Keutamaan Menepati Janji

Orang-orang Anshar adalah orang-orang yang disanjung Rasulullah karena kemuliaan diri mereka dalam menepati janji mereka kepada beliau. Ketika kaum kafir Quraisy begitu membenci Rasulullah saw., ketika itulah kaum Anshar datang kepadanya menyatakan janji setia di hadapan beliau untuk ber-Islam dan ingin memberikan perlindungan kepadanya. Kaum Ansharlah yang menyambut dan menerima kaum Muhajirin dengan sukacita dan penuh kehangatan kasih sayang untuk hidup berdampingan di Madinah. Bahkan, mereka (kaum Anshar) bersedia membagikan apa yang mereka miliki untuk kaum Muhajirin. Demikianlah kisah kaum Anshar yang dapat dijadikan contoh untuk kamu muslimin lainnya.

Menepati janji atau dalam bahasa Arabnya disebut dengan al’wafa’ bil ‘ahdi artinya menunaikan segala kewajiban yang terkait dengan janji. Allah  SWT berfirman, Arab 149

وَأَوۡفُوا بِالۡعَهۡدِ إِنَّ الۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡئُولًا

… dan penuhilah janji karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. (QS al-Isrâ’ [17]: 34)

 

Janji hendaknya ditunaikan kepada siapa saja. Dalam Islam, janji pertama yang harus ditepati adalah janji kepada Allah SWT. Janji yang terjalin antara Allah dan manusia adalah janji suci dan agung, yaitu janji untuk menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun dan siapa pun. Janji kepada Allah juga berarti menjauhi setan dan trik-triknya. Allah SWT berfirman, Arab 150

أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ يَا بَنِي آَدَمَ أَنۡ لَا تَعۡبُدُوا الشَّيۡطَانَ إِنَّهُ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُبِينٌ (60) وَأَنِ اعۡبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسۡتَقِيمٌ (61)

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.” (QS Yâsîn [36]: 60-61)

 

Setelah janji kepada Allah ditepati, manusia pun wajib memenuhi janjinya kepada sesama manusia. Dalam Islam, menghormati sebuah perjanjian dan melaksanakannya sesuai dengan syarat-syarat yang telah disepakati merupakan sebuah kewajiban. Hal ini seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. yang menaati perjanjian Hudaibiyah (perjanjian dengan kaum kafir). Beliau mengajak kaum muslimin untuk tidak mengkhianati dan mencederai kesepakatan yang telah dibangun antara kedua belah pihak. Namun, sejarah mencatat bahwa orang-orang kafirlah yang menghianati perjanjian ini. Orang-orang muslim wajib menaati janji mereka, selama perjanjian itu tidak mengandung unsur-unsur maksiat kepada Allah. Jika di dalamnya ada unsur-unsur maksiat dan membahayakan orang lain, perjanjian itu wajib untuk ditinggalkan.

Setelah wajib melaksanakan janji kepada sesama manusia, seorang muslim wajib pula melaksanakan janji pribadinya kepada Allah atau nazar. Janji pribadi ini haruslah dilaksanakan sesuai dengan niat awalnya. Allah SWT memuji orang-orang yang melaksanakan nazar dengan menyebut mereka sebagai ahli jannah. Allah SWT berfirman, Arab 151

يُوفُونَ بِالنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُ مُسۡتَطِيرًا

”Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. (QS al-Insân [76]: 7)

 

Islam begitu mencerca orang-orang yang suka mengingkari janjinya. Bahkan, orang-orang yang suka mengingkari janji ini disebut oleh Rasulullah saw. sebagai tanda-tanda orang munafik. Beliau bersabda, Arab 152

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

”Tanda-tanda munafik itu ada tiga: Jika ia berkata maka ia berdusta. Jika ia berjanji maka ia akan mengingkari. Jika ia dipercaya maka ia akan berkhianat.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Semoga kita dapat melaksanakan dan menepati janji kita. Jika tidak, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang munafik, golongan yang dibenci Allah dan Rasul-Nya.