Iffah: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Kisah Nabi Yusuf a.s. yang menjaga kesucian dirinya dari godaan wanita cantik, Zulaikha, merupakan salah satu contoh dari ‘iffah. Allah SWT telah mengekalkan kisah perjuangan Nabi Yusuf a.s. dalam melawan kemungkaran nafsu itu dalam Al-Qur’an.

وَرَاوَدَتۡهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَنۡ نَفۡسِهِ وَغَلَّقَتِ الۡأَبۡوَابَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللّٰهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحۡسَنَ مَثۡوَايَ إِنَّهُ لَا يُفۡلِحُ الظَّالِمُونَ

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS Yûsuf [12]: 23)

Contoh lain dari‘iffah adalah kisah tiga orang laki-laki yang melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka beristirahat dan masuk ke sebuah gua. Namun naas, setelah mereka masuk, pintu gua tertutup rapat dengan sebuah batu besar, mereka tidak mampu keluar. Mereka yakin bahwa mereka akan mati di dalam gua itu. Setiap orang akhirnya berdoa kepada Allah memohon pertolongan-Nya agar dapat keluar selamat dari gua. Di antara tiga lelaki itu ada seorang yang mencintai anak perempuan pamannya. Ia begitu cinta kepadanya. Lelaki ini pernah suatu kali mengajak anak perempuan pamannya itu berbuat maksiat. Namun, anak perempuan itu menolaknya. Suatu saat anak perempuan itu membutuhkan uang dan ia menemui lelaki itu untuk meminta darinya. Laki-laki itu berkata, ”Aku tidak akan memberikan uang padamu hingga engkau dapat menyesuaikan dirimu.” Perempuan itu lalu meninggalkannya dan pergi ke tempat lain untuk meminta uang. Namun, tidak seorang pun yang memberinya. Perempuan itu akhirnya dengan terpaksa meminta kepada lelaki itu. Ketika lelaki itu mendekatinya, perempuan itu pun berkata, ”Takutlah engkau kepada Allah.” Perempuan itu pun mengingatkan lelaki itu (anak pamannya) untuk menghindarkan dirinya dari hal-hal yang haram (‘iffah) serta menjaga kesuciannya. Ia juga memperingatkannya akan hukuman Allah SWT. Lelaki itu tersadarkan kembali dan ia pun memberikan hartanya kepada wanita itu. Ia meminta ampunan Tuhannya.

Kemudian lelaki itu berdoa memohon kepada Allah agar menghilangkan batu besar yang ada di depan gua. Karena doanya begitu ikhlas untuk Allah SWT maka Allah pun membuka pintu goa itu hingga akhirnya mereka pun dapat keluar dengan selamat.

Iffah dalam Islam adalah menjauhi segala sesuatu yang haram serta tidak meminta-minta kepada orang lain. Beberapa contoh ‘iffah adalah sebagai berikut.

Pertama, ‘Iffah jawarih, yaitu menjaga anggota tubuh; tangan, kaki, mata, dan kemaluan dari hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Allah telah memerintahkan setiap muslim agar dapat menjaga dirinya dan menjaga kemaluannya.

وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغۡنِيَهُمُ اللّٰهَ مِنۡ فَضۡلِهِ

”Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. (QS an-Nûr [24]: 33)

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. mewajibkan bagi para pemuda untuk menikah. Ini bertujuan untuk menjaga diri dari perbuatan haram dan menganjurkan bagi mereka yang belum mampu untuk menikah agar berpuasa dan beribadah hingga ia dapat menjaga kemaluannya dan menjaga pandangannya dari hal-hal yang masih diharamkan. Rasulullah saw. bersabda,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

”Wahai para pemuda, barang siapa di antara kamu yang telah mempu memenuhi kewajiban berumahtangga, hendaklah kamu menikah, akrena yang demikian itu dapat menghalangi pandanganmu dan menjaga kemaluanmu. Dan barang siapa yang tidak mampu maka hendaklah ia berpuasa karena sesungguhnya ia dapat menjaga.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Kedua, ‘Iffah jasad, yaitu menutup seluruh aurat tubuh. Seorang laki-laki kewajibannya menutup aurat antara pusar dan dengkul. Adapun perempuan dengan menutupi badannya dengan hijab. Allah SWT berfirman,

قُلۡ لِلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّوا مِنۡ أَبۡصَارِهِمۡ وَيَحۡفَظُوا فُرُوجَهُمۡ ذَلِكَ أَزۡكَى لَهُمۡ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصۡنَعُونَ (30) وَقُلۡ لِلۡمُؤۡمِنَاتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ آَبَائِهِنَّ أَوۡ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَائِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَانِهِنَّ أَوۡ بَنِي إِخۡوَانِهِنَّ أَوۡ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوۡ نِسَائِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيۡرِ أُولِي الۡإِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفۡلِ الَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُوا عَلَى عَوۡرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِنۡ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللّٰهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ (31)

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. (QS an-Nûr [24]: 30-31)

 Ketiga, ‘Iffah terhadap harta orang lain. Seorang muslim harus mampu bersifat ‘iffah kepada harta orang lain, yaitu tidak mengambil hak dan harta orang lain, bisa juga diartikam ‘iffah kepada harta anak yatim. Jika yang mengasuh anak yatim adalah orang yang kaya maka ia tidak diperbolehkan untuk mengambil dan menikmati harta anak yatim tersebut. Bahkan, ia harus dapat mengembangkan dan menyuburkan harta anak itu. Allah SWT berfirman,

وَابۡتَلُوا الۡيَتَامَى حَتَّى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنۡ آَنَسۡتُمۡ مِنۡهُمۡ رُشۡدًا فَادۡفَعُوا إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَالَهُمۡ وَلَا تَأۡكُلُوهَا إِسۡرَافًا وَبِدَارًا أَنۡ يَكۡبَرُوا وَمَنۡ كَانَ غَنِيًّا فَلۡيَسۡتَعۡفِفۡ وَمَنۡ كَانَ فَقِيرًا فَلۡيَأۡكُلۡ بِالۡمَعۡرُوفِ فَإِذَا دَفَعۡتُمۡ إِلَيۡهِمۡ أَمۡوَالَهُمۡ فَأَشۡهِدُوا عَلَيۡهِمۡ وَكَفَى بِاللّٰهِ حَسِيبًا

Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pandapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas. (QS an-Nisâ’ [4]: 6)

 Keempat, ‘Iffah dalam berbicara. Seorang muslim harus mampu menjaga ucapannya, tidak mencela dan menghina orang lain. Tidak ada apa pun yang keluar dari mulutnya, kecuali kebaikan. Allah memuji kaum muslimin yang dapat menjaga lisannya, sebagaimana firman-Nya berikut ini.

وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الۡقَوۡلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الۡحَمِيدِ

”Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan diberi petunjuk (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (QS al-Hajj [22]: 24)

 Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman,

وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسۡرَائِيلَ لَا تَعۡبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ إِحۡسَانًا وَذِي الۡقُرۡبَى وَالۡيَتَامَى وَالۡمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسۡنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلًا مِنۡكُمۡ وَأَنۡتُمۡ مُعۡرِضُونَ

Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (QS al-Baqarah [2]: 83)

 Jika seorang muslim selalu konsekwen untuk menjaga atau menahan dirinya dari segala sesuatu yang diharamkan dan menjaga kesuciannya maka Allah berjanji akan memberikannya pahala yang sangat besar. Dalam sebuah doanya Rasulullah saw. bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan, kemampuan untuk menahan diri, dan kekayaan.” (HR Muslim).

Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang dapat menjaga kemaluannya dan mampu menahan diri mereka dari hal-hal yang diharamkan.

وَالَّذِينَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزۡوَاجِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَانُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَيۡرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابۡتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الۡعَادُونَ (7)

”Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS al-Mu’minûn [23]: 5-7)

***

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.