I’tidak: Keseimbangan dalam Hidup

 

Diriwayatkan bahwa Abu Darda’ adalah seorang sahabat yang begitu banyak ibadahnya. Beliau juga berpuasa di siang hari dan selalu shalat Malam. Pada suatu hari berkunjunglah sahabat Salman al-Farisi yang ketika itu melihat Abu Darda’ terlalu larut dalam ibadahnya. Ia menasihati sahabatnya itu dan berkata, Arab 105

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَدَقَ سَلْمَانُ

”Sesungguhnya Tuhanmu memiliki atas dirimu dan engkau juga memiliki hak atas dirimu sendiri. Demikian pula keluargamu yang juga memiliki hak atas dirimu maka berikanlah kepada setiap orang haknya masing-masing. Datanglah Nabi saw. dan ketika disampaikan, beliau bersabda, ’Salman benar’.” (HR Bukhari)

I’tidal dalam bahasa Arab disebut juga dengan tawassuth dan iqtishad, artinya bersikap seimbang, berada di tengah-tengah (moderat), dan berhemat. Sikap ini adalah jalan terbaik bagi siapa saja dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada Allah SWT, diri sendiri, dan orang lain.

Rasulullah saw. adalah contoh utama dalam melaksanakan kewajiban yang dengan penuh keseimbangan. Beliau  begitu mu’tadil (seimbang) dalam segala sisi kehidupannya, dalam shalatnya, khutbahnya–tidak memanjang-manjangkannya dan tidak pula memendek-mendekkannya.  Beliau sering berpuasa dan tetap pula berbuka. Beliau bangun di sebagian malamnya untuk beribadah dan menggunakan sebagian lainnya untuk beristirahat. Demikianlah pola kehidupan Nabi Muhammad saw. yang begitu seimbang.

Dalam ajaran-ajarannya Islam telah banyak memberikan berbagai contoh tentang keseimbang, baik yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun hadits Nabi Muhammad saw. Beberapa contoh pola keseimbangan dalam Islam adalah:

-Keseimbangan dalam berinfak.

Keseimbangan dalam berinfak artinya tidak melebih-lebihkan atau bersikap bakhil dalam mengeluarkan harta yang diinfakkan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, Arab 106

وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ الۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومًا مَحۡسُورًا

”Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS al-Isrâ’ [7]: 29)

 

Keseimbangan dalam mengeluarkan harta merupakan sifat hamba-hamba Allah yang saleh. Allah memuji sifat itu, sebagaimana firman-Nya, Arab 107

وَالَّذِينَ إِذَا أَنۡفَقُوا لَمۡ يُسۡرِفُوا وَلَمۡ يَقۡتُرُوا وَكَانَ بَيۡنَ ذَلِكَ قَوَامًا

”Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS al-Furqân [25]: 67)

 

Rasulullah saw. juga berwasiat agar berhemat dalam berinfak. Arab 108

الاقْتِصَادُ فِي النَّفَقَةِ نِصْفُ الْمَعِيشَة

”Berhemat dalam berinfak adalah setengah dari penghidupan (ma’isyah).” (HR Thabrani) Berhemat dalam berinfak akan menjaga seseorang dari kefakiran serta menjauhkan diri dari meminta-minta kepada orang lain. Rasulullah saw. pun bersabda, Arab 109

مَاعَالَ مَنِ اقْتَصَدَ

”Tidaklah kekurangan orang yang berhemat.” (HR Ahmad)

 

-Keseimbangan dalam makanan dan minuman.

Bagi seorang muslim, hendaklah ia mengonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhannya, tidak berlebih-lebihan. Rasulullah saw. melarang makan dan minum dengan berlebih-lebihan. ”Janganlah sekali-kali makan dan minum terlalu kenyang karena sesungguhnya hal tersebut dapat merusak tubuh dan dapat menyebabkan malas mengerjakan shalat. Sederhanakan dalam kedua hal tersebut karena sesungguhnya hal itu lebih baik bagi tubuh dan menjauhkan diri dari sifat israf (berlebihan).” (HR Bukhari)

 

-Keseimbangan dalam berpakaian

Seorang muslim harus dapat berhemat dalam hal berpakaian. Tidak berlebih-lebihan  atau bermaksud pamer dan sombong. Memakai baju tertentu, dengan mode dan warna tertentu agar orang-orang menoleh kepada dirinya. Hal inilah yang dilarang oleh Rasulullah saw., sebagaimana haditsnya: Arab 110

مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ أَلْبَسَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوْبًا مِثْلَهُ زَادَ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ ثُمَّ تُلَهَّبُ فِيهِ النَّارُ

”Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menyolok mata maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari Akhirat nanti. (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibn Majah)

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah, kaitannya dengan hal itu bukan berarti kita harus memakai pakaian yang sudah jelek dan rusak. Berhemat dalam berpakaian artinya membeli atau memakai pakaian tidak berlebih-lebihan pada harga, warna, jumlah, mode, dan lain sebagainya.

 

-Keseimbangan dalam beristirahat dan bekerja.

Seorang muslim haruslah mampu menyeimbangkan antara waktu istirahat dan kerja. Seseorang tidak dibenarkan bekerja hingga menyakiti badannya dan membuatnya terlalu lelah sehingga pekerjaannya dapat menggangu aktivitas ibadahnya kepada Allah SWT. Jika merasakan penat dalam bekerja, istirahatlah sehingga ketika tiba waktu bekerja kembali, badan pun telah segar dan siap bekerja kembali. Sebuah ungkapan menyatakan; inna libadanika ‘alaika haqqan, sesungguhnya badanmu juga memiliki haknya.

 

-Keseimbangan dalam memanfaatkan waktu.

Seorang muslim harus mampu menjaga waktunya sehingga ia dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya, tidak menggunakannya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Menjaga waktu berarti menjaga kehidupan. Menjaga waktu dengan baik berarti mengatur kehidupan dengan baik karena ketepatan dalam mengatur waktu merupakan kunci tercapainya cita-cita dan harapan.

 

-Keseimbangan dalam perkataan.

Bagi seorang muslim, wajiblah kiranya menjauhi perkataan-perkataan yang ditambah-tambah karena yang demikian itu adalah tanda-tanda orang yang paling banyak bicaranya alias cerewet. Nabi saw. dalam sabdanya melarang untuk banyak berbicara. Arab 111

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ ….

”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku duduknya di hari Kiamat kelak adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci serta yang paling jauh duduknya dariku di hari Kiamat kelak adalah orang-orang yang banyak bicaranya ….” (HR Turmudzi)

 

Hemat dalam berkata-kata sebenarnya untuk menjauhi diri dari kesalahan dalam berbicara. Sebab, siapa pun yang paling banyak bicaranya, akan banyak pula kesalahannya. Bahkan, Nabi saw. mengaitkan antara iman kepada Allah dan hari akhir dengan perkataannya. Beliau bersabda, Arab 112

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

”Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, hendaklah ia berkata dengan baik-baik atau diam saja.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Siapa pun yang dapat menjaga keseimbangan dalam hidupnya, ia akan menjadi seorang yang memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh. Ia juga akan dicintai Allah dan orang lain.