Amanah: Makna & Penjelasannya [LENGKAP]

Amanah artinya melaksanakan dan menjaga hak. Seorang muslim wajib memberikan hak orang lain yang ada pada dirinya. Melaksanakan amanah merupakan perangai dan akhlak mulia serta merupakan salah satu dasar ajaran agama Islam. Amanah merupakan kewajiban besar yang dipikul oleh manusia. Ketahuilah bahwa sebelumnya semua makhluk; langit, bumi, dan gunung enggan untuk menerimanya, sebagaimana firman Allah SWT berikut ini.

إِنَّا عَرَضۡنَا الۡأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالۡأَرۡضِ وَالۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَنۡ يَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا الۡإِنۡسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

”Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS al-Ahzâb [33]: 72)

 Kewajiban untuk melaksanaan amanat juga telah dinyataan Allah SWT dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَنۡ تُؤَدُّوا الۡأَمَانَاتِ إِلَى أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُمۡ بَيۡنَ النَّاسِ أَنۡ تَحۡكُمُوا بِالۡعَدۡلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمۡ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

”Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”  (QS an-Nisâ’ [4]: 58)

 Dalam haditsnya, Rasulullah saw. juga bersabda,

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لَمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ

”Tidak dinyatakan beriman orang yang tidak memiliki amanah dan tidak pula beragama orang yang tidak dapat menepati janji.” (HR Ahmad)

Beberapa macam contoh amanah yang wajib dilaksanakan dalam Islam sebagai berikut.

Pertama, amanah dalam beribadah, yaitu jika seorang muslim melaksanaan perintah-perintah Allah SWT dan larangan-larangan-Nya. Ia melaksanaan kewajiban-kewajiban agama, seperti shalat, zakat, puasa, dan birrul walidain, serta segala kewajiban-kewajiban yang telah dititah Allah SWT.

Kedua, amanah dalam menjaga anggota tubuh. Ketahuilah bahwa semua anggota tubuh merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga, yaitu dengan tidak menggunakannya kepada segala sesuatu yang dimurkai Allah SWT. Mata adalah amanah, sudah seharusnya tidak gunakan untuk melihat yang diharamkan Allah. Telinga adalah amanah maka harus digunakan untuk mendengar segala sesuatu yang baik dengan menjauhi segala yang diharamkan. Tangan adalah amanah, kaki adalah amanah, dan lain sebagainya.

Ketiga, amanah dalam menjaga titipan orang lain. Menjaga titipan orang lain adalah dengan mengembalikannya kepada pemilik barang tersebut dengan tidak ada perubahan sedikit pun. Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw. kepada orang-orang musyrikin yang menitipkan barang-barang mereka kepada beliau. Rasulullah saw. adalah orang yang paling dikenal sangat amanah oleh para penduduk Mekah dan Madinah. Bahkan, mereka memberikan gelar kepada beliau dengan al-shadiqul amin, yang jujur lagi dipercaya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau menitipkan barang-barang kepada Ali untuk dikembalikan kepada orang-orang musyrik

Keempat, amanah dalam bekerja. Apa pun profesi yang digeluti, sudah seharusnya dikerjakan dengan sebaik mungkin. Bagi seorang pelajar, kiranya ia harus melaksanakan tugas belajarnya, mencari ilmu dengan giat dan penuh kesungguhan, serta tidak selalu menyusahkan atau bergantung pada kedua orang tua. Seorang buruh misalnya, ia harus ulet dan tekun dalam menyelesaikan tugasnya.

Kelima, amanah dalam perkataan. Seorang muslim haruslah memegang perkataannya, mengetahui batas-batas kata dan kepentingannya. Seorang yang dapat menjaga perkataannya dikategorikan sebagai orang yang bertaqwa dan akan dimasukan Allah ke surga-Nya. Allah SWT berfirman,

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ اللّٰهَ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصۡلُهَا ثَابِتٌ وَفَرۡعُهَا فِي السَّمَاءِ

”Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik) seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS Ibrâm [14]: 24)

Betapa pentingnya berkata-kata baik itu sehingga Nabi pun menyatakan bahwa perkataan baik itu adalah sedekah. Beliau bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

”Dan perkataan yang baik merupakan sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keenam, amanah dalam bertanggung jawab. Setiap orang pastinya memiliki tanggung jawab karena hal ini merupakan amanah, baik laki-laki maupun perempuan, seorang bapak, ibu dan anak, masing-masing memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Rasulullah saw. pun telah bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

”Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap dari kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya ….” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)

Ketujuh, amanah dalam menjaga rahasia. Seorang muslim haruslah dapat menjaga rahasia saudaranya dan tidak menyebarkannya kepada orang lain. Rasulullah saw. pun bersabda,

إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ بِالْحَدِيثِ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ

”Jika seseorang berbicara sebuah perkataan, lalu ia pun berpaling dari dirinya, itulah amanah.”(HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Kedelapan, amanah dalam berniaga. Seorang pedagang hendaklah tidak menipu atau pun berkhianat.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

Rasulullah saw. berjalan melewati seorang pedagang makanan. Lalu, Rasulullah memasukkan tangannya ke tengah makanannya itu. Beliau mendapatkan makanan itu basah. Lalu, beliau pun berkata,”Wahai pemilik makanan, apa ini? Laki-laki pemilik makanan pun berkata, ”Makanan itu terkena hujan, ya Rasulullah.” Rasulullah pun bersabda, ”Apakah engkau membuat–yang kering–berada di atas makanan itu agar orang lain melihatnya demikian? Barang siapa yang menipu maka ia bukanlah dari golonganku.” (HR Muslim)

Orang yang dapat menjaga dan melaksanakan amanahnya, ia akan mendapatkan kebaikan dengan dicintai dan disayangi oleh orang lain. Bahkan, Allah SWT memuji orang-orang yang dapat melaksanaan amanah, sebagaimana firman-Nya,

وَالَّذِينَ هُمۡ لِأَمَانَاتِهِمۡ وَعَهۡدِهِمۡ رَاعُونَ

”Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya.” (QS al-Ma‘ârij [70]: 32)

 Di akhirat kelak, Allah SWT pun akan memberikan surga kepada orang-orang yang melaksanakan amanahnya, sebagaimana yang akan diberikan kepada orang-orang yang bertaqwa.

 

***

 

Referensi:

  • Wahyudi, Andi. Kultum Penyejuk Hati. Solo: Tinta Medina.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. 1967. Ma‘arijul Quds Fi Madarij Ma’rifah al-nafs. Tahqiq: Abu ‘Ala Afifi. Kairo: Maktabah al-Jundi.
  • Al-Makkiy, Abu Thalib. Qut al-Qulub Jilid I. Mesir: Thabaah Musthafa al-Bani al-Halabi.
  • Al-Muhasibi, Al-Harits. 2010. Risalah al-Mustarsyidin. Terj: Abdul Azizi S.S. Jakarta: Qisthi Press.
  • Ibnu Maskawaih. 1329 H. Tahzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq. Mesir: Maktabah Hasaniyah.
  • Ibnul Qayyim. 1987. Al-Fawa’id. Mesir: Maktabah Turats.
  • Jailani, Syaikh Abdul Qadir. 2010. Menjadi Kekasih Allah. Terj: Masrohan Ahmad. Yogyakarta: Citra Media.
  • Malthawiy, Hasan Kamil. 1999. al-Shufiyyah fi Ilhamihim Jilid II. Kairo: Wizarat al-Awqaf.
  • Mahmud, Abdul Halim. Qadhiya at-Tasawuf. Mesir: Dar Ma’arif.