Ihsan: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Ihsan adalah selalu bermuraqabah kepada Allah dalam setiap perbuatan dan perkataan, baik secara tersembunyi maupun terbuka. Ihsan merupakan perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh kesempurnaan demi menggapai rida Allah SWT. Islam mengajak untuk selalu berihsan ketika melakukan pekerjaan apa pun. Hal ini kiranya dapat dilihat dalam hadits, Rasulullah saw. bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat ihsan kepada segala sesuatu. Jika engkau menyembelih, hendaklah kamu berlaku ihsan kepada (hewan) sembelihan dan tajamkanlah seorang di antara kamu mata pisaunya serta tenangkanlah hewan sembelihanmu” (HR Muslim)

Jika diurai, ada banyak macam ihsan dalam ajaran Islam, seperti ihsan kepada Allah SWT. Ihsan kepada-Nya artinya merasa adanya keberadaan Allah di setiap relung waktu dan kondisi, terutama ketika kita beribadah. Di saat itulah kita ”menghadirkan-Nya” seakan-akan kita melihat dan menyaksikan-Nya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah saw.:

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

”Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat dirimu.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Kemudian, ihsan kepada kedua orang tua. Maksudnya, dengan selalu berbakti dan menaati keduanya serta selalu memberikan hak-hak keduanya dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dapat menyakiti keduanya. Kewajiban untuk berbuat ihsan kepada keduanya dapat dilihat pada Surah al-Isrâ’ Ayat 23 yang berbunyi:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ إِحۡسَانًا إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلۡ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلۡ لَهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ’ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS al-Isrâ’ [17]: 23)

Lalu, berbuat ihsan kepada kerabat dan saudara. Seorang muslim sudah seharusnya menyayangi dan mengasihi saudaranya sesama muslim. Apalagi kepada saudara sekandung dan kerabat kedua orang tuanya. Ia harus mengunjungi mereka, mempererat tali silaturahmi, dan berbuat baik kepada mereka, sebagaimana termaktub dalam Kitabullah Surah an-Nisâ’ Ayat 1 berikut ini.

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالۡأَرۡحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبًا

”… bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS an-Nisâ’ [4]: 1)

Rasulullah saw. juga berpesan,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaklah ia menjalin silaturahmi.” (HR Bukhari)

Rasulullah saw. menganjurkan jika hendak bersedekah, kita harus mendahulukan kaum kerabat yang miskin. Pesan ini dapat dilihat dari sabdanya berikut ini.

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

”Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah. Adapun sedekah kepada kaum kerabat ada dua (faedah,) yaitu: sedekah dan menyambung silaturahmi.” (HR Turmudzi)

Berikutnya berbuat ihsan kepada jiran atau tetangga. Seorang muslim sudah selayaknya berbuat baik kepada tetangganya dan memuliakannya. Perilaku ini merupakan sebuah kesempurnaan iman jika tidak menyakiti hati tetangganya, sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut ini.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِي جَارَهُ

”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendak ia tidak menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bahkan, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani, Rasulullah saw. memberikan pesannya kepada seorang muslim agar dapat membantu tetangganya jika ia membutuhkan pertolongan. Jika tetangganya sakit, hendaklah ia menjenguknya. Jika tetangganya menerima sebuah kebaikan, hendaklah ia memberikan kata selamat untuknya. Jika tetangganya ditimpa musibah, hendaklah ia menghiburnya. Jika tetangganya meninggal dunia, hendak ia mengiringi jenazahnya. Bahkan, Rasulullah memberikan nasihatnya agar seorang muslim tidak membangun rumahnya lebih tinggi dari tetangganya karena hal itu dapat menutup sirkulasi angin ke rumahnya. Namun, jika ia ingin membangun lebih tinggi, hendaklah ia meminta izin kepada tetangganya. Seorang muslim juga tidak boleh menyakiti tetangganya dengan aroma masakannya, kecuali jika masakan itu dapat ia bagi kepada tetangganya. Demikian pula jika ia membeli buah-buahan, hendaklah ia bagikan ke tetangganya. Namun, jika ia tidak dapat membagikannya, hendaklah ia memasukkan buah itu ke rumahnya dengan cara diam-diam dan buah-buahan itu tidak boleh pula dibawa keluar rumah oleh anaknya karena hal itu akan mengundang kemarahan anak tetangganya.

Ihsan berikutnya adalah ihsan kepada faqir miskin. Seorang muslim haruslah dapat berbagi dengan fakir miskin, tidak bakhil untuk memberikan hartanya kepada mereka. Dalam bersedekah, hindarilah sifat ingin dipuji dan riya’ atau menginginkan sesuatu tersembunyi dari sedekah yang diberikan, seperti memberikan sedekah agar dirinya dipilih oleh orang-orang untuk menduduki sebuah jabatan atau lainnya. Allah SWT menegaskan,

قَوۡلٌ مَعۡرُوفٌ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٌ مِنۡ صَدَقَةٍ يَتۡبَعُهَا أَذًى وَاللّٰهَ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

”Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.” (QS al-Baqarah [2]: 263)

Contoh-contoh tersebut hanyalah sedikit dari apa yang telah dipaparkan Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. Hal yang terpenting adalah inti dari ihsan ini, seperti yang telah diinformasikan adalah muraqabah hamba kepada Allah SWT atau merasa diri selalu diawasi oleh Sang Maha Pencipta. Allah SWT berjanji akan memberikan pahala yang sangat besar bagi mereka yang telah berbuat ihsan (al-muhsinun), sebagaimana tertera dalam firman-Nya berikut ini.

هَلۡ جَزَاءُ الۡإِحۡسَانِ إِلَّا الۡإِحۡسَانُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). (QS ar-Rahmân [55]: 60)

إِنَّ الَّذِينَ اٰمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا

Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.” (QS al-Kahfi [18]: 30)

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.