Jujur

Ketenangan jiwa manusia juga didapat dari kejujuran. Al-Qur’an banyak bercerita tentang kejujuran ini, sebagaimana firman Allah SWT berikut. Arab 71

مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيۡهِ فَمِنۡهُمۡ مَنۡ قَضَى نَحۡبَهُ وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَنۡتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبۡدِيلًا

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu) dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). (QS al-Ahzâb [33]: 23)

Arab 72

وَاذۡكُرۡ فِي الۡكِتَابِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا

”Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur’an), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan,) seorang Nabi.” (QS Maryam [19]: 41)

 

Nabi saw. juga bersabda, ”Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaktian dan kebaktian akan menunjukkan pada surga ….” (HR Muttafaqun Alaih)

 

Al-Ghazali membagi kejujuran menjadi enam bagian. Pertama, kejujuran dalam perkataan, yaitu kejujuran dalam memberikan berita atau yang terkait dengan berita, baik berita masa lalu maupun masa mendatang. Memenuhi janji atau mengingkarinya juga termasuk criteria ini. Kedua, kejujuran dalam niat dan keinginan, itulah yang dimaksud dengan keikhlasan. Kejujuran yang menyatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan gerak ataupun diam. Jika kejujuran ini ditunggangi oleh dorongan-dorongan nafsu maka niat yang jujur pun akan hilang, ketika itulah ia akan disebut dengan pembohong. Ketiga, kejujuran dalam ber’azm (keinginan yang kuat), yaitu adanya ‘azm sebelum berbuat, misalnya ungkapan; jika Allah memberikanku rezeki harta maka akan aku sedekahkan semuanya atau sebagiannya atau jika aku berjumpa dengan musuh di medan peperangan maka akan kubunuh ia meskipun aku juga akan terbunuh dan ungkapan lainnya. Keempat, kejujuran dalam melaksanakan ‘azm. Kelima, kejujuran dalam perbuatan, yaitu melakukan sebuah usaha dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan yang zahir tidak dapat menunjukkan hal yang ada di batin. Keenam, kejujuran dalam agama. Kejujuran ini merupakan derajat yang sangat tinggi. Contoh dari kejujuran ini, seperti kejujuran dalam khauf (takut), raja’ (pengharapan), pengagungan (ta’zim), zuhud, rida, tawakal, dan cinta.

Kejujuran merupakan faktor terpenting dalam usaha menyucikan diri (tazkiyah an-nafs) dan kebersihan hati. Sementara itu kebohongan adalah penyakit yang akan menyebarkan permusuhan di antara manusia karena kebohongan menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada. Kebohongan merupakan penyakit diri yang sangat berbahaya yang dapat meracuni pikiran dan merusak akhlak.

Kejujuran itu dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu jujur kepada Allah, orang lain, dan diri sendiri. Jujur kepada Allah, yaitu mengikhlaskan segala perbuatan hanya untuk Allah, tidak ada unsur riya’ atau   sum’ah di dalam beramal. Perbuatan apa pun yang dilakukan tanpa keikhlasan dan tidak diniatkan karena Allah SWT, niscaya perbuatan itu tidak akan diterima. Dalam keikhlasan juga dituntut untuk berbuat dan bekerja semaksimal dan seoptimal mungkin sesuai dengan yang diinginkan di dalamnya. Demikianlah Islam mengajarkan kita bahwa keikhlasan bukan hanya perhiasan yang menghiasi hati, tetapi juga harus dapat tecermin keindahannya dalam bentuk zahirnya, yaitu pada perbuatan.

Selain kejujuran pada Allah, seorang muslim juga harus jujur kepada orang lain. Maksudnya, ia tidak berdusta dalam setiap ucapannya kepada orang lain. Nabi Muhammad saw. bersabda, Arab 73

كَبُرَتْ خِيَانَةً تُحَدِّثُ أَخَاكَ حَدِيثًا هُوَ لَكَ مُصَدِّقٌ وَأَنْتَ بِهِ كَاذِبٌ

”Makin besarlah khianat itu ketika engkau berbicara kepada saudaramu sebuah perkataan. Ia mempercai dirimu, sedangkan engkau malah berdusta kepadanya. (HR Ahmad)

Berikutnya adalah jujur kepada diri sendiri. Muslim yang jujur adalah yang tidak menipu dirinya sendiri. Ia akan selalu mengakui kesalahan-kesalahan yang ia lakukan, lalu berusaha memperbaikinya. Dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda, Arab 74

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

”Tinggalkanlah sesuatu yang membuat dirimu ragu kepada sesuatu yang tidak membuatmu ragu karena sesungguhnya kebohongan itu adalah keragu-raguan dan kejujuran itu adalah ketenagan.”(HR Turmudzi)

 

Allah SWT begitu menyanjung orang-orang yang jujur dan menyatakan bahwa orang-orang yang jujur adalah orang-orang yang bertaqwa, tidak ada balasannya bagi mereka, kecuali surga, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an berikut. Arab 75

أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الۡمُتَّقُونَ

”Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS al-Baqarah [22]: 177)

Arab 76

قَالَ اللّٰهَ هَذَا يَوۡمُ يَنۡفَعُ الصَّادِقِينَ صِدۡقُهُمۡ لَهُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِي مِنۡ تَحۡتِهَا الۡأَنۡهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللّٰهَ عَنۡهُمۡ وَرَضُوا عَنۡهُ ذَلِكَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيمُ

Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS al-Mâidah [5]: 119)

 

Kejujuran akan selalu memotivasi seseorang untuk berlaku jujur dalam interaksinya kepada Allah, manusia, dirinya sendiri, serta dalam segala hal yang terkait dengan kehidupan dunia dan akhirat. Kebohongan hanya dapat disembuhkan dengan cara mujahadah serta riyadhah hingga kejujuran akan menjadi sebuah kebiasaan. Allah SWT berfirman, Arab 77

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِينَ

”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-‘Ankabût [29]: 69)

Disamping itu, kejujuran dalam segala hal tidak akan dapat terwujud, kecuali dengan adanya keikhlasan. Dalam hal ini, Zunnun al-Mishriy berkata, ”Keikhlasan tidak akan sempurna, kecuali dengan kejujuran dan kesabaran. Kejujuran tidak akan sempurna pula, kecuali dengan keikhlasan yang dilakukan secara terus-menerus (mudawamah).

Itulah kejujuran. Sekarang, bagaimana dengan lawan dari jujur atau dusta? Dusta adalah mengucapkan perkataaan yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi dan cendrung mengingkari kebenaran. Bahkan, dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa dusta merupakan tanda-tanda kemunafikan. Nabi Muhammad saw. bersabda, Arab 78

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

”Tanda-tanda munafik itu ada tiga: Jika ia berkata maka ia berdusta. Jika ia berjanji maka ia akan mengingkari. Jika ia dipercaya maka ia akan berkhianat.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Ketahuilah bahwa dusta tidak ada yang kecil ataupun besar, semuanya sama. Sebab, setiap orang akan dihisab akan kedustaannya dan akan diberikan ganjarannya di hari Kiamat kelak. Namun demikian, dalam Islam ada beberapa pengecualian tentang hal ini. Ada dusta yang dibolehkan menurut syariat, di mana sesorang boleh berkata sesuatu yang tidak sebenarnya pada kondisi tertentu pula. Pengecualian ini terdapat pada hal-hal berikut.

Pertama, berdusta demi untuk mendamaikan kedua belah pihak yang tengah bertikai. Tidak ada larangan untuk mengatakan suatu perkataan kepada kedua orang yang tengah bertikai agar mereka dapat berdamai. Kedua, berdusta kepada musuh. Jika seorang muslim tertangkap musuh maka dibolehkan baginya untuk tidak mengabarkan kepada mereka informasi yang terkait dengan rahasia negaranya. Ketiga, berdusta dalam hidup berumah tangga. Tidaklah beradab kiranya jika seorang suami menyatakan bahwa istrinya jelek dan tidak menarik sehingga ia tidak mencintainya lagi. Adapun yang seharusnya dilakukan suami adalah  memuji istrinya sehingga sang istri pun lega dengan keadaan dirinya. Demikian juga sebaliknya dengan sang istri dalam memperlakukan suaminya, meskipun pujian-pujian itu mungkin tidaklah benar adanya.

Jujur dan dusta seperti air dan api. Air yang menyejukkan dan api yang membakar. Hidup dengan kejujuran berarti memilih ketenangan, hidup dengan kedustaan berarti memilih kesengsaraan.