Cara Berdoa Sesuai Ajaran Islam yang Benar

Cara Berdoa Sesuai Ajaran Islam – Sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk memperhatikan dan mengikuti cara berdoa sesuai ajaran Islam. Doa yang dipanjatkannya demikian akan dapat naik ke langit dan menjadi terkabul.

Sehubungan dengan cara dalam berdoa ini, Imam Tharthusi berkata, “Ketahuilah bahwa doa memiliki etika-etika tertentu dan syarat-syarat yang berlaku. Siapa yang melaksanakannya dengan baik dan benar, dapat dipastikan doanya akan terkabul atau apa yang ia minta akan diberikan Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak menghiraukan syarat dan etika dalam berdoa, bahkan meninggalkannya, ia akan makin jauh dari Allah dan doanya pun makin jauh untuk dikabulkan-Nya.”

Oleh karena itu, siapa pun dari kita yang berdoa dan benar-benar berharap jawabannya dari Allah, hendaklah dia mengamalkan hal-hal yang dapat membuat doanya terkabul serta memperhatikan waktu dan tempat yang mustajab sebagaimana yang telah kita jelaskan sebelumnya. Di samping itu, dia juga harus mengikuti beberapa cara berdoa sesuai ajaran Islam berikut ini.

 

1. Bertobat dan beristighfar sebelum berdoa

Pengakuan seorang hamba atas dosa dan kelalaian yang telah ia lakukan sehingga membuat ia benar-benar merasa hina dan lemah di hadapan Allah, Sang Maha Pencipta, ketika berdoa merupakan salah satu kunci terkabulnya doa. Doa pun akan cepat terkabul manakala orang yang berdoa berhasil melepaskan dirinya dari maksiat, yaitu dengan cara bertobat dan mengucapkan istigfar (permohonan ampun) kepada Allah.

Apakah kita mau mengenakan pakaian kotor tanpa terlebih dahulu mencucinya? Begitu juga halnya dalam berdoa, hendaknya kita meneteskan air mata penyesalan terlebih dahulu guna mencuci hati kita dari dosa dan memulainya dengan tobat dan istigfar.

Seringkali kita tidak membersihkan pakaian sejak pertama kali, kotoran pun menjadi menumpuk. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi kita untuk menggunakan “deterjen” terbaik dan kita tidak akan mendapati deterjen terbaik dan terjamin kwalitasnya selain air mata penyesalan tersebut.

Dengan demikian, tobat dan istigfar merupakan etika terpenting dalam berdoa. Karena alasan itu pula Allah mengabari kita betapa para nabi dan rasul-Nya sangat menganjurkan orang-orang yang beriman untuk bertobat dan beristigfar kepada Allah. Perhatikan kalam Allah berikut ini yang menceritakan tentang nikmat yang dikaruniai Allah untuk Nabi Nuh a.s.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12) مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13)

Maka aku berkata (kepada mereka), ”Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?  (QS Nûh [71]: 10—13)

Begitu juga kalam Allah,

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ (52)

Dan (Hud berkata), Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” (QS. Hûd [11]: 52)

 

2. Berdoa dalam keadaan suci

Doa adalah ibadah. Kedudukan doa sama dengan kedudukan ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, azan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, disunnahkan berwudhu’ sebelum melaksanakannya.

Di samping itu, ada juga hadits Rasulullah yang diriwayatkan Abu Musa al-Asyari ketika ia mengisahkan mengenai syahidnya Abu Amir—paman Abu Musa al-Asy’ari yang telah mati syahid dalam Perang Hunain—ia meminta Rasulullah untuk mendoakannya. Rasulullah pun memintanya untuk membawakan air, kemudian berwudhu’, beliau mengangkat tangan dan berdoa.” (HR Bukhari)

Namun, anjuran bersuci ketika berdoa ini, bukan berarti menjadi penghalang bagi Anda untuk berdoa, jika memang Anda tidak memiliki wudhu’. Begitu juga dengan wanita yang sedang haid, tidak ada halangan baginya untuk tidak berdoa, begitu juga dengan orang yang sedang berhadas kecil atau pun besar, semua bisa berdoa. Dalam hadits riwayat sayyidah Aisyah ra disebutkan bahwa Rasulullah berzikir kepada Allah di setiap waktunya, sementara zikir adalah bagian dari doa.

 

3. Mengangkat kedua tangan dan mengusapkannya ke wajah ketika selesai berdoa

Di antara cara berdoa sesuai ajaran Islam adalah mengangkat kedua tangan ke arah langit dan mengusapkannya ke wajah ketika selesai berdoa. Di dalam sebuah hadits disebutkan:

سَلُوا اللَّهَ بِبُطُوْنِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوْهُ بِظُهُوْرِهَا فَإِذَا فَرَغْتُمْ فَامْسَحُوْا بِهَا وُجُوْهَكُمْ.

“Mintalah kepada Allah dengan menggunakan kedua telapak tangan kalian dan janganlah berdoa dengan punggung kedua telapak tangan. Jika kalian telah selesai berdoa, usaplah kedua telapak tangan itu ke wajah kalian.” (HR Abu Dawud)

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda,

إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِّئٌ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ فَيَرُدُّهُمَا صِفْرًا

“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Dzat Yang Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia akan malu apabila seorang hamba mengangkat tangan (berdoa kepada-Nya) lalu dia  menarik tangannya kembali dengan sia-sia (doanya tidak terkabul).” (HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Mengangkat kedua belah tangan merupakan salah satu faktor yang dapat membuat hati makin khusyu’ dan tunduk ketika berdoa. Berapa banyak orang yang berdoa, tetapi tidak merasakan nikmatnya berdoa, kecuali apabila mereka berdoa sambil mengangkat kedua tangannya ke arah langit. Jadi, mereka benar-benar merasakan kebesaran Sang Khalik dan kelemahan  diri mereka sebagai makhluk.

Ini jugalah yang dilakukan Rasulullah ketika beliau berdoa. Beliau mengangkat kedua tangan ke arah langit hingga tampak ketiak beliau.

Lihatlah kedua tangan kita saat terangkat ke arah langit! Rasakan gerakan dua bola mata kita, nikmati rintihan yang keluar dari dua bibir kita! Semua itu merupakan perilaku seorang hamba ketika memohon kepada Tuhannya.

 

4. Menghadap ke arah kiblat di saat berdoa

Allah berkalam,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Baqarah [2]: 144)

Ketika berdoa kita dianjurkan untuk menghadap ke arah kiblat. Banyak sekali dalil yang menyebutkan bahwa ketika berdoa Rasulullah menghadap ke arah kiblat. Salah satunya adalah hadits riwayat Abdullah Ibnu Mas’ud, ia berkata,  “Nabi e menghadap ke arah Ka’bah (kiblat) dan berdoa meminta kebinasaan beberapa orang kafir Quraisy; Syaibah bin Rubai’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, Walid bin ‘Utbah, dan Abu Jahal bin Hisyam. Demi Allah, aku bersumpah, aku melihat mereka berjatuhan (lantaran doa yang dipanjatkan Nabi).” (HR Bukhari)

Hadits lain juga menyebutkan ketika Nabi berdoa memohon turun hujan beliau menghadap kiblat, kemudian berdoa.

Menghadap kiblat hanya sebatas hal yang disunnahkan dan diutamakan dalam berdoa karena ia termasuk etika dalam berdoa. Oleh karena itu, kita tetap saja boleh berdoa meskipun tidak menghadap ke arah kiblat.

Allah berkalam,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (115)

“Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 115)

Di dalam hadits juga disebutkan bahwasanya Rasulullah ketika beliau memberikan khotbah dalam posisi menghadap hadirin (membelakangi kiblat), lalu beliau berdoa dengan posisi yang tetap menghadap mereka. Yang terpenting, jangan sampai kita berdoa menghadap ke arah kuburan, pepohonan, atau segala sesuatu yang dianggap keramat karena itu termasuk perbuatan syirik.

 

5. Mengawali doa dengan kalimat tahmid (kata-kata pujian terhadap Allah)

Lihatlah bagaimana Allah mengajari kita tata cara berdoa kepada-Nya dengan baik dan benar. Sebelum berdoa, kita diperintahkan untuk memuji atau bertahmid kepada Allah, sebagaimana yang tertera di dalam Surah al-Fatihah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan.(QS al-Fâtihah [1]: 1—4)

Semua ayat-ayat itu merupakan ungkapan pujian dalam mengagungkan asma’ Allah. Ayat selanjutnya,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.(QS al-Fâtihah [1]: 5)

Ayat di atas menjelaskan sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman, yaitu perasaan tunduk (taat), merasa lemah dan tidak berdaya di hadapan Allah. Lalu, barulah berdoa,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (6) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّيْنَ (7)

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS al-Fatihah [1]: 6—7)

Di samping itu, ada juga sebuah hadits yang diriwayatkan sahabat Anas r.a., ia mengatakan bahwa seorang laki-laki berdoa,

اللَّهُمَّ إِنيِّ أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لاَ اِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيْعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, sesungguhnya bagi-Mu-lah segala pujian, tiada tuhan selain Engkau, Sang Maha Pemberi. Yang menciptakan langit dan bumi, kemuliaan dan kehormatan. Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri!”

Lalu Nabi e bersabda, “Apakah kalian mengetahui dengan apa laki-laki ini berdoa?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Demi diriku yang berada di tangan-Nya, ia telah berdoa dengan nama Allah yang Mahaagung. Jika ia berdoa, pasti akan dikabulkan. Jika ia meminta, pasti akan diberi.(HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain juga disebutkan, Rasulullah mendengar seseorang berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ الله لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفًوًا أَحَدٌ.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Engkau Ahad (Maha Esa) dan Shamad (yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu). Yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian, beliau bersabda, “Demi diriku yang berada di tangan-Nya, ia telah berdoa dengan nama Allah yang Mahaagung. Oleh karena itu, jika ia berdoa, pasti akan dikabulkan. Jika ia meminta, pasti akan diberi.(HR Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

Bukankah kekayaan yang kita miliki adalah milik Sang Penguasa yang telah menciptakan dan menyempurnakan kejadian kita? Bukankah Dia yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang tidak terhitung jumlahnya? Jadi, hendaknya kita bertahmid dan memuji-Nya.

6. Membaca shalawat Nabi setelah ucapan kalimat tahmid

Setelah kita mengawali doa dengan membaca tahmid dan pujian-pujian kepada Allah, kemudian bacalah shalawat Nabi e. Sebab, membaca tahmid dan shalawat Nabi e sangat dianjurkan ketika berdoa dan merupakan salah satu etika dalam berdoa. Di dalam hadits riwayat Fadhalah bin Ubaid r.a., ia berkata, “Ketika kami duduk-duduk berkumpul bersama Rasulullah tiba-tiba datanglah seorang laki-laki, lalu ia melaksanakan shalat. Selesai shalat dia pun berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah aku dan kasihilah aku!’ Lalu, Rasulullah bersabda, ‘Wahai orang yang shalat! Engkau tergesa-gesa (dalam berdoa). Apabila engkau shalat, kemudian duduk selesai shalat, bertahmidlah kepada Allah, dan ucapkanlah shalawat untukku, barulah engkau mulai berdoa kepada-Nya.'”

 

Baca Juga: Doa Agar Cepat Terkabul: Panduan Sesuai Syariat

 

Tidak berapa lama masuklah laki-laki lain, ia pun melakukan hal yang sama. Laki-laki itu shalat dan selesai shalat ia bertahmid lalu membaca shalawat Nabi e. Kemudian, Nabi e bersabda, “Wahai orang yang shalat, berdoalah kepada Allah, doamu akan dikabulkan.” (HR Turmudzi, hadits ini hadits hasan)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab r.a. disebutkan,

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Sesungguhnya doa itu terhenti di antara langit dan bumi, tidak akan dinaikkan kecuali setelah kalian bershalawat kepada Nabi kalian.” (HR Turmudzi)

Adapun mengenai lafal shalawat itu sendiri disebutkan dalam hadits riwayat Basyir bin Sa’ad, ia berkata, “Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat untukmu, wahai Rasulullah! Bagaimana cara kami bershalawat untukmu?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَليَ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَالسَّلاَمُ كَمَا عَلِمْتُمْ.

“Ya Allah, berikanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim. Ya Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada Ibrahim. Sesunguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahaagung. Sedangkan ucapan salam sudah ada sebagaimana yang telah kalian ketahui.” (HR as-Sittah (enam orang rawi), kecuali Bukhari)

 

7. Bertawassul kepada Allah Melalui Asma’ (Nama-nama)-Nya

Di antara etika dalam berdoa adalah bertawassul melalui asma’ (nama-nama) Allah yang indah, seperti yang tertera di dalam Al-Qur’an,

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah asma’ ul-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma’ ul-Husna itu.” (QS al-A’râf [7]: 180)

Cobalah ucapkan,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا مَتِيْنُ يَا مَالِكَ المُلْكِ

“Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri, wahai Yang Mahakukuh, wahai yang Maha Memiliki kerajaan.”

Rasulullah apabila beliau berdoa beliau mengucapkan,

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ

Wahai Yang Mahahidup, wahai Yang Maha Berdiri sendiri. Dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.

Bagaimana mungkin kita tidak berdoa dengan menggunakan asma-Nya, padahal ia telah membuat sihir pada diri kita. Nikmati dan rasakan kehadiran Allah ketika kita mengucapkan asma-asma-Nya! Ucapkan, “Ya Lathîf” (Wahai Yang Maha Penyantun), pejamkanlah mata, dan terimalah cucuran rahmat ilahi!

Ucapkan juga, “Ya Rahmân” (Wahai Yang Maha Pengasih), “Ya Halîm” (Wahai Yang Maha Penyantun), “Ya Karîm” (Wahai Yang Maha Mulia), “Ya Razzâk” (Wahai Yang Maha Pemberi rezeki), “Ya dza Al-Jalâl wa Al-Ikrâm.” (Wahai Yang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan.)

 

8. Bertawasul kepada Allah melalui Rasulullah

Dalam cara berdoa sesuai ajaran Islam, di samping bertawasul melalui asma-asma Allah, hendaknya kita juga bertawasul kepada Allah melalui Rasulullah ketika berdoa.

Adapun dalil yang menganjurkan untuk bertawasul dengan Rasulullah ketika berdoa adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Thabrani, dia mengatakan bahwa ada seorang laki-laki pergi menghadap Utsman  bin Affan r.a. untuk suatu keperluan. Namun, Utsman  sama sekali tidak menoleh ataupun memperhatikan keperluan orang tersebut. Orang itu pun kemudian bertemu dengan Utsman  bin Hanif, ia pun mengadukan hal yang sama kepadanya. Utsman  bin Hanif pun berkata, “Ambillah wudhu’, pergilah ke masjid, dan laksanakan shalat dua rakaat, kemudian bacalah doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ, يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَى رَبِّي فَيَقْضِي حَاجَتِي.

“Ya Allah Ya Tuhanku! Aku memohon dan menghadap kepada-Mu dengan wasilah Nabi-Mu, Muhammad, Nabi yang penuh rahmat. Wahai Muhammad! Aku menghadap Tuhanku melalui engkau (bertawasul kepadamu) sampai hajatku terpenuhi.” Sebutkan apa yang menjadi hajatmu!

Si laki-laki itu pun melaksanakan semua yang diperintahkan kepadanya, ia kemudian kembali mendatangi pintu rumah Utsman  bin Affan. Pengawal pun datang dan membawanya menghadap Utsman . Utsman  berkata, “Apa keperluanmu?” Si laki-laki menyebutkan keperluannya. Dengan segera Utsman  pun memenuhi segala keperluannya. Ia kembali berkata, “Kapan pun engkau membutuhkan sesuatu, datanglah kepada kami.”

Si laki-laki itu pergi meninggalkan Utsman  bin Affan. Di tengah jalan ia kembali berjumpa dengan Utsman  bin Hanif dan berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang banyak. Sebelumnya, ia (Utsman  bin Affan) sama sekali tidak melihat atau pun memedulikan hajatku sampai engkau berbicara kepadanya mengenai hajatku.”

Utsman  bin Hanif menjawab, “Demi Allah, aku tidak berbicara apa-apa kepada Utsman  bin Affan mengenai dirimu, tetapi aku menyaksikan Rasulullah ketika beliau didatangi seorang laki-laki buta, ia mengadu kepada beliau kesusahan yang dialaminya karena kebutaannya tersebut. Beliau bersabda, “Bukankah lebih baik jika engkau bersabar?” Si laki-laki itu menjawab, “Ya Rasulullah, aku sama sekali tidak memiliki penuntun jalan. Sungguh, beban ini sangat berat bagiku.” Kemudian, Nabi bersabda kembali, “Ambillah wudhu’, pergilah ke masjid, dan laksanakan shalat dua rakaat, kemudian bacalah doa ini.”

Utsman  melanjutkan ucapannya, “Demi Allah, setelah itu kami tidaklah berpisah, kami tetap berbincang-bincang lama sehingga datanglah seorang laki-laki menghampiri kami (laki-laki buta yang tadi datang), sama sekali tidak tampak sedikit pun kesusahan dalam dirinya (matanya telah sembuh).” (Thabrani berkata, “Hadits ini hadits shahih.”)

 

9. Bertawasul kepada Allah melalui amal shalih

Di antara cara berdoa sesuai ajaran Islam yang benar dalam berdoa juga adalah bertawasul kepada Allah melalui amal shalih yang kita perbuat. Sebab, amal shalih adalah penolong terbaik bagi kita di dunia dan akhirat apabila memang amal shalih tersebut kita lakukan ikhlas karena Allah.

Wahab bin Muniyyah berkata, “Amal shalih dapat menyampaikan doa ke hadirat Allah. Kemudian, ia membaca kalam Allah Ta’ala yang berbunyi, “Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya.” (QS Fâthir [35]: 10)

Ulama yang lain berkata, “Dianjurkan bagi mereka yang sedang kesusahan berdoa kepada Allah dengan wasilah amal shalih.”

Wahai pembaca sekalian! Amal shalih yang kita lakukan dengan tulus karena Allah akan sangat membantu terkabulnya doa kita. Jika kita benar-benar dalam kesulitan dan berharap doa segera dikabulkan Allah. Perhatikan kisah tiga orang shalih berikut ini, setelah itu ambil pelajaran berharga dari kisah mereka!

Pada suatu hari, ketiga orang ini keluar dari rumah mereka untuk melakukan perjalanan jauh. Jalan yang mereka tempuh berada di sela-sela pegunungan. Setelah beberapa masa mereka melangkah, datanglah kegelapan malam. Hujan pun turun pada malam itu yang memaksa mereka mencari tempat untuk berteduh. Setelah mencari-cari tempat untuk berteduh dan bermalam, mereka tidak mendapatkannya kecuali sebuah goa.

Mereka pun berkata, “Sebaiknya kita masuk ke goa ini untuk berteduh dan bermalam. Jika fajar mulai menyingsing nanti, kita teruskan perjalanan kita.”

Akhirnya, mereka bertiga bermalam di dalam goa tersebut. Ketika mereka tidur untuk bersitirahat, hujan pun turun dengan derasnya hingga membuat aliran air yang deras.

Tiba-tiba ada sebuah batu karang yang besar bergerak mengikuti aliran air hingga menutupi mulut goa dengan rapat. Tatkala mereka bangun dari tidur di pagi hari, mereka mendapatkan mulut goa sudah tertutup rapat oleh sebuah batu karang yang besar. Mereka bertiga berusaha menyingkirkan batu tersebut agar mereka bisa keluar, tetapi usaha mereka sia-sia dan batu besar itu tetap tidak bergeming dari tempatnya.

Karena tidak bisa keluar, mereka pun menduga bahwa mereka akan binasa di dalam goa tersebut, kecuali apabila mereka berharap keselamatan dan pertolongan dari Allah.

Kemudian, salah seorang di antara mereka berkata, “Aku ingin mengusulkan sesuatu kepada kalian.”

Yang lain pun berkata, “Silakan, ungkapkan usulanmu!”

Ia kemudian menjelaskan usulannya, “Wahai teman-temanku, dengarkan! Di hadapan kita saat ini terbentang harapan untuk selamat. Masing-masing di antara kita berdoa kepada Allah dengan berdasarkan amal shalih yang pernah ia lakukan. Mudah-mudahan dengan begitu Allah akan kabulkan doa kita dan menyelamatkan kita dari kebinasaan.”

Orang yang pertama berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki hubungan famili dengan seorang anak perempuan pamanku. Aku sangat mencintai dirinya, sebagaimana seorang laki-laki mencintai seorang perempuan. Aku pernah merayu dirinya agar ia mau memenuhi nafsu birahiku, tetapi ia enggan dan menolakku.

Pada suatu ketika ia terpaksa ke rumahku karena didorong oleh rasa lapar yang sangat menyiksa dirinya, sedangkan ia tidak memiliki uang untuk membeli makanan ataupun tanaman yang bisa dimakan karena musim kemarau yang berkepanjangan. Ia datang ke rumahku untuk meminta pertolongan dariku agar tidak mati kelaparan.

Aku katakan kepadanya, ‘Aku tidak akan memberikan apa yang engkau inginkan, kecuali engkau mau menemaniku tidur. Jika engkau setuju, aku akan memberikan apa yang engkau inginkan, baik makanan maupun harta benda.'”

(Anak perempuan tersebut termenung dan berdiam diri. Di dalam benaknya tidak ada pilihan lain, kecuali menyetujui permintaannya. Oleh karena itu, masuklah ia ke dalam rumah laki-laki itu).

Laki-laki itu berkata, “Setelah sang perempuan masuk ke dalam rumahku, aku segera menutup pintu rapat-rapat dan memastikan bahwa pintu dan jendela semuanya telah terkunci. Semua aku lakukan karena aku tidak ingin ada orang yang mengetahui perbuatanku dengan dirinya di dalam rumah.

Anak perempuan itu berkata, ‘Apakah engkau telah menutup semua pintu dan jendela?’

Aku menjawab, ‘Iya, sudah tertutup semua.’

Ia pun berkata lagi, ‘Apakah sudah engkau kunci rapat-rapat?’

Aku menjawab, ‘Iya, sudah terkunci semua.’

Ia berkata lagi, ‘Pergi dan pastikan semua sudah tertutup dan terkunci dengan rapat.’

Aku pun pergi untuk memastikan bahwa pintu dan jendela sudah tertutup rapat. Aku pun menghampiri dirinya dan berkata, ‘Aku sudah yakin bahwa semua pintu dan jendela telah tertutup rapat.’

Ia berkata lagi, ‘Masih ada satu pintu yang engkau tidak bisa menutupnya karena pemilik pintu itu tidak akan pernah lalai ataupun tidur.’

Aku pun sadar bahwa yang dia maksud sebagai pemilik pintu itu adalah Allah. Aku gemetar dan menangis sejadi-jadinya. Aku berikan semua apa yang dia inginkan dan aku nikahi ia karena berharap ridha Allah semata. Ya Allah, jika memang aku kerjakan itu hanya berharap ridha-Mu, bukakan pintu goa ini.

Tiba-tiba batu karang yang besar itu pun bergeser sedikit dan terlihatlah cahaya pagi bersinar masuk ke dalam goa. Namun, mereka belum bisa keluar.

Kemudian, laki-laki yang kedua termenung sejenak sambil mengingat perbuatan baik apa yang telah ia kerjakan selama ini yang berharap ridha Allah. Tak lama kemudian ia teringat dan lalu berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki kedua orang tua yang sudah uzur dan tidak ada orang lain yang bisa menopang kehidupan mereka sehari-hari, kecuali diriku sendiri. Di samping itu aku memiliki beberapa orang adik yang masih kecil-kecil. Pekerjaanku setiap hari adalah mengembala kambing dan aku akan pulang ke rumah jika waktu sudah senja.

Setiap kali aku sampai di rumah, aku akan memeras susu kambing dan aku bawa kepada kedua orang tuaku untuk diminum. Aku berikan susu tersebut untuk diminum oleh beliau berdua terlebih dahulu, kemudian untuk adik-adikku, dan terakhir aku dan istriku juga meminum susu tersebut.

Pada suatu hari kambing-kambingku pergi ke tempat yang cukup jauh sehingga membuatku terlambat pulang ke rumah. Ketika aku sampai di rumah, aku pun langsung memeras susu kambing sebagaimana biasanya. Kubawakan untuk kedua orang tuaku terlebih dahulu, tetapi aku mendapatkan beliau berdua telah tertidur pulas.

Langkahku terhenti sejenak dan susu yang kutempatkan di dalam belanga. Aku letakkan susu itu di meja dekat dengan tempat tidur beliau berdua. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Hal itu aku lakukan karena khawatir mereka akan terjaga. Sementara itu, di dalam ruangan yang lain adik-adikku menangis karena tidak tahan menahan lapar.

Aku tetap menunggu beliau berdua yang sedang tidur. Adik-adikku pun akhirnya tertidur. Tiada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku karena aku khawatir mereka akan terganggu dan terbangun.

Hingga matahari terbit keesokan harinya barulah beliau berdua meminum susu yang aku sediakan hingga terasa kenyang. Kemudian, aku berikan kepada adik-adikku, lalu aku dan istri meminum susu tersebut.

Ya Tuhanku, sekiranya aku kerjakan itu semua hanya berharap ridha-Mu, bukakan batu karang yang menghalangi jalan keluar kami ini.”

Tiba-tiba batu karang yang besar itu pun bergeser untuk kedua kalinya dari mulut goa, tetapi mereka tetap belum bisa keluar dari sana.

Tiba pada giliran laki-laki yang ketiga. Ia pun termenung sejenak dan memikirkan apa yang telah diperbuat oleh kedua orang temannya. Temannya senantiasa berusaha untuk menjaga kehormatan dirinya karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Sementara yang seorang lagi selalu berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Lalu, perbuatan baik apa yang telah ia perbuat?

Akhirnya, ia teringat dengan peristiwa yang dia alami, lantas berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki beberapa orang pekerja yang bekerja denganku. Masing-masing mereka mendapatkan upah sebesar dua dirham setiap bulannya.

Pada suatu ketika ada salah seorang di antara para pekerjaku tersebut meminta izin untuk melakukan perjalanan jauh. Ia belum mengambil upah yang memang berhak ia terima.

Aku pun sempat kebingungan apa yang harus aku perbuat dengan uangnya yang sebesar dua dirham tersebut. Kemudian, uang tersebut aku belikan beberapa ekor kambing. Ternyata, kambing-kambing tersebut berkembang biak hingga jumlahnya bertambah banyak. Beberapa ekor kambing tersebut aku jual dan uangnya aku belikan beberapa ekor unta dan sapi. Unta dan sapi yang kubeli tersebut juga berkembang biak dan bertambah banyak.

Setelah beberapa tahun kemudian pekerjaku tersebut kembali dan menemuiku untuk menagih upahnya yang dahulu belum sempat ia ambil. Ia berharap aku mau memberikan upahnya yang dahulu ia tinggalkan, yaitu sebesar dua dirham.

Aku berkata kepadanya, ‘Apakah engkau melihat semua hewan ternak ini; kambing, unta, dan sapi?’

Ia menjawab, ‘Iya, aku melihat semuanya.’

Aku berkata kepadanya lagi, “Ini semua adalah kepunyaanmu.’

Ia pun menjawab, ‘Apakah tuan sedang memperolok-olok dan mempermainkan diriku?’

Aku katakan kepadanya bahwa Allah telah menyuruh kita untuk melaksanakan amanah kepada yang berhak (pemilik amanah tersebut).

Lalu, ia melanjutkan pembicaraannya, ‘Dengan uangmu sebesar dua dirham tersebut aku telah membeli beberapa ekor kambing. Ternyata, kambing-kambing tersebut berkembang biak sebagaimana yang engkau lihat saat ini. Jadi, ambillah semuanya! Semoga Allah memberkahimu.’

Kemudian, si pekerja tersebut mengambil semua hewan ternak yang ada di hadapannya dan berlalu meninggalkanku.

Ya Allah, jika memang aku melakukan itu semua hanya berharap ridha-Mu, bukakan batu karang yang menutupi pintu goa ini.”

Tiba-tiba batu karang yang besar itu pun bergeser sehingga mereka bertiga bisa keluar dengan leluasa dari dalam goa. Mereka selamat dari kematian yang telah menanti di depan mata mereka.

Wahai pembaca yang budiman! Dari kisah di atas, apakah kita juga memiliki amal shalih yang bisa digunakan untuk bertawasul kepada Allah sehingga doa kita dikabulkan oleh-Nya? Kalau iya dan kita memilikinya, berarti kita bisa memanfaatkannya dalam berdoa sehingga pada saat kesulitan datang, kita akan berdoa dengan khusyu’, “Wahai Tuhan, aku telah mengerjakan amal shalih ini hanya untuk mengharapkan ridha-Mu, jika Engkau berkenan, keluarkan aku dari masalahku ini!”

 

10. Bertawasul kepada Allah melalui doa orang shalih

Dalam cara berdoa sesuai ajaran Islam, apabila kita melihat seseorang yang hatinya selalu rindu untuk pergi ke masjid dan bersegera melaksanakan shalat setiap kali mendengar muazin mengumandangkan azan, senantiasa shalat dengan hati yang khusyu dan tenang serta langsung bertindak jika melihat kemungkaran dan senang menyuruh serta memotivasi orang lain untuk berbuat baik, jika kita melihat orang seperti ini, mintalah kepadanya agar mendoakan diri kita kepada Allah.

Ketika Rasulullah bertemu dengan salah seorang sahabat, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab r.a. atau yang lainnya, beliau selalu berkata, “Wahai saudaraku, jangan lupa mendoakan kebaikan untuk kami!”

Jadi, beliau sendiri meminta kepada saudaranya seiman untuk mendoakan dirinya kepada Allah. Bagaimana dengan kita? Mintalah kepada saudara-saudara kita yang seiman agar mereka berdoa kepada Allah untuk kebaikan kita.

Rasulullah telah mengajarkan kita dengan sabdanya,

دُعَاءُ الْمُسْلِمِ يُسْتَجَابُ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ، مَا دَعَا لِأَخِيْهِ بِخَيْرٍ إِلَّا قَالَ: آمِيْنَ، وَلَكَ بِمِثْلٍ.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim (yang tidak bersamanya) akan dikabulkan Allah. Di kepalanya terdapat malaikat, setiap kali ia berdoa untuk saudaranya maka sang malaikat akan menghampirinya dan berkata, ‘Amin!’ Dan bagimu adalah seperti apa yang engkau doakan untuk saudaramu!”

Oleh karena itu, doakan saudara-saudara kita yang seiman dengan kebaikan, kita pun akan mendapatkan kebaikan sebagaimana yang mereka dapatkan.

Di dalam Surah al-Fâtihah, Allah menjelaskan kandungan doa yang menggunakan dhamir (kata ganti) dalam bentuk jamak (nahnu, artinya kami). “Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS al-Fâtihah [1]: 5—6)

Ayat di atas tidak mengatakan, “Hanya Engkau-lah yang aku sembah, dan hanya kepada Engkau-lah aku meminta pertolongan. Tunjukilah aku jalan yang lurus.”

Masih banyak lagi ayat Al-Qur’an mengenai doa yang menggunakan dhamîr (kata ganti) dalam bentuk jama’. Ayat-ayat itu tentu saja mengajarkan kita agar mendoakan diri kita sendiri dan orang lain sesama muslim. Mudah-mudahan dengan mendoakan orang lain sesama muslim Allah mengabulkan doa kita.

 

11. Mengakhiri bacaan doa dengan kata Âmîn

Di antara cara berdoa sesuai ajaran Islam juga adalah mengakhiri doa dengan membaca Âmîn, artinya “Ya Allah, kabulkanlah.”

Berkenaan dengan anjuran mengucapkan Âmîn  di akhir doa ini, ada salah seorang sahabat Rasulullah yang bernama Abu Zuhair an-Numairi berkata, “Apabila kalian berdoa, akhirilah doa kalian dengan mengucapkan Âmîn. Sebab, lafal Amîn layaknya amplop pada surat.”

Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Zuhair, ia mengisahkan, “Suatu malam, kami pergi keluar bersama Rasulullah, tiba-tiba kami bertemu dengan seorang laki-laki yang tidak putus-putusnya berdoa, lalu Rasulullah berdiri di sampingnya, mendengar doanya, dan bersabda, ‘Doa itu akan terkabul, jika ada penutupnya.’ Lalu, salah seorang dari kami bertanya, ‘Ya Rasulullah, dengan apa kita harus menutup (mengakhiri doa)-nya?’ Beliau menjawab, ‘Dengan membaca Âmîn. Kalau ia menutup doanya dengan membaca Âmîn, doanya akan dikabulkan.’

Laki-laki yang bertanya kepada Nabi e tersebut menghampiri laki-laki yang sedang berdoa dan berkata, ‘Akhirilah (tutuplah) doamu, wahai Fulan, dengan ucapan Âmîn, dan kabarilah kepada yang lain.'” (HR Abu Dawud)

Sebelum membaca lafal Amin, hendaknya doa itu juga ditutup dengan ucapan tahmid dan shalawat Nabi e sebagaimana ketika ia dibuka atau membaca hamdalah. Sebab, ia merupakan doa penutup para penghuni surga, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Qur’an,

دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَآَخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (10)

Doa mereka di dalamnya ialah, ”Subhānakallāhumma” (Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, ”Salām” (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, ”Al-hamdu lillāhi Rabbil ‘ālamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam). (QS Yûnus [10]: 10)

 

12. Merendah (merasa lemah dan hina) di hadapan Allah

Dalam cara berdoa sesuai ajaran Islam, Allah berkalam,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (55)

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A’râf [7]: 55)

Ketika berdoa, merendahlah kepada-Nya! Ingatlah akan nikmat-nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada kita, perlihatkan kondisi kita kepada-Nya, mengadulah dan ucapkanlah, “Aku miskin, tidak memiliki apa-apa, tiada daya dan kekuatan, kecuali datangnya dari Engkau semata.”

Tunduk dan merendahlah kepada Tuhan! Ketahuilah bahwa kita adalah seorang hamba yang banyak berbuat. Allah Mahakaya, sementara kita sangat miskin. Dia Mahakuat, sementara kita sangat lemah. Dia Mahakuasa, sementara kita tidak berdaya dan tidak memiliki apa-apa.

Imam Hasan al-Bashri bercerita, “Aku melaksanakan thawaf di sekeliling Ka’bah. Di sampingku turut juga thawaf seorang laki-laki. Ia tunduk dan merendah kepada Allah seraya berkata, ‘Sebagaimana yang Engkau lihat (wahai Tuhan)! Pakaianku lusuh, keluargaku menangis, istriku sakit, apakah Engkau melihat apa yang ada di antara kami, wahai Yang Maha melihat kondisi kami saat ini, sedang Engkau tidak bisa dilihat.’

Hatiku tersentuh, lalu aku memberikan harta yang ada di tanganku kepada laki-laki itu. Ia balik melihat ke arahku dan bertanya, ‘Apa yang engkau lakukan?’

‘Aku mendapati engkau dalam kondisi tidak punya dan lemah, maka aku ingin memberikan engkau (sesuatu),’ jawabku.

Laki-laki itu kembali berkata, ‘Aku orang kaya, aku memiliki harta ini dan ini. Namun, aku mengetahui Allah suka jika kita merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya dalam berdoa, aku pun melakukan hal itu.'”

Wahai pembaca! Rasakan kenikmatan munajat seperti yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Berusahalah untuk mengikuti jejaknya.

Riwayat lain juga menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Abdurrahman—khalifah ketiga dari Bani Umayyah di bumi Andalusia—manusia ditimpa masa paceklik yang hebat, hujan tak kunjung turun dari langit. Khalifah pun berinisatif untuk mengumpulkan seluruh orang untuk berdoa dan memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Ketika itu yang menjadi Qâdi jamaah (pemimpin masyarakat) adalah Munzir bin Said.

Khalifah pun mengirim utusannya kepada Munzir meminta bantuannya untuk mengumpulkan orang-orang guna melaksanakan shalat istisqâ’. Ketika utusan khalifah datang, Munzir pun bertanya kepadanya, “Bagaimana kondisi khalifah kita saat engkau tinggalkan?”

Sang utusan menjawab, “Ia turun dari singgasana rajanya dan duduk di atas tanah.”

Munzir berkata kembali, “Berilah kabar gembira kepadanya bahwa masalahnya akan segera teratasi! Sebab, jika penguasa negeri tunduk dan merasa rendah (dalam berdoa) maka penguasa langit pun akan menurunkan rahmat-Nya.”

Orang-orang pun keluar untuk melaksanakan shalat istisqa’. Tidak berapa lama hujan pun turun dari langit membasahi bumi.

 

13. Berdoa dengan suara halus dan lembut

Dalam cara berdoa sesuai ajaran Islam, kita hendaknya berdoa dengan pelan, lembut, dan suara yang halus. Kita tidak boleh mengangkat suara secara berlebihan ketika berdoa. Sebab, hal itu akan menghilangkan kekhusu’an dan ketundukan kita kepada Allah ketika berdoa.  Rasulullah suatu ketika pernah menegur para sahabat yang berdoa dengan suara keras,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُوْنَ سَمِيعًا قَرِيْبًا وَهُوَ مَعَكُمْ

“Wahai manusia, kendalikan diri kalian, (karena) kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang bisu dan gaib. Sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, Dia bersama kalian ….”

Di dalam Al-Qur’an, cara berdoa sesuai ajaran Islam, Allah juga mengisahkan kita bagaimana cara Nabi Zakaria a.s. bermunajat kepada Tuhannya,

كهيعص (1) ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا (2) إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا (3)

“Kâf Hâ Yâ ‘Ain Sâd. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, (yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS Maryam [19]: 1—3)

Nabi Zakaria a.s. berdoa dengan suara yang lembut dan lirih seolah beliau ingin menyembunyikan doanya dari pendengaran dan penglihatan manusia. Sebab, doa yang tersembunyi adalah doa yang paling disukai Allah dan di dalamnya terdapat makna keikhlasan dan jauh dari sikap riya (ingin dilihat manusia).

Berkaitan dengan adab doa ini, Ibnul Qayyim al-Jauzi menjelaskan bahwa doa dengan suara lembut, halus, dan samar-samar memiliki beberapa keistimewaan di antaranya:

Pertama, ia menunjukkan makna keimanan. Orang yang berdoa yakin benar Allah yang mereka mohon adalah Tuhan Yang Maha Mendengar meskipun itu suara yang pelan dan halus sekalipun.

Kedua, ia menunjukkan makna keikhlasan. Berdoa dengan pelan dan halus menghilangkan perasaan ingin dilihat manusia ketika berdoa.

Ketiga, ia mengisyaratkan akan tingginya adab dan etika ketika berdoa. Dzat yang dimintai adalah Allah, tidaklah pantas seorang hamba berbicara keras dengan Tuhannya.

Keempat, berdoa dengan suara yang pelan juga tidak menimbulkan kegaduhan (tidak menganggu orang lain) dan bisa menjauhkan orang yang berdoa dari sikap iri hati, cemburu, dan pandangan jelek manusia yang kebetulan mendengar doanya.

Kelima, berdoa dengan suara pelan dan halus menandakan bahwa doa dapat dilakukan sesering mungkin dan sebanyak mungkin. Lain halnya jika ia berdoa dengan suara keras, ia akan merasa letih, lalu berhenti berdoa.

 

14. Berdoa secara terus-menerus

Di antara cara berdoa sesuai ajaran Islam adalah terus-menerus. Salah satu tandanya adalah berdoa dengan mengucapkan doa itu sebanyak tiga kali.

Nabi Muhammad jika berdoa beliau mengucapkan doa tersebut sebanyak tiga kali, cara berdoa sesuai ajaran Islam sebagaimana diterangkan hadits berikut ini.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُلَحِّيْنَ فيِ الدُّعَاءِ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berdoa secara terus-menerus (diulang-ulang)

Lihatlah kisah Imam Thawus. Ia adalah salah seorang tabi’in yang juga terus-menerus berdoa (diulang-ulang). Orang-orang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau lakukan ini?” Ia menjawab, “Sebenarnya aku tidak ingin masalahku menjadi lebih susah, tetapi telah sampai kepadaku (kabar) bahwa Allah menyukai orang-orang yang terus-menerus berdoa. Jadi, aku juga ingin terus-menerus (tanpa henti) dalam berdoa kepada-Nya.”

Seperti itulah hendaknya kita dalam berdoa; terus-menerus berdoa tanpa putus asa. Oleh karena itu, Allah akan mencintai kita. Dia sangat senang dan menyukai hamba-Nya yang berdoa secara terus-menerus kepada-Nya.

           

15. Mengiringi Doa dengan Sedekah

Ini adalah poin penting. Setelah berdoa hendaknya kita bersedekah. Dalam cara berdoa sesuai ajaran Islam, sedekah merupakan salah satu ibadah yang tidak hanya mengandung usaha taqarub (pendekatan diri) kepada Allah, tetapi juga merupakan salah satu bentuk pertolongan kita kepada saudara-saudara kita yang sangat membutuhkannya. Ketika kita menolong saudara sesama muslim maka Allah pun akan menolong kita dengan cara mengabulkan doa kita, seperti yang tertera di dalam sebuah hadits,

مَنْ يَسَّرَ عَلىَ مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَّرَ مُسْلِمًا سَتَّرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَا كاَنَ العَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ.

“Siapa yang memudahkan (urusan) orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan (urusan)nya di dunia dan  di akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan (kelak) di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Andaikata dalam harta kita terdapat barang haram atau barang syubhat (tidak jelas kehalalannya) atau yang lainnya maka sedekah kita menjadi pembersih dari harta-harta ini. Oleh karena itu, penghambat doa kita pun sedikit demi sedikit akan berkurang dan menghilang.

Kita pastinya lebih mengetahui kemampuan finasial masing-masing. Oleh karena itu, nilai sedekah antara orang yang satu dengan yang lainnya tidaklah sama. Adapun yang harus diperhatikan di sini adalah nilai sedekah yang dikeluarkan tidak berlebih-lebihan. Dengan kata lain sedekah harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan setelah memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari serta disertai dengan keikhlasan; hanya berharap ridha Allah. Demikian pembahasan mengenai cara berdoa sesuai ajaran Islam. Semoga bermanfaat.

 

***

Referensi:

  • Ulfa, Fadhilah. Rahasia Doa yang Terkabul. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.
  • Al-‘Asqalani, Ahmad Ibn Ali ibn Hajar t.th., Fathul Bâri, t.t.p.: al-Maktabah as-Salafiyah.
  • Al-Jauziyyah, Ibn Qayyim t.th., al-Jawâb al-Kâfi Liman Sa’ala ‘an Ad-Dawâ’ Asy-Syâfi, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.
  • Al-Jundi, Syaikh Khalid (2004), Syahdul Kalimât fi Rihâbi Sûratil Fâtihah, Beirut: Dâr al-Makrifah, cet. ke-1.
  • Al-Mudry, Amir bin Muhammad, t.th., Kun Mustajab Ad-Da’wah, http.www.saaid.net.
  • Al-Qismu al-‘Ilmi bi dâr Ibnu Hazîmah t.th., ad-Duâ’ Miftâh Kulli Khairin, t.t.p.: Dâr Ibnu Hazîmah.
  • Al-Qur’an al-Karim dan Al-Hadits An-Nabawi.
  • Ar-Rab’i, Khalid bin Sulaiman bin Ali t.th., Min ‘Ajâib ad-Du’â’, t.t.p.: Dâr al-Qalam, al-Kutaibât al-Islamiyyah.
  • Asy-Syanqîthi, Sayyid Muhammad Sadati t.th., Shidqul Laja’ Iallah wa Atsâruhu fi Ijabah Ad-Duâ’, t.t.p.: Dâr al-Hadhârah lin-Nasyr wa Taudzî’.
  • Basya, Hassan Syamsi (2008), Hamsah fî Udzun Fatât, Damaskus: Dâr al-Qalam, cet. ke-6.
  • Ibn Katsir ad-Dimasqi, Imaduddin Abul Fida’ Ismail, Tafsîr al-Qur’an al-Adzîm, Cairo: Maktabah Taufiqiyyah, t.th., jld I.
  • Ibn Taimiyah t.th., Majmû’ Al-Fatâwâ, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyyah.   
  • Khalid, Amru, Ibâdatul Mu’min (2003), Cairo: Areeg lin Nasyr wa Taudzî’, cet. ke-3.
  • Khalid, Amru, Kalâm Minal Qalbi (2004), Beirut: Dar al-Makrifah, cet. ke-2
  • Khulud Binti Abdurrahman (1425 H), ad-Duâ’ wa Ahkâmuhu Al-Fiqhiyyah, Thesis Phd, Fakultas Syari’ah, Jurusan Fikih, Saudi Arabiyah: Universitas Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyyah.
  • Mahmud, Abdul Halim, Fadzkurûnî Adzkurkum t.th., Cairo: Dâr al-Ma’ârif, , cet. ke-5.
  • Qudais, Abdul Hamid t.th, Kanzun Najâh was Surûr fil Ad’iyyah Allati Tasyrah Asy-Syudûr, Beirut: Dâr al-Fikr.