang yang telah mendapatan keutamaan Islam. Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., Arab 159

أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

”Islam apakah yang paling utama?” Rasulullah pun menjawab, ”Yaitu orang yang dimana orang-orang muslim selamat dari lisannya dan tangannya.”(HR Muttafaqun ‘Alaih)

Bahkan, dalam haditsnya yang lain Rasulullah saw. menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat dituntut untuk selalu dapat berkata-kata baik. Jika tidak mampu untuk berkata-kata baik maka diperintahkan untuk diam.  Rasulullah saw. bersabda, Arab 160

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

”Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia berkata dengan baik-baik atau diam saja.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)