Cara Menggapai Ridha Allah

Dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang berbicara tentang rida, di antaranya: Arab 20

قَالَ اللّٰهَ هَذَا يَوۡمُ يَنۡفَعُ الصَّادِقِيۡنَ صِدۡقُهُمۡ لَهُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِيۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهَارُ خَالِدِيۡنَ فِيۡهَا اَبَدًا رَضِيَ اللّٰهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُوۡا عَنۡهُ ذٰلِكَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُ

Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS al-Mâ’idah [5]: 119)

 

Allah SWT juga berfirman, Arab 21

وَعَدَ اللّٰهَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَالۡمُؤۡمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِيۡ مِنۡ تَحۡتِهَا الۡاَنۡهَارُ خَالِدِيۡنَ فِيۡهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِيۡ جَنّٰتِ عَدۡنٍ وَرِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكۡبَرُ ذٰلِكَ هُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِيۡمُ

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (QS at-Taubah [9]: 72)

 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani disebutkan: Arab 22

إِنَّ اللهَ يَتَجَلَّى لِلْمُؤْمِنِيْنَ فَيَقُوْلُ سَلُوْنِى فَيَقُوْلُوْنُ رِضَاكَ

”Sesungguhnya Allah bertajalli bagi orang-orang mukmin. Kemudian, Dia berkata,”Mintalah engkau kepada-Ku”. Mereka berkata, ”Rida-Mu.” (HR al-Bazzar dan Thabrani)

 

Rasulullah saw.  juga bersabda, Arab 23

وَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الرِّضَا وَالْيَقِينِ، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحَزَنَ فِي السَّخَطِ

”Sesungguhnya Allah dengan kehikmahan-Nya telah menjadikan ruh dan kesenangan dalam keridaan dan keyakinan serta menjadikan rasa kekhawatiran dan kesedihan dalam kemurkaan.” (HR Thabrani)

Imam Junaidi menyatakan bahwa rida adalah kebenaran ilmu yang sampai kepada hati. Ibnu Atha’illah menyatakan bahwa rida adalah tenangnya hati terhadap ikhtiar Allah bagi hamba yang bersifat qadim karena Allah telah memilihkan untuk hamba-Nya sesuatu yang terbaik untuknya. Akhirnya, manusia harus rida kepada-Nya dan tidak murka.

Imam al-Ghazali menyatakan bahwa rida merupakan buah dari mahabbah, yaitu salah satu maqamat para muqarrabin yang tertinggi. Ini pada hakikatnya tidak diketahui oleh orang kebanyakan. Zunnun berpendapat bahwa rida itu adalah menerima tawakal dengan kerelaan hati. Adapun tanda-tanda orang yang sudah rida–masih menurut Zunnun–itu ada tiga, yaitu mempercayakan hasil usaha sebelum terjadi ketentuan, lenyapnya rasa gelisah sesudah menjadi ketentuan, dan cinta yang bergelora ketika turunnya musibah.

Dalam Kasyful Mahjub, al-Hujwiri menyatakan bahwa rida terbagi dua. Pertama, rida Allah kepada hamba-Nya. Kedua, rida hamba kepada Allah SWT. Hakikat ridanya Allah kepada hamba-Nya adalah iradah-Nya atas pahala, nikmat, dan karamahnya yang dianugerahkan kepada manusia. Hakikat rida hamba kepada Allah adalah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya disertai dengan rasa ketaatan atas segala ketententuan-ketentuan-Nya. Rida Allah lebih utama daripada ridanya seorang hamba karena jika saja Allah tidak memberikan taufik-Nya kepada hamba-Nya, niscaya hamba tersebut tidak akan dapat mematuhi ketentuan-ketentuan Allah SWT dan tidak pula dapat melaksanaan perintah-perintah-Nya. Dengan demikian, rida seorang hamba sangat terkait dengan rida Allah SWT. Dengan rida, seorang manusia akan terlepas dari rasa kekhawatiran yang terdapat dalam dirinya, menghapuskan dari hatinya untuk berpikir kepada yang lain, serta membebaskan manusia dari ikatan-ikatan di luar dirinya. Hakikat keridaan manusia itu adalah keridaannya kepada ilmu Allah serta keyakinannya bahwa Allah melihatnya dalam setiap segala kondisi. Kelompok orang yang rida seperti ini terbagi menjadi empat golongan. Pertama, golongan orang-orang yang rida kepada Allah atas anugerahnya-Nya, yaitu makrifat. Kedua, golongan orang-orang yang rida dengan segala nikmat, yaitu dunia. Ketiga, golongan orang-orang yang rida dengan musibah, yaitu berbagai ujian. Keempat, golongan orang-orang yang rida dengan pilihan, yaitu mahabbah (cinta).

Ibnu Athaillah menyatakan bahwa orang yang tidak rida tidak akan merasakan manisnya iman. Keimanan orang yang tidak rida sama dengan sebuah gambar yang tidak ada ruh di dalamnya. Hal yang tampak hanya wujud zahirnya, tidak ada wujud batinnya. Adapun orang yang rida, ia akan meridai Allah sebagai Tuhannya, pasrah kepada-Nya, patuh kepada aturan-aturan-Nya, dan menyerahkan urusannya kepada-Nya. Orang yang rida akan mendapatkan kenikmatan hidup serta ketenangan diri karena kepasrahannya. Seorang salik yang rida kepada Allah sebagai Tuhan-Nya maka Allah pun akan rida pula kepadanya, sebagaimana firman Allah: ”Allah meridai mereka dan mereka juga rida kepada-Nya.” Orang yang rida kepada dirinya, pasti akan rida kepada Allah SWT. Keridaanlah yang menjadi sumber kehidupan serta aktivitasnya. Keridaan akan memberikan kebahagian  dan kesehatan jiwa.

Ketika al-Muhasibi ditanya tentang jalan menuju rida, beliau menjawab, ”Hati mengetahui bahwa Allah telah adil dalam qadha-Nya. Sungguh, pilihan Allah lebih baik bagi dirinya daripada pilihan dirinya. Ketika itu akal pun akan jernih, hati pun akan meyakini, jiwa akan mengetahui, serta ilmu juga akan mengukuhkannya. Sesungguhnya Allah memberlakukan masyi’ah-Nya (keinginan-Nya) berdasarkan atas ilmu-Nya. Hal tersebut adalah baik untuk hamba-Nya  dalam pilihan-Nya dan kecintaan-Nya. Hati pun mengetahui bahwa keadilan hanyalah berasal dari yang Maha Esa, yang tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya.”

Dalam nasihat panjangnya tentang rida, Syekh Abdul Qadir Jailani berkata, ”Barang siapa yang ingin rida dengan ketentuan Allah SWT, hendaklah ia selalu mengingat mati karena mengingat mati dapat meringankan musibah atau bencana. Janganlah salah sangka terhadap-Nya atas musibah yang menimpa diri, harta, dan keluargamu. Katakanlah, ’Tuhanku lebih mengetahui daripada aku sendiri’. Jika kamu selalu demikian maka kelezatan rida akan datang kepadamu dan pohon bencana serta cabang-cabangnya akan hilang. Bahkan, kamu akan mendapatkan ganti berupa kenikmatan dan kerelaan ketika menerima bala’ itu sehingga kebahagian akan menghampirimu dari segala penjuru.”