Bijaksana

Bijaksana atau dalam bahasa Arab dikenal dengan al-hilm, yaitu kemampuan untuk mengontrol diri, menahan amarah, menjauhi sifat emosi, dan membalas perbuatan buruk dengan kebaikan. Sikap ini tidak berarti rela untuk dihina atau direndahkan.

Banyak kisah tentang sikap bijak para Nabi, sahabat, juga para ulama. Salah satu contohnya adalah kisah tentang kebijaksanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dikisahkan bahwa pada suatu malam Sang Khalifah berjalan-jalan untuk melihat-lihat rakyatnya dengan ditemani oleh seorang pengawal. Kemudian, Khalifah beserta pengawalnya pun masuk ke sebuah masjid yang ketika itu dalam keadaan gelap gulita. Tanpa disengaja Khalifah Umar menyandung kaki seorang laki-laki. Lalu, laki-laki itu pun mengangkat kepalanya dan berkata kepada sang Khalifah, ”Apakah engkau gila?” Khalifah menjawab, ”Tidak, aku tidak gila.  Sang pengawal yang mendengar ucapan lelaki itu ingin memukulnya. Namun, Khalifah Umar berkata, ”Janganlah engkau lakukan itu padanya karena ia hanya bertanya padaku, ’apakah engkau gila?’ aku sudah menjawabnya bahwa aku tidaklah gila.

Kisah ini begitu membuat kita tertegun, betapa seorang khalifah yang punya kuasa penuh dan bisa berbuat apa saja yang ia kehendaki, tetapi ia begitu mampu menahan amarah dan emosinya. Berbeda sekali dengan perilaku para pemimpin sekarang ini yang terkesan pongah dan cendrung emosional dalam menghadapi permasalahan.

Bijaksana juga merupakan sifat Allah SWT. Allah adalah Dzat Yang Mahabijaksana.  Ketika Allah melihat berbagai kemaksiatan maka diri-Nya tidak langsung memberikan hukuman. Allah masih memberikan kesempatan lain untuk dapat bertaubat dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Arab 120

وَاعۡلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Mahabijaksana. (QS al-Baqarah [2]: 235)

Sikap bijaksana juga merupakan akhlaknya para nabi. Allah SWT berfirman, Arab 121

إِنَّ إِبۡرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi bijaksana. (QS at-Taubah [9]: 114)

Arab 122

فَبَشَّرۡنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. (QS ash-Shaffât [37]: 101)

 

Demikian pula dengan Rasulullah saw., beliau adalah nabi yang terkenal dengan sikapnya yang begitu bijaksana. Beliau tidak pernah marah terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh para sahabatnya karena beliaulah yang mengajarkan kepada mereka agar dapat mengontrol diri dan menahan amarah.

Orang-orang yang bijaksana adalah orang-orang yang dicintai Allah. Kebijaksanaan ini merupakan wasilah untuk mendapatkan rida Allah dan surge-Nya. Di samping itu, kebijaksanaan juga merupakan bukti akan keinginan yang kuat. Kebijaksanaan merupakan wasilah untuk memperoleh simpati dan rasa hormat orang lain kepada diri kita dan menjauhkan diri dari berbagai kesalahan .