Ikhlas: Merawat Nurani agar Dekat dengan Jannah

Ikhlas – Seorang shahabiyat bernama Ummu Qais ikut serta bersama Rasulullah saw. untuk berhijrah dari Mekah menuju Madinah. Lalu, ia disusul oleh seorang laki-laki yang ingin menikahinya. Laki-laki ini berhijrah jelas tidak bertujuan menegakkan agama Allah (nushrah diynillah). Kemudian, Rasulullah saw. pun bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلىَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ, فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ, وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصيْبُهَا أَوْ اِمْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

”Sesungguhnya pekerjaan itu adalah sesuai dengan niat dan manusia akan diganjar sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasulnya. Barang siapa hijrahnya untuk mencari dunia atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka pahala hijrahnya adalah sesuai dengan hijrahnya pula”. (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Riwayat tersebut menjelaskan bahwa nilai amal seseorang sangatlah terkait dengan keikhlasan niatnya. Niat yang baik, tulus, dan ikhlas akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Kemudian,  apakah ikhlas itu? Ikhlas adalah menjadikan segala amal perbuatan yang dilakukan hanyalah untuk menggapai rida Allah, tidak untuk riya’ atau sum’ah. Seseorang beramal tidaklah untuk dilihat oleh orang lain atau mengharapkan orang-orang berbicara tentang kebaikan-kebaikannya atau tidaklah untuk dipuji-puji oleh orang lain. Seorang muslim hendaklah ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah SWT tidak akan menerima sebuah amalan yang tidak dilakukan dengan keikhlasan. Allah SWT berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعۡبُدُوا اللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤۡتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الۡقَيِّمَةِ

”Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS al-Bayyinah [98]: 5)

 Rasulullah saw. pun bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

”Sesungguhnya Allah tidak akan menerima sebuah amalan, kecuali  amalan itu ikhlas dan hanya untuk mencari keridaan-Nya.” (HR Nasa’i)

Ikhlas merupakan sifat yang harus dilakoni seorang muslim. Jika ia seorang pedagang, ia harus selalu takut kepada Allah, tidak melebih-lebihkan harga dagangannya. Rezeki yang dicari adalah keuntungan yang halal. Bagi seorang pekerja, hendaklah ia menekuni pekerjaannya karena Allah SWT memerintahkan agar selalu menekuni dan berbuat kebaikan dalam pekerjaannya. Bagi seorang murid, keikhlasannya terletak pada kesungguhannya dalam belajar dan berusaha untuk mendapatkan ilmu. Ia belajar hanya untuk menggapai rida Allah SWT dan ilmunya dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Ikhlas merupakan sifat para nabi Allah, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an tentang keikhlasan Nabi Musa a.s., Ibrahim a.s., Ishaq a.s., dan Ya’kub a.s.

وَاذۡكُرۡ فِي الۡكِتَابِ مُوسَى إِنَّهُ كَانَ مُخۡلَصًا وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

”Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam [19]: 51)

وَاذۡكُرۡ عِبَادَنَا إِبۡرَاهِيمَ وَإِسۡحَاقَ وَيَعۡقُوبَ أُولِي الۡأَيۡدِي وَالۡأَبۡصَارِ (45) إِنَّا أَخۡلَصۡنَاهُمۡ بِخَالِصَةٍ ذِكۡرَى الدَّارِ (46) وَإِنَّهُمۡ عِنۡدَنَا لَمِنَ الۡمُصۡطَفَيۡنَ الۡأَخۡيَارِ (47)

”Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (QS Shâd [38]: 45-47)

 Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya. Ia berkata,

عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

 ”Ayahku menyangka bahwa ia memiliki kemuliaan daripada sahabat Rasulullah saw. Nabi bersabda, ’Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan para dhu’afa, yaitu dengan doa dan keikhlasan mereka.” (HR Nasa’i)

Imam al-Qasyani dalam Lathaif al-‘Ilam fi Isyarat Ahli Ilham berpendapat bahwa ikhlas adalah menyucikan segala perbuatan hati dari segala keburukan karena segala perbuatan hanyalah untuk Allah. Adapun al-Jurjani dalam al-Ta’rifat memberikan definisinya: ”Ikhlas adalah meninggalkan sifat riya’ dalam ketaatan. Ikhlas adalah pemurnian hati dari keburukan sifat-sifatnya dan hendaknya engkau tidak meminta saksi selain Allah dalam setiap apa yang engkau lakukan.”

Tingkat keikhlasan pun bermacam-macam. Tingkatan ikhlas orang-orang istimewa (khawas) adalah dengan tidak memandang bahwa sebuah amal adalah amal. Jadi, ia tidak membanggakan dirinya dengan amal dan tidak meyakini bahwa apa yang ia lakukan akan mendapatkan pahala karena jika demikian dikhawatirkan ia tidak merelakan amal yang dilakukan untuk Allah.

Lalu, ikhlasnya orang-orang yang lebih istimewa (khasatul khasah) adalah dengan melepaskan diri dari melihat keikhlasan. Melihat bahwa Allah-lah yang mengikhlaskan amal seseorang, Allah-lah jua yang menjadikan seseorang menjadi ikhlas.

Al-Muhasibi menyatakan dalam al-Qashdi wa al-Ruju’ ilallah  berpendapat, ”Keikhlasan akan terbangun dengan selalu merahasiakan perbuatan baik dengan sebisa mungkin. Jika amal saleh memiliki akar yang kuat di dalam hati, tersimpan dari manusia, lalu ia akan bersihkan dalam dirinya dan ia sucikan dari segala kotoran. Setiap orang yang beramal untuk Allah semata, akan bertambah pula kejujuran dan keikhlasannya.”

Adapun balasan bagi orang-orang yang ikhlas adalah selalu dijauhi setan. Setan tidak akan dapat menggoda orang-orang yang ikhlas karena Allah SWT akan selalu menjaga mereka. Dalam Al-Qur’an setan menuturkan bahwa ia tidak mampu untuk menggoda orang-orang yang ikhlas (mukhlisun), sebagaimana termaktub berikut ini.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغۡوَيۡتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمۡ فِي الۡأَرۡضِ وَلَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ الۡمُخۡلَصِينَ (40)

Ia (Iblis) berkata, Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,  kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (QS al-Hijr [15]: 39-40)

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.