Doa Agar Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

Doa Agar Cepat Terkabul – Di dalam hati manusia terdapat berbagai macam akar permasalahan hidup. Itu bagaikan benang kusut yang sangat susah untuk diuraikan. Namun, hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, hati manusia akan tenang. Di dalamnya juga terdapat perasaan sedih yang tidak bisa dihilangkan, kecuali dengan kebahagiaan mengenal dan berinteraksi dengan Allah semata.

Di dalam hati juga terdapat perasaan gelisah yang tidak bisa ditenteramkan, kecuali dengan menjauh dari perasaan itu dan mendekatkan diri kepada Allah. Di dalamnya juga terdapat percikan api kesedihan yang tidak bisa dipadamkan, kecuali dengan keridhaan menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya serta bersabar dalam menjalankan keduanya hingga akhir hayat.

Di dalam hati juga ada tuntutan yang tidak akan berakhir, kecuali jika sudah terpenuhi. Di dalamnya juga ada kebutuhan yang tidak akan bisa dipenuhi, kecuali dengan memupuk benih cinta kepada Allah dan senantiasa mengingati-Nya dengan tulus ikhlas. Meskipun manusia diberikan dunia dan segala yang ada di dalamnya, niscaya kebutuhan tersebut tidak akan pernah terpenuhi selamanya.

Betapa kompleksnya hati manusia. Karena beberapa sebab di ataslah, doa yang merupakan sebaik-baik bentuk ibadah menjadi satu-satunya solusi bagi manusia untuk keluar dari berbagai masalah yang dihadapinya. Tidak diragukan lagi, melalui perantara doa, hati akan diterima Allah dan segala permasalahan hidup yang menyesakkan hati akan menjadi hilang, begitu juga dengan kegelisahan dan kesedihan yang menyertainya.

Kali ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai rahasia doa agar cepat terkabul.

 

Rahasia Doa Agar Cepat Terkabul

Diriwayatkan pada masa kekhilafahan Umar bin Khattab telah terjadi kekeringan selama setahun lamanya. Hujan tidak pernah turun selama masa itu sehingga banyak memakan korban kematian. Lalu, Umar pun memerintahkan semua orang untuk berkumpul di padang pasir dan meminta Abbas bin Abdul Muttalib, paman Rasulullah untuk mendoakan kaum muslimin. Abbas pun mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdoa,

اللَّهُمَّ هذِهِ أَيْدِيْنَا إِلَيْكَ بِالذُّنُوْبِ, نُوَاصِيْنَا إِلَيْكَ بِالتَّوْبَةِ, فَاسْقِنَا الغَيْثَ

”Ya Allah, inilah tangan-tangan kami yang penuh dengan dosa, kami ingin bertaubat kepada-Mu. Curahkanlah kepada kami hujan.”

Lalu, Allah pun menurunkan hujan.

Riwayat tersebut memberikan sebuah informasi bahwa Allah akan berkenan mengabulkan doa selama doa itu disampaikan dengan khusyu’, rasa takut, disertai dengan tunduk kepada Allah, dan pengakuan akan dosa yang telah dilakukan, serta selalu hanya berharap kepada-Nya. Begitulah cara doa agar cepat terkabul.

Doa adalah meminta pengampunan, rahmat, dan maghfirah kepada Allah, serta meminta kepada-Nya agar kiranya memenuhi hajat yang diinginkan. Dalam Islam, doa merupakan ibadah, sebagaimana Rasulullah saw. pernah berpesan dalam haditsnya,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa itu adalah ibadah.” (HR Turmudzi)

Lalu, beliau pun membaca firman Allah berikut ini.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادۡعُونِي أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ

Dan Tuhanmu berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS Ghâfir [40]: 60)

Allah juga berfirman,

اَمَّنۡ يُجِيبُ الۡمُضۡطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكۡشِفُ السُّوءَ

”Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan ….” (QS al-Naml [27]: 62)

Dalam haditsnya, Rasulullah saw. juga bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ الدُّعَاءِ

”Tiada yang lebih mulia bagi Allah, kecuali doa.” (HR Turmudzi dan Ahmad)

Betapa kasih dan sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Dia akan berikan apa yang diinginkan hamba-Nya. Ini adalah janji Allah bagi orang-orang yang beriman. Begitulah cara doa agar cepat terkabul.

Subhanallah.

Dalam ajaran agama, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika seorang hamba berdoa, ingin meminta kepada Rabbnya.

1. Berdoalah di waktu-waktu yang diistijabah oleh Allah

Seperti pada bulan Ramadhan, hari Arafah, hari Jum’at, di waktu sahur (di akhir malam), hari-hari sepuluh terakhir bulan Zulhijjah, waktu di antara azan dan iqamah, ketika sujud, ketika menghadapi musuh, ketika mendengar suara kokokan ayam, setelah selesai shalat wajib, dan lain sebagainya. Banyak hadits yang dapat dijadian sandaran tentang hal tersebut. Misalnya hadits Rasulullah saw. ini.

الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

”Doa yang tidak ditolak adalah di antara azan dan iqamah” (HR Abu Dawud,Turmudzi, dan Ahmad)

Hadits lainnya juga menyatakan

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

”Seorang hamba lebih dekat dari Tuhannya ketika ia sujud maka perbanyaklah doa” (HR Muslim)

2. Mengangkat kedua tangan ketika berdoa

Diriwayatkan dari Umar bin  Khattab, ia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَعَا رَفَعَ يَدَيْهَ

”Jika Rasulullah saw. berdoa, ia mengangkat kedua tangannya.” (HR Hakim)

3. Meminta dengan penuh pengharapan dan mengulanginya hingga tiga kali

Abdullah bin Mas’ud berkata

وَكَانَ إِذَا دَعَا دَعَا ثَلَاثًا وَإِذَا سَأَلَ سَأَلَ ثَلَاثًا

”Jika Rasulullah saw. berdoa, beliau akan berdoa hingga tiga kali. Jika beliau meminta, beliau akan meminta tiga kali”(HR Muslim)

Syarat lain yang dapat membuat doa menembus langit dan menjadi terkabul adalah kesungguhan dalam berdoa kepada Allah dan yakin akan terkabulnya doa yang dipanjatkan. Ketika kita berdoa, hati kita harus yakin bahwa Allah mendengar setiap permohonan yang keluar dari lisan kita dan Dia pasti akan mengabulkannya. Jangan lupa, keyakinan itu harus kita iringi dengan kesungguhan dan kebulatan tekad.

Jangankan dalam hal berdoa, bahkan dalam perkara yang lain pun jika kita menginginkan keberhasilannya, kita harus yakin terlebih dahulu. Orang yang ingin mencapai cita-citanya, tetapi dia tidak yakin dengan kemampuan dirinya, dapat dipastikan ia akan gagal dalam meraih impiannya itu. Orang yang ingin sembuh dari penyakit, lalu dia pergi ke dokter dan rutin mengonsumsi obat, tetapi dia tidak yakin usahanya itu akan mendatangkan kesembuhan, tentu saja dia tidak akan sembuh. Berapa banyak keberhasilan yang menurut pemikiran kita sangat mustahil untuk mencapainya, tetapi karena kita yakin dan sungguh-sungguh menggapainya, keberhasilan itu pun dapat kita capai.

Oleh karena itu, dalam salah satu sabdanya, Rasulullah menyebutkan:

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإجَابَةِ

Berdoalah kepada Allah dan kalian harus yakin bahwa doa akan dikabulkan Allah.(HR Turmudzi)

Jika kita masih merasa kurang yakin dengan terkabulnya doa maka tanyakan kepada diri masing-masing: apa penyebabnya, apakah karena kita tidak percaya dengan janji Allah? Ataukah karena kita kurang memahami agama sehingga kita pun tidak mengenal baik siapa Tuhan kita yang sebenarnya??

Berhati-hatilah, terkadang setan dengan cepat merasuki jiwa dan mengembuskan rayuan mautnya ke dalam hati kita. Pada saat kita mulai berdoa, setan pun mulai menyusupkan keragu-raguan ke dalam hati sehingga menyebabkan kita bertanya-tanya dalam hati, “Apakah Allah mendengarkan doaku, apakah Dia mengabulkannya? Mungkinkah doaku dikabulkan-Nya?”

Padahal, berapa banyak nikmat yang ada di hadapan kita ketika kita sedang berdoa. Bukankah semua nikmat itu buah dari doa-doa yang seringkali kita panjatkan? Sayangnya kita kurang menyadarinya.

Wahai pembaca yang budiman! Ingatlah bahwa dalam doa terdapat kepasrahan, ketundukan, dan kekhusyu’an yang luar biasa dari seorang hamba sehingga Allah begitu menyenanginya. Itu juga yang menjadi penyebab setan begitu giat dan gigih menghalangi manusia untuk senantiasa berdoa. Tanpa disadari oleh manusia itu sendiri, setan telah berhasil menyusupkan perasaan ragu dan tidak yakin akan terkabulnya doa—dalam hati manusia ketika mereka berdoa. Oleh karena itu, bulatkan tekad kita dalam berdoa, yakinlah bahwa tidak ada satu pun doa kita yang menjadi sia-sia.

Pada saat kita berdoa, mintalah dengan yakin dan penuh percaya diri bahwa doa kita akan dikabulkan Allah. Ketika kita berdoa, janganlah hanya melihat kepada diri kita yang lemah dan hina di hadapan-Nya sehingga merasa doa kita tidak pantas untuk dikabulkan. Namun, lihatlah juga kebesaran, rahmat, dan kasih sayang Allah kepada kita! Sebab, hal itulah yang akan membuat diri kita menjadi optimis dalam berdoa dan selalu merasa ingin dekat dengan Allah Yang Maha Pemberi nikmat.

Ingatlah bahwa sebesar apa pun dosa kita, ampunan dan rahmat Allah justru lebih besar dan lebih luas daripada dosa kita itu. Dosa kita tetap saja kecil di hadapan Allah dibandingkan dengan sifat-Nya yang Maha Pengampun dan Maha Pemurah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Jabir bin Abdullah dari ayahnya, dan dari kakeknya, ia berkata, “Seorang laki-laki datang menghadap Nabi e dan berkata, ‘Celakalah aku, alangkah banyaknya dosaku!’ Ia mengulangi kata-kata itu sebanyak dua hingga tiga kali. Lalu Rasulullah e bersabda, ‘Bacalah doa ini,

اللهُمَّ مَغْفِرَتُكَ أَوْسَعُ مِنْ ذُنُوبِي، وَرَحْمَتُكَ أَرْجَى عِنْدِي مِنْ عَمَلِي

“Ya Allah Ya Tuhanku! Ampunan-Mu lebih luas daripada dosa-dosaku, rahmat-Mu lebih aku harapkan daripada amal-ibadahku.” Laki-laki itu pun mengucapkan doa itu. Kemudian beliau bersabda, ‘Ulangilah bacaan doa itu!‘ Si laki-laki kembali mengulangi doanya. Rasul kembali bersabda, ‘Ulangilah kembali!’ Si laki-laki kembali mengulangi doanya. Kemudian, beliau bersabda, ‘Bangunlah, Allah telah mengampuni dosa-dosamu.'”

Apakah kita masih merasa tidak pantas berdoa karena dosa-dosa yang telah kita lakukan? Bertobat dan berdoalah, Allah pasti mengampuni dosa kita.

Di samping yakin, hendaknya kita berdoa dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita berdoa, tetapi seakan-akan kita memberikan pilihan kepada Allah; mau mengabulkan doa atau tidak. Karena tidak ada satu pun yang dapat memaksa Allah apabila Dia telah berkehendak. Sebagaimana yang tersebut di dalam sabda Rasulullah,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمْ فِي الدُّعَاءِ، وَلاَ يَقُلِ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

“Apabila seseorang di antara kalian berdoa, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam doanya itu, dan janganlah dia mengatakan: ‘Ya Allah, jika Engkau suka, berikanlah aku!’ Karena tidak ada seorang pun yang bisa memaksa Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda,

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ ليِ إِنْ شِئْتَ, اللَّهُمَّ ارْحَمْنيِ إِنْ شِئْتَ, لِيُعْزِمَ فيِ الدُّعَاءِ فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ صَانِعٌ مَاشَاءَ لاَ مُكْرِهَ لَهُ.

“Apabila kamu berdo’a janganlah berkata, ‘Ya Allah, ampunilah aku kalau Engkau menghendaki, rahmatilah aku kalau Engkau menghendaki dan berilah aku rezeki kalau Engkau menghendaki.’ Hendaklah kamu bermohon dengan kesungguhan hati karena Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya dan tidak ada paksaan terhadap-Nya.” (HR Muslim)

Tentu saja permohonan kita kepada Allah berbeda jauh dengan permohonan kita kepada sesama manusia. Allah adalah Tuhan kita, sementara manusia hanyalah sebatas hamba dan makhluk-Nya. Apabila kita meminta kepada manusia, boleh jadi yang kita mintai merasa terpaksa memberikannya, hanya karena dia merasa segan dan takut atau karena merasa tidak enak dengan permintaan kita. Oleh karena itu, ketika kita meminta kepada manusia, kita sangat membutuhkan kerelaannya sehingga kita berharap dia memberikan pertolongannya tersebut tanpa perasaan terpaksa.

Sementara Allah adalah Tuhan sekalian alam, Dia tidak menyerupai makhluk-Nya ketika memberi. Sebab, Dia adalah Tuhan Yang Mahakaya, lagi Maha Pemurah.

Wahai pembaca yang budiman! Sesungguhnya keyakinan akan dikabulkannya doa dan kesungguhan hati dalam berdoa merupakan syarat utama. Janganlah berdoa apabila kita tidak merasa yakin bahwa doa kita akan dikabulkan Allah. Marilah kita pergunakan kesempatan yang ada untuk berdoa kepada Allah dan yakinlah bahwa doa kita akan dikabulkan.

4. Hendaklah memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Rasulullah saw.

Sebagaimana termaktub dalam hadits Salamah bin Akwa’, ia  berkata,

مَا سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الدُّعَاءَ إِلاَّ اِسْتَفْتَحَهُ (بِسُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى العَلِيُّ الوَهَّابُ )

”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw. memulai doanya, kecuali dengan membaca ’Subhana Rabbi al-A’la al-‘Ali al-Wahhab’.” (HR Ahmad)

5 – Ketika berdoa, dianjurkan menghadap kiblat

Hal ini bersandarkan dari hadits yang menyatakan bahwa ketika Rasulullah keluar untuk melaksanakan shalat Istisqa’, beliau membelakangi orang-orang dan menghadap kiblat. (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

6. Berdoalah dengan khusyu’ dan tawadhu’ atau suara yang pelan

Sebagaimana firman Allah SWT berikut.

ادۡعُوا رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَخُفۡيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الۡمُعۡتَدِينَ

”Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A‘râf [7]: 55)

 

Baca Juga: Dzikir Pagi dan Petang: Arab dan Terjemahannya [LENGKAP]

 

Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat tatkala mereka mengangkat suara ketika berdoa,

إِنَّكُمْ لَيْسَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ

”Sesungguhnya engkau tidaklah berdoa kepada Dzat yang tuli lagi tiada (qaib), tetapi engkau berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Mahadekat, dan Dia bersama kalian” (HR Muslim)

Kalam Allah di dalam al-Qur’an:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55) وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.(QS al-A’râf [7]: 55–56)

Salah satu syarat yang juga menunjang doa kita naik ke langit dan dikabulkan adalah kita berdoa kepada Allah dengan perasaan khusyu’, tunduk, dan menghadirkan seluruh hati kita dalam menghadap Allah. Di samping itu, kita juga menunjukkan (sikap) kefakiran, kemiskinan, dan ketidakberdayaan yang ada dalam diri kita.

Simaklah kalam Allah berikut ini.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ (90)

“Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 90)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah telah menyanjung para nabi-Nya. Allah mengisahkan kepada kita bahwa para nabi memohon kepada-Nya dengan harap cemas, khusyu’, dan tunduk. Itulah bukti kesempurnaan para nabi dalam mengenal Allah.

Berdoa tidaklah cukup sekadar di lisan, tetapi ia juga harus disertai dengan perasaan khusyu’ dan tawadhu’. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan, “Asal mula munculnya doa seseorang adalah dari hati yang paling dalam, sementara lisan hanyalah mengikuti.”

Berkaitan dengan keharusan berdoa dengan hati yang khusu’ ini juga, Rasulullah e telah bersabda,

وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءَ مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lalai (tidak khusyu’).” (HR Turmudzi)

Apa maksud lalai (tidak khusyu’) dalam hadits di atas? Boleh jadi kita berdoa dalam keadaan mengantuk. Bisa juga kita berdoa, tetapi selingi dengan menjawab pertanyaan orang lain dan naudzubillah kalau ternyata ketika doa dipanjatkan kita dan teman kita malah asyik mengobrol (karena doanya diucapkan secara berjamaah). Jika kita berdoa seperti ini, kita termasuk orang yang sombong dan tidak membutuhkan Allah.

Hal lain yang juga sering kita temui, khususnya di negara kita Indonesia, kita sering berdoa, tetapi sayangnya kita tidak memahami arti dari kalimat-kalimat doa yang kita baca tersebut. Sebab, bahasa Arab bukan bahasa asli kita, Yang kita pahami hanya kata-kata, “Ya Allah” dan “Amin”. Atau kita membaca doa yang tertulis dalam buku atau tulisan tertentu, sedangkan kita sama sekali tidak memahami maknanya. Sementara itu, boleh jadi apa yang tertulis dalam buku tersebut salah atau ada hurufnya ada yang kurang.

Wahai pembaca! Berusahalah untuk memahami setiap kata dari doa yang kita ucapkan. Dengan begitu, sedikit demi sedikit hati kita akan hadir. Kita boleh saja berdoa dengan menggunakan bahasa kita sendiri jika itu membuat kita merasa lebih khusyu’, tenang, dan nyaman. Namun, bukankah lebih baik jika kita juga bisa mengutip doa-doa yang tertera di dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah?

Berkenaan dengan khusyu’ dalam berdoa dan pengaruhnya dalam terkabulnya doa, ada ungkapan menarik yang diucapkan oleh salah seorang tâbi’în. Dia berkata di hadapan semua sahabatnya, “Sesungguhnya aku tahu kapan doaku akan dikabulkan Allah.”

Sahabatnya yang lain berkata, “Bagaimana mungkin engkau mengetahuinya?”

Ia menjawab, “Apabila hatiku khusyu’ dan seluruh anggota tubuhku juga khusyu’ serta kelopak mataku penuh dengan air mata; ketika itu aku akan berkata, ‘Doaku akan dikabulkan Allah.'”

Wahai pembaca yang budiman! Lihatlah betapa luar biasanya tabi’in itu dalam berdoa sehingga ia sangat percaya diri bahwa doanya akan dikabulkan Allah! Hal itu bisa terjadi karena ia paham betul bahwa doa yang dipanjatkan dengan hati yang khusyu’ pasti akan dikabulkan Allah. Lantas, apakah kita juga merasakan perasaan yang seperti itu ketika berdoa kepada Allah?

Untuk itu, jika kita ingin merasakan bagaimana khusyu’nya dalam berdoa, marilah kita membayangkan seolah kita berada dalam suatu kejadian yang sangat mengerikan yang mengancam keselamatan jiwa dan raga kita. Setelah kejadian itu, mari kita berdoa kepada Allah!

Bayangkan seandainya kita berada dalam suatu pesawat. Ketika pesawat yang kita tumpangi itu sedang berada di atas ketinggian beberapa puluh ribu kaki saja. Tiba-tiba, terdengar suara mikrofon dari dalam pesawat yang mengumumkan kondisi darurat bahwa sebentar lagi pesawat akan jatuh dan terbakar. Para penumpang dihimbau untuk segera mengenakan parasut masing-masing dan meloncat melalui jendela darurat yang ada di sisi sayap pesawat. Andai saat itu kita punya waktu untuk berdoa, bagaimanakah bentuk doa kita ketika itu? Kita pasti berdoa dengan khusyu’ agar Allah menyelamatkan nyawa kita, bukankah begitu? Ya, beginilah seharusnya seorang muslim berdoa.

Rasakan ketidakberdayaan kita dalam menghadapi bahaya yang mengancam, niscaya Allah akan menyelamatkan kita dari mara bahaya. Bayangkan kemiskinan yang mendera kita, niscaya Allah akan menganugerahkan kepada kita kekayaan. Rasakan kelemahan tubuh kita, niscaya Allah akan menganugerahkan kekuatan kepada diri kita.

7. Berdoalah dengan lafal-lafal yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah

Misalnya lafal:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ

”Ya Allah! Engkau adalah Tuhanku, tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan taat setia kepada janjiku dengan-Mu sekadar kemampuanku, Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang aku lakukan. Aku mengakui di hadapan Engkau atas segala nikmat kurnia-Mu atasku. Aku mengakui dosaku maka ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampunkan dosa, kecuali Engkau.” (HR Bukhari)

8. Memperbanyak ibadah

Salah satu cara doa agar cepat terkabul cepat terkabul adalah memperbanyak ibadah. Mengapa? Karena bila Anda ingin doa agar cepat terkabul, mari kita perhatikan kalam Allah yang sering kita baca ketika melaksanakan shalat.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS al-Fâtihah [1]: 5)

Kalimat iyyâka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah) mengandung  pengertian: “Ya Allah, hanya kepada Engkau kami menyembah dan karena kewajiban untuk beribadah kepada-Mu kami diciptakan. Engkau telah memerintahkan kewajiban tersebut melalui lisan utusan-Mu (Nabi Muhammad) sehingga apa yang beliau sampaikan menjadi pedoman bagi kami dalam beribadah. Hanya kepada Engkau, wahai Tuhan, kami menyembah dan memohon pertolongan di kala kami membutuhkannya.”

Seorang hamba yang taat kepada Allah akan selalu mematuhi segala perintah-Nya dalam segala urusan dan kesempatan, kapan dan di mana pun dia berada. Jadi, amal ibadah yang dia lakukan dengan ikhlas dan hanya berharap ridha-Nya akan diangkat menghadap Allah,

… إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ….

“… Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal kebajikan Dia akan mengangkatnya ….” (QS Fâthir [35]: 10)

Adapun kalimat wa iyyâka nasta’în (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) mengandung pengertian: “Wahai Tuhan, Engkau adalah sumber segala pertolongan. Engkau menolong kami karena kami menyembah-Mu hingga kami merasakan kemudahan dalam beribadah. Kami pun mampu melakukannya. Engkau jugalah yang menolong kami untuk taat kepada-Mu hingga Engkau pun menjauhkan kami dari maksiat serta semua hal yang dapat menyebabkan kami jatuh dalam kemaksiatan, baik perkataan maupun perbuatan.”

Seperti inilah kemuliaan ibadah dan doa sehingga terjadi sebuah mata rantai yang tidak terputus. Ibadah seorang hamba diangkat menghadap Allah dan pertolongan Allah pun turun kepadanya. Bagaimana menurut kita, mana yang lebih dahulu harus kita lakukan, beribadah atau memohon pertolongan?

Al-Qur’an sangat jelas mengisyaratkan, “iyyâka na’budu (hanya kepada-Mu kami menyembah” terlebih dahulu, baru kemudian “iyyâka nasta’în (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).” Pertolongan Allah untuk sang hamba datang setelah dia beribadah (menyembah) kepada-Nya. Jadi, hendaknya kita tidak memohon pertolongan kepada Allah sebelum kita beribadah kepada-Nya.

Sebagian orang ada yang berkata, “Saya tidak tahu mengapa Allah berlepas tangan dariku. Aku berdoa dan Dia tidak mengabulkan doaku. Aku memohon pertolongan dan Dia tidak menolongku.” Orang tersebut bertanya-tanya seolah dia tidak mengetahui apa yang menjadi penyebabnya. Andai saja dia melihat pada dirinya sendiri secara jujur, dia akan mendapati bahwa dirinya telah meminta sebuah hasil tanpa melalui sebab-musabab datangnya hasil tersebut.

Dia meminta pertolongan Allah agar turun kepadanya dan memaksakan hal tersebut tanpa berusaha untuk menjadikan doanya tersebut naik menembus langit dengan cara beribadah dan melakukan ketaatan yang benar. Dia memohon pertolongan kepada Allah, tetapi tanpa melalui ibadah yang baik kepada-Nya. Parahnya lagi dia beranggapan bahwa setelah dia memohon pertolongan kepada Allah, keadaannya pasti langsung berubah menjadi lebih baik.

Ada baiknya kita merenungkan kalam Allah berikut ini.

… إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ….

“… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ….” (QS ar-Ra’d [13]: 11)

Mengenai pesan Allah dalam ayat tersebut, Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah (menghilangkan) musibah yang akan menimpa suatu kaum hingga mereka sendirilah yang mengubah sikap dan keadaan mereka dari perbuatan dosa. Oleh karena itu, tidak akan ada perubahan menuju keadaan yang lebih baik sebelum mereka bertekad melakukan perubahan terlebih dahulu pada diri mereka, yaitu meninggalkan perbuatan maksiat dan dosa. Demikian salah satu syarat doa agar cepat terkabul.

Ibadah yang merupakan bukti keimanan kita kepada Allah tidak cukup hanya dengan melaksanakan ibadah dan ketaatan, tetapi juga harus dibarengi dengan meninggalkan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Allah berkalam,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ (7)

“…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS al-Hujurât [49]: 7)

Al-Fisqu atau al-Fusûq (kefasikan) adalah mengerjakan apa yang menjadi larangan Allah. Sedang al-’Ishyân (kemaksiatan) adalah meninggalkan (tidak mengerjakan) apa diperintahkan Allah. Sebagai contoh, Allah telah melarang atau mengharamkan kita untuk minum khamar maka siapa saja yang meminumnya, dia adalah orang yang fasik. Allah juga telah memerintahkan kita untuk mengerjakan shalat, siapa yang tidak mengerjakannya maka dia termasuk orang yang berbuat maksiat.

Di samping melaksanakan ibadah yang bersifat wajib, hal lain yang juga menjadi syarat cara agar cepat terkabul adalah melaksanakan (memperbanyak) ibadah yang bersifat sunnah (nawâfil). Sebab, ibadah sunnah merupakan pelengkap dan penyempurna dari ibadah-ibadah yang bersifat wajib. Demikian salah satu syarat doa agar cepat terkabul.

Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. disebutkan,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِليَّ بِالنَّوَافِلِ حَتىَ أُحِبَّهُ, فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ, كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتيِ يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتيِ يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنيِ لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اِسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ.

“Apabila seorang hamba-Ku berusaha melaksanakan amalan-amalan sunnah, yang dengannya dia mendekatkan dirinya kepada-Ku, Aku akan mencintai dirinya. Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi kekuatan pada pendengarannya, dengannya dia bisa mendengar. Aku akan menjadi kekuatan pada penglihatannya, yang dengannya dia dapat melihat. Aku akan menjadi kekuatan pada tangannya, yang dengannya dia kuat memukul. Dan Aku akan menjadi kekuatan pada kakinya, yang dengannya dia mampu berjalan. Apabila dia meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan apa yang dimintanya, dan ketika dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun akan melindungi dirinya.” (HR Bukhari)

9. Berdoalah dengan Ikhlas dan Hanya Berharap Ridha Allah

Salah satu syarat doa agar cepat terkabul adalah ketulusan dan keikhlasan kita dalam memanjatkan doa. Di samping itu, keterpautan hati kita kepada Allah dan kesadaran dalam hati bahwa kita hanya membutuhkan pertolongan dari Allah, bukan dari selain-Nya termasuk syaratnya juga. Sebagaimana yang telah dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (14)

“Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).” (QS Ghâfir [40]: 14)

وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“… dan mereka mengira telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa dengan tulus ikhlas kepada Allah semata ….” (QS Yûnus [10]: 22)

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a,. Rasulullah bersabda,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Jika engkau meminta,  mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Ahmad dan Turmudzi)

Oleh karena itu, ketika kita berdoa, hendaknya didasari oleh perasaan ikhlas dan tulus serta hanya berharap ridha Allah. Dengan begitu, tampaklah bahwa hati kita benar-benar terpaut hanya kepada-Nya sehingga doa yang kita panjatkan pun menjadi terkabul.

***

Demikian pembahasan tentang doa agar cepat terkabul. Berdoa kepada Allah adalah memohon keridaan-Nya agar berkenan mengabulkan permintaan-permintaan kita. Hal ini harus dilakukan dengan setulus dan sepenuh hati, tidak dengan canda dan bersenda gurau. Semoga dengan hal tersebut, doa yang kita panjatkan kepada-Nya akan diistijabah dan pembahasan kita mengenai doa agar cepat terkabul dengan demikian semoga bisa menjadi manfaat. Amin.

Selain pembahasan mengenai doa agar cepat terkabul dalam pembahasan ini, pembaca juga bisa membaca postingan-postingan lain mengenai doa di dalam kategori ini: DOA & DZIKIR.

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.