Keutamaan Memaafkan

Sebuah riwayat menyebutkan bahwa seorang wanita Yahudi membalur daging kambing bakarnya dengan racun. Lalu, daging itu ia berikan kepada Rasulullah saw. dan para sahabat sebagai hadiah. Nabi menerima daging itu. Sebelum Nabi dan para sahabat memakannya, Allah SWT mengkhabarkan kepada Nabi tentang hal tersebut. Kemudian, Nabi memanggil wanita Yahudi itu dan bertanya kepadanya, ”Mengapa engkau lakukan ini?” Wanita itu menjawab, ”Aku ingin membunuhmu.” Nabi bersabda, ”Allah tidak akan memberikan kuasa-Nya kepadamu atas diriku.” Para sahabat ingin membunuh wanita ini. Mereka berkata, ”Apakah tidak sepantasnya wanita ini kami bunuh?” Rasulullah saw bersabda, ”Tidak.” Akhirnya, Rasulullah pun mengampuninya. (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

 

Memaafkan adalah melepaskan kesalahan dan dosa orang lain. Sifat ini merupakan sifat terpuji yang selalu dilakukan Rasulullah saw., sebagaimana yang selalu beliau ucapkan dalam doanya, Arab 204

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penerima maaf lagi Mahasuci yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah diriku.” (HR Turmudzi)

            Allah SWT memberikan keutamaan bagi orang-orang yang selalu memberikan maafnya kepada orang lain dengan memberikan kepadanya ampunan-Nya, sebagaimana firman-Nya berikut. Arab 205

وَلَا يَأۡتَلِ أُولُو الۡفَضۡلِ مِنۡكُمۡ وَالسَّعَةِ أَنۡ يُؤۡتُوا أُولِي الۡقُرۡبَى وَالۡمَسَاكِينَ وَالۡمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ وَلۡيَعۡفُوا وَلۡيَصۡفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنۡ يَغۡفِرَ اللّٰهَ لَكُمۡ وَاللّٰهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS an-Nûr [24]: 22)

 

Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa ia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh memaafkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Orang yang memberikan maafnya kepada orang lain akan menerima kemuliaan di sisi Allah SWT dan orang-orang pun akan menghormati dirinya, sebagaimana tercantum dalam firman Allah berikut ini. Arab 206

وَلَا تَسۡتَوِي الۡحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادۡفَعۡ بِالَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. (QS Fusshilat [41]: 34)