Keutamaan Malu

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw. bersabda, Arab 147

الْحَيَاءُ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ.

”Malu adalah bagian dari iman dan iman itu ada di dalam surga .…” (HR Turmudzi)

 

Malu biasa terjadi ketika seseorang diketahui aib dan kesalahannya. Oleh karena itu, tidak ada istilah malu ketika menyatakan kebenaran. Tidak ada malu untuk menuntut ilmu. Tidak ada malu untuk menyeru kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran. Namun, tentunya dalam melaksanakannya harus dilakukan dengan penuh hikmah dan adab.

Nabi Muhammad saw. adalah manusia yang paling memiliki rasa malu. Jika Rasulullah saw. membenci sesuatu, sahabat dapat mengetahuinya dari raut muka beliau. Jika beliau mendengar berita-berita yang tidak disukainya, beliau tidak ingin berbicara tentang hal itu. Rasulullah saw. juga tidak pernah bersabda, ”Mengapa ya si Fulan itu begini dan begitu.” Namun, beliau cukup bersabda, ”Mengapa kaum-kaum (mereka) itu melakukan hal itu?”  Rasulullah saw. tidak pernah menyebutkan nama si pelaku karena beliau khawatir jika disebutkan namanya akan merendahkan si pelaku.

Berikut beberapa hal tentang malu.

Pertama, malu kepada Allah. Seorang muslim harus beradab kepada Allah dan merasa malu kepada-Nya sehingga ia pun bersyukur kepada-Nya dan tidak mengingkari nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya. Hatinya selalu takut kepada Allah SWT di setiap relung waktunya dan dirinya pun selalu patuh dan tunduk kepada-Nya. Ia tidak pula melakukan maksiat atau melakukan hal-hal buruk yang dilarang-Nya karena ia meyakini bahwa Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat. Seorang muslim yang malu kepada Tuhannya akan segera meminta ampunan dari-Nya jika ia berbuat dosa.

Kedua, malu kepada Rasulullah saw. Jika seorang muslim malu kepada Nabinya maka ia harus punya komitmen yang tinggi untuk mengikuti sunnah-sunnah Nabi Muhammad saw. dan melakukan apa yang diajarkan oleh beliau.

Ketiga, malu kepada orang lain. Seorang muslim harus malu kepada saudaranya jika ia tidak memberikan haknya kepadanya atau mengingkari perbuatan baik yang dilakukan saudaranya dan membuka aib saudaranya di depan orang lain.

Seorang muslim harus malu melihat hal-hal yang haram dan yang tidak baik. Terlebih lagi bagi seorang wanita muslimah harus malu untuk menampakkan bagian-bagian tubuhnya kepada orang lain karena yang demikian itu diharamkan Allah SWT. Rasa malu juga membuat seorang muslim akan menjauhi perkataan-perkataan yang tidak baik dan kotor. Demikianlah ajaran Islam, rasa malu begitu dijunjung tinggi dan menempati posisi yang tinggi pula disi Allah SWT. Rasa malu yang mengajak manusia untuk selalu berbuat baik dan meninggalkan keburukan-keburukan dirinya. Tidak ada apa pun yang didatangkan oleh rasa malu, kecuali segala kebaikan dan keberkahan. Rasulullah saw. bersabda, Arab 148

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

”Rasa malu tidaklah mendatangkan apa-apa, kecuali kebaikan.”  (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Jika seorang muslim menjadikan malu sebagai dasar dari akhlak dan moralnya dalam hidupnya, ia akan mendapatkan keridaan Allah SWT di dunia dan di akhirat kelak. Amin.