Doa yang Tidak Akan Ditolak Allah: Seperti Apa Sih?

Doa yang Tidak Akan Ditolak Allah – Berikut ini beberapa doa yang tidak akan ditolak Allah, Sang Penguasa Langit dan Bumi. Artinya doa-doa yang dalam keadaan seperti ini akan dikabulkan Allah, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Rasulullah. Mari kita perhatikan baik-baik, apakah kita termasuk salah seorang di antara mereka? Jika ya maka kabar gembira menanti kita.

 

1. Doa Orang yang Sedang Berpuasa

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah e bersabda,

مَنْ دَعَا اللهَ وَهُوَ صَائِمٌ لَمْ تُرَدَّ دَعْوَتُهُ.

“Barang siapa yang berdoa kepada Allah ketika ia dalam keadaan berpuasa maka doanya tidak akan ditolak (oleh Allah).” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. juga disebutkan, Rasulullah e bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ.

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka, yaitu orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang dizalimi (teraniaya).(HR Ibnu Hibban)

 

2. Doa Imam yang Adil dan Orang yang Terzalimi

Rasulullah telah bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

“Ada tiga orang yang tidak ditolak doa mereka, yaitu orang yang berpuasa sampai dia berbuka, seorang penguasa yang adil, dan doa orang yang dizalimi (teraniaya). Doa mereka diangkat oleh Allah ke atas awan dan dibukakan baginya pintu langit dan Allah bertitah, ‘Demi kemuliaan-Ku, Aku akan memenangkanmu (menolongmu) meskipun tidak segera.'” (HR Turmudzi)

 

3. Doa Seorang Muslim untuk Saudaranya Sesama Muslim

Hadits riwayat Shafwan bin Abdullah bin Shafwan, ia berkata, “Aku mengunjungi Kota Syam dan bertandang ke rumah Abu Darda’, tetapi aku tidak mendapatinya (di rumah), lalu aku berjumpa dengan Ummu Darda’, lalu ia bertanya kepadaku, ‘Apakah kamu hendak pergi haji tahun ini?’ Aku menjawab, ‘Iya, insya Allah.’ Ia berkata kembali, ‘Doakan kebaikan untuk kami karena aku mendengar Rasulullah bersabda,

دُعَاءُ الْمُسْلِمِ يُسْتَجَابُ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، مَا دَعَا لِأَخِيْهِ بِخَيْرٍ إِلَّا قَالَ: آمِيْنَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim (yang tidak bersamanya) akan dikabulkan Allah. Di kepalanya terdapat malaikat, setiap kali ia berdoa untuk saudaranya maka sang malaikat akan menghampirinya dan berkata, ‘Âmîn!’ Bagimu adalah seperti apa yang engkau doakan untuk saudaramu!”

Lalu, aku pergi keluar menuju pasar. Di situ aku berjumpa dengan Abu Darda’, ia pun mengatakan hal yang sama kepadaku.” (HR Muslim)

 

4. Doa Orang yang Pulang Haji, Berjihad fi Sabilillah, dan Sembuh dari Sakit

Rasulullah bersabda,

خَمْسُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ حِيْنَ يَسْتَنْصِرُ وَدَعْوَةُ الْحَاجِّ حِينَ يَصْدُرُ، وَدَعْوَةُ الْمُجَاهِدِ حِينَ يَقْفِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَرِيضِ حِينَ يَبْرَأَ، وَدَعْوَةُ الْأَخِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ – ثُمَّ قَالَ: – وَأَسْرَعُ هَذِهِ الدَّعَوَاتِ إِجَابَةً، دَعْوَةُ الْأَخِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ

“Ada lima doa yang dikabulkan Allah; Doa orang yang terzalimi ketika ia menang (dari yang zalim), doa orang haji ketika pulang, doa mujahid (orang yang berjihad) ketika berangkat (perang), doa si sakit ketika sembuh, dan doa saudara (muslim) untuk saudara lainnya yang tidak bersamanya (jauh di mata). Kemudian, beliau melanjutkan sabdanya, ‘Dan doa yang paling cepat dikabulkan di antara doa-doa tersebut adalah doa seorang muslim untuk saudaranya yang jauh di mata (tidak bersamanya).'”

 

5. Doa yang Dibaca Secara Berjamaah (Bersama-sama)

Rasulullah bersabda,

لاَ يَجْتَمِعُ مَلَأٌ فَيَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ سَائِرُهُمْ إِلاَّ أَجَابَهُمُ اللَّهُ

“Tidaklah berkumpul suatu kaum, di mana sebagian mereka berdoa, sedangkan sebagian yang lain mengamini, melainkan Allah mengabulkan Allah mereka itu.” (HR Hakim)

 

Baca Juga: Agar Doa Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

 

6. Doa Orang Tua untuk Anaknya dan yang Sedang dalam Perjalanan.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah e bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ: دَعْوَةُ المَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ المُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلىَ وَلَدِهِ

“Ada tiga macam doa yang sangat cepat dikabulkan Allah, tidak akan diragukan lagi; doa orang yang terzalimi, doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR Turmudzi)

 

8. Doa Anak yang Berbakti kepada Kedua Orang Tuanya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه ، أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا مَاتَ ابنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ.

Hadits riwayat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah e telah bersabda, “Apabila salah seseorang dari anak Adam meninggal dunia maka terputuslah semua amal ibadahnya, kecuali tiga perkara: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuanya.” (HR Muslim, Turmudzi, dan Nasai)

Seorang hamba yang memiliki anak yang shalih, kelak di hari Kiamat akan ditinggikan derajatnya di surga, pahala kebaikannya pun akan ditambah karena doa tulus sang anak untuknya. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,

إِنَّ اللهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فيِ الجَنَّةِ فَيَقُوْلُ: يَا رَبّ أَنَّي ليِ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ: بِاِسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ.

“Sesungguhnya Allah (kelak di hari Kiamat) akan mengangkat derajat hamba yang shalih di surga, lalu si hamba itu berkata, ‘Wahai Tuhan, mengapa aku bisa mendapatkan derajat setinggi ini?’ Dijawab, ‘Karena istigfar (yang dikirimkan) anakmu untukmu.'” (HR Ibnu Majah dan Imam Malik)

 

8. Berdoa dengan Doa Nabi Yunus a.s.

عَنْ سَعْدٍ بنْ أَبيِ وَقَّاصٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” دَعْوَةُ ذِي النُّوْنِ ، إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوْتِ : لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ  فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ 

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata, Rasulullah e bersabda, “Doa Dzun Nûn (Yunus a.s.) ketika ia berdoa di dalam perut ikan paus, ‘Ya Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.Sesungguhnya tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa itu untuk suatu keperluan, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.” (HR Turmudzi dan Ahmad)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. juga disebutkan bahwa Rasulullah e bersabda, “Sungguh, doa saudaraku, Yunus, sangatlah menakjubkan. Awalnya adalah ucapan tahlil, tengahnya adalah ucapan tasbih, dan akhirnya adalah ucapan pengakuan dosa;

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ 

“Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.” Tidaklah seseorang yang sedang ditimpa masalah, kesedihan, dan utang, lalu ia berdoa dengannya setiap hari sebanyak tiga kali, melainkan Allah akan mengabulkan doanya.”

 

***

 

Setelah membaca uraian yang begitu panjang tentang hal-hal yang berkaitan dengan terkabulnya doa, lalu apa lagi yang kita tunggu? Bersegeralah kita untuk mendapat kesempatan emas itu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Beberapa di antara kita mungkin ada yang beranggapan bahwa ia sudah semaksimal mungkin mencoba dan mengamalkan hal-hal yang telah jelaskan di atas, tetapi ternyata ia belum menemukan jawaban dari doa yang ia panjatkan. Beberapa orang di antara kita mungkin masih ada yang bertanya-tanya di dalam hati, “Aku sudah berusaha semaksimal mungkin mengikuti hal-hal yang berkaitan dengan doa agar ia menjadi mustajab, tetapi mengapa jawaban dari doaku belum juga terwujud? Apa yang salah dari doaku?”

Jangan putus asa, masih ada hal lain yang perlu kita jelaskan dalam menuntaskan semua keraguan kita dalam hal berdoa. Doa kita pasti terkabul, apalagi jika kita sudah semaksimal mungkin mengikuti apa-apa yang dianjurkan dalam berdoa seperti yang sebelumnya telah kita jelaskan.

Demikian pembahasan mengenai doa yang tidak akan ditolak Allah. Semoga bisa menjadi hikmah dan pelajaran. Amin.

 

***

 

Referensi:

  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.