Dzikir: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Dzikir adalah kalimat-kalimat yang mendekatkan orang-orang beriman dengan Allah SWT, seperti kalimat syahadat lâ ilâha illallâh atau berupa kalimat tasbih, doa-doa, dan dzikir-dzikir. Allah SWT telah memerintahkan orang-orang beriman untuk berdzikir kepada-Nya.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اذۡكُرُوا اللّٰهَ ذِكۡرًا كَثِيرًا

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS al-Ahzâb [33]: 41)

Dzikir merupakan pilarnya tarekat (jalan) menuju Allah SWT, sebagaimana dinyatakan oleh Qusyairi bahwa dzikir adalah pilarnya tarekat, di mana seseorang tidak akan dapat sampai kepada Allah, kecuali dengan terus-menerus berdzikir. Ia lebih jauh mendefiniskan dzikir: ”Dzikir adalah ingatan yang larut (dzikr) dalam penyaksian kepada Allah, untuk kemudian meluruhkan diri dalam wujud Allah hingga tidak ada apa pun dalam dirimu pengaruh yang dapat diingat.”

Pada hakikatnya, dzikir kepada Allah adalah melupakan segala sesuatu, kecuali Allah SWT, sebagaimana yang dinyatakan oleh Zunnun al-Mashriy: ”Barang siapa yang berdzikir kepada Allah dengan sesungguhnya, ia akan melupakan segala sesuatu. Allah pun akan menjaganya dari segala sesuatu dan ia akan mendapatkan segala sesuatu sebagai balasannya.”

Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:

مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِيْ عَنْ مَسْأَلَتِيْ أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلُ مَا أُعْطِيْ السَّائِلِيْنَ

”Barang siapa yang disibukkan untuk mengingat-Ku tentang masalah-Ku maka Aku akan memberikannya sesuatu yang lebih baik dari pada orang-orang yang meminta.” (HR Turmudzi)

Dalam hadits qudsi yang lain juga disebutkan:

مَنْ ذَكَرَنِى فىِ نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ….

”Barang siapa yang mengingatku (berdzikir) kepada-Ku dalam dirinya maka Aku juga akan mengingatnya dalam diri-Ku ….” (HR Muslim)

Allah SWT juga berfirman,

إِلَّا أَنۡ يَّشَآءَ اللّٰهَ وَاذۡكُرۡ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَى أَنۡ يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَذَا رَشَدًا

Kecuali (dengan mengatakan), Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.” (QS al-Kahfi [18]: 24)

Adapun buah dari dzikir seperti yang disebutkan oleh Imam al-Qasyani adalah: Pertama, memurnikan diri dari ikatan-ikatan rohani, seperti lalai dan lupa. Kedua, hilangnya hijab yang menutupi penyaksian (syuhud), seperti keterkaitan diri dengan alam semesta dan merindukan-Nya. Ketiga, kebersamaan dengan yang disaksikan atau selalu menyaksikan. Keempat, terjadinya dialog al-Haq (Yang Mahabenar) dengan para ‘arifin dari alam rahasia dan gaib. Allah berfirman,

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الۡأَمِينُ

”Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril).” (QS asy-Syu‘arâ’ [26]: 193)

Bagi seorang sufi, dzikir dapat dilakukan kapan dan di mana pun. Tentang hal ini Allah berfirman,

وَاذۡكُرِ اسۡمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلًا

”Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.” (QS al-Muzzammil [73]: 8)

 

Pengertian Dzikir

Dzikir merupakan usaha untuk mengobati jiwa dan menenangkan hati dari rasa khawatir, takut, dan kelemahan diri yang disebabkan oleh dorongan-dorongan syahwat dan materi. Allah SWT menjamin bagi siapa saja yang berdzikir kepada-Nya dengan khusuk dan penuh keikhlasan, niscaya  akan memperoleh ketenangan hati.

الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوۡبُهُمۡ بِذِكۡرِ اللّٰهِ اَلَا بِذِكۡرِ اللّٰهِ تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ

”(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’d [13]: 28)

Zikir adalah wasilah terpenting bagi seseorang dalam menggapai tingkat spritual yang hakiki. Dalam berdzikir, jiwa manusia diajak untuk keluar dari materi-materi yang berada di luar. Zikir juga merupakan wasilah untuk mengosongkan hati dari segala keraguan sehingga dzikir dapat membersihkan batin seseorang. Adapun tentang faedah dzikir ini, Ibnu Qayyim menjelaskan manfaat-manfaat dzikir kepada Allah yang bisa membuat orang-orang lalai termasuk orang yang berdzikir untuk selalu senang berdzikir.

Dalam uraian panjangnya tentang ragam dzikir Rasulullah, Ibnu Qayyim menyatakan: ”Nabi saw. adalah manusia yang paling sempurna dalam berdzikir kepada Allah. Bahkan, setiap ucapan dan dan kebiasaannya merupakan dzikir kepada Allah SWT. Perintah, larangan, dan ajarannya kepada umat adalah dzikirnya kepada Allah SWT. Pelajaran yang beliau sampaikan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, janji-janji-Nya, dan ancaman-ancaman-Nya juga merupakan dzikirnya kepada Allah SWT. Pujian, pengagungan, sanjungan, dan tasbihnya semata-mata dzikir kepada Allah SWT. Permohonan, doa, keinginan, dan ketakutannya semata-mata dzikir kepada Allah SWT. Tenang dan diamnya pun semata-mata dzikir hatinya kepada Allah SWT. Oleh karena itu, dalam situasi dan kondisi apa pun beliau selalu dzikir kepada Allah SWT. Dzikir beliau dilakukan seiring dengan embusan nafasnya, baik sambil berdiri maupun duduk, di kala sendirian, berjalan, dan naik kendaraan, dalam perjalanan dan ketika singgah, tatkala pergi ataupun di rumah.”

Dzikir merupakan cara terbaik untuk mewujudkan kesehatan jiwa dan membuka hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya. Dengan melakukan itu, seorang hamba akan memiliki cita-cita dalam hidupnya dan tidak merasa khawatir akan rahmat dan anugerah-Nya yang tidak terbatas.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.