Birrul Walidain: Cara Islam Berbakti kepada Orang tua

Birrul walidain – Berbakti kepada kedua orang tua atau yang sering dipopulerkan dengan istilah birrul walidain adalah berbuat baik dan menaati keduanya. Dalam ajaran Islam, orang tua memiliki derajat yang sangat tinggi dan tidak ada siapa pun yang menyamai derajat keduanya. Oleh karena itu, berbakti dan berbuat baik serta mencari rida keduanya merupakan sebuah keharusan di dunia. Demikianlah derajat kedua orang tua dalam Islam. Bahkan, Allah SWT memosisikan kewajiban untuk berbuat baik kepada kedua orang tua setelah perintah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ إِحۡسَانًا إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِنۡدَكَ الۡكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلۡ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُلۡ لَهُمَا قَوۡلًا كَرِيمًا

”Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS al-Isra’ [17]: 23)

وَاعۡبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا بِهِ شَيۡئًا وَبِالۡوَالِدَيۡنِ إِحۡسَانًا وَبِذِي الۡقُرۡبَى وَالۡيَتَامَى وَالۡمَسَاكِينِ وَالۡجَارِ ذِي الۡقُرۡبَى وَالۡجَارِ الۡجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَنۡبِ وَابۡنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَانُكُمۡ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنۡ كَانَ مُخۡتَالًا فَخُورًا

”Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS an-Nisâ’ [4]: 36)

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilaksanakan di dunia ketika mereka masih hidup, tetapi juga setelah wafat. Tindakan ini dengan mendoakan keduanya, memohon ampunan untuk keduanya, melaksanakan dan menyelesaikan janji keduanya, serta menghormati teman dan kaum kerabatnya. Demikianlah Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk mendoakan kedua orang tuanya setiap waktu, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya berikut ini.

رَبَّنَا اغۡفِرۡ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ الۡحِسَابُ

”Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” (QS Ibrâhîm [14]: 41)

رَبِّ اغۡفِرۡ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنۡ دَخَلَ بَيۡتِيَ مُؤۡمِنًا وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَالۡمُؤۡمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَارًا

”Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” (QS Nûh [71]: 28)

Siapa pun yang berbakti kepada kedua orang tua, Allah akan memberikan kepadanya pahala yang sangat besar. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. ditanya tentang amal apa yang dicintai Allah. Lalu, Rasulullah saw. pun bersabda,

الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

”Shalat pada waktunya. Lalu, laki-laki ini berkata lagi, ”Kemudian apalagi? Rasulullah saw. bersabda, ”Berbakti kepada kedua orang tua.” Laki-laki ini pun berkata, ”Lalu apa lagi, ya Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, Jihad di jalan Allah.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda,

رِضَا اللهِ مِنْ رِضَا الْوَالِدَيْنِ ، وَسُخْطُ اللهِ مِنْ سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ

”Rida Allah ada pada rida kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan keduanya.” (HR Baihaqi)

Bahkan, dalam haditsnya yang lain disebutkan bahwa kedudukan birrul waladain sama dengan jihad di jalan Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah saw. meminta izin beliau untuk pergi berjihad. Rasulullah pun bertanya kepadanya,

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

”Apakah orang tuamu masih hidup?” Laki-laki ini pun menjawab, ”Ya Rasulullah.” Rasulullah pun bersabda, ”Berjihadlah untuk keduanya.” (HR Muslim)

Berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib meskipun berbeda agama dan keyakinan sekalipun. Hal ini sebagaimana yang disinyalir dalam sebuah riwayat bahwa ketika itu Sa’ad bin Abi Waqash telah masuk Islam, lalu ibunya pun berkata kepadanya, ”Wahai Sa’ad, apa yang aku lihat pada diri sekarang ini? Hendaklah kiranya engkau meninggalkan agamamu atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku akan mati”. Lalu, orang akan berkata, ”Wahai orang yang telah membunuh ibunya”. Sa’ad pun berkata, ”Wahai ibuku, janganlah engkau lakukan hal ini karena sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agama ini dengan alasan apa pun. Kemudian, ibunya Sa’ad pun tidak makan dan minum dalam sehari dan semalam hingga ia merasakan begitu lapar. Sa’ad pun berkata kepada ibunya, ”Tahukah engkau wahai ibuku, demi Allah, jika engkau memiliki seratus nyawa dan nyawa itu keluar satu persatu, aku tidak akan meninggalkan agama ini dengan alasan apa pun. Jika engkau ingin makan, silakan. Jika engkau tidak ingin makan, silakan. Sang ibu melihat betapa Sa’ad begitu bersikukuh dengan agamanya, ia pun akhirnya makan. Allah pun menguatkan posisi Sa’ad, sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya.

وَإِنۡ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنۡ تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِ عِلۡمٌ فَلَا تُطِعۡهُمَا وَصَاحِبۡهُمَا فِي الدُّنۡيَا مَعۡرُوفًا وَاتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُمۡ بِمَا كُنۡتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Luqmân [31]: 15)

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar berkata,

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ

”Ibuku mendatangi aku, dan ia seorang musyrikah di zaman Rasulullah saw. Maka aku pun meminta fatwa Rasulullah saw., aku berkata kepada Rasulullah, ”Sesungguhnya  ibuku datang dan ia menginginkan aku agar dapat berbakti, apakah aku harus menyambung silaturahmi dengannya?” Rasulullah saw. pun bersabda, ”Ya, jalinlah silaturahmi dengan ibumu.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Demikianlah ajaran Islam yang mewajibkan berbakti kepada kedua orang tua dengan tidak memandang agama atau keyakinannya. Bahkan, berkata: ”Ah” saja tidak dibenarkan, apalagi sampai membuat keduanya sedih. Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ”Barang siapa yang telah membuat sedih hati kedua orang tuanya maka ia telah mendurhakainya.”

Durhaka kepada kedua orang tua merupakan salah satu dosa besar, sama dosanya dengan menyekutukan Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus birrul walidain. Dalam haditsnya, Nabi Muhammmad saw. bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Bukankah kalian telah aku beritahu tentang dosa apa yang paling besar?Mereka menjawab, ’Ya,’ wahai Rasulullah. Beliau bersabda, ”Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi).

Bahkan, Allah SWT akan mempercepat balasan bagi siapa saja yang durhaka kepada kedua orang tuanya, seperti yang termaktub dalam sabda Nabi saw.,

كُلُّ الذُّنُوْبِ يُأَخِّرَ اللهُ مِنْهَا مَا شَاءَ إِلىَ يَوْمِ القِيَامَةِ إِلاَّ عُقُوْقَ الوَالِدَيْنِ ….

”Seluruh dosa akan diakhirkan Allah sesuai dengan keinginan-Nya hingga hari Kiamat kelak, kecuali durhaka kepada kedua orang tua ….” (HR Bukhari)

Demikianlah posisi orang tua yang begitu tinggi dalam Islam sehingga tidak ada alasan bagi siapa saja untuk tidak berbakti (birrul walidain) kepada kedua orang tuanya. Semoga kita senantiasa mampu berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) kita.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.