Itsar: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Itsar adalah mendahulukan kepentingan orang lain dari kepentingan pribadi dalam istilah agamanya disebut dengan itsar. Perilaku ini merupakan ajaran Islam yang mulia. Rasulullah saw. dalam sabdanya menyampaikan,

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهَ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidaklah beriman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Para sahabat adalah contoh generasi awal Islam yang hidup dengan selalu mendahulukan kepentingan orang lain. Hal ini mereka lakukan meski tantangannya adalah nyawa mereka sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam sebuah riwayat yang menceritakan bahwa Huzaifah al-‘Adawiy pergi berangkat dalam pertempuran Yarmuk. Dalam pertempuran itu ia ingin mencari saudara sepupunya (anak pamannya). Ia pergi dengan membawa air minum. Ia menemukan sepupunya dalam keadaan terluka, lalu ia pun berkata, ”Aku akan memberimu minum.” Sepupunya pun memberikan isyarat ”Ya.” Namun, sebelum Huzaifah memberinya minum ia mendengar suara laki-laki yang merintih kesakitan. Saudara sepupunya itu pun memberikan isyarat agar Huzaifah membawakan air minumnya kepada lelaki itu. Lalu, dengan bergegas Huzaifah pun pergi menuju ke tempat suara rintihan itu. Ternyata di sana ia mendapatkan Hisyam bin ‘Ashi. Ketika ia ingin memberikannya minum, ia mendengar suara laki-laki lain yang juga merintih kesakitan. Hisyam pun memberikan isyarat agar Huzaifah berangkat mencari suara rintihan itu. Huzaifah pun berangkat mencari suara itu, tetapi ternyata ia mendapatkan lelaki itu telah wafat. Lalu, Huzaifah pun kembali kepada Hisyam, ternyata ia juga telah wafat. Dengan cepat ia pun bergegas pergi kepada sepupunya, lagi-lagi ia mendapatkannya saudara sepupunya itu juga telah wafat. Demikianlah kisah para sahabat Nabi yang selalu mengutamakan kepentingan sahabatnya yang lain meskipun itu harus ditebus dengan nyawa mereka sendiri.

Perilaku mengedepankan kepentingan orang lain ini juga disinggung dalam firman Allah  yang menceritakan kasih sayang dan kepedulian kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالۡإِيمَانَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤۡثِرُونَ عَلَى أَنۡفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٌ وَمَنۡ يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُونَ

Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS al-Hasyr [59]: 9)

Allah begitu menyanjung perilaku mulia orang-orang Anshar terhadap orang-orang Muhajirin sehingga Allah pun menyebut orang-orang Anshar dengan muflihun, yaitu orang-orang yang beruntung. Sebaliknya, Islam sangat mengecam perilaku manusia yang mencintai dirinya sendiri (hubbu nafsi) dan selalu mengutamakan dirinya daripada orang lain. Sifat ini sangat dibenci oleh Rasulullah saw. karena merupakan cerminan sifat individualisme, yaitu sifat yang hanya memikirkan maslahat dan diri sendiri serta cendrung ingin menang sendiri.

Na’uzu Billah min dzalik.

Demikian penjelasan tentang itsar.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.