Cara Menjaga Kemuliaan Diri

Kemuliaan diri sering disebut juga dengan istilah ‘izzatu an-nafsi. Kemuliaan diri dalam ajaran Islam adalah menjauhkan diri dari kehinaan. Allah SWT memerintahkan umat muslim untuk menjaga kemuliaan dirinya, tidak tunduk dan patuh kepada apa pun, kecuali kepada-Nya karena tunduk dan patuh hanyalah kepada Allah SWT. Seorang muslim, dirinya menjadi mulia karena agama dan Tuhan-Nya. Kemuliaan diri yang diperoleh seorang muslim hanyalah untuk menggapai rida Allah.

Sebuah ungkapan menyatakan bahwa barang siapa yang ingin mencapai kemuliaan diri tanpa tunduk dan menaati Allah SWT maka Dia akan menghinakan dirinya. Amir Mukminin, Umar bin Khattab pernah berkata, ”Dahulu kami adalah orang-orang yang hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka jika kami mencari kemuliaan diri tanpa diri-Nya, kami akan dihinakan-Nya.”

Sebuah riwayat menceritakan bahwa ketika terjadi peperangan antara kaum muslimin dan Persia, Rustum, pemimpin Persia, meminta kaum muslimin untuk berdamai dengannya. Lalu, Sa’ad bin Abi Waqash sebagai komandan perang pun meminta Rib’i bin ‘Amir untuk berangkat menuju Persia guna menyampaikan tuntutan-tuntutan kaum muslimin. Sesampainya di istana Persia, ia masuk dengan menunggang kudanya di atas sebuah permadani yang begitu mewah. Melihat hal ini, seluruh pasukan Persia memintanya untuk turun dari kudanya. Namun, Rab’i menolaknya, ia berkata dengan penuh kemuliaan, ”Aku datang kepada kalian bukan karena keinginan diriku, tetapi kalianlah yang mengundangku. Jika kamu sekalian rela dengan keberadaanku–aku akan tetap disini, tetapi jika tidak, aku akan kembali. Orang-orang Persia pun akhirnya menerima alasan Rib’i meskipun mereka hampir marah kepadanya.

Menjaga kemuliaan diri adalah wajib bagi setiap muslim dengan tidak mengikuti orang-orang yang mengumbar hawa nafsunya. Membela harkat dan martabat diri, menjaga harta dan keluarga dari segala sesuatu yang menyesatkan juga merupakan kemuliaan diri. Seorang muslim tidak dibenarkan untuk merendahkan diri sendiri, ia wajib mempertahankan kemuliaan dirinya meskipun harus dibayar dengan kematian.

Berkaitan dengan ini, ada sebuah hadits yang meriwayatkan tentang seorang laki-laki yang datang menghadap Rasulullah saw. Laki-laki itu berkata, Arab 183

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي قَالَ فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي قَالَ قَاتِلْهُ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي قَالَ فَأَنْتَ شَهِيدٌ قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ هُوَ فِي النَّارِ

”Wahai Rasulullah, apakah pendapatmu jika ada seseorang datang ingin mengambil hartaku?” Rasul bersabda, ”Jangan engkau kasihkan hartamu.” Laki-laki ini berkata, ”Apakah pendapatmu wahai Rasulullah, jika ia hendak membunuhku?” Rasulullah bersabda, ”Engkau bunuh juga ia.” Laki-laki itu berkata lagi, ”Bagaimana jika aku terbunuh.” Rasulullah bersabda, ”Engkau akan mati syahid.” Laki-laki itu berkata laki, ”Apa pendapatmu wahai Rasulullah, jika aku membunuhnya?” Rasulullah bersabda, ”Ia akan masuk neraka.”  (HR Muslim)

Demikianlah seharusnya kehidupan seorang muslim yang menjaga kemuliaan dirinya. Seorang muslim harus kuat dalam menjaga kemuliaan dirinya, kemuliaan agamanya, dan kemuliaan negaranya. Ia harus berbuat, bekerja, harus sungguh-sungguh hingga akhirnya ia memiliki kekuatan. Orang yang lemah pasti tidak memiliki kemuliaan diri karena ia cendrung berharap dan meminta kepada orang lain.