Cara Menumbuhkan Sifat Kesatria

Syaja’ah artinya adalah keberanian hati dan diri ketika menghadapi hal-hal yang sulit. Kisah hidup Rasulullah saw. dan para sahabat adalah kisah orang-orang pemberani yang tidak pernah takut atau gentar menghadapi kesulitan dan berbagai ancaman. Sebuah riwayat menyatakan bahwa para sahabat selalu berlindung di dekat Rasulullah saw. tatkala perang. Mereka (para sahabat) selalu menjadikan Rasulullah saw. di depan barisan. Ali Karamallah Wajhah berkata, ”Setiap kali kami dalam peperangan, kami selalu berlindung kepada Rasulullah.Tidak ada seorang pun di antara kami yang begitu dekat dengan musuh, kecuali Rasulullah saw.”

Sahabat Rasulullah, al-Barra’ juga memberikan kesaksiannya, ia berkata, ”Jika kami dalam peperangan, kami berlindung kepada Rasulullah saw. Ketika Perang Hunain berkecamuk, banyak kaum muslim yang lari tunggang langgang, ada yang terbunuh, dan ada pula yang terluka. Namun demikian, Rasulullah saw. tetap tidak bergeming dari tempatnya. Beliau terus menghujamkan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Lalu, beliau pun bersuara dengan lantang, ”Aku adalah nabi yang tidak berdusta, aku adalah keturunan Abdul Mutalib.” Ketika para sahabat mendengar suara ini, keberanian mereka pun dating kembali hingga dan merapat ke Rasulullah saw. untuk berperang. Akhirnya, kaum muslimin pun menang. Demikianlah keberanian Rasulullah dalam berperang, keberanian beliau menjadi contoh bagi para sahabat dan mereka mempelajarinya dari beliau.

Banyak riwayat yang menceritakan tentang keberanian para sahabat. Di antaranya adalah kisah Ali bin Abi Thalib yang berani untuk tidur di atas kasur Rasulullah ketika beliau pergi berangkat hijrah ke Madinah, padahal ia mengetahui risiko apa yang akan ia terima jika para kafir Quraisy datang dengan pedang terhunus.

Ada beberapa macam keberanian yang dikenal dalam ajaran Islam.

Pertama, keberanian dalam menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.

Rasulullah saw. selalu menyeru pada kebaikan dan melarang kemungkaran dan kemaksiatan. Allah SWT berfirman, Arab 199

الَّذِينَ إِنۡ مَكَّنَّاهُمۡ فِي الۡأَرۡضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡا عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الۡأُمُورِ

(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS al-Hajj [22]: 41)

Hadits dari Abu Dzar, ia berkata, Arab 200

… وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا ….

… dan (Rasulullah saw.) menyuruhku untuk berkata benar walaupun hal itu pahit.”(HR Ahmad).

Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang lain, Arab 201

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

”Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim)

 

Kedua, keberanian dalam menuntut ilmu.

Seorang muslim hendaklah memiliki keberanian untuk menuntut ilmu di mana pun ilmu itu harus dicari. Sebab, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seluruh muslim dan muslimah. Para sahabat selalu belajar kepada Rasulullah saw., bertanya dan meminta penafsiran apa yang mereka tidak ketahui tanpa malu-malu.

 

Ketiga, keberanian dalam mengakui kesalahan. Seorang muslim harus mengakui kesalahan yang ia perbuat dan berani untuk bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Kemudian, ia harus menyesali perbuatannya dan bertaubat atasnya. Nabi Adam a.s. adalah salah satu contoh nabi yang berani mengakui kesalahannya karena melanggar perintah Allah, yaitu larangan memakan buah khuldi. Nabi Adam a.s. segera bertaubat, memohon ampunan Tuhannya. Demikian pula dengan kisah Nabi Yunus a.s. yang ditelan ikan hiu, lalu beliau pun memohon ampunan Tuhannya dengan doanya, ”Lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu min al-zâlimîn” (Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya diriku adalah orang-orang yang zalim).

 

Keempat, keberanian dalam berperang.

Banyak sekali ayat yang memerintahkan kaum muslim agar menyiapkan diri mereka menghadapi peperangan. Ayat-ayat berikut ini menunjukan bahwa seorang muslim haruslah memiliki mental yang kuat untuk berperang, sebagaimana firman Allah SWT berikut. Arab 202

وَأَعِدُّوا لَهُمۡ مَا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِنۡ قُوَّةٍ وَمِنۡ رِبَاطِ الۡخَيۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَآَخَرِينَ مِنۡ دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ اللّٰهَ يَعۡلَمُهُمۡ وَمَا تُنۡفِقُوا مِنۡ شَيۡءٍ فِي سَبِيلِ اللّٰهِ يُوَفَّ إِلَيۡكُمۡ وَأَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). (QS al-Anfâl [8]: 60)

 

Seorang muslim harus menjadikan keberanian sebagai sifat yang terpatri dalam jiwanya. Keberanian sangat identik dengan kekuatan, sedangkan ketakutan sangat identik dengan kelemahan. Allah SWT sangat cinta kepada orang-orang yang kuat (pemberani) daripada yang lemah (penakut). Rasulullah saw. bersabda, Arab 203

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

”Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah ….” (HR Muslim)