Jangan Khawatir

Para ulama banyak yang membahas secara mendalam dalam karya-karya mereka tentang sifat cemas (waswasah). Misalnya Tustari yang menjelasan tentang hakikat cemas adalah segala sesuatu selain Allah. Beliau juga menambahkan tentang hal itu bahwa asal muasal rasa cemas adalah nafsu al-ammarah bissu’.

Rasa cemas dalam pandangan ulama sufi, at-Turmudzi, terbagi menjadi dua bentuk. Pertama  adalah rasa cemas yang bersumber dari diri yang dapat dihancurkan dengan dzikir qalbi. Rasa cemas kedua adalah yang bersumber dari setan yang dapat dihalau dengan dzikir ar-Rahman. Muhammad Faqi dalam bukunya al-Nafs A’radhuha wa ‘Ilajuha membagi rasa cemas ke dalam beberapa macam.

Pertama, rasa cemas yang dibungkus dengan kebenaran. Dalam hal ini sebenarnya setanlah yang telah membungkus rasa cemas dengan wajah kebenaran.  Setan berkata kepada manusia, ”Bagaimana mungkin engkau meninggalkan kenikmatan dan bersabar dari kelezatan dengan syahwatmu. Engkau memiliki umur yang panjang yang memungkinkan dirimu berbuat untuk akhiratmu. Engkau akan membangun istana dari kekekalan amalmu. Hal demikian adalah kenikmatan yang engkau nanti-nantikan.”

Jika seorang hamba dimuliakan Allah dengan pertolongan-Nya dan selalu mengingat janji dan ancaman-Nya serta selalu sabar menghadapi syahwat dan segala bentuk kenikmatan, lalu ia berjihad melawan nafsunya serta segala bisikan, ia pun akan mendapatkan petunjuk dan pertolongan Allah.

Kedua, rasa cemas yang disertai dengan godaan syahwat. Pada bagian ini rasa cemas terbagi menjadi dua macam; seorang hamba yang mengetahui dengan yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kemaksiatan atau pada bagian lain ia masih dalam syak prasangka. Jika benar ia meyakini apa yang ia lakukan, sebenarnya setan telah menggoda syahwatnya. Jika ia masih syak atau meragukannya, ia pun harus terus berjuang melawan nafsunya.

Ketiga, rasa cemas yang lahir dari keinginan-keinginan. Misalnya rasa cemas yang datang pada saaat mengingat beberapa kejadian atau berpikir sesuatu yang ada di luar shalat ketika shalat.

Imam al-Samarqandi menjelaskan trik-trik setan dalam menggoda hati manusia. Sang Imam menjelaskan dengan sangat panjang lebar bahwa setan akan datang kepada manusia dari sepuluh pintu yaitu:

Pertama, setan menggoda manusia untuk selalu tamak dan berburuk sangka kepada Allah. Manusia dapat melawannya dengan cara percaya seutuhnya kepada Allah dan selalu merasa puas (qana’ah) dengan apa yang diberikan-Nya serta menolak upaya setan dengan selalu minta pertolongan kepada Allah. Allah SWT berfirman, Arab 209

وَمَا مِنۡ دَابَّةٍ فِي الۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS Hûd [11]: 6)

Setan merasa terperangkap tatkala ia mendapatkan seorang hamba yang selalu berbaik sangka dan percaya seutuhnya kepada Allah atas segala limpahan kasih sayang-Nya.

Kedua, setan menggoda manusia dari sisi kehidupan dunia dan segala perhiasannya serta angan-angan yang terlalu jauh. Ketika setan menemui manusia yang hidup dengan zuhud dan ia selalu takut kepada Allah dan meyakini bahwa dunia ini sangatlah singkat dan kematian yang pasti akan datang. Setan akan menghindar jauh dari seorang hamba yang selalu mengingat kematian dan meminta pertolongan Allah. Allah SWT berfirman, Arab 210

إِنَّ اللَّهَ عِنۡدَهُ عِلۡمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي الۡأَرۡحَامِ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٌ مَاذَا تَكۡسِبُ غَدًا وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٌ بِأَيِّ أَرۡضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (QS Luqmân [31]: 34)

 

Ketiga, setan datang ketika manusia ingin hidup santai, rileks, dan suka berfoya-foya. Jika jiwa seorang manusia lurus, selalu dapat melawan hawa nafsunya dengan bermujahadah dan membiasakan hidup dengan zuhud dari segala kenikmatan. Ia tahu akibat rasa malas dan berfoya-foya dan meminta pertolongan, sebagaimana firman-Nya berikut ini. Arab 211  

ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلۡهِهِمُ الۡأَمَلُ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). (QS al-Hijr [15]: 3)

Keempat, terkadang setan menggoda manusia dari pintu ‘ujub (kagum diri) dan ghurur (sombong). Setan memuji perbuatan manusia, lalu menghiasinya dengan maksiat. Seorang hamba  yang ikhlas akan melawan setan dengan rasa takut akibat perbuatan buruk yang ia lakukan dan meminta pertonganAllah. Allah SWT berfirman, Arab 212

يَوۡمَ يَأۡتِ لَا تَكَلَّمُ نَفۡسٌ إِلَّا بِإِذۡنِهِ فَمِنۡهُمۡ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ

Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia. (QS Hûd [11]: 105)

 

Kelima, setan terkadang menggoda hati seorang hamba dalam bentuk hasutan, suka meremehkan, atau merendahkan orang lain. Seorang hamba harus mampu melawan  godaan-godaan ini dengan menunaikan kewajibannya kepada saudaranya seagama, mengetahui hak-hak, menjaga kemuliaan mereka, dan ia pun bertaqwa kepada Allah, serta memohon pertolongan dari-Nya. Allah SWT berfirman, Arab 213

يَقُولُونَ لَئِنۡ رَجَعۡنَا إِلَى الۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ الۡأَعَزُّ مِنۡهَا الۡأَذَلَّ وَلِلَّهِ الۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَكِنَّ الۡمُنَافِقِينَ لَا يَعۡلَمُونَ

Mereka berkata, ”Sungguh, jika kita kembali ke Madinah (kembali dari perang Bani Mustalik), pastilah orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah dari sana.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui. (QS al-Munâfiqûn [63]: 8)

Keenam, setan menggoda manusia dari pintu iri dan dengki kepada orang lain. Seorang hamba wajib bertaqwa kepada Allah dari kesesatan seperti itu. Ia harus melawan setan dengan keadilan, sebagaimana Allah telah memberikan bagian untuk setiap hambanya. Ia harus menolak godaan setan itu. Allah SWT berfirman, Arab 214

أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَةَ رَبِّكَ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُمۡ مَعِيشَتَهُمۡ فِي الۡحَيَاةِ الدُّنۡيَا وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعۡضُهُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِيًّا وَرَحۡمَةُ رَبِّكَ خَيۡرٌ مِمَّا يَجۡمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS az-Zukhruf [43]: 32)

Ketujuh, setan masuk dari pintu riya’, bagian dari syirik khafi (yang tersembunyi). Setan datang dengan memuji-muji amal baik seorang hamba. Setan juga bersyukur atas kebaikan yang dilakukan si hamba dan menyanjung akhlaknya, ini sangat membahayakan. Jika seorang hamba tidak menutupi amalnya dengan rasa ikhlas atau dengan rasa rendah hati atau tidak ada keinginan untuk memerangi hawa nafsunya, ia akan masuk dalam jebakan setan. Hendaklah hamba tersebut menghalau godaan setan. Allah SWT berfirman, Arab 215

قُلۡ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثۡلُكُمۡ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمۡ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنۡ كَانَ يَرۡجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS al-Kahfi [18]: 110)

Kedelapan, setan masuk dari pintu kikir (bakhil). Kekikiran merupakan perangai bawaan manusia dan merupakan salah satu dari hawa nafsu yang jiwa cenderung kepadanya. Jika manusia tidak melawan godaan setan maka ia akan menang dan berhasil menyesatkan manusia. Manusia harus mampu melawan setan yang selalu menggoda untuk bersikap kikir dengan mengatakan bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah milik Allah dan apa pun yang dimiliki-Nya adalah kekal. Dan hendaklah hamba tersebut selalu waspada terhadap setan dengan memohon pertolongan Allah. Allah SWT berfirman, Arab 216

مَا عِنۡدَكُمۡ يَنۡفَدُ وَمَا عِنۡدَ اللّٰهِ بَاقٍ وَلَنَجۡزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجۡرَهُمۡ بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا يَعۡمَلُونَ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan  Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS an-Nahl [16]: 96)

 

Kesembilan, setan menggoda manusia lewat pintu kesombongan (takabur). Sifat ini sangat tercela. Seorang hamba harus melawan godaan setan ini dengan sikap rendah hati (tawadhu’). Ia seharusnya menyadari bahwa ia adalah ciptaan Allah dan hanya Allah-lah yang sangat sempurna. Allah berfirman, Arab 217

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَاكُمۡ مِنۡ ذَكَرٍ وَأُنۡثَى وَجَعَلۡنَاكُمۡ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ أَتۡقَاكُمۡ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (QS al-Hujurât [49]: 13)

Kesepuluh, setan menggoda hati manusia untuk bersikap tamak. Untuk melawannya, seorang hamba harus bersikap tidak berharap pada dunia (manusia) dan selalu percaya kepada Allah serta bertaqwa kepada-Nya. Allah SWT berfirman, Arab 218

فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ وَأَشۡهِدُوا ذَوَيۡ عَدۡلٍ مِنۡكُمۡ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِ مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآَخِرِ وَمَنۡ يَتَّقِ اللَّهَ يَجۡعَلۡ لَهُ مَخۡرَجًا

Maka apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujuklah (kembali kepada) mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah pengajaran itu diberikan bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. (QS ath-Thalâq [65]: 2)

Semoga kiranya kita terhindar dari sikap cemas yang disematkan setan dalam hati dan jiwa kita dengan selalu berdzikir kepada Allah SWT.